PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 104


__ADS_3

Mobil mewah yang di tumpangi Dinda,Toni, dan Zaki telah terparkir rapi di parkiran kampus UMA. Zaki keluar dari mobil dengan segera membuka pintu untuk Toni.


"Biar saya saja yang membuka pintu untuk Dinda."


"Baik Tuan." Zaki membungkuk dengan hormat pada Toni.


Toni mengitari mobil sembari menggulung kemeja hitam panjang nya sampai ke siku. Toni membuka pintu dan menjulurkan tangan untuk Dinda.


Dengan senang hati Dinda menerima juluran tangan Dinda untuk ia genggam sepanjang jalan menuju kelas nya.


Di tengah lorong, Dinda berhentikan langkah saat melihat seseorang menyebalkan bagi para mahasiswa-mahasiswi semester 3,4,5,dan 6 baru beberapa Minggu ini. Hingga Zaki menabrak tubuh Dinda dari belakang, ia tidak memperhatikan ke depan karena ia memperhatikan ponsel di tangannya.


"Aduh.. Sakit bege." Pekik Dinda.


"Sorry." Jawab Zaki.


"Sayang.. bege itu apa?" Tanya Toni melihat Dinda mengelus kepala nya yang terantuk kepala Zaki.


"Bukan apa-apa kok."


"Ya sudah ayo ke kelas kamu."


Langkah ke tiganya terhenti ulah seseorang mendatangi salah satu dari mereka.


"Maaf.Kamu Toni Sanjaya kuliah S2 di UI kan?" Tanya seseorang yang di kenal Dinda dan Zaki. Tak lain dan tak bukan ialah Bu Merry dosen baru beberapa Minggu yang lalu.


Dinda dan Zaki saling pandang kemudian mengangkat bahu acuh.


Deg


Toni yang ditanya tetap bersikap datar dan tetap menggenggam tangan Dinda.


"Ya. Anda siapa?"


"Aku Merry. Apa kamu sudah lupa siapa aku?"


Seketika dosen menyebalkan itu berubah menjadi centil dan sok akrab di mata Dinda.


Toni menatap Merry sekilas kemudian mengangguk. "Ah ya kamu Merry."


Merry melihat Dinda mengingat salah satu mahasiswi nya.


"Kamu Dinda Larasati kan?"


Dinda mendengar pertanyaan Merry seketika berdiri tegak karena sedari tadi ia bergelayut manja di lengan Toni.


"Iya Bu."


"Sekarang masuk kelas. Jangan pacaran saja. Masih sama-sama kuliah sudah pacaran." Merry menatap Dinda dan juga Zaki.


Dinda dan Zaki tercengang mendengar dosen menyebalkan itu.


"Buk.. Dinda sama Zaki gak pacaran." Elak Dinda.


"Sudah sana masuk kelas. Untuk hari ini pelajaran saya free. Kerjakan tugas kemarin jika belum selesai. Beri tahu yang lain. Saya kedatangan tamu."


Dinda dan Zaki sudah menaruh curiga. Dinda mengkerut dahi menatap Toni yang diam sedari tadi.


"Siapa tamu Ibuk?" Tanya Zaki.


"Ini yang berdiri bersama kita. Sudah sana kalian." Usir Merry sembari melepas tangan Toni yang menggenggam tangan Dinda.


Toni menatap Dinda dengan tatapan susah di artikan. Dinda melihat kepergian Toni dan Merry dengan sendu.


"Bang.. Gue takut." Ucap Dinda lirih dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Lo harus yakin dengan cinta lo Din."


"Lo nggak lihat tadi kak Toni diem aja waktu kita di sangka pacaran?"


"Udah jangan di pikirin. Nanti gue cari tahu. Mending lo sekarang masuk...Belajar yang bener biar pinter."


Dinda mendengar itu pun berdecak sebal.


"Halah.. Iya deh yang pintar bin playboy itu." Dinda memanyunkan bibir nya.


"Jelek lo manyun begitu. Kayak bebek." Zaki terbahak dan ia senang akhirnya bisa mengalihkan pikiran Dinda dari kejadian tadi.


****


"Kamu apa kabar?" Tanya Merry duduk berhadapan dengan Toni.


"Baik." Jawab Toni singkat.


"Kamu tidak merindukan aku Ton?" Tanya Merry menatap Toni.


Toni hanya diam dan ia sendiri tidak menampik jika Merry orang dari masalalu nya tampak lebih cantik dan dewasa dengan usia nya yang sudah berkepala tiga.


"Aku merindukan mu Ton. Aku belum bisa melupakan mu."


Toni tersenyum. "Kamu yang meninggal kan aku."


"Dulu aku begitu cemburu terhadap mu.Maaf. Apa kita bisa memulai nya kembali? Aku sengaja pindah ke Medan hanya karena mencari mu."


"Maaf. Aku sudah menikah." Terang Toni.


Merry menggenggam tangan Toni yang berada di atas meja. "Aku siap menjadi yang kedua Ton."


Toni menggeleng. "Istriku tidak akan siap dan terima itu Merr." Sekali lagi ia merasa goyah. Ia bimbang setelah bertemu cinta pertama nya.


"Tapi kamu mau kan?" Tanya Merry meyakinkan jawaban nya.


"Baiklah..Diam mu sebagai jawaban setuju bagiku. Aku akan membuat istrimu menyetujui nya."


Merry berdiri membungkuk ke arah Toni masih duduk.


Cup


Satu kecupan mendarat di pipi Toni.


"Aku merindukan sentuhan mu yang sempat tertunda karena aku sedang datang bulan dulu." Tatapan kedua nya terkunci.


Toni terpaku mendengar ucapan Merry. Sebagai pria petualang dan sudah libur hampir seminggu tentu ia tergoda.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengawasi mereka.


*****


Di Jerman. Kota Berlin.


"Lo beneran nggak datang ke acara reuni Dim?" Tanya Rio.


"Nggak. Bella datang ke acara itu. Gue gak sanggup lihat reaksi Dinda saat tahu gue khianati dia."


"Lo gak curiga saat waktu itu lo janjian ketemu sama Dinda?"


Dimas diam sesaat memikirkan pertemuan terakhir nya pada Dinda. Dinda yang ia rindukan.


"Dia menghindar dari gue." Jawab Dimas lirih.


"Bukan. Sikap dia kayak takut-takut dan kayak sedang di awasi. Nyadar gak lo?"

__ADS_1


"Ya pasti takut. Lo gak lihat pengawal Dinda?"


Rio terkekeh. "Bener.Gue lupa."


Dimas masih asik menatap foto Dinda di ponsel nya. Poto mereka berdua saat Dinda mengantarnya di Bandara.


Aku merindukan Dindaku.


Semoga kamu bahagia.


Maafkan aku.


****


"Dinda. Ikut keruangan saya." Titah Merry saat jam pelajaran nya selesai.


"Baik Buk."


Dinda mengikuti langkah Merry keruang dosen.


"Kamu siapa nya Toni?" Tanya Merry angkuh.


"Saya istrinya Buk." Jawab Dinda dengan tenang.


"Dengarkan saya. Toni dengan saya itu dahulu pernah berhubungan bahkan belum ada kata putus dari kami."


Deg


Benarkah? Aku gak boleh percaya begitu aja.


"Dan saya adalah cinta pertama Toni."


Dinda mengangguk mencoba tetap tenang walau hatinya menjerit. Ternyata ujian hubungan nya bukan Rina melainkan dosen di depan nya. Pikir Dinda.


"Kalau begitu saya permisi buk."


Dinda berjalan dengan gontai. Ia baru menyadari setelah pagi tadi Toni pergi dengan Merry, Toni tidak kembali ke kampus menunggu nya.


Dinda berjalan gontai menyusuri lorong dengan tatapan kosong. Ia seakan tahu perjalanan cinta nya tidak semulus bayangan nya selama ini.


Ia salah.


Ia ragu.


Benarkah cinta Toni hanya untuknya?


Bahkan baru bertemu dengan masa lalu nya sudah melupakan dirinya.


Aku takut. Aku belum siap. Apa yang harus aku lakukan. Bagaimana nasib El?


"Din..Dindaaaa.." Teriak Zaki saat melihat Dinda berjalan dengan tatapan kosong.


Dinda menoleh ke arah suara dan senyum yang di paksakan. Zaki pun berlari menghampiri Dinda. Ia benar-benar merasa iba pada Dinda.


"Lo gak apa-apa?" Tanya Zaki memastikan karena ia tahu apa yang terjadi.


"Gue takut. Gue takut salah sangka. Tapi semua seakan nyata." Ucap Dinda lirih.


"Lo harus cari tahu hubungan mereka dari orang yang kenal lama dengan lakik lo."


Dinda mendongak memandang Zaki memikirkan apa yang di katakan Zaki kemudian mengangguk setelah menemukan jawaban.


"Bang Rian."


🌸

__ADS_1


🌸


__ADS_2