
Dinda masih termenung di kantin kampus. Selama menikah dan di tinggal pergi oleh sahabat nya, ia lebih sering menyendiri apalagi sudah ada pengawal selalu mengikuti kemana pun ia pergi kecuali kamar mandi umum, saat ia belajar dan di rumah suaminya.
Hari ini pikiran Dinda sedang kalut. Memikirkan Dimas jauh disana hingga sampai saat ini masih mengharapkan takdir menyatukan mereka berdua.
Dan hari ini juga ia mulai mengingat masa sekolah dahulu, ia menyadari sering sekali mendapati Dimas berada tak jauh dirinya berada.
Saat di angkot, pasti ada Dimas dan ia juga mengingat saat ia tak sengaja melihat Dimas di dalam angkot pada saat itu Dimas sedang memperhatikan dirinya.
Saat di kantin, saat di perpustakaan pasti ia mendapati Dimas juga berada disana.
Segitu mengagumi diriku kah dim?
Mengapa harus aku?
Aku tak pantas untuk cinta suci mu itu.. Bahkan sekarang aku sedang menjalani cinta terlarang dengan pengawal ku.
Ku harap kamu melupakan aku.
*Sari..aku rindu..
aku ingin bercerita banyak.. aku lelah seperti ini
aku ingin seperti mu sudah bebas dari jeratan hubungan yang menyakitkan.
Mereka menilai hidupku sempurna memiliki suami yang memfasilitasi segalanya.
Tetapi mereka tidak tahu apa yang aku alami. Memiliki suami tak pernah ada waktu untukku. Melihat ayah dari anak yang ku kandung setiap suami dirumah.
Bersama cinta terlarang ku setiap saat.
Rasa ingin menangis ku kian menjadi, tapi keadaan membuatku bisa apa sar? aku harus menguatkan hati dan diri ini. Aku tak sekuat kamu, aku tak setegar kamu. aku hanya ingin pergi tanpa harus ada yang tersakiti.
Tapi aku bisa apa? Bapak sangat menyukai suamiku. aku bisa apa dengan anak ini? aku lelah.
Lihatlah pria di belakang ku, apakah benar dia mencintai ku? aku harus bagaimana dengan nya? bila aku menerimanya, aku akan menjadi penjahat untuk Dimas... tidak-tidak Dimas tidak pantas hanya sebagai simpanan ku*.
"Dinda." panggil Toni.
"Ah iya kak." Jawab Dinda terkejut dari lamunan nya.
"Apa kamu menghindari ku?"
"Ti-tidak kak." Dinda gugup karena benar sedari tadi Dinda menghindari Toni.
"Jangan berbohong Din."
"Tidak kak, Aku hanya rindu masa sekolah saja."
"Rindu pada Dimas?" tanya Toni sedikit ketus karena ia cemburu.
"Bukan begitu.. Aku merindukan Sari kak, Dia sahabat aku satu-satunya."
"Dia pasti baik-baik saja disana. Kamu tenanglah."
"Ya dia pasti baik-baik saja kak.."
"Aku yang sedang tidak baik-baik saja." sambungnya pelan namun masih terdengar oleh telinga Toni .
"Kamu akan baik-baik saja, jangan pernah pikirkan hati orang lain. fokuslah untuk kebahagiaan mu dan anak mu Dinda.."
"Aku akan mencoba kak."
"Kamu mau makan apa?"
"Aku ingin makan bakso dan jus jeruk hangat saja ya."
__ADS_1
"Boleh makan bakso tapi tanpa saos."
"Iihhh iya-iya." Dinda kesal selalu dilarang makan makanan pedas pada ketiga pria bila sedang bersama saat makan.
Toni berdiri untuk memesan makanan mereka di kantin kampus Dinda.
Dinda melihat kepergian Toni.
Apakah aku pantas dicintai pria ini? kenapa harus aku kak? kenapa harus aku yang menjadi pengganti dia?
Toni datang dengan membawa nampan berisi pesanan mereka.
"Silahkan tuan putri..."
Dinda tersenyum "Terimakasih pengawal ku."
Mereka berdua tertawa tidak menghiraukan tatapan mata lain kearah nya.
Sebenarnya banyak mahasiswa dan mahasiswi ingin berteman dengan Dinda, namun mereka urungkan karena sering sekali mereka mencoba mendekati Dinda selalu di tatap tajam pengawal nya itu.
Mereka hanya bebas berbicara pada Dinda hanya pada saat di dalam kelas kampus saja.
"Din.."
"Hem.." Dinda hanya berdehem karena sedang menikmati bakso kesukaan nya itu.
"Aku merindukan mu sayang."
"Ck.. Kakak ini. bahkan waktu ku lebih banyak pada mu dari pada suami ku bisa nya rindu."
"Kamu sungguh tidak peka Din."
"Baru kemarin juga." Dinda mengerti arah bicara pengawal rasa simpanan nya itu.
"Aku pria dewasa Dinda, itu adalah kebutuhan ku dan sungguh kamu adalah candu untukku."
"Tapi ingat aku sedang hamil kak."
"Iya aku ingat akan hati-hati."
Mereka sudah di dalam mobil menuju apartemen Toni.
Saat sudah berada di basement Apartemen, Dinda belum juga keluar dari mobil, ia merasa ragu.
"Kak, bukankah kita salah?"
"Kamu tidak salah Dinda.. kakak yang salah. Tapi apa kamu ingin terdiam menunggu suami kamu menyentuh mu? sudah berapa lama ia tidak menyentuh mu?
"kamu membuatku malu kak dengan pertanyaan mu itu."
"jawab saja Dinda."
Dinda menggigit bibir bawahnya merasa malu untuk mengakui hal seperti ini.
"Sudah dua bulan kak."
"Apakah kamu tidak menginginkan sentuhan ku Dinda?"
Dinda menggigit kembali bibir bawahnya, ia benar-benar malu membicarakan hal sevulgar ini.
Toni mengusap bibir Dinda menggunakan ibu jari agar Dinda tak lagi menggigit bibir nya.
Cup
Dikecup bibir manis itu.
__ADS_1
"Aku tak mengapa bila harus menjadi pelampiasan hasrat mu Din."
Cup...
"Kita masuk ya.."
Dinda mengangguk.
Saat memasuki Apartemen Toni menggendong Dinda seperti bayi koala menuju kamar.
Dua bibir itu kembali menjadi satu. Diletakkan tubuh wanitanya perlahan tanpa melepas pangutan.
Sesaat pangutan terlepas setelah hampir kehabisan nafas keduanya.
"Kak, jangan buat tanda ya."
"Iya kakak mengerti sayang."
Disatukan kembali bibir mereka, penuh hasrat gairah memuncak.
Sedetik kemudian tubuh mereka sudah tanpa sehelai benang tak ada yang menempel di tubuh mereka.
Bermandikan keringat, desahan dan erangan kembali terdengar di kamar itu. Melepaskan hasrat yang tertahan menjadi kepuasan.
Seperti tak mengenal lelah pria yang sedang mengukung di atas tubuh wanita hamil itu.
Seperti tak pernah puas untuk menjamah tubuh wanita hamil itu.
Desahan dan erangan masih terdengar dari empat jam yang lalu namun pria itu belum juga menyelesaikan permainan nya.
"Kak.. Dinda sudah le-lah ahh.." Ucap Dinda di sela-sela desahan nya.
"Apakah kamu sudah bosan sayang? sshh aahh." tanya Toni masih enggan menyudahi permainan nya.
"Ti-dak kak.. aku tidak akan bosan.. aku le-lelah kak. aah aahh"
"Sebentar sayang.. aahh." erang Toni saat mencapai kenikmatan .
"Terimakasih sayang." Dikecup kening Dinda dan di dekap erat tubuh Dinda.
Mereka tertidur di balik selimut tebal.
*****
Sementara disisi lain, mobil Arga sudah sampai di depan rumah miliknya.
Aril turun dan membukakan pintu mobil Arga.
Kepala pelayan dan para pelayan siap menyambut kedatangan tuan nya.
"Selamat sore tuan."
"Sore, apa Dinda sudah pulang?"
"Belum tuan."
"Apakah Dinda sering pulang malam?"
"Tidak tuan, nona pulang terlambat hanya jika ada tugas kampus dan nona akan mengabari jika terlambat pulang."
"Baiklah, aku akan menunggu dikamar. siapkan makan malam aku akan makan dirumah bersama Dinda."
Entah mengapa Arga ingin sekali pulang cepat hari ini. ia sangat merindukan istrinya.
🌸
__ADS_1
🌸
TBC