PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 131


__ADS_3

Hari ulang tahun adalah hari yang di tunggu setiap orang. Kebanyakan orang menyambut dengan suka cita. Berharap merayakan bersama orang-orang tercinta. Tapi tidak dengan Toni. Harinya sudah gelap tidak berwarna karena sang pemberi warna telah pergi dan tinggallah ia yang merana.


Saat tepat berada di depan pintu ruang kerja sekretaris nya memanggil.


"Maaf tuan. Ini titipan dari Nyonya Dinda. Permisi."


Seulas senyuman terbit dari bibir Toni saat tahu Dinda masih peduli padanya dengan memberikan kado di hari ulang tahunnya.


"Kenapa tidak langsung menemui ku sayang?" ucap Toni sendiri sembari melangkah masuk menuju meja kerjanya.


Dengan semangat Toni membuka kotak berukuran sedang itu. Ia mengernyitkan dahi bingung dengan isi kotak tersebut. Tiga amplop berukuran berbeda.


Dibuka amplop pertama. Seperti surat cinta berwarna merah muda dan putih.


*Untuk Suamiku,


Kakak apa kabar?


Di jawab jangan tersenyum terus.


Nanti orang yang lihat kakak tersenyum jadi diabetes loh..


Tuh kan.. Jangan tersenyum. Dinda cemburu.


Kakak sehat kan Dinda tinggal?


Pasti sehat.


Kakak bahagia ya.. Maaf Dinda pergi tanpa izin dan pasti lama.


Jangan cari Dinda kak.. Dinda baik-baik aja dengan El.


Maaf Dinda belum bisa jadi istri yang baik untuk kakak.


Jangan sering-sering marah dengan staf kantor. Bahaya kak.. Karena Dinda udah gak bisa jadi pawang kakak.


Ah ya.. Masih ada pawang lain. Makasih untuk semuanya. Dan tolong jangan persulit untuk amplop yang terakhir ya..


Dinda gak menyesal pernah menjadi bagian hidup kakak walau Dinda dijadikan batu loncatan untuk cinta kakak.


Terimakasih kak.. Dinda mencintaimu. Dinda sayang kamu kak.


Dinda harap kita tidak pernah bertemu lagi.


Karena Dinda gak akan sanggup bila kita bertemu menjadi orang asing.


Selamat bahagia Bule Gila ku.. Pengawal datar ku.


Dari Dinda.


Yang mencintaimu*.


"Apa maksudnya ini Dinda? kamu benar-benar meninggalkan aku?"


Di buka amplop kedua berisi kartu kredit yang ia beri. Dan ponsel Dinda? Kenapa harus di tinggal juga?


Di aktifkan ponsel Dinda. Tampaklah gambar wallpaper di layar utama foto Dinda dan baby El.

__ADS_1


Kakak rindu sayang. .


Isi ponsel tersebut bersih selain folder foto dan video. Di bukanya album foto. Ia tertegun dengan isinya. Selama ini ia tidak pernah membuka ponsel Dinda. Karena ia percaya pada Dinda jika tidak menyangkut dengan Dimas.


Foto-foto baby El dan lebih mengejutkan adalah foto dirinya sangat banyak dan ia sadar itu foto saat ia masih menjadi pengawal Dinda.


Kemudian ia membuka folder video. Dari video baby El, Foto dirinya tertidur?


Kapan Dinda video aku tidur?


Terakhir adalah video Dinda bernyanyi. Nyanyian pengantar hatinya.


Jangan pergi Din.


Sekali lagi Toni menangis karena Dinda. Karena Dinda meninggalkan nya.


Tolong jangan tinggalkan aku selamanya Din. Jika memang masih ingin liburan silahkan tapi jangan tinggalkan aku sendiri.


Toni mengambil amplop terakhir dengan tangan bergetar. Ia takut ini kejutan lebih menyakitkan. Mengingat isi surat pertama Dinda, Jangan persulit di amplop ketiga.


Deg


Benar dugaan nya. Kejutan terakhir lebih menyakitkan. Bahkan tidak ada di pikiran nya mengambil keputusan seperti itu.


Surat cerai?


Setega itu kah kamu sayang? meninggalkan ku tanpa penjelasan. Cerai? Apa karena Dimas?


Cukup lama Toni menangis karena Dinda hingga pertemuan penting pun ia batalkan. Hari ulang tahun nya kini adalah hari menyakiti untuk Toni.


Setelah tenang ia menghubungi seseorang.


(....)


"Dimana Dinda Rian? Aku harus bicara padanya."


(....)


"Apa maksud mu jangan temui dia? aku harus bicara padanya. Bagaimana bisa dia mengajukan perceraian?"


(....)


"Aku tidak pernah main wanita setelah mengenal Dinda. Apa yang kau maksud?"


(....)


"Aku tidak akan tanda tangan. Aku tidak mau lagi mencari tahu kehidupan Dimas. Kamar nya penuh dengan foto Dinda dan itu membuat ku emosi."


(....)


"Tidak ada. Dia hanya kuliah dan pulang ke apartemen nya bersama teman nya itu."


(....)


"Aku hanya mau bertemu Dinda Rian.. Aku ini suaminya."


(....)

__ADS_1


"Aku tahu kau abang nya. Tapi aku suaminya."


(....)


"Baiklah. Kabari aku."


Sambungan telepon terputus. Ia legah walau Dinda menyakiti tapi setidaknya Dinda pergi bukan ke Jerman. Terpenting Rian tahu maka ia tidak perlu khawatir.


*****


"Aku memang tidak bisa berbohong pada Toni. Itu berarti aku tidak boleh bertemu dengan Dinda. Jika tidak maka anak buah Toni akan mengetahui dimana Dinda. Aku tahu ini salah tapi aku ingin memastikan kebenaran nya."


Rian menatap lurus memikirkan rencana apa yang akan ia perbuat untuk Merry,Dinda, dan Toni. Jika bear Toni berkhianat maka ia akan merebut Dinda dari Toni. Jika itu hanya siasat Merry untuk memiliki Toni, maka ia sendiri yang akan menendang Merry dan keluarga nya dari Indonesia.


Memikirkan tentang Dinda, ia jadi mengingat keadaan rumah tempat tinggal Dinda. Sangat memprihatinkan. Jauh dari kata layak. Tidak ada kendaraan. Ingin sekali ia menghajar Zaki yang tidak bisa memilih rumah lebih bagus.


Apalagi Dinda harus bekerja sore hingga malam. Hal itu membuat kepalanya terasa pusing memikirkan kehidupan Dinda.


Jodohku apa kabar ya?


****


Hari ini adalah hari pertama kuliah di Surabaya. Di Universitas swasta di sana. Dengan mengenakan baju bahan rajut warna krem lengan panjang dan celana jeans panjang warna hitam serta rambut di kuncir kuda.


Masih terlihat muda. Jika tidak mengenal Dinda maka yang terlihat adalah Dinda belum menikah dan punya anak.


Setelah kemarin berkeliling sekitar kampus dan jalan dekat-dekat kampus untuk menghafal jalan dan nomor angkot tujuan dari rumah ke kampus, hari ini ia cukup yakin berangkat sendirian.


Sudah lama aku gak naik angkot. Tiba naik kepala ku terasa sedikit pusing.


Setelah sampai di kampus Dinda berjalan untuk mencari fakultas Ilmu Komputer berada dimana.


Akhirnya sampai setelah ia bertanya salah satu mahasiswi disana. Dinda memilih tempat duduk paling belakang setelah sesi perkenalan.


"Hai.." ucap salah satu mahasiswi duduk di depan nya.


"Ya Hai juga."


"Kenali gue Novi." ucapnya.


"Gue Dinda." jawab Dinda.


Waktu istirahat pertama berlangsung. Para mahasiswa-mahasiswi di kelas sudah berhamburan keluar. Ia bingung bila harus ke kantin. Pastilah akan sulit menemukan kantin di hari pertama kuliah.


"Din. Lo dari pindahan mana?" tanya Novi.


"Dari Medan Nov. Kenapa?"


"Lo cantik. Pakek skincare apa sih lo? itu muka mulus amat."


"Oh cuma rajin ke dokter kecantikan aja Nov."


"Gile beneerr.. Orang tajir dong lo?"


Dinda hanya tersenyum. Apa yang harus di jawab? tajir? masa naik angkot?


*Suami gue yang tajir. suami atau mantan suami ya? pasti kak Toni udah baca kado dari aku. Selamat ulang tahun kak.

__ADS_1


🌸*


__ADS_2