PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 81 Awal permainan pelakor


__ADS_3

Dinda berjalan lunglai tanpa arah,ia bingung harus bagaimana cara pulang kerumah dengan uang bersisa 3000 rupiah di kantong dan tanpa ponsel.


Ia merasa sudah berjalan jauh dari perkantoran dan ia yakini ini bukan jalan ke arah rumahnya.Air mata Dinda seakan mengerti isi hati nya.Untuk kali pertama ia di bentak Toni dan itu bukan karena kesalahannya.


FLASHBACK ON


Toni tersenyum melihat Dinda sedang ketakutan.Terkadang ia berpikir,apa seseram itu saat ia sedang marah?


Pak Rudi senang melihat perubahan raut wajah Toni.Ia merasa berhutang budi pada istri Tuan nya itu berniat untuk berterimakasih pada Dinda setelah rapat.


"Kemari lah.."Toni merentangkan tangan.


Tentu Dinda menyambut pelukan Toni,ia hirup dalam-dalam harum tubuh Toni.


"Kak maaf ganggu ya."


"Tidak ada yang lebih penting darimu sayang."


"Kak,Dinda kesini mau minta uang."


Toni melonggarkan pelukannya menatap Dinda."Uang yang kakak kasih udah habis?"


Dinda menggeleng."Dinda lupa bawa dompet dan ponsel.Tadi naik ojek udah di bayar dari aplikasi."


"Ya ampun,kenapa kamu ceroboh sekali Din?"Toni mengambil dompet di saku celana.Ia menyerahkan lima lembar ratusan pada Dinda.


"Kebanyakan kak,Dinda butuh satu saja kak.Kakak balik rapat gih,jangan marah-marah lagi ya."Ucap Dinda seraya berjinjit mengecup pipi Toni.


Tanpa keduanya sadari,ada sepasang mata menyaksikan hal itu dan membuat ia semakin cemburu.


Kini Dinda sudah berada di kantin sedang mengantri untuk memilih makanan.Ia bingung harus mana yang ia makan karena perutnya sudah tidak merasa lapar.


Sebenarnya pihak kantin perusahaan telah meminta Dinda untuk duduk saja agar mereka melayani Dinda,tapi Dinda menolak dengan alasan ingin memilih sendiri makanan dan minuman nya.


Pilihan Dinda jatuh pada minuman Boba rasa kopi,air mineral,dan kentang goreng saja.Sudah satu jam ia berada di kantin dan sudah kali kedua ia memesan makanan dan minuman yang sama.


"Nyonya Dinda."Panggil seseorang.


"Eh Pak Rudi.Ada apa ya Pak?"Dinda melihat ada beberapa orang yang datang bersama Pak Rudi termasuk Rina.


"Kami mau ngucapin terimakasih pada Nyonya karena Nyonya Dinda tadi datang Tuan Toni tidak marah-marah lagi."


Sontak hal itu membuat Dinda tertawa. "Ah nggak begitu juga Pak.Tadi malah saya yang ganggu."


Dan beberapa orang itu bersalaman pada Dinda dan kini giliran Rina.Namun Rina tidak mengucapkan terimakasih ataupun bersalaman.


"Apa sih yang kamu punya?"Tanya Rina dengan nada ketus.

__ADS_1


"Aku?punya mata,hidung,mulut, sama seperti mu."jawab Dinda tak kalah ketus.Ia cukup tahu jika sekretaris suaminya ini terobsesi pada suaminya.Toni.


"Bisanya hanya ngabisin uang calon suamiku saja.Tidak berguna."


"Inget.Yang kamu katakan calon suami itu adalah suamiku."


Perdebatan keduanya di saksikan Pak Rudi dan rekannya tadi.Mereka cukup tahu pasti Rini akan berbuat sesuatu.Tapi jika kelewat batas maka Tuan Toni akan bertindak.


"Mending kamu pergi dari hidupnya Toni deh,cari yang sepadan sama kamu.Sama-sama sampah."


"Lebih sampah mana sama cewek yang ngaku-ngaku pemilik suami orang?Dasar ulat keket"Dinda bangkit bertujuan pergi dari perdebatan.Tapi...


Tiba-tiba Rina menyiram baju nya sendiri dengan air mineral dan berteriak."Apa maksud Nyonya menyiram saya?Apa salah saya?saya hanya ingin mengucapkan terimakasih seperti yang lain."


Dinda mengerutkan dahi bingung mengapa ulat keket berubah.


"Dinda.."Bentak seseorang berada di belakangnya.


Dinda terkejut,bukan ia tidak tahu suara siapa itu.Ia terkejut untuk kali pertama orang yang selalu menyanjung dirinya membentak nya.


"Bu-bukan Dinda kak."Bela Dinda.


"Nyonya maafkan saya jika saya sering bersama Tuan,itu hanya pekerjaan.Tidak lebih."


Dinda melongo.Ia tidak mengerti mengapa Rina bicara seperti itu jadi ia hanya diam saja.


"Get out of my office(Pergi dari kantor saya)." Ucap Toni lagi dengan menatap tajam ke arah Dinda.


Dinda tidak kuat,seumur hidupnya baru Toni yang membentaknya.


Dinda mengangguk."Baiklah."


"Apa tadi kamu bilang Rina?Aku menikah dengan Tuan Toni hanya bisa menghabiskan uang nya saja?Baiklah.Mulai sekarang jangan kau transfer uang ke rekening ku lagi.Dan apa tadi kamu bilang Rina?Cari yang sepadan dengan ku?Baiklah.Aku akan menyuruh yang sepadan dengan ku pulang untuk menjemput ku dan anakku."


"Baiklah.Aku tidak akan datang lagi ke kantor mu Toni Sanjaya."Dinda menatap Toni dengan tatapan tak kalah tajam.


"I know enough about your feelings. Your love is bullshit.


(Aku cukup tahu tentang perasaan mu. Cinta mu hanya omong kosong.)"Tutur Dinda penuh kekecewaan.


Toni tertegun mendengar penuturan Dinda.Bukan itu yang ia maksud.Ia hanya tidak suka Dinda bersikap tidak sopan sampai menyiram seseorang.Karena yang ia tahu walau Dinda manja tapi tetap sopan.


Dinda sudah melangkah namun kembali lagi. Ia memegang gelas berisikan minuman Boba miliknya tadi.Ia minum lalu


Bbyyuurr...


"Uupss maaf sengaja."Ucap Dinda.

__ADS_1


"DINDA."Bentak Toni sekali lagi dan tangan sudah mengudara akan menampar


"Apa kak?Mau tampar Dinda?Tampar kak.."Dinda menatap Toni dengan tatapan kecewa.


Toni hanya terdiam,ia menyadari jika ia sudah kelewat batas."Maafkan kakak Din."


"Maaf?Aku pergi dan jangan cari aku."Dinda bicara dengan mata berkaca-kaca.


"Dan ambil saja suamiku jika dia mau padamu."


Dinda berlari tidak tahan membendung rasa sakit nya.Ia tidak menghiraukan orang-orang yang sedang menatap iba padanya.


FLASHBACK OFF


Kini Dinda sedang duduk di depan diskotik berselimut kafe dan restoran yang cukup terkenal dan ia mengetahui siapa pemilik tempat tersebut.


Tampak dua penjaga menghampiri Dinda.


"Nyonya Dinda."Sapa salah satu penjaga.


"Aku bukan lagi Nyonya kalian,panggil Dinda ya."Ucap Dinda sembari menghapus air mata.


"Bagi kami anda tetap Nyonya kami."


"Terserah kalian saja.Apa bang Arga sudah datang?"Tanya Dinda walau ia yakin jika Arga sudah datang karena waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore.


"Sudah Nyonya."


"Ada mbak Mira juga?"Tanya Dinda lagi.


"Tidak.Nyonya Mira sedang keluar negeri sudah dua Minggu."


"Antar aku menghadap bang Arga."


Dinda mengikuti salah satu penjaga.Ia harus menemui Arga karena hanya Arga yang bisa menolong saat ini.Biarlah ia di katakan wanita tidak tahu malu.Sudah bercerai masih meminta pertolongan pada mantan suami.


Dinda melihat Arga sedang berbicara pada seseorang yang ia kenal.Aril.


"Bang Arga."Panggil Dinda.


Arga dan Aril terkejut melihat siapa yang memanggil Arga.Lebih terkejut melihat keadaan Dinda saat ini.Rambut sedikit berantakan dan nata sembab akibat menangis.


"Dinda apa yang terjadi dek?"


🌸


🌸

__ADS_1


__ADS_2