PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 126


__ADS_3

Disinilah Dinda dan baby El dalam gendongan sekarang. Di depan perusahaan Sanjaya Group dimana suaminya mencari nafkah. Ia menatap nanar ke arah bangunan yang menjulang tinggi itu.


Ini terakhir kali nya aku menginjak kaki kesini. Maaf tidak bisa menemanimu lagi.


Dinda menyeka air mata nya lagi. Ia pun melangkah masuk. Saat melewati meja resepsionis ia tidak menyapa Ina dan Berta seperti biasa. Menatap lurus dengan tatapan kosong dan langkah begitu berat untuk ke tempat ini lagi. Salah satu tempat mereka memadu kasih.


Saat sudah berada di lantai teratas dimana ruang kerja suaminya. Ia hanya mendatangi meja kerja sekretaris Toni.


"Mbak Rina.."


Rina mendongak ke asal suara karena posisinya sedang duduk dan konsentrasi pada komputer nya.


"Nyonya.. Maaf tuan Toni sedang meeting di luar. Anda bisa menunggu tuan di ruangan nya." kata Rina kikuk.


Dinda tersenyum kemudian menggeleng. "Nggak mbak.. Saya hanya sebentar. Dan saya titip ini ya mbak." Dinda menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang.


Rina menjadi bingung. Kenapa harus di titipkan padahal bisa langsung di letakkan di ruangan Toni.


"Nyonya. Maaf, kenapa harus di titipkan? Anda bisa langsung meletakkan di ruangan tuan."


"Itu masalahnya mbak.. Tolong berikan ini saat tanggal 15 ya.. Dan jangan bilang kalau saya datang kesini." titah Dinda.


"Tapi Nyonya.."


"Tolong ya mbak.. Ini kejutan untuk suami saya."


Rina memang sudah merasa bersalah karena pernah mencoba merebut Toni dari Dinda hanya bisa pasrah.


"Nyonya.. Maafkan perilaku saya dulu." Rina benar-benar merasa bersalah pada Dinda.


"Jangan hiraukan mbak. sudah dulu ya mbak.. Saya permisi." Sejenak Dinda memandang pintu ruang kerja Toni. Ruangan yang akan Dinda rindukan.


Berat rasanya ia meninggalkan Toni. Ia berjalan dengan langkah cepat sambil mendekap tubuh baby El sedang tertidur pulas. Ia harus segera keluar dan pergi dari Kantor Toni karena Zaki dan Maya sudah menunggu di dalam mobil taxi.


"Den El sudah tidur lagi ya Nyonya?" tanya Maya setelah Dinda sudah masuk di dalam mobil taxi.


Dinda mengangguk. "Udah. Jangan panggil aku Nyonya lagi mbak Maya.. Kau adalah kakak ipar ku sekarang. Pokoknya jangan pernah sebut kami berdua dengan panggilan majikan itu lagi." protes Dinda pada Maya.


"Baiklah.. Sini biar El nya sama aku aja." tawar Maya.


Dinda pun memberikan baby El ke kursi penumpang dimana ada Maya dan Zaki. Saat ini hatinya sangat kacau. Pergi dari kehidupan suami dan juga keluarga nya adalah keputusan yang sangat sulit. Tapi ini harus dilakukan. Cukup sudah kisah pilu hidupnya di kota Medan. Kota kelahirannya.


Ia berharap di kota tujuannya sekarang akan menjadi cerita baru penuh kebahagiaan untuk baby El, Maya, dan Zaki serta ia sendiri pastinya.

__ADS_1


Tidak ada yang mengenal mereka disana. Semoga semuanya akan baik-baik saja.


Minggat !


Dinda menggeleng mengingat satu kata itu.


"Bang. Udah abang urus kemana kita pergi dan kemana catatan nama kita tertulis di Bandara?"


"Udah Din."


"Kemana abang retas data kita?" ya inilah yang di rencanakan Dinda dan Zaki. Memanipulasi keberangkatan keempatnya.


"Ke Jerman." jawab Zaki santai.


Dinda terlonjak kaget. Bagaimana bisa Zaki meretas ke negara itu.


"Apa kau mau membuat kak Toni mengamuk dan berfikir aku lah yang berselingkuh bang?"


"Apa maksud mu Dinda?" Zaki merasa bingung di tuduh seperti itu.


"Jerman itu tempat dimana Dimas tinggal. Apa bisa kau retas lagi?"


"Udah biarkan saja."


Dinda pun diam dan memanyunkan bibirnya. Ia sangat kesal. Bagaimana pun keadaan hubungan nya dengan Toni saat ini, tetap saja ia tidak ingin namanya buruk sama sekali. Walau sudah buruk dari awal.


Maafin Dinda pergi gak pamit kak.. Berbahagialah!!


Dinda menyeka air matanya. Semua itu tidak luput dari pandangan Zaki dan Maya.


"Din.. Kalau masih ragu lebih baik kita kembali ke rumah.. Bicarakan baik-baik dengan suamimu." nasihat Zaki sekali lagi.


Dinda menggeleng. "Aku takut mendengar kebenaran itu secara langsung dari mulut kak Toni bang."


45 menit kemudian mobil taxi di tumpangi Dinda dan lainnya telah sampai di Bandara Kualanamu.


Saat berada di waiting room (ruang tunggu) mendadak suasana tegang dirasakan Dinda begitu juga Zaki dan Maya. Mereka terdiam hanya baby El berceloteh sendiri.


"Mbak Maya udah pernah naik pesawat?" tanya Dinda memecahkan keheningan.


"Belum." jawab Maya dengan perasaan campur aduk.


"Huwwaa Dinda takut naik pesawat mbak.. Padahal udah pernah sekali pas mau ke Kalimantan saat acara 7 bulanan. Tapi beruntung nya ada kak Toni. Sekarang Dinda sendirian."

__ADS_1


"Tenang ada abang Din." ucap Zaki mencoba menenangkan. Padahal sebenarnya ia juga merasa takut karena ini adalah pengalaman pertama nya.


"Kau juga jangan takut dek." Zaki juga menenangkan Maya yang baru beberapa jam lalu sudah menjadi istrinya itu.


Kedua wanita di depan Zaki pun mengangguk. Mereka percaya akan baik-baik saja jika sudah berada dekat Zaki.


Beberapa waktu kemudian, kini mereka sudah berada di dalam pesawat menuju kota tujuan mereka. Zaki dan Maya duduk bersebelahan dengan baby El di pangkuan Zaki. Sedangkan Dinda duduk bersebelahan dengan orang asing.


Dinda berungkali tarik nafas lalu membuangnya secara perlahan untuk menetralkan rasa takut berada di dalam pesawat.


Kalau mogok gimana?


Hanya itu yang ada dalam pikirannya bila naik pesawat. Dan ini juga menjadi alasan Dinda mengapa ia tidak ingin ke Kalimantan mengunjungi ibunya atau ke Jakarta mengunjungi Mama mertuanya.


Tiba-tiba pesawat mengalami turbulensi membuat Dinda terkejut tanpa sengaja menggenggam tangan orang asing di sebelahnya dengan mata terpejam.


Tolong jangan mogok pesawat.


"Maaf." tegur seseorang itu melepas kacamata bacanya dan menyimpan buku yang dibacanya.


Dinda tersadar kesalahannya setelah merasakan pesawat kembali aman ia pun membuka mata melihat ke arah seseorang itu.


"Maaf mas. Saya nggak sengaja."


Dinda tersadar kesalahan nya merasa canggung.


"Tidak apa-apa. Baru pertama naik pesawat?"


"Eh.."


"Tidak mas. Tapi takut kalau terjadi turbulensi."


Hening kembali. Dinda mengintip ke arah belakang di lihatnya Maya ketakutan dan Zaki merangkul nya.


"Bang.. Sini El biar aku yang jaga." pinta Dinda.


"Bener Din?"


Dinda mengangguk dan mengambil baby El. Ia tersenyum melihat baby El tampak senang saat berada di pangkuan nya.


"El sama mommy ya.."


*Maafin mommy El.. Maaf kita harus pergi dari Daddy . Tapi jika suatu saat kamu udah mengerti.. Mommy harap kamu tidak membenci mommy ataupun Daddy.

__ADS_1


🌸


🌸*


__ADS_2