
"Bang Riaaann..."Dinda berlari berhambur dalam pelukan saat Rian masih berbicara di telepon.
Rian tersenyum dan mematikan sambungan telepon nya kemudian membalas pelukan Dinda."Dimana Tuan Toni Din?"
"Lagi makan malam."Jawab Dinda saat pelukan sudah terlepas.
"Ada yang ingin abang bicarakan.Ini penting."Wajah Rian seketika berubah menjadi serius.
"Katakanlah bang."
"Dimas kembali Minggu depan."
*Deg
"A-pa?"Wajah Dinda berubah tegang.
"Ya,Abang harap kamu bisa mengakhiri hubungan mu dengan Dimas.Bertahanlah pada Tuan Toni sayang."Rian menepuk bahu Dinda.
"Ten-tu Dinda akan bertahan dengan kak Toni bang,tapi Dinda belum siap bertemu Dimas secepat ini."
"Bicarakan pada Tuan Toni,semoga dia mengerti."
Tanpa mereka sadari,ada sepasang telinga sedang mendengarkan pembicaraan mereka.Ia menyeringai penuh kelicikan.
*****
"Dinda..maafkan aku."Ucap seseorang sedang memandangi foto-foto Dinda yang bertengger di dinding.
"Maafkan aku telah mengkhianati mu.Ku harap ada cara untuk kita hidup bersama.Tapi lihatlah..Aku yang berkhianat.Maafkan aku."
"Tolong jangan benci aku Din.. Kepulangan ku kali ini sebagai perpisahan,maafkan aku."Dimas mengambil satu foto Dinda bersamanya.Ia memeluk erat foto itu.
"Maafkan Mama nak,maaf tidak bisa menghalangi perjodohan ini.Kamu tahu Papa mu kan?"Ucap sang Mama.
Dimas diam tanpa menjawab.
*****
"Kamu kenapa hem?"Tanya Toni pada Dinda yang sedang asyik berbaring di dada Toni dalam keadaan polos.
Toni merasa ada yang berbeda dari permainan pertempuran malam ini.Dinda yang biasa agresif dan mengimbangi permainan,tadi Dinda lebih pasrah dan yang membuat Toni semakin curiga adalah tatapan Dinda kosong seperti ada yang mengganggu pikiran Dinda.
Dinda yang di tanya hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Apa karena Rina datang?"
Lagi,Dinda hanya menggeleng.Ia masih enggan bercerita tentang kepulangan Dimas.Ia tidak ingin membuat Toni takut akan kehilangan dirinya lagi.
"Kak.."
"Hmm."Toni membelai rambut Dinda.
"Apa kakak akan memaafkan Dinda jika suatu saat Dinda melakukan kesalahan?"Dinda mendongak menatap Toni.
Toni berhenti sejenak menatap manik mata indah Dinda."Kesalahan apa yang kamu perbuat Dinda?"
Dinda menggeleng lagi.Ia masih tidak sanggup untuk bercerita pada Toni."Tidak.Lupakan saja."
"Kakak hanya berharap kamu tidak melakukan kesalahan fatal yang akan merusak hubungan kita Din."
Dinda terpaku.Lidahnya keluh untuk jujur pada Toni.
Bagaimana jika kak Toni tahu?
Jika ku katakan, bagaimana reaksi nya?
__ADS_1
aku tak ingin kak Toni sedih, tapi aku ingin berjumpa dengan Dimas.Setidaknya ini untuk terakhir kali.
Maaf jika Dinda menemui Dimas tanpa seijin kakak.Tapi Dinda tidak akan sendiri,Dinda janji tidak akan melakukan apapun.
"Dinda ngantuk kak,boleh Dinda tidur sekarang?"Dinda mengubah arah kepalanya tidur di lengan Toni.
Toni tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban."Tidurlah,besok kamu masuk kuliah pagi."
Toni mengelus pipi Dinda dan mendarat kan kecupan di kening Dinda.
Ada apa dengan mu Din?apa yang terjadi? apa yang ku lewatkan dari mu malam ini.
Pagi harinya seperti biasa Dinda jalani sebagai istri dan orang tua sangat di nikmati Dinda.Walau ia masih harus banyak belajar dan ia menjadi sangat jarang memasak.Padahal sudah banyak menu masakan yang ia bisa walaupun belum seenak masakan Bi Jubaidah.
"Kak,semua udah Dinda siapin,Dinda mandi ya?"
Toni merasa Dinda menghindar darinya.Bahkan Dinda sangat menjaga pandangan nya agar tidak bertemu dengan pandangan matanya.
"Tidak ingin pakaikan?"Toni semakin merasa Dinda menghindarinya.
Dinda pun memakaikan pakaian dan perlengkapan Toni tanpa senyuman.
"Selesai.Dinda mandi ya kak."
*****
"Kakak berangkat ya.."Toni tetap bersikap manis pada Dinda,ia pun tidak ingin memaksa Dinda untuk bercerita.
Dinda mengangguk mencium punggung tangan Toni.Dan Toni membalas dengan kecupan di kening dan mengecup bibir Dinda sekilas.
"Jangan cemberut terus,ceritalah jika kamu sudah siap."
"Maaf kak.Dinda sayang kakak."Dinda memeluk Toni,sekali lagi ia tidak bisa menyembunyikan apapun pada Toni tapi kali ini ia tidak akan bercerita.Biarlah ia tanggung sendiri.
"Tidak apa-apa.Zaki sudah menunggu,ingat peraturan dari kakak ya."Sekali lagi Toni mendaratkan kecupan di kening Dinda.
Dinda diam saja saat berada di dalam mobil bersama Zaki.Tidak seperti biasa Dinda yang banyak bicara kini diam membisu.
"Lo kenapa Din?"Tanya Zaki merasa heran.
"Dimas kembali bang,gue harus gimana?"
"Dimas yang di Villa itu?"Tanya Zaki memastikan.
"Iya."
"Gila..Lo udah nikah tapi masih punya pacar?"Zaki terkejut dengan adik tingkat sekaligus majikan nya ini.
Dinda tidak bisa menjawab karena ia bingung,hubungan apa yang ia jalani dengan Dimas.Pacar bukan, selingkuhan juga bukan.Mereka hanya dua hati yang sama-sama ingin memiliki namun waktu tidak mengijinkan.
"Mending lo berhenti Din,lihat lakik lo cinta banget sama lo."
"Gue tahu bang."
"Terus,kenapa lo cuek bebek ke lakik lo tadi? Tumben."
"Gue ngerasa bersalah sama kak Toni bang karena gue nggak sanggup untuk jujur kalau Dimas akan kembali."
"Waahh parah lo,mending lo bilang sebelum ketemu Dimas Din daripada bebabeh ntar."
Kini mobil Dinda dan Zaki sudah berada di parkiran kampus.
"Kunci mobil siapa yang bawa?"
"Lo aja bang,Hp lo tetap aktif.Gue selesai jam 12,terus antar gue ke kantor lakik gue."
__ADS_1
"Lah terus gimana gue?"Tanya Zaki.
"Ya lo kenapa?"
"Gue balik jam 2 Din,Gue nggak bisa nunggu lo di kantor lakik lo."Zaki merasa tidak enak pada Dinda.
Dinda tersenyum mengerti maksud Zaki.
"Anterin gue aja ke kantor abis itu lo balik kuliah lagi."
"Mana bisa begitu,mobil lo gimana?"
"Ya lo bawak lah bang,anggap mobil sendiri asal jangan lo buat mesum aja." Dinda terkekeh dengan perkataan nya.
Zaki berdecak sebal.
"Gila lo..Emang gue kayak lo yang mesum di mobil.Tapi makasih lo Din.."
Dinda mengangguk seraya keluar dari mobil bareng dengan Zaki.
"Lo jalan jangan di belakang gue kalau nggak ada lakik gue bang."
"Nggak enak gue sama lo Din."
"Udah nyantai,anggap kita saudara oke.."
"Oke."
"Asal jangan jatuh cinta sama gue."Lagi Dinda tertawa di depan Zaki.
"Gue bukan pecinta binik orang."Jawab Zaki ketus.
Saat di lorong kampus langkah kaki Zaki terhenti."Mamp*s cewek gue Din."
Dinda pun melihat ke arah mata Zaki memandang."Cantikkan gue."Celetuk Dinda.
"Diem lo,nggak lo lihat wajah udah serem begitu."Zaki menjadi kikuk saat pacarnya berjalan menghampiri.
Begitu juga Dinda,ia pun hanya diam sama kikuk dengan zaki.
Keduanya seperti sedang selingkuh tertangkap basah di mata pacar Zaki.
"Kau kemana aja bang?Aku tunggu-tunggu nggak jemput juga."Pacar Zaki mulai terisak.
"Kau selingkuh dengan dia kan bang?Aku tahu dia lebih cantik dariku."Sambung nya lagi.
Dinda tersenyum geli, bagaimana bisa pacar Zaki menangis hanya salah paham begini.
"Cewek lo lucu bang."Bisik Dinda.
"Sely,Abang bukan selingkuh.Abang kerja jadi-"
"Bodyguard gue."Potong Dinda,ia tidak ingin Zaki merasa rendah di mata pacarnya.
"Bodyguard?"
Dinda mengangguk kemudian mengulur tangan.
"Iya,kenalin gue Dinda anak fakultas Ilkom.Lo anak sastra kan?"
"Kok lo tahu?"Jawab pacar Zaki bernama Sely itu.
"Sering lihat bareng bang Zaki."
"Gue duluan ya,jangan lupa anterin gue ke kantor bang."
__ADS_1
Zaki tersenyum mengangguk.
🌸