
Di Bandara Internasional Kualanamu
Tampak seorang lelaki sedang memeluk seorang wanita yang sangat ia cintai.
Ia akan meninggalkan segalanya...
Meninggalkan Wanita nya..
Meninggalkan Cinta nya..
Meninggalkan semangat hidup nya..
Ia akan kembali ke tempat kelahiran..
Jauh dari wanita nya..
Jauh dari segala tentang dunia wanita nya..
Ia menyadari , bahwa cinta dalam diam itu tak akan ada kebahagiaan yang hakiki.
Ia menyesali seharusnya nya ia mengejar cinta nya.
Dinda masih berada dalam pelukan Dimas. Ia tak membalas pelukan nya namun tak juga menolak nya..
Nyaman... gumam Dinda dalam hati nya.
"Dim, sudah dari satu jam yang lalu kamu memeluk ku loh." Protes Dinda yang sudah mulai gelisah berada di pelukan nya.
Dimas melepaskan pelukan nya dan memegang kedua lengan Dinda. "Apa kamu bosan berada dipelukan ku Din ?"
"Bukan begitu.. tap-".
Dimas sudah memeluknya kembali.
"Hei.. aku belum selesai bicara." Dinda cemberut sambil memukul dada kekar milik Dimas.
Dimas terkekeh dan di lihat nya wajah wanita yang berada di pelukan nya dibalik kacamata hitam tersemat di atas hidung mancung nya itu.
"Bicara lah" masih memeluk Dinda..
"Aku hanya pegal Dim, oh iya mari kita berfoto untuk kenang-kenangan." Dimas melepaskan pelukan nya.
"Kita Selfi ya.."
cekreekk...
"Lihat lah.. kamu pakai kacamata terlihat sangat tampan, pasti sangat banyak wanita disana suka dengan mu."
"Yaa benar."
"Oke baiklah.. akan aku upload di Instagram ku ya.. caption apa ya.. aahh begini saja .
The sweetest parting with Bule Medan. Stay happy and I will be happy too. Dont miss me Bule Medan.😍😊"
"Aahh kamu sangat romantis Din." Dimas tersenyum namun hati nya teriris membaca nya.
Rio menghampiri Dimas memberi tahukan bahwa sudah waktu nya mereka berangkat.
Dimas berdiri dan Dinda ikut berdiri.
"Aku berangkat Din, ingat kamu harus kuliah, raih lah cita-cita mu Din"
"iyaa aku janji akan kuliah.."
"kamu hati-hati disana ya.." ucap Dinda lagi.
Dimas mendekat mengikis jarak antara ia dan Dinda . Dipeluk nya kembali Dinda, di kecup pucuk kepalanya terus menerus.
"Aku pergi Din, kamu harus bahagia .. bila butuh aku, segera hubungi aku."
"Iya," Tanpa terasa air mata Dinda menetes .
"Aku kenapa sih bisa menangis Dim?"
"Sudah waktu nya Dim." Tegur Rio lagi .
"Berangkat lah Dimas, aku sudah mengirim foto kita tadi.. lupakan aku Dim.." pinta Dinda itu
Dimas dan Rio sudah berada di dalam pesawat. Dimas tetap memakai kacamata hitam nya untuk menutupi mata nya yang sembab akibat tangisan nya malam tadi.
Cengeng memang untuk seorang lelaki terpopuler di sekolah nya itu.
Namun ia juga manusia dengan hati yang lemah karena cinta.
Ia masih tak menyangka bahwa hidup nya akan berubah setelah kepergian nya dan kembali ke Negara kelahiran nya. Jerman.
*****
Dinda dan Toni keluar dari Bandaran.
Mereka berdua menuju mobil dan melajukan dengan kecepatan sedang.
"Kak... Karaoke yuk."
"Boleh, tapi kabari dulu tuan Arga Din."
"Ahh iya hampir lupa kalau sudah punya suami."
mereka berdua pun tertawa.
Dinda mengotak-atik ponselnya mencari nama kontak "pak suami " untuk menelepon suami nya.
Di tempat lain ..
Arga yang masih mengadakan rapat dengan Aril membahas Restoran baru nya di ruangan kerja nya berhenti sejenak karena melihat sang istri menelepon .
Dinda💖 calking. . .
"Tunggu sebentar Dim , istriku menelepon."
"Baik tuan." jawab Aril cemburu namun ia masih bisa menguasai dirinya.
__ADS_1
Arga mengangkat telepon dari istrinya itu.
☎️Arga
*Ada apa Dinda?"
...☎️Dinda...
...*Karaoke yuk...
☎️Arga
*Abang sedang bekerja Dinda
...☎️Dinda...
...*Abaanngg ayo dong...
☎️Arga
*Baiklah, datanglah ke tempatku bersama Toni
...☎️Dinda...
...*Oke terimakasih suami...
Dinda memutuskan sambungan telepon nya.
"Ayo kak berangkat."
Dua puluh menit kemudian
Mobil Dinda telah terparkir di parkiran VIP Diskotik milik suami nya.
Dinda melihat nya takjub.
Gedung berlantai 4 itu berdiri kokoh di depan nya.
"Waahh kak.. ini sangat besar.. lalu dimana Diskotik nya kak? bukan kah ini restoran?"
"ya benar. Di lantai dasar ini adalah restoran." Mereka berdua memasuki Gedung tersebut .
"Bagus ya kak.. desain nya juga kekinian. Aahh jiwa selfi ku meronta." Ucap Dinda kegirangan .
"Hei!!! kondisikan dirimu. Kamu nyonya disini."
"Ah ya aku lupa."
Toni mengarahkan Dinda masuk ke dalam lift untuk menuju lantai dua.
Pintu lift terbuka . Toni juga menjelaskan lantai dua ini adalah khusus karaoke dan Toni memberi tahukan level ruangan dari ruangan biasa, ruangan sedang hingga ruangan VIP juga ada disana.
Dinda hanya mengangguk tanda mengerti dan mereka berjalan lagi masuk kedalam lift menuju lantai tiga.
Saat pintu lift terbuka, Dinda terkejut dengan cahaya lampu remang-remang dan ada sinar lampu berkelap-kelip disana.
Dilihat nya banyak wanita berpakaian seksi disana, Dinda melangkah maju diikuti Toni dibelakang nya.
"ya beginilah wanita yang datang ke diskotik." jawab Toni sambil melihat tingkah Dinda yang sedang celingukan seperti mencari anaknya yang tak pulang-pulang .
Dinda terkejut saat melihat sepasang manusia sedang bercumbu bahkan pakaian bagian atas wanita itu sudah terbuka.
"Astaga kak.. mata ku sudah tak suci lagi." kata Dinda sambil menutup matanya.
Toni yang mendengar itu pun akhirnya tertawa.
"hahaha ada-ada saja kamu Din, bukankah kamu memang sudah tak suci lagi?."
Kamu sangat menggemaskan Din.. terimakasih sudah membuat ku tertawa dengan lepas lagi. bahkan terakhir kali aku tertawa saat dia masih ada. gumam Toni tetap fokus mengawasi Dinda.
"Ah iya aku lupa, ayo kak kita datangi suami ku itu."
"Ingat... bersikaplah seperti pengawal dan nyonya saat di depan tuan Arga."
"Iya aku ingat kak." jawab Dinda sambil menggandeng lengan Tino ke arah lift.
"Baru di ingatkan sudah bertindak seperti ini Din?"
"Tenanglah kak, ni aku lepasin." jawab Dinda melepaskan tangan nya dari lengan Tino.
"Oh iya kak, di lantai atas ada apa saja?"
"Hanya ruang kerja dan dua kamar, dapur . Lebih tepatnya seperti apartemen."
"Kenapa ada dua kamar kak?" tanya Dinda penasaran .
"satu milik tuan Arga dan satu lagi kamar Aril." jelas Arga
"Berarti ada istri nya Arga dong? OMG aku akan bertemu dengan istri mantan kekasih ku? astaga.. aku harus bagaimana ? Marah, sedih, atau bahagia ya kak?"
"Yang mengatakan istri Aril juga tinggal disini siapa Din? istri Aril tinggal di apartemen milik Aril . Kamar itu digunakan hanya untuk tempat peristirahatan saja."
"Oh oke oke mengerti."
"Apakah kamu cemburu?"
"Oh Big No... hati ku sudah kosong kak, aku hanya ingin menikmati kisah hidup ku saja, ikutin saja jalan takdir hidup."
Toni mengacak-acak rambut Dinda . "Anak pintar."
Dinda cemberut "Berantakan kak." Dinda merapikan kembali rambut nya setelah itu ia tersenyum, sepertinya ia menyadari bahwa pengawal nya itu mulai menerima nya sebagai adik.
"Mulai lah berakting di depan tuan Arga Din."
Dinda menegakkan tubuh nya.
"Baiklah."
Ting
Pintu lift terbuka.
__ADS_1
Arga sedang duduk di sofa ruangan itu pun menoleh ke arah pintu lift . Dilihat istri nya berjalan kearah nya.
"Abang sudah nunggu lama?" Dinda duduk dipangkuan Arga.
Sontak tiga pasang yang sedang memperhatikan nya langsung terkejut.
Arga yang mendapat perlakuan seperti itu tentu merasa senang. Arga tersenyum .
Toni yang terkejut secepat kilat menguasai dirinya. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Hebat juga akting kamu Din .
Sedangkan Aril tampak wajah nya memerah menahan emosi nya. Ia cemburu melihat mantan kekasih nya. Padahal dahulu saat bersama nya, Dinda tak pernah agresif padanya.
Dinda melirik ke arah pengawal nya, bertetapan pandangan mereka bertemu.
Dinda tersenyum dan mengerlingkan sebelah matanya kearah pengawal nya.
Toni yang diperlukan seperti itu langsung kelagapan. Astaga berasa gue selingkuhan nya bila begini.
"Abang ayo dong karaokean."
"Baiklah, kita berdua atau mereka ikut dengan kita?" tawar Arga sambil tangan nya membelai rambut panjang istrinya itu.
Dinda berpikir bagaimana caranya agar ia terlihat manja kepada suami nya itu, padahal ia sendiri bukan tipe wanita yang terlalu manja.
Dinda tersenyum saat dilihatnya ada TV dan peralatan untuk karaoke. Dan muncul lah ide nya.
"Abang kita karaoke di lantai bawah saja ya.."
"Baiklah, sekalian aku akan memperkenalkan mu sebagai istriku."
Dinda tersenyum."Tapi..." ucap Dinda sengaja menggantungkan kalimat nya.
"Tapi kenapa Din?" tanya Arga
"Gendong." Jawab Dinda dengan manja.
"Baiklah.. sini"
Arga segera menggendong Dinda ala bride style .
Dilirik nya kebelakang ke arah Aril, dilihat nya wajah yang menahan amarah itu.
Mereka berempat sudah berada di dalam private room. Di dalam nya ada toilet , cukup luas . dan peralatan karaoke yang lengkap.
Dinda mencari judul lagu yang akan di nyanyikan nya dengan di saksikan tiga lelaki yang sedang duduk di sofa .
"Nah ketemu, Toni.. tolong rekam video aku sedang bernyanyi ya." pinta Dinda menyodorkan ponsel nya.
Toni menerima ponsel Dinda untuk merekam video.
Dinda menyanyikan lagu berjudul Soulmate, Kahitna .
(Dengerin dari YouTube ya gaes biar ngerti makna lagu nya, author Uda nulis lirik nya tapi gak lulus jadi author hapus deh liriknya)
Dinda sangat menghayati nyanyian nya tanpa terasa air mata nya menetes lagi. ia bingung, untuk siapa lagi ini di nyanyikannya. Tapi yang pasti ia ingin menangis.
Arga yang merasakan istri nya sedang tidak baik-baik saja mulai mengintrogasi pengawal istri nya.
"Toni, apa yang dilakukan istriku seharian ini?"
Mati aku!!!
"Tidak ada tuan, saya hanya mengantarkan Nyonya ke Bandara saat siang tadi Tuan."
jawab Tino jujur
"Bandara? sedang apa kalian disana?"
"Mengantar teman Nyonya Tuan."
"Siapa?" tanya Arga lagi
"Saya tidak tahu tuan."
Dinda selesai bernyanyi..
"Abang.. bisakah kita pulang? perut Dinda sakit." Jawab Dinda jujur karena sedari menyanyi sudah merasakan sakit di perut nya.
"Menginaplah disini, aku akan memanggil dokter." Arga mengambil ponsel di saku celana nya.
"Tidak usah bang, ini maag Dinda saja yang kambuh karena terlambat makan tadi siang."
Cegah Dinda karena ia takut kehamilan nya di ketahui oleh suami nya.
"Tino, apa pekerjaan mu cukup berat hanya untuk mengawasi istriku?" Ucap Arga yang sudah emosi .
"Maaf Tuan."
Ia bingung, kapan Dinda terlambat makan? sedangkan siang tadi mereka makan bersama sebelum ke Bandara.
Dinda yang masih meringis kesakitan membuat Aril semakin tidak tega.. ia tahu pasti terjadi sesuatu dengan anak mereka yang masih ada di kandungan Dinda.
"Tuan, bisakah segera antar nyonya ke kamar tuan?" Aril memberanikan diri mengucap kalimat itu.
Arga segera menggendong Dinda menuju lantai atas .
Setelah diletakkan Dinda di tempat tidur, Aril menyodorkan air hangat kepada tuan nya.
Arga langsung memberikan gelas itu ke Dinda dan meminumkan nya.
"Istirahat lah," ucap Arga khawatir.
Dinda tersenyum lalu memejamkan matanya menuju alam mimpi.
🌸
🌸
🌸
TBC
__ADS_1