PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
episode 141


__ADS_3

Acara wisuda telah usai. Keluarga Dinda tentu sangat bahagia karena Dinda lulus tepat waktu. Mengingat tingkat kepintaran Dinda yang hanya pas-pasan.


Toni mengajak baby El bermain di taman hotel setelah makan siang. Dinda baru saja keluar dari toilet.


"Din." Panggil seseorang.


"Eh ya bang."


"Bisa kita bicara berdua?" tanya seseorang itu adalah Rian.


Dinda mengangguk."Jangan lama-lama ya. Nanti kak Toni nyariin."


Rian mengangguk kemudian berjalan menuju private room yang sudah ia pesan.


"Loh kenapa di private room bang? apa penting banget ya?" tanya Dinda seraya mengikuti Rian masuk.


Rian dan Dinda sudah masuk ke privat room. Rian memberhentikan langkahnya dan menatap Dinda yang masih bingung.


Sejurus kemudian Rian membawa Dinda dalam dekapan nya. Hati dan lirikan nya sedang kalut saat ini.


"Abang kenapa?" tanya Dinda lirih sedikit merasa sesak karena pelukan Rian sangat erat.


"Biarkan seperti ini Din sebentar saja."


Dinda hanya diam saja walau merasa tidak nyaman. Ia takut Toni salah paham bila melihatnya. Tapi ia mencoba memahami Rian, mungkin butuh seseorang sebagai sandaran saat ini.


"Aku masih mencintaimu Din." ucap Rian setelah pelukan nya terlepas.


"Bang. Jangan begitu, aku sudah bersuami. Bukan kah abang dekat dengan Cantika?" tentu Dinda tahu karena sering melihat Cantika keluar masuk kantor Toni dan itu menemui Rian.


"Iya. Tapi hatiku untuk mu."


Dinda tersenyum. "Terimakasih telah mencintaiku selama ini. Tapi jangan pernah sia-siakan seseorang yang selama ini ada untukmu bang. Dan itu bukan aku."


"Menikahlah bang. Maka cinta itu akan hadir dengan sendirinya. Abang juga harus bahagia."


"Aku takut Din. Aku takut membuat Cantika menangis karena aku belum bisa mencintai adik mu itu." terang Rian.


"Selalu bersikap baik padanya bang. Aku ingin kamu bahagia."


"Aku sudah bahagia melihat mu bahagia Din."


Dinda menggeleng. "Nggak bang. Itu bukan bahagia namanya. Baiklah jika memang bukan Cantika. Carilah yang lain."


"Tidak."


Dinda tersenyum. "Ya udah. Lamar lah adik Dinda."

__ADS_1


Rian menghela nafas. "Baiklah. Tapi nanti setelah dia lulus kuliah."


Dinda kembali tersenyum. Ia masih merasa tidak yakin bila Rian akan menurut apa yang ia katakan.


"Jadi masih sedih nggak?" tanya Dinda.


Rian menggeleng. "Terimakasih."


Dinda mengangguk. "Sama-sama. Dinda keluar ya. Jangan sungkan kalau mau cerita lagi."


Rian menghela nafas menatap punggung Dinda menghilang di balik pintu. Sungguh ia masih mencintai Dinda. Tapi ia membenarkan bila melihat Dinda bahagia ia juga ikut bahagia itu bukanlah kebahagiaan yang sebenarnya.


Ia selalu tersiksa melihat Dinda bermesraan dengan Toni.


*****


"Sayang.. Kamu dari mana?" tanya Toni saat melihat kedatangan Dinda di kamar hotel.


Dinda cengengesan karena ia lupa untuk menyiapkan alasan. "Tadi ketemu teman kak di bawah." jawab Dinda kikuk.


"Teman yang mana?" tatapan Toni mengintimidasi Dinda.


"Dinda ketemu bang Rian tadi. Dia curhat kak."


Toni menatap tajam Dinda. Ia tahu kalau Rian ada hati untuk Dinda.


Dinda yang di tanya seperti itu menjadi gelagapan. Karena Rian tadi memeluk nya. Bahkan untuk menelan saliva terasa sulit.


"Jangan cemburu, Dinda tidak mungkin melewati batas."


Toni mendekat. "Kamu pelukan dengan Rian? baju mu bau parfum Rian."


"Mandi Din." titah Toni.


Dinda tidak menjawab. Ia langsung melesat ke kamar mandi. Menghindar dari amukan suaminya lebih baik. Ia tahu bagaimana Toni bila sedang cemburu. Pasti akan berakhir dengan adegan panas.


****


Toni sedari tadi menggerutu. Ia tidak terima wanitanya di sentuh pria lain. Ia tahu Dinda adalah salah satu manusia yang memiliki sifat tidak enakan pada orang lain. Pasti sifat itu penyebab nya tadi Dinda rela di peluk Rian.


"Kamu selalu memporak-porandakan hatiku Din. Apalagi aku yang tidak sempurna. Aku takut kamu berpaling."


Dinda yang baru keluar dari kamar mandi tidak sengaja mendengar Toni berbicara seperti itu membuat hatinya nyeri.


"Dinda tidak akan berpaling kak. Jangan pernah berpikir seperti itu. Kamu sangat sempurna sayang. Bagaimana bisa Dinda berpaling kalau kakak bisa membuat Dinda bahagia?"


"Dan membuat Dinda selalu puas." bisik Dinda.

__ADS_1


Ia menatap Toni dengan senyum manis nya. Tujuan nya hanya satu, mengalihkan pikiran Toni yang selalu merasa tidak sempurna karena belum memiliki anak hingga sekarang.


"Kamu selalu bisa membuatku tersenyum sayang."


"Harus dong. Jangan pikirkan itu lagi ya.. Semua akan baik-baik saja kak. Biarlah mengalir apa adanya."


Toni mendekap istrinya. Tempat yang selalu membuat hati nya tenang dan damai.


"Kakak pakai parfum apa? kok tidak enak kayak biasa?" Dinda melepas pelukan Toni dengan paksa.


Toni mencium tubuhnya sendiri. "Ini wangi sayang. Kakak pakai parfum yang biasa kamu belikan Din." Toni bingung mengapa bisa Dinda tidak suka padahal parfum yang ia pakai adalah parfum yang dibeli langsung oleh Dinda.


Dinda dan Toni selalu seperti itu. Semua kebutuhan Dinda, Toni lah yang memilihnya langsung dari pakaian rumah, gaun, dress, bahkan lingerie dan pa kaian dalam Dinda ia yang menyediakan semua nya.


Begitu juga Dinda. Sekarang Toni sudah memakai jas dan kemeja bewarna kesukaan Dinda. Bahkan Dinda sudah merubah Toni menjadi tampak lebih muda karena Dinda yang mengatur segala fashion untuk suaminya.


"Ganti baju deh kak.. Kakak bau. Kalau masih bau jangan dekat Dinda."


Toni yang masih bingung pun hanya bisa menuruti. Tidak mungkin ia tidak menuruti jika ancaman nya adalah dilarang dekat-dekat Dinda. Mana mungkin ia bisa berjauhan dari Dinda.


Dinda memakai pakaian nya. Tidak tahu mengapa kepala nya menjadi pusing setelah menghirup parfum Toni tadi. Padahal itu adalah parfum yang ia suka jika Toni pakai.


"Aku kenapa?" tanya pada diri sendiri sembari memijit keningnya karena terasa pusing.


Kenapa aku ingin minum susu soya yang dulu beli di minimarket Dimas? tidak mungkin aku bilang kak Toni walau di Jakarta ini ada supermarket Dimas.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Toni baru keluar dari kamar mandi.


"Kepala Dinda pusing habis menghirup bau parfum kakak tadi."


"Ya ampun. Maaf sayang, kakak tidak akan pakai parfum itu."


"Kakak pakai Dinda saja. Itu gak buat Dinda pusing. Baju kakak udah Dinda siap kan."


Toni mengangguk. Ia beranjak ke arah ranjang untuk memakai pakaian.


"Sayang.. Kenapa baju kakak warna pink begini?"


"Dinda pengen lihat kakak pakai baju pink. Biar kita samaan."


"Kakak tidak mau." tolak Toni.


Toni membuka lemari mencari kaos warna hitam. Sementara Dinda sudah menangis dalam diam nya. Ia tidak tahu mengapa penolakan Toni membuat hatinya sakit.


"Loh.. Kamu kenapa menangis sayang?"


🌸

__ADS_1


Maaf lama gak up ya..


__ADS_2