
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam Zaki sudah berada di apartemen Toni dimana Dinda berada. Ia duduk dengan tenang menunggu Dinda, baby El dan suster Maya.
"Kita udah siap bang, Ayo berangkat."Ucap Dinda keluar kamar menggendong baby El.
Zaki mengambil alih barang-barang bawaan mereka dari tangan suster Maya.
"Lo pulang sekarang kan?" Tanya Zaki saat memasukkan barang-barang ke bagasi mobil.
Dinda tersenyum dan mengangguk. "Gue kepikiran lakik gue bang. Siapa yang siapin makan malam nya." Wajah Dinda berubah sendu.
"Akhirnya lo sadar juga.. Berarti kalian akan baikan dong." Zaki senang jika Dinda dan Toni baikan itu berarti suasana rumah utama akan hangat kembali.
"Ogah. Kalau gue baikan sekarang gue belum siap."
"Belum siap gimana maksud lo?"
"Gue cemburu lihat lakik gue makan sama tante ulet keket itu dan gue gak mau di indehoy sama lakik gue." Ucap Dinda gamblang.
"Dan gue belum terima atas perlakuan Toni marah sama gue tanpa sebab."
Zaki mendengar pengakuan Dinda merasa heran.Kenapa Toni marah dengan Dinda padahal sebelum Toni marah dengan Dinda itu juga seharian Dinda bersama dengan nya dan makan siang pada para pekerja. Dan ya tanpa sengaja bertabrakan dengan Dimas.
"Kenapa lo gak mau di indehoy? padahal itu kebiasaan kalian." Zaki bertanya dengan senyum mengejek.
"Denger ni alasan kenapa gue gak mau indehoy sama lakik gue... Gue lagi datang bulan. Bisa sih puasin pakek cara lain. Tapi gak enak kalau gak di masukin." Jawab Dinda enteng dan gamblang.
Suster Maya dan Zaki tercekat mendengar perkataan Dinda yang sangat gamblang.
"Din. Lo gak malu cerita vul gar begitu? Gue sama suster Maya masih ting-ting asal Lo tahu."
Dinda tertawa mendengar perkataan Zaki.
"Gaya lo perjaka tapi cewek di mana-mana. Kalau suster Maya gue percaya. Wong kalem bener orang nya".
Suster Maya mendengar itupun tersipu malu.
"Apa kelihatan ya Nya kalau saya masih perawan?" Tanya suster Maya malu-malu.
Dinda dan Zaki tercengang mendengar pertanyaan polos suster Maya.
"Ya kagak lah. Lo bakal kelihatan perawan atau gak nya itu kalau gue coblos lo sus."
Kini Dinda dan suster Maya melotot mendengar perkataan Zaki. Tapi Dinda dan suster Maya berpikiran berbeda. Jika Dinda mengerti maksud perkataan Zaki, lain hal dengan suster Maya.
"Coblos bagaimana? emang mas Zaki coblos saya bisa kelihatan perawan atau tidak? coba mas Zaki coblos saya.." Suster Maya mengatakan dengan polos.
Dinda mendengar itu hanya bisa tepuk jidat dan Zaki sudah tertawa terbahak-bahak.
"Suster umur berapa sih? kok polos bener? jadi gemes tahu gak?" Ucap Dinda tidak habis pikir dengan kepolosan pengasuh anaknya.
"Umur saya 21 tahun Nyonya."
__ADS_1
"Daebak... Bahkan umur lebih tua suster kok masih polos ya? Pernah di cium cowok gak sus?" Tanya Dinda penasaran.
Suster Maya menggeleng malu-malu.
"Saya belum pernah pacaran Nyonya."
Uhukk..
Zaki mendengar kejujuran suster Maya tersedak Saliva nya sendiri.
"Beneran suster Maya belum pernah pacaran?"
Suster Maya mengangguk dan tersipu malu.
"Pacaran sama aku aja yuk." Ucap Zaki enteng. Ia menilai suster Maya juga manis dengan kulit sawo matang nya. Bulu mata yang lentik dan menjadi nilai plus adalah bahwa suster Maya belum pernah pacaran.
Dinda melihat suster Maya tersipu malu sangat yakin bila pengasuh anaknya itu ada hati dengan supir, Kating, dan playboy cap Teri Medan ini.
"Jangan di terima dulu sus kalau Zaki nya masih ada banyak pacar. Kamu tahu sus, aku sering jadi malaikat penolong nya ketika dia ketahuan selingkuh. Bahkan harus jadi pacar bohongan."
Ya..Dinda pernah mengalami itu semua karena ulah Zaki.
FLASHBACK ON
"Din tolongin gue dong." Ucap Zaki saat masih di dalam mobil yang sudah terparkir di parkiran kampus.
"Tolongin apa bang? lagi badmood gue."
"Apaan? Jangan aneh-aneh."
"Jadi pacar bohongan gue biar gue bisa putus sama Mona." Ucap Zaki dengan wajah memelas.
"Gila lo.. Nggak mau gue. Lo lupa orang suruhan lakik gue ada dimana-mana? Pulang-pulang bisa di penggal kepala kita."
"Kali ini aja Din." Mohon Zaki lagi.
"Oke sekali ini aja."
Dua hari kemudian terjadi permohonan lagi dan selalu Dinda turutin. Karena ia tidak mempermasalahkan selagi suami nya tidak menegur nya.
FLASHBACK OFF
Seketika wajah suster Maya berubah sendu dan itu terlihat jelas di mata Dinda. Ia pun menghela nafas panjang. Tak mungkin ia menghalangi perasaan orang lain.Pikirnya.
"Bang. Gue harap lo putusin cewek-cewek lo terus lamar suster anak gue."
Zaki dan suster Maya terlonjak kaget. "Lamar? Lo gak salah Din?" Tanya Zaki.
"Nggak. Dan gue yakin suster Maya nerima Lo."
"Tapi-."
__ADS_1
"Apa tapi-tapi? berat putusin cewek-cewek lo demi suster Maya yang masih original?" Dinda mulai terbawa emosi.
"Bukan gitu. Emosi amat. Gue udah gak punya keluarga, terus gue nggak tahu keluarga suster Maya, dan gue juga masih kuliah." Terang Zaki.
"Kalau masalah keluarga... Keluarga suster Maya hanya ada Bi Jubeh dan masalah keluarga lo, ada gue dan lakik gue. Kalau masalah kuliah tamatin aja dulu sambil kumpulin uang nikahan terus juga sambil nunggu tamat lo putusin dah cewek-cewek lo." Dinda bicara panjang lebar seakan ia tidak punya masalah.
"Iya kan sus?" Tanya Dinda pada suster Maya.
Suster Maya mengangguk malu-malu. Dan Zaki juga ikut tersenyum.
"Eh.. jangan senyum-senyum dulu. Sebelum itu kalian nggak boleh pacaran dan gak boleh jalan berdua. Gue nggak mau ya anak gue terlantar."
"Iya Nyonya."
"Siap Dinda adikku."
"Adik?" Tanya Dinda pada Zaki.
"Ya.. Lo udah gue anggap adik. Sebenarnya lo itu orang nya asik tapi lo nggak suka punya banyak teman."
Dinda mengangguk. "Ya Lo bener bg."
*****
"Bi. Apa istriku ada memberi kabar?" Tanya Toni berada di meja makan.
"Ada Tuan. Mereka ada di perjalanan."
Toni menatap sendu makanan di atas meja. Rumah begitu sepi di tinggal Dinda walau beberapa jam saja.
"Maaf Tuan. Apa Tuan sakit?" Tanya bi Jubaidah hati-hati.
Toni menggeleng. "Hati saya yang sakit Bi."
"Saran saya bicara baik-baik Tuan."
Toni mengangguk masih dengan wajah sendu. Ia terus menatapi makanan di atas meja tanpa niat memakan nya.
"Bi. Tadi kenapa bisa istriku pergi?" Tanya Toni karena ia juga merasa aneh. Karena beberapa hari ini dialah yang acuh kenapa sekarang Dinda yang pergi.
"Saya kurang tahu Tuan. Tapi siang tadi baru sampai rumah sudah mengajak Maya dan Den El pergi." Jawab bi Jubaidah jujur.
"Apa ada yang aneh?" Tanya Toni lagi.
"Ya. Nyonya tampak menangis Tuan."
🌸
🌸
TBC
__ADS_1