
Plak
Suara tamparan itu menggema di ruang dapur. Dinda menatap tajam pada Tara. Sungguh ini di luar dugaan nya. Tidak menyangka Tara akan berbuat kurang ajar padanya.
"Pria breng sek." Dinda berlalu meninggalkan Tara yang masih terpaku.
Di balik dinding dapur tanpa keduanya duga ada seseorang menyaksikan kejadian tadi. Ia menangis melihat sang suami begitu memuja adik iparnya. Bahkan sang suami tidak marah sudah di tampar begitu keras pada adik iparnya.
Apa salahku suamiku? kau hanya menjerat ku dalam pernikahan konyol ini. Kau begitu menyiksa ku.. Andai aku gak pernah jatuh cinta padamu..
****
Dinda menghapus air matanya setelah berada di depan pintu kamar Toni. Tidak akan ia biarkan masalah tadi di ketahui Toni karena tidak ingin hubungan persaudaraan mereka bermasalah.
"Kakak.." panggil Dinda melihat sang suami baru menidurkan baby El.
"Emm.. Sudah kenyang makan nasi goreng nya?" tanya Toni lembut dan justru membuat Dinda merasa bersalah.
Ia hanya menggeleng.
"Kalau belum kenyang minta masak lagi pada kak Tara." Toni benar-benar berusaha menekan rasa cemburunya.
Dinda menggeleng. "Udah gak selerah. Dinda menginginkan kakak sekarang." Dinda mendekati Toni mengalungkan tangan di leher Toni.
Keduanya saling menatap. Tapi Toni menyadari ada sesuatu pada istrinya.
"Kamu kenapa?" tanya Toni sembari mengusap pipi Dinda.
Dinda menggeleng. "Dinda hanya merasa bersalah pada kakak. Ini kakak gak tergoda?" Dinda mencoba mengalihkan pembicaraan dan berpura-pura cemberut.
Toni terkekeh lalu menyesap bibir Dinda bagai candu untuknya. Tidak ada kata bosan untuk menjamah tubuh istrinya.
Dan ia siap kapanpun jika Dinda tiba-tiba menginginkan belaian darinya seperti ini.
"Kakak begitu menginginkan mu.."
"Tapi ada El kak.. Dinda baru ingat."
"Kita ke ruang ganti saja. Cari suasana baru."
Fadia mengangguk setuju. Dan berharap jejak kecupan Tara menghilang di bibir nya. Sungguh ia merasa bersalah pada Toni.
"Dinda yang pimpin ya.."
Terjadilah olahraga panas penebus rasa bersalah Dinda pada Toni dan ia berharap bisa menghilangkan ingatan tentang kejadian di dapur tadi.
****
"Yo.. Aku ingin pulang ke Indonesia." ucap Dimas.
"Jangan gila hanya karena Dinda Dim. Iya baru wisuda dan kita harus lanjut S2 ke Amerika." jawab Rio mulai jengah pada Dimas.
__ADS_1
"Aku hanya ingin melihat nya." ucap Dimas lirih.
"Jangan bo doh. Buktikan pada Dinda kalau Lo bisa sukses sesuai permintaan dia. Ingat dia udah khianati lo Dim."
Dimas diam lalu menuang wine lalu menuguknya. Begitu terus hingga 2 botol wine tandas. Ia membenarkan ucapan Rio dan akan membuktikan bahwa ia akan sukses dengan perusahaan nya sendiri.
Aku nggak pernah meragukan kemampuan ku Din. Tapi kenapa kau membuatku kecewa. Haruskah aku menunggumu atau melupakan mu?
Dimas termenung meratapi hati nya yang sudah di bawa pergi oleh Dinda. Sering ia mencoba untuk membuka hati pada gadis-gadis yang mendekati nya. Namun tetap saja tidak berhasil.
Bahkan sering sekali Rio mengajaknya ke bar untuk uji nyali kejantanan mereka berdua, tapi selalu Rio yang berhasil. Tapi tidak dengan dia. Setiap akan memulai nya, bayangan Dinda kenikmatan atas perlakuan nya dulu saat berlibur di Danau Toba seakan membuat ia sadar, tidak ada yang bisa membuatnya bergairah selain dengan Dinda.
Ia merutuki dirinya sendiri yang begitu dalam mencintai Dinda, istri orang. Ia benci keadaan hati dan dirinya sendiri.
****
Berhari-hari berlalu setelah kejadian itu Dinda tampak lebih banyak murung bila tidak ada Toni di rumah. Hanya baby El yang membuat ia tenang dan tetap di temani oleh Maya juga anaknya, Zima.
Dinda melihat baby El dan Zima begitu akrab. Baby El sangat menyayangi Zima seperti adiknya.
Tapi ia tidak tahu jika dewasa nanti, karena pertemanan antara pria dan wanita sering berubah menjadi cinta bukan?
"Din.. Kamu kenapa?" tanya Maya.
Dinda menggeleng. "Nggak ada mbak." Dinda mencoba tersenyum.
"Cerita sama mbak kalau memang sangat membebani kamu. Kasihan calon adik El Din."
"Ada sesuatu terjadi tanpa ku sengaja mbak.." ucap Dinda lirih.
"Ceritalah Din jika itu membuat mu lebih tenang."
Dinda pun mulai menceritakan tentang kejadian di dapur dimana ia menunggu Tara memasak nasi goreng dan berakhir tamparan karena Tara sudah berani mencuri ciuman di bibir Dinda.
Maya mengusap punggung Dinda agar adiknya ini lebih tenang. Ia sangat tahu jika Dinda sangat merasa bersalah pada Toni.
"Kamu harus memberi tahu suami mu Din."
Dinda menggeleng. "Aku takut kak Toni marah sama aku mbak."
"Tapi kamu harus jujur. Pasti suami mu merasakan perubahan sikap mu."
Dinda mematung mendengar itu. Ia pun teringat sering sekali Toni menanyakan dirinya kenapa. Tapi ia tidak pernah menjawab karena alasan takut Toni marah dan pergi meninggalkan dirinya.
"Mbak.. Dinda takut."
****
Di ruang kerja yang luas. Toni kembali termenung mengingat perubahan sikap istrinya. Ia ingat betul perubahan itu terjadi setelah berkunjung di rumah Mama Rahma saat Dinda meminta nasi goreng buatan kakaknya.
*Apa terjadi sesuatu di dapur?
__ADS_1
atau karena hormon kehamilan*?
Tapi apa bisa begitu? Dinda memang berubah lebih banyak diam tapi jika urusan ranjang, Dinda menjadi lebih agresif dan seperti ia ingin menguasai dirinya. Menunjukkan ia adalah milik Dinda seorang.
Tentu ia sangat suka setiap permainan yang diberikan Dinda, tapi hatinya mengatakan ada hal tersembunyi yang belum bisa Dinda katakan padanya.
"Kakak.." pekik Dinda saat baru membuka pintu ruang kerja Toni.
Toni tersentak mendengar suara seseorang yang sedang di pikirkan. Ia tersenyum melihat Dinda selalu tampak cantik.
"Masih jam 10, kok sudah keluar rumah sayang?"
"Dinda tadi ikut bang Zaki lihat restoran. Terus minta anter kesini aja." jawab Dinda santai sembari mendudukkan bokong nya di pangkuan Toni.
"Kamu kenapa hm?"
Dinda menggeleng. "Kakak pasti tahu kalau Dinda mencintai kakak."
"Iya kakak tahu."
"Percayalah Dinda gak akan melakukan sesuatu yang Dinda sengaja yang akan membuat kakak sakit hati."
"Kakak percaya sayang."
Dinda tersenyum. "Kakak ganteng."
Toni terkekeh lalu mendekap Dinda erat.
"Ah maaf." ucap seseorang masuk ke dalam ruangan Toni.
Keduanya menoleh dan melihat sekretaris Toni.
"Kenapa tidak mengetuk pintu?" tanya Toni dingin.
"Sudah Tuan. Tapi anda tidak menjawab jadi saya masuk saja takut terjadi sesuatu dengan anda."
Dinda mengerutkan dahinya. "Kakak, apa kalian saling berkomunikasi selain tentang pekerjaan?"
"Tidak sayang."
"Tapi kenapa dia begitu khawatir?"
Toni mengedikkan bahu. Lalu menatap sekretaris nya. "Ada perlu apa?"
"Ini berkas yang harus tuan tanda tangan." Sekretaris itu menyerahkan berkas itu pada Toni.
Toni menerima dan membaca isi nya lebih dulu dengan Dinda tetap berada dalam pangkuannya.
Dinda melihat sekretaris Toni. Tampak jelas ia tidak suka dengan Dinda.
Aku takut kehilanganmu kak..
__ADS_1