
"Bertemanlah dengan teman mu yang lain Dinda..Jangan sendiri begini,Sahabatmu Sari juga memiliki banyak teman disana."Ujar Rian pada Dinda.
"Ya aku sedang mencoba."
Kini kedua nya duduk di bangku taman saling berjauhan.Dinda di ujung sisi kiri dan Rian di ujung sisi kanan dengan menghadap air pancur taman.
"Berhati-hatilah dalam bersikap dengan saudara suami mu Din.."
Dinda menoleh ke arah Rian."Maksudnya?"
"Dia menginginkan mu."
Dinda lagi-lagi terkejut."Bagaimana bisa?"
"Tanpa kamu sadari,dirimu memiliki pemikat tersendiri hingga membuat laki-laki mudah jatuh cinta padamu."Terang Rian.
"Mungkin saja."Dinda sedikit membenarkan perkataan Rian.
"Bang.."Panggil Dinda lagi.
"Ya."
"Bolehkah aku menganggap mu sebagai Abang ku?"Dinda menatap Rian berharap permintaan nya di kabulkan.
Rian pun menatap Dinda.
Sebenarnya aku menginginkan lebih,tapi tidak.Ini lebih dari cukup.
Rian mengangguk."Aku setuju,ingat seorang adik harus patuh."
Dinda tersenyum karena permintaan nya terturuti."Terimakasih."
"Ingat,hindari pertemuan dengan Tuan Tara jika hanya sendiri."Peringatan dari Rian.
"Memang nya Kak Tara jahat?"Dinda juga penasaran.
"Tidak,dia sama baiknya dengan suami mu tapi dia sangat ambisius.Jika ia sudah mengatakan akan mendapatkan mu maka ia bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan mu Dinda."
Dinda mengangguk.Mereka banyak bercerita sesekali Dinda tertawa di buat Rian.
"Sayang.."Suara bariton dari arah belakang Dinda dan Rian.Suara yang menyiratkan ketidak sukaan dari apa yang ia lihat di depan nya.
Dinda dan Rian berbalik ke belakang melihat siapa yang memanggil Dinda.
Dinda dan Rian menelan saliva kasar saat tahu siapa orang itu.Kemudian Dinda dan Rian saling pandang dengan wajah khawatir.
Rian berdiri dan menunduk hormat saat Tuan nya sudah berada di depan bangku dimana Dinda dan Rian duduk.
Toni sudah berada di depan Dinda saat ini tapi Dinda sendiri belum berhasil menemukan alasan apa yang tidak akan timbul curiga.
Dinda berdiri dan mendongak melihat wajah Toni.Lagi-lagi Dinda menelan saliva saat tatapan sang suami menatap nya tajam.
__ADS_1
"Sayang..Jangan tatap Dinda seperti itu."Entah mengapa jika sang suami menatap tajam ke arah nya pasti nyali Dinda menciut.
"Jelaskan."Titah Toni dengan nada tegas.
"Sebentar."Dinda mengambil susu kedelai di bangku.Sebenarnya untuk mengulur waktu karena tiba-tiba otak nya tidak bekerja.
"Minum dulu kak,biar hati adem." Dinda membuka botol susu kedelai dan mengarahkan ke bibir Toni.
Semua yang di lakukan Dinda di perhatikan Rian dan itu membuat Dinda terlihat lucu.Rian tahu jika Dinda sedang mengulur waktu.
"Sekarang ceritakan."
"Dinda dan asisten Rian tidak sengaja bertemu kak."Satu kalimat penyelamat berhasil tercetak dari bibir Dinda.
Toni manggut-manggut."Sampai pelukan?"
Deg
Hancur lah aku...benar yang di katakan bang Rian,suamiku bukan orang sembarangan.
"Itu..itu."Dinda benar-benar otak nya tidak bekerja jika sudah berhadapan dengan suaminya.
"Itu apa?Apa kalian memiliki hubungan di belakang ku?"Kini Toni mengintimidasi Dinda dan Rian.
"Tidak.." Jawab Dinda dan Rian bersamaan.
Otak Dinda tidak bekerja maka rayuan lah yang ampuh saat ini,karena ia tahu jika suaminya tidak akan bisa menolak jika sudah di rayu Dinda.
Dinda maju dua langkah mengikis jarak dengan suaminya.
Sepertinya Toni tahu apa yang akan di perbuat istrinya."Mau apa?"Toni menatap tajam sang istri.
Lagi-lagi nyali Dinda menciut,namun ia harus melawan ketakutan nya bukan?
Dinda berjinjit,Di sentuh pipi suaminya dengan kedua tangan.Dinda tersenyum.Netra keduanya bertemu,tampak dari tatapan sang suami menyiratkan kecemburuan nya pada sang istri.
Cup
Sekilas di kecup bibir sang suami.
"Masih cemburu?"Tanya Dinda.
Toni hanya mengangguk.Hal itu membuat Dinda tersenyum.Tak terpungkiri jika Dinda sangat senang di cemburui seperti ini.
"Mau lagi?"Tawar Dinda dengan yakin pasti tidak akan di tolak.
Rian melihat Dinda seperti itu sangat menyakiti hatinya.Ia mencoba senormal mungkin agar tidak di curigai.Bukankah sudah menjadi keputusan agar memendam perasaan nya.
Cup
Dengan sedikit luma tan Dinda hadiahkan untuk sang suami.
__ADS_1
"Dengarkan Dinda kak,Dinda sudah berjanji akan setia pada kakak?Dinda memilih kakak,tadi Dinda peluk asisten Rian karena reflek sudah memberi Dinda susu,tidak lebih.Maafkan Dinda kak.." Biarlah Dinda berbohong tentang alasan mengapa ia memeluk Rian tadi.
"Benarkah begitu?Memang nya ada apa dengan susu itu?
Dinda mengangguk."Susu kedelai itu kesukaan Dinda kak."
"Kenapa tidak pernah bilang ke kakak kalau kamu suka susu kedelai itu?kenapa Rian tahu?"
Dinda dan Rian gelagapan di tanya seperti itu.
Gak mungkin aku cerita susu kedelai ini kesukaan aku kak..karena susu kedelai ini juga mengingatkan aku tentang Dimas.
"Dinda sudah lama tidak minum susu kedelai ini,dan kebetulan asisten Rian memberi ini.Maafkan Dinda kak."
Maaf karena Dinda harus bohong kak. Maaf karena Dinda mengingat laki-laki lain lagi.Maafkan Dinda belum sepenuhnya mencintai kakak. Pengakuan Dinda yang hanya bisa di ucapkan dalam hati.
Toni menuntun Dinda kembali duduk."Tidak ada kebohongan kan Din?"Toni masih curiga.
Dinda senyum dipaksakan."Iya sayang,kakak sudah makan siang?"
"Kamu belum makan?"Tanya Toni bukan memberi jawaban.
Dinda menggeleng."Dinda mau di makan kakak."Bisik dengan suara manja Dinda.
Selalu berhasil,suara manja Dinda dapat membuat Toni tergoda.Naf su bi rahi Toni pun sudah menghampiri.
"Sayang.."Suara berat itu memanggil orang yang sudah membuat ia menahan sesuatu yang harus di tuntaskan.
Dinda senang menggoda sang suami,Bukan hanya sekali dua kali Dinda menggoda sang suami dalam sehari,ia juga tidak tahu..Setelah kehamilan memasuki trimester ketiga ini Dinda semakin sering ingin melakukan 'itu'.
"Kenapa sayang?"Dinda bertanya seakan tidak tahu apa-apa.
Posisi Dinda duduk bersandar di bangku taman,sedangkan Toni duduk di samping Dinda menghadap ke arah Dinda.
Rian?ia sudah pergi semenjak Dinda melu mat bibir Toni.Ia benar-benar tidak tahan melihat kemesraan Tuan nya dengan Dinda kecil nya.
"Jangan menggoda kakak Din.." Toni merasa sesak di balik celana meminta ingin di bebaskan.
Dinda menghadap Toni.Dinda mencondongkan wajah ke telinga sang suami dengan satu tangan ke bawah.
"Sabar ya..Dua bulan lagi."Dinda bersuara manja dan selalu terdengar seksi di telinga Toni.
Ingin tahu tangan kanan Dinda sedang apa di bawah sana? Tangan Dinda mengelus pusaka Toni dari luar celana.
"Enak?"Tanya Dinda masih mengelus-elus dan tangan kiri Dinda merangkul tubuh sang suami agar kenakalan tangan kanan Dinda tidak terlihat oleh orang lain.
"Sa-sayang..sshh kakak tidak tahan."
🌸
🌸
__ADS_1