
Tiga hari kemudian kini Dinda, Toni, Zaki, dan Maya beserta kedua baby mereka sudah pindah ke rumah baru di kota Surabaya. Bukan rumah mewah seperti rumah nya di kota Medan.
Rumah cukup besar bila Dinda, Zaki, dan Maya yang menilai. Memang tidak bertingkat, tapi fasilitas cukup lengkap. Toni hanya meminta setiap ruangan ber-AC dan kamar mandi harus ada di dalam kamar.
Kini Toni harus kembali seperti dulu saat menjadi pengawal pribadi Dinda, bekerja dari rumah. Ini demi Dinda nya, ini demi istri dan anaknya agar selalu berada di manapun Dinda berada.
"Sayang... Kamar kita tidak kedap suara." keluh Toni pada Dinda.
"Ya kita main pelan aja kak. Dan Dinda udah biasa dengar begituan dari sebelah kamar."
Dan itu sangat menyiksa Dinda kak.
"Kenapa tidak sewa rumah yang kamarnya kedap suara sih?"
"Hemat kak.. Kan lumayan uang yang kakak kasih untuk sewa rumah mewah sisanya masuk ke ATM Dinda." jawab Dinda enteng tanpa beban.
Toni melotot mendengar jawaban Dinda. Ia berpikir apa sepelit itu hingga Dinda korupsi uang suami sendiri?
Ia pun mengambil ponsel mengetik sesuatu. Ia tidak mau dikatakan pelit walau selama ini uang jajan bulanan Dinda lebih dari cukup, tapi tetap saja ia tidak rela istrinya korupsi uangnya.
Dinda mengambil ponsel saat mendengar notifikasi pesan singkat di ponselnya. Seketika ia terbelalak membaca pesan dari SMS Banking.
"Kakak.. Apa-apaan ini?" rengek Dinda.
"Kakak tidak mau istri kakak korupsi."
"Atau kamu pegang black card kakak saja ya.. Kamu selalu menolak saat kakak memberikannya." sambung Toni lagi.
Dinda menggeleng dan menatap black card bergidik ngerih. "Takut khilaf kak.. Pegang aja ya.. Apalagi sekarang kakak dekat dengan Dinda. Pasti semua keperluan Dinda dan El kakak yang sediakan."
"Baiklah. Apapun untuk mu."
"Harus dong.. Semua nya untuk Dinda."
Toni berdecak mendengar perkataan Dinda tapi ia tidak marah, apa memang seperti itu jika sudah cinta? lebih parahnya jatuh cinta pada wanita ke kanak-kanakan. Ia tidak bisa marah pada Dinda. Entahlah..
"Apa kamu akan tinggalkan kakak lagi?" tanya Toni menatap wajah Dinda serius.
Dinda bangkit mendekati Toni yang sedang duduk di tepi ranjang. Duduk di pangkuan Toni dengan melingkarkan tangan di leher suaminya.
"Tidak akan. Tapi jika suatu saat nanti kakak mulai bosan tolong kasih tahu Dinda ya.."
"Bagaimana bosan? di tinggalkan satu tahun bukan nya cari sampingan malah diam menurut saja disuruh nunggu." ucap Toni cemberut.
__ADS_1
Dinda tergelak melihat Toni yang cemberut. Sangat lucu. "I love you suamiku."
"I love you too istriku."
Tidak tahu siapa yang memulai. Kedua bibir itu menyatu untuk menyampaikan rasa cinta. Bukan ciu man menuntut.
Dinda memeluk Toni setelah pagutan kedua bibir itu terlepas. "Maafkan segala kesalahan Dinda kak.."
Toni mengangguk."Iya, jangan buat ulah lagi. Bicarakan pada kakak jika mengganggu pikiranmu ya.. Kita punya El yang harus di bahagiakan. Dan kakak berharap El akan punya adik." Toni tersenyum seraya mengelus perut rata Dinda.
"Mau punya anak berapa?" tanya Dinda.
"Berapa yang di kasih Pencipta sayang.. Kakak terima berapa pun."
"Kamu tidak apa-apa kan jika hamil lagi?" tanya Toni.
"Tentu sayang.. Dinda sudah siap lahir batin."
Senyum Toni mengembang. Tentu ia merasa bahagia. Dia memang menyayangi baby El, tapi tidak di pungkiri bahwa ia menginginkan keturunan nya juga. Anak kandungnya, darah dagingnya.
Memikirkan Dinda sedang hamil. Aahh ia merindukan tubuh sek si istrinya saat sedang hamil. Ia merindukan bentuk tubuh Dinda saat hamil.
"Jadi kita mulai pembuatan adik El sekarang?" goda Toni.
"Besok? tidak. Nanti malam ya.." tawar Toni.
"Itu juga boleh. Sekarang kita tidur ya.. Selagi El juga tidur."
*****
"Mas, sekarang tuan Toni tinggal bersama kita, kita masih bekerja dengan mereka atau bagaimana ya?" tanya Maya pada Zaki yang baru selesai mandi.
"Mas juga gak tahu dek. Mas bingung. Nanti saat berdua dengan Dinda akan tanya ya." jawab Zaki sembari menerima pakaian dari Maya.
"Bagaimana jika enggak mas? aku tidak enak pada tuan Toni."
"Udah jangan kau pikirkan. Biar aku yang pikirkan ya. Tidurlah.."
Matapun menuruti apa kata suaminya. Sedangkan Zaki memilih duduk di kursi meja rias. Sebenarnya Dinda sudah memberitahu keinginan Dinda sebelum berangkat kembali ke Surabaya.
"Bang Zaki, tetaplah tinggal bersama Dinda ya.." pinta Dinda.
"Mana bisa Din, suami mu udah kembali. Waktunya kita pisah rumah."
__ADS_1
"Jangan, Dinda punya keinginan buka usaha, nanti abang bantu Dinda ya.."
"Usaha apa?"
"Terserah, yang pasti banyak di minati orang bang. Nanti kita pikirkan bersama."
Zaki mengangguk. Bukan ia tidak tahu diri. Tapi karena ia juga terlanjur sayang dengan Dinda hanya manut-manut saja.
Ia pun merasa apa yang dikatakan Dinda benar bahwa dia punya sejuta pesona. Zaki pun berdecak. Bersyukur ia tidak jatuh cinta pada Dinda. Bukan tidak tapi belum saat itu. Namun ia menepis segala sesuatu nya agar ia tidak jatuh cinta hingga bertekad menikahi Maya. Wanita kalem dan sering tersipu malu saat ia goda.
Zaki tidak menyesal menikah di usia muda. Jika saja ia tidak menikah dengan Maya kala itu, maka dipastikan ia akan tinggal berdekatan dengan Dinda dalam setahun rangka pelarian Dinda. Dan itu tidak akan ia biarkan.
Siapa yang tidak akan terpesona dengan Dinda? gadis manja nan cantik. Pandai memuaskan suami di ranjang. Walaupun ia masih muda, baru berusia 22 tahun. Tapi ia sudah mengerti hal bercin ta di atas ranjang.
Jika di tanya pernah tidak membandingkan jdinda dengan Maya? tentu saja pernah. Tapi ia akhirnya mengakui kedua wanita itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Jika Dinda pandai dalam fashion dan urusan ranjang, maka Maya pandai dalam mengatur keuangan dan urusan rumah. Seperti memasak. Dinda memang bisa masak, tapi tidak selezat masakan Maya.
Jika urusan rumah, Dinda pandai memilih perabot dan menghias setiap ruangan tapi di lakukan orang lain, dia hanya memberi intrupsi. Sudah terbiasa hidup di enakkan suami. Berbeda dengan Maya yang turun tangan mengatur letak posisi barang perabot yang ada walau dia tidak pandai menata nya agar tampilan ruang itu rapi.
Dan ia juga senang dan setuju jika Dinda berjodoh dengan Toni. Karena apa? Toni bisa menutupi kekurangan Dinda yang tidak pandai memasak dengan mempekerjakan koki terbaik jika ia ingin. Dan kelebihan Dinda dalam bidang fashion, maka Toni menunjang dengan uang berlimpah. Apalagi urusan ranjang? Tentu Toni lah yang cocok mengimbangi Dinda dari pria-pria sebelumnya.
Pernah Zaki berpikir, dari mana tenaga Dinda berasal? sedangkan istrinya saja dua ronde sudah minta ampun di bawah kukungan nya. Sedangkan Dinda sanggup sampai 4 ronde. Apa karena anak abdi negara begitu?
Bagaimana Zaki tahu? tentu ia dengar sendiri dari mulut lemes Dinda saat bercerita vulgar dengan istrinya.
"Mbak keramas pagi-pagi.. Abis tempur ya?" goda Dinda.
Maya yang malu-malu hanya mengangguk. Zaki kala itu berdiri di ambang pintu hanya mendengarkan Dinda mengintrogasi istrinya. Ia berdiri bersandar dengan melipat kedua tangannya di dada.
Dinda memelankan suaranya. "Berapa ronde mbak?"
Lagi-lagi Maya malu-malu. "Dua Din."
"Dua? mbak puas?" tanya Dinda lagi.
"Iya. Sekarang badan mbak remuk dibuat abangmu." keluh Maya.
"Apanya capek sih mbak.. Aku sampai 4 ronde baru deh minta ampun. Kalau enggak, kak Toni bisa lanjut."
Zaki tidak tahan mendengarkan hal itu berdehem dan membuat kedua wanita itu terperanjat.
🌸
__ADS_1
TBC