
"Kakak... Kantor yang ini lebih besar dan lebih tinggi ya.." puji Dinda seraya mengedarkan pandangan ke ruangan Toni.
"Ya. Ada apa membawa mu kemari sayang?" tanya Toni sembari tetap fokus pada setumpuk berkas.
"Entahlah.. Dinda hanya ingin bertemu."
Toni melihat Dinda yang menatapnya dengan bertopang dagu. Ada rasa aneh di pikiran nya. Biasanya jika Dinda ingin bertemu pasti akan bergelayut manja di pangkuan nya. Dan sekarang? hanya di pandang?
"Apa kamu tidak ingin mendekati kakak sayang?"
Dinda menggeleng. "Dinda selalu pusing mencium parfum kakak dan pasti membuat Dinda ingin marah."
Toni tertegun. Ia pun bangkit masuk ke kamar peristirahatan di ruang kerja nya. Ia harus mandi sekarang demi bisa berdekatan dengan istri kecilnya.
Beberapa saat kemudian ia sudah segar kembali dan berganti pakaian. Ia sengaja tidak memakai parfum apapun.
Ia beranjak mendekati Dinda dan duduk disebelahnya.
"Apa sekarang kakak membuatmu pusing?"
Dinda menggeleng lalu ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Toni.
"Kepala Dinda pusing dan mual juga. Tapi tidak ada yang keluar." keluh Dinda.
Dinda sempat berpikir apa ia hamil. Tapi ia tepis kan pikiran itu karena tidak ingin berharap lebih dan ia juga tidak tahu ciri-ciri kehamilan karena saat hamil baby El ia tidak merasakan apapun.
"Kamu sakit Din? wajah mu sangat pucat. Sebentar kakak telepon dokter pribadi kita."
Toni pun menghubungi dokter pribadi keluarga Sanjaya. Sekian lama ia tidak menghubungi dokter pribadinya itu tak lain teman nya sendiri.
"Kita di kamar saja ya.."
Dinda menggeleng. "Nanti saja kalau dokternya sudah datang. Dinda kangen di peluk kakak."
Toni pun memeluk Dinda dan menghujani kecupan di puncak kepala Dinda.
Tok..tok..tok..
"Masuk.."
Seorang wanita tak lain adalah sekretaris Toni masuk ke ruangan Toni. Wanita itu bernama Novi.
Novi menjadi kikuk melihat bos nya sedang memeluk wanita dan tidak merasa terganggu sama sekali dengan kehadiran dirinya.
"Ada apa?" tanya Toni yang masih setia memeluk Dinda.
"Ada dokter Rizal tuan."
Dinda mendengar ada seorang wanita berbicara di ruang segera membalikkan tubuhnya melihat siapa wanita itu.
"Dia sekretaris kakak sayang." ucap Toni mengetahui isi pikiran Dinda.
"Dia tidak seperti Rina kan?" tanya Dinda menatap curiga Toni.
Toni menggeleng. "Tidak sayang.. Kalaupun ia kakak tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi."
Dinda kembali dalam pelukan Toni tidak menghiraukan sekretaris Toni.
Toni memberi kode untuk pergi. Dan masuklah dokter yang di tunggu.
"Hai brother.. Sekian lama kau berada di pengasingan akhirnya menghubungi ku juga." ucap sang dokter bernama Alex.
__ADS_1
Alex terbelalak mendapati sahabat nya itu sedang berpelukan di depan nya.
"Mainan baru?" selorohnya.
"Istriku." jawab Toni singkat.
Dinda tidak merasa terusik karena ia sudah terlelap dalam pelukan Harry.
"Sejak kapan nikah? Kok tidak mengabari ku?"
"Sudah lama. Aku sudah punya anak umur 3 tahun. Hitung saja sendiri."
Alex semakin terkejut.
"Baiklah. Siapa yang sakit?"
"Istriku. Sebentar." Toni menggendong Dinda dan di baringkan tubuhnya di tengah ranjang.
Alex pun memeriksa Dinda dari denyut nadi, tekanan darah dan ia akan menyentuh perut Dinda untuk memastikan sesuatu.
Tapi tangan nya dihalangi Toni karena ia tidak rela jika pria lain menyentuh istrinya.
"Aku harus memastikan sesuatu dulu Ton. Hanya sebentar." ujar Alex.
Toni pun akhirnya mengijinkan dan tetap memperhatikan Alex memeriksa Dinda. Ada rasa khawatir karena Dinda juga terlihat pucat.
"Apa istrimu ada keluhan?"
Toni mengangguk. "Di sering pusing dan mual. Apalagi kalau dekat denganku. Dia bisa marah-marah karena parfum ku buat di pusing."
"Kamu harus membawa nya untuk pemeriksaan lebih lanjut Ton."
"Tidak. Hanya memastikan sesuatu saja. Datanglah kerumah sakit ini. Dan ini dokter yang akan menangani istri mu."
Toni mengangguk. "Ayo kita keluar dari kamarku."
"Kamu mengusir ku Ton?"
Toni berdecak. "Iya. Jangan kamu pandang terus istriku. Aku tahu di cantik dan masih muda."
Alex tertawa. "Dulu kamu tidak pernah secemburu ini Ton."
"Dapatnya susah dan menaklukkan hatinya susah." Jawab Toni santai keluar dari kamar.
"Apa menurut mu istriku sakit parah?" tanya Toni lagi.
"Tidak. Bahkan akan menjadi kabar gembira untuk kalian."
"Tidak ada sakit yang menggembirakan orang Lex." sanggah Toni.
"Terserah. Aku hanya mengatakan sebenarnya. Aku permisi. Kabari kalau terjadi sesuatu."
Sepeninggalan Alex, Toni kembali bekerja. Rasanya sudah sangat lama sekali ia tidak berada di ruangan nya ini. Kantor pusat Sanjaya Group.
Bahkan ia sudah tidak mengenali pegawai nya karena sudah banyak yang berubah. Tapi ia tidak menyesali nya. Sebab dari pengasingan nya lah ia bisa bertemu Dinda.
Dinda merubah segala nya tentang hidupnya. Dinda mengajarkan arti cinta sebenarnya, arti kesabaran, arti kerinduan, dan Dinda lah yang menghilangkan kebiasaan buruknya. Yaitu bermain wanita.
Tapi hanya satu hal hingga kini membuatnya takut dan merasa bersalah.
Dimas.
__ADS_1
Pria itu hingga kini masih mencintai istrinya. Apa lagi sekarang, ia tahu bahwa Dimas batal bertunangan. Semenjak kejadian dimana Dinda kabur selama setahun itu, ia selalu memantau kehidupan Dimas di Jerman.
Dan hasilnya Dimas hanya fokus dengan usaha, bisnis, dan berada di apartemen yang isinya foto istrinya terpajang di dinding apartemen Dimas.
Ia merasa bersalah karena telah menghalangi cinta Dimas dan Dinda. Tapi ia harus apa jika hatinya juga untuk Dinda hingga kini Dinda membalas cinta nya.
"Kakak.." panggil Dinda yang baru keluar dari kamar.
Toni menoleh kearah Dinda dan tersenyum manis. "Ya sayang.."
"Apa dokter nya nggak jadi datang?" tanya Dinda duduk di pangkuan Toni.
Toni terkekeh lalu mencium bibir Dinda. "Jadi dan sudah pulang."
"Kok Dinda nggak tahu?"
"Kamu tidur dan kakak tidak tega untuk bangunin kamu."
"Jadi apa kata dokter?"
"Kita harus ke rumah sakit memastikan sesuatu kata Alex."
Dinda mengangguk dan bersandar di dada bidang Toni.
"Din. Boleh kakak bertanya?"
Dinda mengangguk dalam dekapan Toni.
"Kamu masih ingat Dimas?"
Dinda mendongak menatap Toni. Ia merasa heran dengan pertanyaan Toni.
"Masih."
"Kalau di kembali dan ingin menjemput mu apa kamu akan meninggalkan kakak?" tanya Toni dengan wajah sendu.
"No.. Dinda akan selalu bersama kakak. Dia penghianat kak.. Bahkan Dinda beruntung kakak nikahi lebih dulu, jika tidak Dinda pasti akan terpuruk menantikan dia. Sudah jangan bahas dia. Dinda kangen kakak. Sudah lama kakak tidak peluk Dinda."
"Hei.. Kamu yang tidak mau kakak peluk."
"Kakak bau nya aneh sih."
Pintu kembali di ketuk dari luar dan seperti tadi, Dinda tidak menghiraukan siapapun.
"Masuk."
Novi melangkah masuk keruangan bos nya. Tiba di depan meja Toni ia kembali kikuk karena pemandangan yang ia lihat.
Ia merasa wanita yang duduk di pangkuan bos nya seperti ulat yang selalu menempel.
"Apa yang kamu lihat?" suara Barito itu membuyarkan lamunan Novi.
"I-ini tuan berkas yang harus anda tanda tangani." Novi mendekati meja dan menyerahkan berkas yang ia bawa.
Toni menerima lalu memeriksa dan menanda tangani berkas tersebut.
"Jangan pernah ikut campur urusan orang lain terlebih itu bos mu sendiri. Dan jangan pernah berpikir wanita di pangkuan saya adalah wanita tidak baik. Dan jangan mengumpat istri saya." ancam Harry.
"Maaf tuan."
🌸
__ADS_1