PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 129


__ADS_3

Sebelum kesadarannya menghilangkan Toni sempat menghubungi asisten Jo untuk mengerahkan anak buahnya mencari Dinda di kota Berlin,Jerman. Tak lupa ia menghubungi Asisten Rian tentang kepergian Dinda. Ia melaporkan pada Rian berharap tahu alasan Dinda pergi meninggalkan nya. Karena ia tahu bila Rian juga dekat dengan istrinya.


Toni : "Aku tidak melakukan kesalahan Rian. Ku mohon beri tahu aku alasan Dinda pergi meninggalkan aku dan menyusul Dimas disana."


Rian : "Aku tidak tahu tuan."


Toni : "Ku mohon. Aku tahu jika kamu dengan istriku dekat. Aku butuh kamu sebagai Rian bukan asisten ku saat ini."


Rian : "Tapi aku benar-benar tidak tahu kemana Dinda pergi Ton. Sudah seminggu kami tidak berkabar. Tapi tenang saja aku akan meretas segala kaitan dengan Dinda. 3 hari lagi aku beri kabar. Sudah malam istirahat lah. Aku juga sudah mengantuk."


Toni kembali meneguk minuman nya. Tidak tahu harus melakukan apa setelah istri dan anaknya pergi. Jika benar Dinda pergi menyusul Dimas, entah dari mana datang sifat tidak percaya diri Toni untuk menjemput nya.


Ia takut di tolak.


Takut Dinda tidak ingin ikut bersamanya kembali.


Ia takut tiap kalimat terlontar dari mulut Dinda adalah sebuah penolakan.


Dan yang ia takuti sampai terdengar di telinga nya terlontar dari mulut Dinda satu kalimat menyakitkan.


"Dinda tidak mencintai kakak tapi Dinda cinta Dimas."


Kalimat itu yang ia takuti. Tapi nyatanya ia hanya berasumsi yang tidak-tidak jika nama Dimas dihubungkan dengan Dinda istrinya. Padahal bukan itu yang terjadi.


****


Rian yang awalnya baru pulang dari perjalanan bisnisnya ke Bali menjadi sangat emosi mendengar penuturan Toni.


"Dasar bo doh. Selalu saja begini. Karir saja di mulus kan tapi masalah percintaan selalu merepotkan orang lain." gerutu Rian sembari melonggarkan dasinya.


"Ini lagi. Sudah punya anak masih saja suka kabur. Bawak semua perhiasan segala. Untung sayang." gerutunya lagi.


Rian pun mengeluarkan laptopnya. Ia akan meretas segala data penumpang di Bandara Kualanamu tersebut.


Ia menyeringai saat mengetahui kejanggalan dan menemukan apa yang di carinya.


"Lihat lah Toni.. Bahkan dengan mudahnya aku menemukan istrimu itu. Apa kamu tidak berpikir untuk apa Dinda mendatangi Dimas yang sudah jelas memiliki tunangan? Dan apa kamu tidak merasakan cinta istri mu? Ah pasti tidak, kamu itu bo doh dalam bercinta."


"Sudahlah.. Aku harus menyegarkan tubuh ku."


Rian berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri sembari memikirkan rencananya menemui Dinda sebelum tiga hari mendatang.


Ah Dinda kecil ku kenapa selalu berulah? andai bukan Toni suami mu maka ini adalah kesempatan ku untuk merebut mu.


****


"Dari mana aja kau?"


Dinda terlonjak kaget bahkan tubuhnya terhuyung ke belakang.


"Kayak hantu. Dari kafe depan bang."

__ADS_1


"Jantung ku hampir copot melihat kamar gak ada kau Din." ucap Zaki.


"Aku cuma gak mau ganggu malam pertama kalian yang sangat berisik bang jadi aku pergi keluar."


"Sekali lagi kalau pergi izin dan di bawa ponsel baru mu." titah Zaki pada Dinda.


Dinda tersenyum dan mengangguk. "Iya bang. Kau tambah cerewet sekarang." Dinda terkekeh setelah nya.


"Biarkan aja."


Dinda ragu ingin mengatakan sesuatu. Tapi ia harus mengatakan nya.


"Bang. Dinda udah dapat kerja."


Zaki menatap Dinda intens. "Kerja apa Din?"


"Nyanyi di kafe. Jangan larang Dinda. Dan kita harus beli sepeda motor bang. Capek juga jalan ke depan."


"Ya udah besok ke showroom setelah melihat kampus baru kita." jawab Zaki dengan perasaan tidak rela. Ia tidak rela bila Dinda harus bekerja.


Dinda tersenyum. "Terimakasih. Yaudah Dinda ke kamar ya.. Abang bisa lanjutkan malam pertama nya." Dinda mengerling kan matanya pada Toni.


Toni hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala.


Aku tahu kau hanya sedang mengalihkan pikiran mu agar tidak mengingat suami mu kan Din? Sebenarnya aku tidak yakin jika suami mu berkhianat makanya aku mengikuti kemana kamu pergi Din. Aku berharap bisa melindungi mu dari Merry.


****


Dinda menggeleng saat mata mulai memanas membayangkan kenangan indah bersama suaminya. Pertanyaan-pertanyaan datang menghantui pikiran nya.


Sedang apa disana?


Sudah makan kah?


Sudah tidurkah di jam seperti ini karena biasa jam segini ia dan Toni masih dalam pergumulan panas.


Atau masih bersama Merry?


Ingin rasanya ia mensugesti diri bahwa Toni tidak akan berkhianat darinya. Tapi tidak mampu. Membayangkan tubuh Merry cukup bagus di usia menginjak kepala tiga dan Merry adalah cinta pertama Toni membuat ia merasa tidak sanggup. Bohong bila ia tidak memikirkan hal itu.


*Selemah itukah cinta mu kak?


Apa seingin itu sampai kamu tidak sabar menunggu usia El 6 bulan agar aku hamil lagi? Kenapa wanita lain?


kenapa gak tunggu tubuh ku siap?


Lalu untuk apa aku harus berpura-pura koma hanya untuk mengetahui isi hatimu yang palsu?


Kamu jahat padaku kak.


Bahkan luka yang kamu beri lebih perih, lebih sakit, dan lebih dalam dari mereka masalalu ku.

__ADS_1


Aku kecewa kak..


Semoga kita tidak lagi bertemu.


Aku tak sanggup jika harus bertemu lagi dengan mu sebagai orang asing*.


Dinda terlelap dalam tangisnya lagi. Bukan ia tak ingin bertanya langsung pada Toni sebelum ia memutuskan pergi. Tapi hati nya tak sanggup menerima kenyataan. Itulah alasan mengapa ia tak bertanya tentang kehamilan Merry.


*****


Pagi hari Dinda sudah berada di dapur. Berkutat pada peralatan dapur seadanya. Hari ini Dinda menyiapkan nasi goreng dan lauk mata sapi. Hanya itu yang tersedia di lemari es.


Zaki dan Maya menghampiri Dinda masih sibuk dengan masakan nya.


"Maafkan mbak Din. Mbak bangun kesiangan." ucap Maya merasa bersalah.


Dinda menoleh kearah suara kemudian tersenyum dan kembali fokus pada masakan nya.


"Nggak apa-apa. Dinda ngerti mbak. Hari ini mbak fokus jaga El aja ya.. Urusan dapur biar aku dan urusan kebersihan rumah biar bang Zaki yang bereskan."


Zaki berdecak sebal. "Mana adil Din. Kau hanya memasak dan mencuci piring. Aku? menyapu lantai, mengepel, menyapu halaman, dan menyiram bunga yang hampir mati itu. Sangat tidak adil." keluh Zaki.


Maya melihat suaminya merasa iba tapi ia tidak berani membantah apa kata Dinda karena hingga sekarang ia masih menganggap Dinda adalah majikannya.


"Itu yang ku mau bang. Menata rumah biar aku. Letak sofa nya tidak bagus. Pokoknya mbak Maya gak boleh ngapa-ngapain selain jaga El. Pasti 'itu' mbak sakit kan?"


Maya tampak mengangguk malu-malu. Wajahnya sudah memerah karena di tanya seperti itu.


"Jadi biarkan bang Zaki yang kerjakan kerjaan kita mbak." Dinda tertawa puas dengan ulahnya sendiri pada Zaki.


Zaki hanya bisa mendengus kesal.


Tok..tok..tok..


Ketiganya saling pandang saat mendengar suara ketukan pintu. Seakan bertanya siapa?


Ketiganya menggeleng.


"Biar Dinda intip dari gorden jendela depan. Abang letakkan makan ini ke meja makan ya." Dinda melepas apron nya menuju pintu masuk.


Dinda terkejut manakala melihat siapa yang mengetuk pintu tersebut.


Si al.. Aku lupa jika ia sangat pintar. Kenapa harus dia bukan Kak Toni.


"Dinda.. Aku tahu kamu di dalam. Buka atau ku hancurkan pintu ini?" ucap seseorang itu mengancam Dinda.


🌸


🌸


Penasaran kelanjutannya? jangan lupa tinggalkan jejak ya..

__ADS_1


__ADS_2