
"Apaan sih kak? Dimas nggak pernah sentuh Dinda apalagi di foto itu. Baju Dinda terkena tumpahan kopi Dimas. Kami nggak sengaja tabrakan karena Dinda buru-buru.Cuma itu kak.. Kalau nggak percaya kakak bisa tanya Zaki karena dia juga ada disana." Ucap Dinda saat nafas nya mulai normal.
Dalam hati Toni merasa sangat senang karena di foto itu tidak benar dan ia berjanji akan menyelidiki siapa yang mengirim foto tersebut.
"Tapi kenapa kamu tidak datang ke kamar untuk membujuk kakak?"
"Buat apa? masih banyak hal lebih penting daripada membujuk kakak. Dan suruh siapa pisah kamar? Kakak sendirikan?" Dinda bicara dengan ketus sembari melipat kedua tangan di dadanya.
Mama Rahma: Haduuh kepala mama pusing. Kami undur diri saja ya. Selesaikan masalah kalian dengan hati dingin.
Panggilan video pun berakhir namun tidak untuk Dinda dan Toni.
"Kamu berubah setelah bertemu Dimas." Ucap Toni dengan wajah sendu.
Dinda tertegun dengan ucapan Toni lantas ia menoleh ke arah Toni. Ia merasa bersalah pada Toni. Bukan karena kehadiran Dimas.
Apa Dimas sangat berpengaruh besar untuk hubungan kita kak?
"Dimas sudah tidak berpengaruh lagi untuk hubungan kita." Ucap Dinda melanjutkan makan sempat tertunda tadi.
"Kamu tidak ambilkan kakak makan?"
"Nggak. Kan udah ada wanita lain yang sediain kakak makan tadi siang." Dinda menatap tajam Toni. Ia masih sangat kesal kejadian di kantor Toni.
"Itu kakak di tawari karena Rina bawa bekal lebih tidak ada apa-apa."
"Ya udah tawari balik makan malam biar di layani sama Rina. Udah ah, selera makan ku hilang karena bicarakan ulet keket."
*****
Di Rumah Belakang.
"Kamu kenapa senyum-senyum Maya?" tanya bi Jubaidah sedari tadi memperhatikan Maya senyum-senyum sendiri.
Maya di tanya seperti itu menjadi gelagapan. "Ti-tidak bi."
"Kamu lagi jatuh cinta ya?" Tebak bi Jubaidah.
Maya hanya tersenyum tersipu malu dan itu sudah menjadi jawaban untuk bi Jubaidah.
"Tapi tidak dengan Tuan Toni kan?" Bi Jubaidah bertanya seperti itu karena Toni memiliki sejuta pesona. Apalagi Toni Bule yang pasti sangat banyak di kagumi para wanita.
"Mana berani aku Bi.. Selain derajat kita lebih rendah.. Mana mungkin aku tega nusuk Nyonya Dinda."
"Kalau pun kamu tega nusuk Nyonya Dinda.. Memangnya Tuan Toni mau sama kamu?"
Bi Jubaidah dan Maya sontak tertawa bersama.
"Jangan aneh-aneh kalau pacaran.. Kita hidup hanya berdua. Kamu harus fokus asuh Den El."
"Iya Bi... "
__ADS_1
"Sudah sana kamu tidur. Jangan tidur larut malam. Besok Nyonya Dinda kuliah pagi kan?"
"Iya bi, aku ke kamar ya Bi."
*****
"Wah.. Hujan nya deras banget.." Ucap Dinda saat memandang gemerlap malam yang basah ulah hujan di balik jendela kaca kamar.
"Kenapa tugas ini nggak siap juga sih?" gerutu Dinda sembari meletakkan kepala di atas meja.
"Resiko punya otak pas-pasan begini." Keluh Dinda lagi.
Ting..
Satu pesan WhatsApp masuk ke ponsel Dinda. Ia pun langsung membaca dengan malas.
Suami Bule❤️: Sayang hujan 😌
"Suami satu ini.. menyebalkan."
Dinda: Udah tahu😒
Suami Bule❤️: Tidak ngerti sekali sih.. 😭*
"Apaan suami ku ini pakek emoticon nangis.. Rasain libur 4 hari.. Bahkan harus nambah 3 hari lagi."
Dinda tertawa saat membayangkan wajah Toni.
Apalagi setelah melakukan itu Toni menjadi lebih ganas. Sehari tiga kali seperti minum obat saja ada jadwal nya.
*Dinda: Selamat libur sampai 3 hari lagi 🤣😋
Suami Bule❤️: Tidak boleh. Kakak rindu loh.. Lidah mu itu akan kakak gigit. Kakak ke kamar ya..
Dinda: Ya udah sini. Ada El disini*.
****
Di kamar sebelah dimana Toni tidur selama 3 malam terakhir dan ini adalah malam ke 4. Ia begitu tersiksa tidur terpisah dengan Dinda namun ia gengsi untuk kembali ke kamar utama.
Ia berdecak sebal saat membaca balasan pesan WhatsApp dari Dinda.
"Kenapa tidak mengerti juga kalau aku disini tersiksa."
Ting..
Satu pesan masuk di aplikasi WhatsApp Toni.
*Mine : Sabar. Dinda akan maafin kakak 3 hari lagi.
Toni : Maaf apa itu? kenapa harus 3 hari lagi*?
__ADS_1
Toni masih menunggu balasan dari Dinda.Ia terus menatap layar ponsel miliknya.
15 menit kemudian ia sudah sangat kesal karena tidak juga di balas Dinda. Ia pun beranjak keluar menuju kamar utama dimana Dinda berada.
Ia membuka pintu yang tidak terkunci. Tampak baby El tertidur lelap di kasur mereka dan Dinda duduk di meja belajar dengan kepala bersandar di atas meja dengan tumpukan buku tebal disana.
Melihat itu Toni merasa bersalah, ia lagi-lagi sudah salah menilai Dinda. Ia terlalu cemburu.
Toni berjalan ke arah Dinda. Ia merapikan anak rambut ke belakang telinga Dinda.
"Cantik."Ucap Toni tersenyum melihat Dinda tertidur damai di meja belajar.
Toni pun menggendong Dinda untuk di pindahkan di kasur. Ia meletakkan tubuh Dinda perlahan agar tidak membangunkan baby El. Satu kecupan mendarat di dahi dan bibir Dinda hingga membuat si empu menggeliat lalu tertidur kembali.
Ia pun mengelilingi tempat tidur merebahkan tubuhnya di sisi lain. Ia menatap baby El tertidur lelap dengan mulut yang bergerak seakan sedang mengenyut sesuatu.
Ia cium pipi gembul baby El. "Bibir kamu kenapa gerak nya begitu? kamu ingin ASI mommy ya? sama.. Daddy juga El."
"Mommy lagi hukum Daddy. Padahal Daddy yang marah sama Mommy."
"Jika di perhatikan.. Wajah mu lebih mirip Mommy El.. Bagus lah.."
Toni diam sesaat memandang wajah Dinda terlelap dengan damai.
"Aku sayang kamu.. Aku cinta kamu.. Maaf jika aku cemburuan.. Itu karena aku takut kehilanganmu." Ucap Toni sembari mengelus pipi Dinda.
Dinda merasa tidurnya terganggu akhirnya membuka mata. Ini yang di rindukan Dinda. Saat membuka mata dari tidurnya kali pertama yang di lihat wajah suaminya.Toni.
"Apa kakak mengganggu tidurmu?" Tanya Toni menatap Dinda juga.
Dinda tersenyum. "Sedikit. Apa kakak yang pindahkan Dinda?" Tanya Dinda saat menyadari ia sudah berada di kasur.
"Iya. Maaf kakak masuk tanpa ijin."
"Nggak apa-apa. Tidurlah disini bersama kami kak." Tak di pungkiri jika Dinda juga merindukan Toni.
"Apakah boleh?"
"Tentu sayang." Jawab Dinda.
"Apa kamu tidak marah lagi dengan kakak?" Tanya Toni memastikan.
"Enggak. Tapi kalau terjadi lagi kakak dengan Rina... Dinda pastikan kalau Dinda akan membalas lebih. Kalau kakak hanya di sediakan makan dan minum maka Dinda akan membalas kakak dengan makan dan minum di suapi dengan pria lain atau bahkan suapi nya melalui bibir ke bibir. Romantis kan?"
"Tidak boleh. Sebelum itu terjadi, kamu akan kakak bawa kemana pun."
*Apa sih.. gak bisa sekali aja menghayal begitu.. dasar cemburuan.. posesif .. untung sayang.. kalau enggak udah ku Jambak rambut nya itu.
🌸
TBC*
__ADS_1