
Terdengar suara deru mesin mobil yang di yakini Toni itu suara mobil istrinya.Dinda.
Ada rasa kesal di hatinya karena Dinda pulang malam tapi rasa khawatir lebih besar dari hal itu.
Sebenarnya ia tahu Dinda pergi ke Apartemen lamanya. Ia membiarkan Dinda untuk menenangkan hatinya dan berharap setelah ini Dinda meminta maaf dan berbaikan.
Dinda berjalan menuju meja makan. Ia mengambil makan kemudian duduk memulai makan nya tanpa memperdulikan Toni sedang menunggu makanan nya di hidangkan Dinda.
Dinda berpikir. Sudah ada orang lain yang berani menggantikan posisi nya untuk menyediakan makanan Toni.
Toni yang tidak di perduli kan pun diam tidak makan hanya memperhatikan Dinda sedang makan dengan cepat.
Triinngg..
Triinngg...
Ponsel Toni berdering. Sekilas Dinda dan Toni saling memandang. Beberapa detik kemudian pandangan mereka terputus karena ponsel terus berdering.
"Mama.." Gumam Toni.
Gumaman Toni masih terdengar Dinda. Seketika Dinda memberhentikan makannya.
Toni: Malam Ma.. Ibu..
Sapa Toni pada Mama Rahma dan Ibu Ayu yang ternyata sedang melakukan panggilan video yang digabungkan.
Dinda menoleh kearah Toni juga sedang menatap nya.
*Mama Rahma: Apa menantu Mama sudah pulang Toni?
Toni: Sudah Ma. Dinda sedang makan.
Ibu Ayu: Mana anak Ibu itu Toni? anak tidak tahu malu itu. Bagaimana bisa dia kabur dari rumah*?
Dinda mendengar itu pun menjadi sebal tapi masih melanjutkan makan.
Toni beranjak dan duduk di sebelah Dinda. Ia meletakkan ponsel di meja menampakkan Dinda dan Toni di layar ponsel nya.
Dinda tersenyum terpaksa melihat wajah Ibu Ayu.
*Dinda: Malam Ibu..Malam Mama..
Mama Rahma: Makan yang banyak ya.. Jangan perduli kan anak Mama itu. Mama mendukung mu*.
Terdengar Toni berdecak sebal.
Ibu Ayu: Kamu makan tapi suami mu tidak makan Dinda? jangan jadi istri kurang ajar kamu ndok.
__ADS_1
Dinda menyadari kesalahannya. Apalagi ia baru menyadari jika Toni tidak mengambil makannya sendiri. Itu artinya Toni menunggunya.
Dinda: Nggak Bu... Dinda sambil suapin kak Toni. Iya kan kak?
Dinda melotot ke arah Toni memberi kode agar bekerja sama.
Toni: Iya Bu..
Toni dengan senang hati menerima Korean Dinda.Karena ia juga sudah merindukan Dinda.
"Suapi lagi dong sayang." Ucap Toni.
Dinda dengan wajah cemberut menyuapi Toni dengan kasar.
*Ibu Ayu: Jangan kasar sama suami Dinda..
Mama Rahma: Sebenarnya masalah kalian kenapa sih?
Dinda: Kak Toni selingkuh.
Toni: Dinda selingkuh*.
Dinda dan Toni berkata bersamaan dan kini netra mereka bertemu sejurus kemudian keduanya membuang wajah masing-masing.
"Dinda selingkuh? jangan nuduh kamu. Bukan nya kamu yang selingkuh di kantor siang tadi." Dinda tidak terima di tuduh selingkuh pada Toni.
"Jangan asal nuduh. Bukan nya kamu yang selingkuh di Warung Ikan Bakar waktu itu? Kamu mengajak ku makan siang disana hanya alibi mu kan? sebenarnya kamu sudah tahu kalau aku tidak bisa kesana? Kamu sudah tahu kan kalau aku sangat tidak suka milikku di sentuh orang lain apalagi jika yang menyentuh nya seorang pria." Sungut Toni tidak dapat membendung isi hatinya.
Dinda hanya mengangguk saja. Ibu Ayu dan Mama Rahma sama-sama mendengarkan dengan seksama.
"Jadi kenapa kamu membiarkan tubuhmu di sentuh pria lain?" Toni menatap Dinda tajam, ia geram saat membayangkan Dinda berciuman dengan Dimas.
Dinda mengerutkan kening nya hingga alis akan menyatu. "Di sentuh? apa maksud kakak? kau kira aku ini wanita apa? bahkan aku pernah selingkuh itu saat mengenal mu. Lupa kalau kau itu selingkuhan ku? bukan nya kau yang selingkuh tadi di kantor? di rumah kau bilang nggak masalah kalau istriku tidak bisa memasak. Tapi di kantor makan masakan wanita lain. Dasar tulang selingkuh."
*Mama Rahma: Ternyata anak kita sama ya jeng.
Ibu Ayu: Iya jeng. tidak ada yang mau mengalah*.
Toni yang diam saja membuat Dinda semakin emosi. "Lihat.Kau tidak menyangkal nya kan? jadi mulai sekarang suruh si Tante Ulet keket itu mengambilkan makan mu. Dan biarkan aku di sentuh pria lain seperti yang kau bilang tadi."
*Mama Rahma: Lihat lah Jeng.. Anak Jeng Ayu sangat pandai membuat anak ku kalah berdebat."
Ibu Ayu: Saya tidak menyangka jika anak saya bisa mengalahkan anak Jeng Rahma yang notabene nya sering berargumen pada orang-orang penting*.
Toni tidak terima dengan keputusan sepihak yang di buat Dinda.
"Jaga ucapan mu Dinda.. Sudah ku katakan apapun milikku tidak ada yang boleh menyentuh nya." Toni menaikkan suara nya satu oktaf menatap Dinda dengan tajam.
__ADS_1
Dinda,Ibu Ayu, dan Mama Rahma mendengar suara Toni naik satu oktaf hanya bisa menelan saliva.
Kedua wanita paruh baya itu melihat wajah Dinda pias.
"Tapi Dinda di sentuh siapa kak? bahkan Dinda sering membantu Zaki menjadi pacar bohongan ataupun menolong nya saat ketahuan selingkuh nggak pernah kami bersentuhan. Kakak pasti tahu itu karena Dinda tahu, orang-orang kakak mengawasi Dinda dimana pun Dinda berada. Tapi kenapa kakak bilang Dinda di sentuh pria lain?" Dinda mulai melemahkan suara nya.. Sudah cukup pikirnya untuk saling menyalahkan dan saling emosi.
Toni tertegun mendengar ucapan Dinda. Ia baru tersadar. Kenapa ia melupakan hal ini? kenapa ia hanya percaya dengan satu pihak padahal ia sendiri tidak tahu siapa pengirim foto itu.
Mama Rahma: Kenapa diam Toni? apa kau tiba-tiba berubah menjadi manusia bo*doh?
"Tapi foto itu terlihat jelas kamu sedang berciuman di Warung itu."
Dinda melotot mendengarnya. "Ciuman? di warung itu? Dengan siapa?"
"Dengan Dimas. Ingin sekali aku membunuhnya saat itu juga."
Dinda memukul lengan Toni yang tidak terasa apa-apa baginya.
"Jangan aneh-aneh."
"Tapi aku punya bukti kalau kamu berciuman dengan Dimas."
"Astaga... Siapa yang berciuman sih? mana buktinya kalau memang ada."
Toni pun menunjukkan foto yang di kirim Rina itu. Seketika Dinda terperanjat melihat foto itu. Kemudian senyum-senyum.
Memang seperti orang ciuman. Fotografer nya sangat pandai mengambil foto nya.
*Ibu Ayu: Kenapa kamu senyum-senyum? kamu beneran berciuman dengan pria lain?
Dinda: Ibu tahu siapa laki-laki itu? dia pemilik minimarket depan perumahan kita dulu Bu.. Dia tampan. Coba aja di foto ini beneran terjadi*.
Emosi Toni terpancing kembali akibat perkataan Dinda. Ia langsung meraih tengkuk leher Dinda seketika bibir Dinda terbungkam oleh bibir Toni. Cukup lama Toni berkuasa di bibir Dinda.Ia ingin menghapus jejak Dimas disana.
Ibu Ayu dan Mama Rahma hanya bisa terbengong. Sudah hal biasa melihat pasangan satu ini melakukan kontak fisik seperti itu.
Setelah beberapa menit pangutan itu terlepas saat Dinda akan kehabisan stok udara di paru-paru.
"Apaan sih kak? Dimas nggak pernah sentuh Dinda apalagi di foto itu. Baju Dinda terkena tumpahan kopi Dimas. Kami nggak sengaja tabrakan karena Dinda buru-buru.Cuma itu kak.. Kalau nggak percaya kakak bisa tanya Zaki karena dia juga ada disana." Ucap Dinda saat nafas nya mulai normal.
Dalam hati Toni merasa sangat senang karena di foto itu tidak benar dan ia berjanji akan menyelidiki siapa yang mengirim foto tersebut.
"Tapi kenapa kamu tidak datang ke kamar untuk membujuk kakak?"
🌸
🌸
__ADS_1
TBC