
Untuk beberapa saat Dinda terdiam memandangi bayi mungil di dalam tabung inkubator.Hari ini,untuk kali pertama Dinda melihat bayinya selama 8 bulan lalu hidup di dalam rahim nya.
Tendangan kecil saat usia 4 bulan,hingga tendangan keras sampai Dinda merasa nyeri di tulang rusuk.Akhirnya senyum tipis itu terbit dari bibirnya dengan lirikan matanya kearah Toni.
"Lihatlah sayang,boy sangat tampan seperti kakak kan?"Toni memberikan anak sambungnya itu ke dekapan Dinda.
Dinda semakin tersenyum melihat bayi laki-laki tertidur lelap di dadanya.
"Dia sangat lucu."Ucap Dinda pada Toni.
Sementara Toni hanya mengangguk sebagai jawaban.Sesekali ia kembali mencium pucuk kepala Dinda.Menoleh kebelakang merasa matanya semakin memanas.
Setetes air mata terjatuh.Toni bukan hanya terharu,tetapi Toni begitu bersyukur Tuhan tidak merebut Dinda pasca koma setelah operasi.
"Terimakasih sayang."Ucap Toni.
Dinda mendongak beralih melihat Toni."Untuk?"
"Terimakasih karena kamu bertahan, terimakasih telah menerima kakak."Ucap Toni tulus dan mengecup pucuk kepala Dinda.
"Kak,apakah kakak menerima anak Dinda?"Dinda bertanya hati-hati karena ia juga takut jika Toni tidak menerima anak nya.
"Tentu,kenapa kamu bertanya seperti itu?Boy adalah anak tertuaku dan aku akan menyayangi nya seperti anakku sendiri."Terang Toni.
"Meski kita sudah memiliki anak?"Tanya Dinda dengan nada serius.
Toni tertegun mendengar pertanyaan Dinda,Itu berarti Dinda menginginkan anak darinya.
Toni tersenyum kemudian mengangguk."Tentu,tidak ada yang akan kakak bedakan.Semua anak-anak kakak tetap menjadi keturunan Sanjaya."
"Semua anak-anak kita?"Dinda bertanya ulang dari jawaban Toni tadi.
"Ya,kakak ingin punya 5 anak dari kamu.Maka bersiaplah."Jawab Toni enteng.
Dinda mendengar itu hanya bisa menelan saliva dengan kasar.
"Kak."Panggil Dinda.
"Ya."
"Menurut kakak, bagaimana Aril tadi?"Ada rasa iba untuk mantan kekasih nya itu.
Toni menghela nafas."Kakak akan mengijinkan Aril berkunjung jika kakak sudah berada di rumah."Bagaimanapun Toni sadar,Aril adalah ayah kandung anak istrinya.
"Kakak marah?"Tanya Dinda mendengar cara bicara Toni seperti terpaksa.
__ADS_1
"Kakak marah bila Aril bertemu dengan istri kakak."
"Jangan cemburu,kasihan dia kak..anaknya hanya boy."Dinda benar-benar kasihan.
Dinda berpikir,apa musibah menimpa Aril juga suatu karma?Apakah hal itu adalah bentuk cinta kasih Tuhan untuknya? Tuhan membalas perbuatan Aril pada Dinda yang sama sekali tidak pernah dendam pada Aril.
"Kak,sudah siapkan nama untuk boy?"
"Apakah kakak boleh memberi nama boy Din?" Toni cukup sadar diri jika ia hanya ayah sambung.
"Tentu saja boleh,pernah ku katakan sebelum nya.Kamu bukan hanya sekedar pengawal untukku,kamu yang menjaga ku selama kehamilan.Bagaimana aku tidak memperbolehkan?"
Toni tersenyum lebar,ia tidak menyangka jika Dinda bisa mengatakan hal seperti itu.Sekali lagi Toni mencium pucuk kepala Dinda.
"Mari kita pulang."Ajak Toni.
Dinda mengangguk sebagai jawaban.
****
"Jeng,semua sudah siap?"Tanya Mama Rahma.
Ibu Ayu mengangguk."Kamar cucu kita sudah selesai,kamar untuk anak-anak kita juga sudah jeng."
Ibu Ayu dan Mama Rahma berencana menginap selama sebulan.Lebih tepatnya menjaga Dinda selama masa nifas dan masa Iddah Dinda.Yang pasti dengan menjadikan Dinda lebih cantik,lebih agresif,dan lebih menarik untuk menyambut malam pertama Dinda dan Toni.
Suara klakson mobil berbunyi.Ibu Ayu dan Mama Rahma sudah berdiri di teras rumah untuk menyambut cucu mereka.
Toni keluar mobil lebih dulu kemudian berputar membukakan pintu mobil untuk Dinda.
"Hati-hati sayang."Toni menuntun Dinda masuk ke dalam rumah dengan Dinda menggendong bayi nya.
"Ibu dan Mama masih disini kak?"Bisik Dinda.
Toni mengangguk."Kata Ibu dan Mama ada kegiatan selama seminggu di Medan."
"Kalian sudah sampai?Sini boy biar Ibu gendong."
"Ayo jeng kita bawa masuk cucu kita."Ajak Mama Rahma.
Ibu Ayu dan Mama Rahma masuk membawa cucu mereka tanpa mempedulikan anak dan menantu sedang berdiri terpaku di ambang pintu.
"Kak..Kehadiran kita seperti tidak di inginkan di rumah kita sendiri ya kak?"Tanya Dinda sedang melihat ke arah dua wanita paruh baya menaiki tangga menuju lantai dua membawa anaknya.
"Jangan bicara seperti itu,Ayo kita masuk."
__ADS_1
Dinda mengangguk sebagai jawaban.Dinda duduk di sofa ruang tamu.Dia merasa aneh dengan ruang tamu yang sudah ia dekorasi sendiri.
"Kak..Kenapa berubah?"Tanya Dinda saat sudah menyadari ruang tamu sudah berubah total.
Toni hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu.
Bagaimana ia tahu,bukankah seminggu ini ia bersama Dinda di rumah sakit?Ah kadang wanita aneh juga.
Dinda pun bangkit untuk memindahkan bunga ke tempat semula.
"Kak,tolong kursi pindah arah kesana."
"Baiklah,selesai ini kamu istirahat ya."Sebenarnya Toni juga lelah,tapi demi Dinda apapun akan ia lakukan.
Setelah selesai mengubah ulang dekorasi ruang tamu,Dinda membersihkan diri.Toni sedang berada di kamar boy karena ia di larang masuk kamar utama oleh Mama dan Ibu mertuanya.
Dinda keluar kamar mandi menuju lemari tanpa menghiraukan siapa yang berada di kamar nya itu.Dinda masih menggunakan handuk terlilit di tubuh ramping nya.
"Jeng, bagaimana anak saya tidak tergila-gila dengan anak Jeng Ayu,Wong body nya bagus begitu."Puji Mama Rahma melihat lekuk tubuh Dinda sangat pas dengan tinggi badan Dinda.
"Saya juga baru memperhatikan tubuh anak saya Jeng.Pantas saja dulu masa sekolah banyak laki-laki datang kerumah cari perhatian saya."Ibu Ayu geleng-geleng kepala saat teringat anak manjanya ini.
Tiba-tiba pintu terbuka,Dinda yang sedang asik memakai pakaian menoleh ke arah pintu mendapati Toni terpaku menatapnya.Tatapan Dinda dan Toni terkunci.
Dinda tersenyum dan melanjutkan memakai pakaian nya.Toni mendekati Dinda.
"Ada apa kak?"Dinda sedikit gugup kala Toni menatapnya dengan tatapan lapar.
Dinda yang bagian atas tubuh nya masih memakai penutup gunung kembar itu pun menjadi panik saat Toni berjalan ke arahnya.
"Kak.."Pekik Dinda saat Toni menarik pinggang Dinda agar tubuh Dinda dengan tubuh Toni bersentuhan.
"Kakak kangen, pergerakan kakak di rumah sakit sangat terbatas sayang."
Dinda belum menjawab, Toni sudah melayangkan penyerangan pada bibir Dinda,Toni melu mat habis bibir Dinda.Lagi dan lagi Toni dan Dinda tidak memperhatikan Temat dan bersama siapa.
"Mengapa anak Jeng Rahma sangat mesum."Bisik Ibu Ayu.
"Saya juga heran jeng."
🌸
🌸
Maaf terlambat up.Author ada acara di dunia nyata.
__ADS_1