PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 125


__ADS_3

Disinilah Dinda berada di KUA untuk mendaftarkan pernikahan Zaki dan juga Maya serta sesuatu hal yang di urus Dinda. Rencana pergi meninggalkan suaminya telah di susun apik. Sedih? Tentu itu dirasakan Dinda. Hatinya telah patah. Hidupnya hancur. Ia menjadi benci Takdir.


Apakah tidak ada bahagia untuk sang pendosa ini?


"Kau ngurus apa Dinda?" tanya Zaki setelah selesai urusan nya di kantor KUA.


"Nggak ada bang." Dinda berkilah.


"Antar ke toko perhiasan tempat biasa ya bang."


"Lagi? Untuk apa perhiasan sebanyak itu Din?"


"Apa kau nggak mikir? kalau aku ngambil uang di mesin ATM dimana kita pergi nanti pasti kak Toni akan menemukan kita. Jadi aku harus banyak beli perhiasan untuk tabungan kita bang."


Zaki tertegun mendengarnya. Bahkan ia sendiri tidak sampai berpikir hal itu.


"Tapi abang masih bisa cari kerja untuk kehidupan kita Din.. Biarpun gak akan hidup mewah."


"Enggak bang. Tugas mu hanya cari nafkah untuk suster Maya. Dinda akan kerja paruh waktu setelah pulang kuliah." Dinda berbicara dengan raut wajah sendu. Ini adalah kali pertama ia harus mencoba hidup mandiri.


Zaki menatap Dinda pias. Ia sangat iba pada Dinda. Kisah cinta sangat tragis.


"Kau tidak memberi tahu Dimas Din?"


"Jangan bicarakan dia bang.. Bahkan aku mulai membenci nya. Laki-laki hampir kebanyakan sama aja. Mengumbar janji dan kata cinta. Tapi akhirnya berkhianat juga." Dinda mendadak geram mengingat seorang Dimas.


"Hei..Aku ini laki-laki." protes Zaki.


"Aku tahu. Dan ku harap cukup saat kau lajang aja berkhianat. Setelah menikah jangan lagi."


"Iya Din. Walau abang mu ini playboy cap ikan teri Medan tapi setelah menemukan perempuan baik-baik pasti insaf juga."


"Semoga."


Dinda menatap ke arah luar jendela mobil. Bolak-balik ia menghela nafas dalam-dalam. Dada nya masih terasa sangat sesak.


*Adilkah untukku Tuhan? Karena kesalahan di masa laluku, karma sedang menghukum ku terpaksa menyeret anak ku yang tidak tahu apa-apa. Aku tidak mengapa di tinggal menikah, di selingkuhi dan selingkuh. Tapi kenapa pernikahan kedua ku harus berakhir **se**tragis ini?


Kak.. Apa pernikahan ini hanya mainan untuk mu? Jika boleh memilih.. Saat aku di talak bang Arga.. Aku tidak ingin di nikahi oleh mu. Aku lebih memilih kita tidak saling bertemu lagi setelah malam talak ku. Hidupku hancur karena cinta ini.


Maaf bila aku harus pergi.


Selamat untukmu calon ayah*.


****

__ADS_1


Berlin, Jerman.


"Kenapa gue ngerasa Dinda dalam keadaan gak baik-baik aja Yo." kata Dimas memandangi foto Dinda berbingkai besar di dinding kamarnya.


Ya.. Semenjak Dimas pindah ke Jerman. Ia sengaja memajang foto-foto Dinda di kamar apartemen mewahnya. Seperti sekarang. Jika ia rebahan di tempat tidur maka akan terpampang jelas foto Dinda di bingkai besar.


"Apa lo cenayang Dim? sok tahu lo."


"Gue ngerasa Dinda bener-bener rapuh saat ini Yo." kata Dimas lagi.


"Gini ya Dim. Lama-lama gue enek denger lo ngomong tentang Dinda melulu. Gue mau tanya, apa yang lo suka dari Dinda secara fisik?"


Dimas diam sesaat memandang foto Dinda di atas sana. "Senyum dan matanya."


Rio manggut-manggut setuju dengan perkataan Dimas. "Tapi dia gak pintar dan juga bukan anak orang berada kayak lo."


"Gue bukan cari partner kerja yang harus pintarnya setara dengan gue. Kalau masalah kekayaan, Gue yang akan buat keluarga Dinda menjadi kaya." tegas Dimas masih tetap memandang foto Dinda.


"Ini ya.. Misalnya Dinda udah cerai dari suaminya. Dia kan janda udah punya anak lagi. Lo masih tetap akan kejar dia kalau misalnya lo juga single?"


"Tentu. Hati gue udah terikat dengan namanya. Terkadang gue juga bingung sama perasaan gue. Hal apa yang buat gue sebegitu sayang dan cintanya ke Dinda. Seperti lo bilang tadi. Dia bukanlah wanita pintar, dia bukan anak dari orang kaya, dia hanya wanita manja yang tidak sengaja terjerumus cinta yang salah. Dan aku menerima nya juga menerima anak nya. Bahkan seorang janda lebih mulia dari pada mereka yang mengaku belum menikah tapi udah gak suci lagi."


Rio semakin bangga pada Dimas. Ia sudah mengenal Dimas dari kecil. Mereka tumbuh bersama hingga sekarang dan akan tetap bersama. Tahu akan sifat Dimas yaitu berpegang teguh pada keputusan yang di ambil maka ia hanya bisa mendukung dan memberi semangat pada Dimas walau ia sendiri tidak tahu takdir apa yang akan terjadi antara Dimas dan Dinda.


Dimas menoleh ke arah Rio. "Kenapa gue gak kepikiran? Ide bagus. Gue harus cari bukti." Dimas tersenyum sumringah.


Harapan ku. Semoga kita..


Tidak saling mengabari tapi


saling merindukan.


Tidak saling mencari tapi


saling mendoakan.


Sampai bertemu di titik terbaik


Menurut Takdir.


*****


"Sayang.. Kenapa belakangan ini kamu sering beli perhiasan?" tanya Toni karena SMS Banking masuk ke ponselnya.


"Pengen aja." Ucap Dinda cuek. Padahal hatinya bergemuruh ingin sekali memaki dan menangis di hadapan Toni. Tapi ia urungkan demi kebahagiaan Toni.

__ADS_1


"Kamu kenapa sayang? apa ada masalah?" tentu sikap Dinda sekarang menimbulkan tanda tanya pada Toni.


Dinda menggeleng. Hanya pusing saja. Mungkin jika di bawa tidur akan hilang." elak Dinda dengan mata sudah memanas.


"Tidurlah sayang.. Biar El kakak yang jaga." Toni mengecup kening Dinda.


Matanya semakin memanas melihat sikap manis Toni.


Apa sikap manis mu hanya untuk menutupi kesalahan mu kak? Apa aku bisa pergi dari hidup mu?


"Dinda ke kamar ya kak." Dengan cepat Dinda melangkah ke lantai dua.


Pagi harinya Dinda melakukan aktivitas seperti biasa. Menyiapkan pakaian dan keperluan Toni. Memandikan baby El. Menyiapkan sarapan di bantu bibi Jubaidah.


Di rumah belakang akan sibuk pagi ini. Zaki dan Maya sedang menyiapkan akad nikah setelah itu akan pergi bersama Dinda.


"Dek.. Kau tak apa jika kita tinggal bersama Dinda?" tanya Zaki di tengah kegiatan mereka sedang membuat kue.


"Gak apa-apa mas. Kasian Nyonya Dinda pasti sangat sulit jika harus mengurus El sendirian dan aku juga sangat menyayangi El."


"Kau memang calon istri idaman." Gombal Zaki.


Maya pun tersipu malu mendengar gombalan Zaki.


"Kau tahu dek.. Dinda itu banyak yang mengejarnya."


Maya yang sedang fokus dengan adonan nya mengalihkan pandangan ke arah Zaki.


"Bagaimana mas tahu?"


"Mas sebelum kerja dengan Dinda itu jadi supir travel. Terus mas dapat sewaan dari Dimas orang yang sangat mencintai Dinda sebelum Dinda menikah." terang Zaki.


"Kok mas tahu? terus sekarang dia kemana?"


"Dinda cerita sama mas. Dia di Jerman atas permintaan Dinda. Tapi sayang, takdir tidak menyatukan mereka sekarang. Bahkan Dimas juga udah tunangan. Tapi terakhir Dimas menemui Dinda, mas lihat masih ada cinta di mata Dimas. Sama seperti saat Dimas sewa mobil mas di Danau Toba lalu."


"Kasihan Dimas ya mas. Tapi sudah lah.. Jangan gosib. Nanti di dengar orang lain. Ayo terusin cetak adonan nya."


"Iya-iya manisku." Zaki mengerling matanya.


🌸


TBC


Emak pengajian dulu ya gaes..

__ADS_1


__ADS_2