PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 54 (7 bulanan 2)


__ADS_3

Pukul 3 sore Dinda dan Toni sudah berada di depan pagar sebuah rumah cukup besar namun tidak bertingkat.


"Ini beneran rumah Bapak dan Ibu kak?"Dinda melihat sekitaran rumah orang tua Dinda.


"Yes baby.." Jawab Toni mantap.


"Ini kemana sih..Kenapa gak ada satpam kayak di rumah kita kak?"


"Siapa yang berani maling di rumah tentara Dinda? Yang ada malah itu maling kena satu peluru senapan Bapak seperti kakak waktu lalu."


"Oh ya?Kok bisa?"Dinda penasaran apa yang dikatakan sang suami.


"Iya, Bapak marah tidak paham apa yang kakak katakan.Karena kakak bicara bahasa Indonesia campur bahasa Inggris."


Dinda tergelak mendengar pengakuan sang suami.Mengapa ia bisa lupa untuk meminta sang suami menceritakan bagaimana ia bisa sampai disini dengan berakhir restu sang bapak dan ibu.


"Don't make fun of me honey. I'm just not used to speaking Indonesian, but I understand what you're talking about. (Jangan mengejek ku sayang. Aku hanya belum terbiasa berbicara bahasa Indonesia, tapi aku mengerti apa yang kalian bicarakan)."


"Yes, you know that. I didn't mean to insult my husband. Dinda habya finds it funny. Please don't be angry or sad..(Ya dinda tahu itu. Bukan maksud dinda menghina suami ku. Dinda hanya merasa lucu saja. Tolong jangan marah atau bersedih ya..)" Dinda tersenyum menatap sang suami.


Toni mengangguk.Bertepatan adik laki-laki Dinda membuka pagar.


"Mbak Dinda sudah datang? Mari masuk mbak Mas"Tanya laki-laki berumur 12 tahun itu menyapa sang mbak.


Dinda mengangguk."Mbak Cantika juga sudah sampai?"Dinda mempertanyakan sang adik perempuan yang sangat dekat dengan nya.


"Sudah mbak,kemarin bareng Edo."Jawab laki-laki itu bernama Edo.


"Dek,ramai sekali?"Tanya Dinda saat berada di depan pintu masuk.


"Iya mbak,Keluarga dari Bandung juga datang.Nenek juga datang loh mbak.."


"Oh ya?Tumben pada datang."Dinda tidak menyangka keluarga besar nya datang untuk menghadiri acara 7 bulanan Dinda.


"Iya kata mereka penasaran lihat suami Bule mbak mandi,keliling angkat air dari 7 sumur, dan lihat Bule jualan jajanan mbak nanti." Dinda memberi tahu maksud dari keluarga besarnya itu.

__ADS_1


"Astaga..Bagaimana bisa mereka tahu suami kakak Bule?" Dia merasa tidak ada memberi kabar jika suami nya seorang Bule.Saat menikah dengan mantan suami nya dahulu juga keluarga besar nya tidak ada yang datang.


"Siapa lagi kalau bukan Ibu kak.. Ibu heboh dapat menantu Bule, enggak seperti saat mbak menikah dengan mas Arga."


Dinda dan Toni terkekeh mendengar apa yang di katakan sang adik.Di balik cerewet sang Ibu ternyata sangat menyukai menantu nya.


Saat sudah berada di ruang tamu,seluruh mata tertuju pada sepasang suami istri.Pemeran utama acara yang diadakan besok.


Edo dan salah satu sepupu laki-laki membawa tas Dinda dan Toni ke dalam kamar khusus untuk keduanya.


Bapak Bima,Bapak Dinda mendekat.Tentu Dinda juga berjalan di ikuti Toni di belakang Dinda.Dinda mencium punggung tangan sang Bapak salam takzim.


"Dinda kangen Pak...Bapak sehat?" Dinda memeluk sang Bapak mulai menangis.


"Bapak sehat Dinda..Hei jangan menangis..Sudah menikah dua kali, sudah mau punya anak juga masih menangis begini." Bapak terkekeh melihat Dinda belum juga berubah,masih manja dan cengeng.


Dinda melepas pelukan sang Bapak beralih melihat sang suami."Kakak..Bapak mengejek Dinda." Dinda mengaduh pada sang suami.


"Maaf sayang,kali ini kakak gak bisa lindungi kamu..Kakak tidak mau kamu menjadi janda karena kakak sudah di tembak senapan Bapak."


Seluruh keluarga di ruang tamu mendengar itupun tertawa.


Dinda dan Toni menghampiri sang Ibu yang duduk dengan para perempuan di rumah itu.


Dinda juga melakukan salam takzim di ikuti dengan Toni.


"Kalian hanya berdua?"Tanya Ibu Ayu,Ibu Dinda.


Dinda pun mengerutkan kening."Ya iyalah Bu,jadi mau sama siapa lagi?"


"Orang tua kamu tidak ikut?"Sang ibu bertanya pada Toni.


"Ikut Bu,malam nanti sampai.Tapi maaf,Mama datang hanya dengan kakak saya saja,karena mama hanya sendiri tidak memiliki saudara."


Dinda tercenung mendengar perkataan sang suami.Sekali lagi ia baru mengetahui tentang suaminya.Ia benar-benar perlu banyak waktu untuk mengenal sang suami sebelum ia benar-benar membalas cinta sang suami.

__ADS_1


"Tidak apa-apa,karena acara besok sangat membutuhkan kehadiran orang tua."Jawab Ibu.


Abang ipar Dinda menghampiri Dinda dan Toni yang masih mendengarkan obrolan para perempuan di rumah itu.


"Toni,ayo gabung dengan para laki-laki,jangan kayak perangko lengket tak terpisahkan.Lihat sepupu bahkan yang sudah menikah dari tadi menatap kagum kamu." Ajak bang Rizky Abang ipar Dinda.


Lantas Dinda dan Toni melihat para perempuan disana.Benar,banyak mata masih menatap Toni dengan tatapan kagum karena di keluarga besar Wijaya baru Dinda lah menikah dengan Bule.


Dinda sedikit kesal karena suami nya di tatap seperti itu.Dinda cemberut.


"Sudah sana kakak sama bang Rizky."Dinda bicara dengan nada ketus.


Toni tampak tersenyum karena ia merasa dicemburui oleh sang istri.


"Baiklah,kakak kesana ya sayang..Jangan cemburu."


"Kisseo.. (Cium)" Titah Dinda dengan wajah cemberut.


Cup


Toni mengecup pipi kanan Dinda kemudian beranjak mengikuti langkah Abang ipar nya.


"Iiihh so sweet banget sih Din..Pengen deh punya suami kayak suami Bule kamu juga."Ucap salah satu sepupu Dinda bernama Nita.Dia adalah sepupu Dinda paling centil dan genit di keluarga Wijaya.


"Enak aja,gak boleh di sama-samain dong."Dinda tidak terima jika suami nya jadi referensi sang sepupu centil itu.


"Iya Dinda, Kok bisa sih kamu dapat suami Bule tampan lagi,dari perawakan suami kamu juga pasti di kaya kan?" Ini yang bertanya Ibu Nita. Menyebalkan bukan pertanyaan itu.


"Dia yang datang melamar Dinda."Jawab Dinda asal.


"Masa sih? Seharusnya kan dia jadi menantu Bu'de lebih pantas kan? Nita cantik,pintar, berprestasi,pandai masak.Pasti juga lebih pandai di atas kasur.Kamu lihat,Sekolah nilai standar,cantik juga sih..Tapi masak saja tidak bisa,ke dapur jarang.Pasti di kasur suami kamu saja yang bekerja sama seperti ibu kamu." Ibu Nita mulai mengeluarkan julid nya.Hanya Ibu Nita yang tidak terlalu suka dengan Ibu Dinda hingga tidak menyukai anak-anak Ibu Nita.


Ibu Dinda pun tampak tidak terima atas apa ucapan sang kakak ipar berkata."Mbak kenapa masih saja tidak menyukai anak ku? Jika memang tidak menyukai ku jangan anak ku yang mbak hina."


"Ada apa ini?"

__ADS_1


🌸


🌸


__ADS_2