PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 130


__ADS_3

Dinda terkejut manakala melihat siapa yang mengetuk pintu tersebut.


Si al.. Aku lupa jika ia sangat pintar. Kenapa harus dia bukan Kak Toni.


"Dinda.. Aku tahu kamu di dalam. Buka atau ku hancurkan pintu ini?" ucap seseorang itu mengancam Dinda.


Ia pun membuka pintu dengan tangan gemetar. Setelah pintu terbuka sempurna.


"Aduh sakit..sakiit." keluh Dinda saat telinganya di tarik orang itu.


"Rasakan. Ini akibat punya suami bukan orang sembarangan. Dan aku pun jadi kenak dampaknya." cerocos orang itu.


"Dampak gimana?" tanya Dinda dengan polos sembari mengelus telinga terasa panas.


"Tanya aja sama orang ini. Dan jeweran itu juga kiriman dari dia." jawab Sari menunjuk orang berada di belakangnya.


Dinda mengintip siapa orang yang di maksud sahabatnya. Ia pun menelan saliva dengan kasar.


"Kenapa kau bawa orang itu kesini?" bisik Dinda.


"Mau gimana lagi? dia serem Din." Sari begidik ngerih.


"Kemana sifat bar-bar mu Sar?" tanya Dinda masih berbisik.


Ehem..


Terdengar suara deheman seseorang di belakang Sari. Dinda tersadar dan menggeser posisi mempersilahkan masuk.


"Sepertinya kalian berdua butuh waktu berdua. Lebih baik aku kebelakang." usul Sari dan Dinda mengangguk.


Mendadak ruang tamu menjadi hening. Tidak ada yang ingin mengawali pembicaraan. Dinda pun menjadi kikuk di tatap seperti itu terus menerus.


"Ayo kita pulang." satu kalimat terlontar dari orang itu.


"Dinda gak bisa." Dinda menggeleng.


"Jangan kabur lagi Din."


"Dinda gak kabur bang.. Dinda gak akan kembali lagi di rumah itu." seketika mata Dinda kembali panas membayangkan Toni dan Merry.


"Ada apa sebenarnya Din?" tanya Rian.


Dinda menggeleng. Ia tidak sanggup untuk menceritakan ulang apa yang terjadi. Begitu sakit. Sakit yang tidak berdarah.


Rian menarik Dinda untuk keluar rumah. Ia butuh ruang privasi untuk bicara berdua. Tujuan nya adalah mobil. Di buka pintu penumpang untuk Dinda kemudian ia berputar masuk ke kursi penumpang sebelah Dinda.


"Bang." panggil Dinda.


"Cerita lah."


"Apa kak Toni tahu Dinda disini?" Dinda menatap Rian intens

__ADS_1


"Belum."


"Dinda mohon jangan pernah katakan kalau Dinda disini." Dinda menatap Rian dengan tatapan memohon.


"Jangan kabur dari masalah Din. Bagaimana bisa kamu kabur dari suami mu?"


Dinda menggeleng. "Dinda nggak kabur. Inilah yang harus Dinda lakukan kak.. Demi kebahagiaan kak Toni. Dinda mohon. Jika sampai abang kasih tahu kak Toni. Jangan harap Dinda mau kenal abang lagi." ia melipat kedua tangan di dada dengan pasangan wajah merajuk.


Tentu hal itu tidak akan di biarkan oleh Rian. Mau bagaimana pun Dinda adalah wanita yang di cintai nya sejak dulu. Meski ia menerima takdir bahwa mereka tidak jodoh.


"Mana bisa begitu Dinda?"


Dinda menoleh ke arah Rian lagi. "Kenapa? apa abang mencintaiku?"


Rian diam. Apa yang harus di jawab nya jika pertanyaan Dinda adalah jawaban nya.


"Udah Dinda duga. Sejak kapan bang?"


"Setelah pertemuan pertama kita dulu di minimarket Dimas Din. Maaf setelah kejadian itu abang terus mengikuti mu. Mengikuti setiap kegiatan mu. Bahkan abang tahu Dimas juga mengikuti mu juga. Maaf."


Dinda mendengar kan itu hanya bisa menangis.


"Kenapa kalian berdua begitu pengecut? kenapa kalian mau mencintai dalam diam? kenapa rasa cinta kalian aku ketahui setelah aku milik orang lain? kalian berdua bo doh. Banyak wanita di luar sana kenapa harus aku?"


"Maafkan abang. Tapi abang gak masalah kalau kita gak jodoh Din. Abang hanya berharap kamu bahagia. Pulanglah."


Dinda menggeleng lagi. "Nggak mungkin Dinda pulang bang. Dinda bukan lagi ratu di rumah itu. Ada ratu lain yang akan menempati posisi Dinda."


Dinda tidak sanggup mengucapakan keadaan rumah tangga nya. Ia hanya diam menunduk dengan derai air mata.


Ria melihat Dinda begitu rapuh langsung menariknya masuk dalam dekapan. Membiarkan Dinda menangis untuk menenangkan diri.


"Merry hamil." ucap Dinda dengan nada gemetar.


"Anak kak Toni." sambung nya lagi.


Rian terkejut mendengar kenyataan itu. Tangan nya mengepal tapi ia juga harus memastikan nya sendiri. Saat ini ia hanya ingin menenangkan Dinda kecilnya.


"Ya udah kalau kamu gak ingin pulang. Jaga lah kesehatan mu dan juga El. Tetaplah lanjut kuliah Din. Karena itu memudahkan mu mencari kerja nantinya." ucap Rian sembari membelai rambut panjang Dinda.


"Dinda udah kerja bang." kata Dinda dengan suara serak dalam dekapan Rian.


Rian mengernyitkan dahi. "Kerja apa?"


"Nyanyi di kafe. Jangan di protes, Dinda suka pekerjaan itu."


"Baiklah." Rian hanya bisa pasrah dan ia memikirkan apa benar Merry hamil anak Toni. Jika benar maka dia lah yang akan menghabisi Toni dengan tangan nya sendiri.


****


Di Perusahaan Sanjaya Group.

__ADS_1


Tok..tok..tok..


"Masuk." ucap Toni tanpa menoleh siapa yang masuk.


"Pagi Ton.." sapa orang itu.


Toni menoleh ke sumber suara.


"Aku tidak ingin berdebat Merr. Pergilah."


Merry tersenyum. "Aku hanya mengantar makan siang untuk mu. Ini makanan kesukaan mu Ton." Merry membuka kotak makan siang untuk Toni.


"Di makan Ton."


Tuna Sandwich telah tersaji di meja. Tampak menggiurkan.


"Ini aku sendiri yang masak. Perlu aku suapi?"


Toni beranjak menuju sofa. "Tidak perlu. Aku makan sendiri."


Toni memakan tuna sandwich kesukaan nya dalam diam. Bukan ia tidak memikirkan keberadaan Dinda dan baby El. Ia hanya mengalihkan pikiran nya ke pekerjaan saja. Dan perasaan nya kini bercampur aduk. Rindu, marah, sakit hati, khawatir, dan cemburu menjadi satu semenjak ia mengetahui Dinda pergi ke Jerman.


"Bagaimana kabar mu dan Dinda?" pancing Merry.


"Baik. Kami baik-baik saja. Tidak perlu repot-repot memasak untuk ku Merr. Aku tidak mau Dinda salah paham lagi."


"Tidak masalah Ton. Aku tahu jika Dinda tidak pernah membuatkan makanan kesukaan mu kan?"


Toni mengangguk. "Benar.Itu karena aku yang tidak memberitahu Dinda."


"Bolehkah kita berteman Ton?"


"Boleh. Tidak salah jika mantan jadi teman bukan?"


Merry menyeringai sekali lagi rencananya berhasil. Suami istri sama bo doh nya. Mudah sekali di tipu. Pikirnya.


"Baiklah. Aku balik. Besok akan aku bawa kan makanan lagi. Jangan terlalu memforsir diri untuk bekerja. Kamu harus jaga kesehatan Ton."


Toni mengangguk. "Hati-hati."


Setelah pintu tertutup Toni termenung memikirkan keberadaan istri dan anaknya.


"Kamu dimana Din? kenapa tinggalkan aku sendiri? Jika memang kamu ingin hidup bersama Dimas, aku akan mencoba merelakan dan aku sendiri yang akan mengantarkan mu. Tidak perlu harus kabur begini."


"Segitu lemah kah cinta mu untukku Din? Bagaimana bisa kamu pergi tinggalkan ku dalam keadaan sangat mencintaimu?"


*Pulanglah !


🌸


TBC*

__ADS_1


__ADS_2