PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
episode 13


__ADS_3

"Kak... foto siapa ini?"


"Foto almarhum tunangan kakak Din."


"Cantik." jawab Dinda singkat.


Disinilah Dinda, di apartemen milik Toni . Tidak terlalu mewah. Namun sangat rapi dan bersih. Satu kata untuk apartemen ini. Nyaman.


"Tapi kak.. kenapa sangat muda tunangan kakak? Kecil seperti diriku. Jangan bilang kakak seorang fedofil." Ucap Dinda sedang asik menatap foto tunangan Toni di dinding itu.


"Umur dia sekarang 25 tahun Dinda.. dia pergi umur 20 tahun."


"20 tahun? kakak sekarang 29 tahun.. berarti waktu itu kakak berumur 24 tahun.. aku sekarang 18 tahun.. berarti waktu itu aku masih 13 tahun, ternyata aku benar-benar hidup dikelilingi om-om ya kak?


Ck.. Toni berdecak kesal tak menjawab pertanyaan Dinda..


"Jadi makan Din?" tanya Toni mengalihkan pertanyaan Dinda.


"Jadi kak.. aku pengen makan yang cepat saji aja. Mie instan aja deh biar cepat. aku sudah lapar kak."


"Kamu lagi hamil Dinda..jangan pernah makan mie instan.. omelett sayur mau?" tanya Toni membujuk majikan nya itu.


"Terserah kakak, gak pakai lama ya.."


"Siap bos."


Toni menuju dapur diikuti Dinda dibelakang nya.


Toni mempersiapkan bahan-bahan, di buka lemari es, ia mengambil telur,wortel,dan kol..


Dinda duduk di meja makan berukuran 2x1,5m itu. Dinda memperhatikan pengawal setia itu.


"Andai kalau Dinda masih sendiri pasti Dinda sangat mudah jatuh cinta pada kakak sekarang ini." ucap Dinda spontan saat memperhatikan Toni memasak dengan menopang dagu dikedua tangan.


Deg


Toni terpaku .. ia tak sanggup menjawab seakan lidah nya menjadi keluh.


Apa-apaan wanita kecil ini.. kenapa harus menanyakan hal ini? bahkan aku sudah jatuh cinta padamu Din.


"Jangan sembarangan bicara Dinda.. ingat kamu istri majikan ku."


"Majikan mu itu hanya status suami ku kak.. apa kakak tidak menyadari nya? bahkan waktu ku lebih banyak bersama mu dari pada dia.. bagaimana bisa aku mencintai nya?"


Toni terdiam, ia masih mencoba mengendalikan perasaan salah terhadap istri majikannya itu.


"Kakak tahu? bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaan dia terhadapku... dia tidak ada waktu untuk ku, dia tidak pernah menunjukkan atau mengatakan bahwa dia mencintai ku.. bahkan urusan ran-." Dinda menghentikan ucapannya saat menyadari bahwa ia salah bila bercerita tentang urusan ranjang kepada lelaki lain.


Toni mendekat ke arah Dinda.


Dinda yang didekati itu langsung diam mematung.


"Urusan apa Dinda?" tanya Toni lebih membungkuk kan tubuh nya, kedua tangan Toni berada di sisi kursi tempat duduk Dinda berada.


Deg..deg..deg..


Gawat jantung gue... kenapa gue baru sadar kak Toni tampan.


Dinda menggeleng-gelengkan kepala.


"Enggak kak, Kak.. bisakah sedikit menjauh? aku merasa tidak nyaman."


Toni tersenyum miring mendengar permintaan Dinda.


"Kenapa? kenapa merasa tidak nyaman? bagaimana jika Aril seperti ini? kenapa kamu hanya diam saja bila Aril yang melakukan ini pada mu Din?" Toni berbicara sedikit berbisik sehingga hembusan nafas Toni dapat Dinda rasakan.


Jarak wajah mereka begitu dekat, Dinda menggigit bibir bawahnya, ia bingung harus bagaimana.


Dinda juga menyadari bila Toni sedang memperhatikan bibir nya, ia sadar ini salah, namun ia tak bisa kemana-mana karena tubuh nya terkunci di atas tempat duduk itu.


"Apa kamu bahagia atas pernikahan mu Din?" masih berbicara sedikit berbisik.


Lidah Dinda keluh, bibirnya tak mampu terbuka untuk menjawab sehingga hanya gelengan sebagai jawaban bahwa ia tak bahagia atas pernikahan yang baru 5 bulan di jalani nya.


"Apa kamu masih mencintai Aril?" Tanya Aril lagi. ia mulai berani membelai wajah Dinda menggunakan ibu jari nya.


"Tidak kak, aku sudah tak mencintai nya lagi." jawab Dinda gugup lagi.


"Bagaimana ketika kamu bersama ku Din?"


Dinda terdiam.


Toni mendekat ke bibir Dinda.


Dinda terperanjat ketika kedua bibir bersentuhan.

__ADS_1


Cukup lama bibir mereka bersentuhan.


Toni menjauhkan wajah dari wajah Dinda. Toni ingin tertawa melihat wajah tegang wanita di depan.


"Aku mencintaimu Din." Bisik Toni dengan nafas mulai berat.


Dicium kembali bibir manis itu. Rasanya jauh lebih manis dari yang dibayangkan. Begitu nikmat bahkan sangat nikmat.


Akhirnya, wajah Dinda sudah mulai normal tak setegang tadi.


Bahkan Dinda mulai menerima bibir Toni.


Toni mengangkat Dinda naik ke atas meja makan tanpa melepas pangutan.


Dinda terbuai kembali dengan hasrat membara.


Tangan sudah melingkar di leher pengawal itu.


Sehingga ciuman lembut berubah menjadi memanas.


Kini lidahpun turut bermain menambah hasrat gairah membara.


***


"Kak.." pekik Dinda.


Dinda terlonjak kaget, sehingga ciuman panas mereka terlepas.Karena merasa tubuhnya bergerak melayang.


"Kita ke kamar ya." kata Toni dengan nafasnya memburu.


Diletakkan tubuh indah Dinda dengan perut mulai membuncit.


"Kak.. ini salah."


"Jangan menolak ku Dinda .."


"Jangan khawatir kan Arga.. semua akan baik-baik saja."


"Nikmatilah.."


Ia pun pasrah dengan apa diperbuat oleh pengawal itu.


Ini pengalaman berbeda dari dua pria sebelumnya.


Saat ini Dinda dapat merasakan semua perlakuan Toni sangat memuja tubuhnya.


ia sadar ini salah..


tetapi ia juga ingin menikmati kesalahan ini.


sebagai wanita pernah merasakan surga dunia ia sulit menolak.


Waktu.... tolong biarkan aku menikmati untuk saat ini..


*****


Aril bolak-balik melihat jam tangan mahal di pergelangan tangan kirinya.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, kepala pelayan rumah milik Tuan Arga memberi kabar bahwa istri Tuan nya belum pulang setelah memeriksa kan kandungan siang tadi.


Kemana kamu Din ? kenapa membuat ku khawatir? Toni.. kenapa lupa dengan pengawal itu. Gumam Toni dalam hatinya.


"Maaf Tuan, saya ke toilet sebentar." Alasan Aril agar dapat menghubungi Toni pengawal Dinda.


Dirasa cukup aman, ia mengambil ponsel di dalam saku kemeja dibalik jaket kulit dikenakan nya.


ia mencari nama kontak Toni dan menempelkan ponsel itu di telinga.


Tuutt..tuutt...


Panggilan pertama tidak di angkat.


ia mencoba menghubungi lagi.


tuuttt..tuuttt..


Aril masih menunggu jawaban dari sambungan telepon.


****


Toni berusaha menjangkau ponselnya yang di letakkan di atas nakas. Jarak antara tubuh nya yang berbaring di tengah tempat tidur dengan nakas terlalu jauh dari jangkauan tangan nya.


Sementara Toni tak leluasa bergerak, karena seorang wanita tengah tertidur memeluk erat tubuhnya.


Setelah tadi mereka beradu penuh gairah, Bermandi keringat menjadi satu, wanita itu terlelap karena kelelahan.

__ADS_1


Setelah sekian usaha menggapai ponsel akhirnya ia berhasil, dilihat asisten tuan Arga menghubungi.


📱Aril


*Kenapa Dinda belum pulang?


📲 Toni


*Bukan urusan anda


📱Aril


*ini sudah pukul delapan malam Ton, tidak baik untuk istri tuan sedang hamil.


Toni diam, dipandang wajah cantik wanita tengah memeluk erat dirinya.


Toni tersenyum sebelum menjawab.


📲 Toni


*Itu tugas saya untuk menjaga istri tuan, bahkan istri tuan sangat bahagia bersama saya. Tolong ingat batasan anda, Nyonya bukan lagi pacar anda.


Toni memuta sambungan telepon secara sepihak.


Diseberang sana, Aril tampak kesal.


Dipeluk kembali tubuh wanita tengah terlelap itu. Di belai wajah cantik itu, diusap bibir manis itu dengan ibu jari. Hasrat gairah muncul kembali dalam dirinya.


Shit!!! Kenapa tubuh nya sangat menggoda, pantas saja asisten sialan itu masih menginginkan Dinda walau asisten sialan itu sudah beristri, tapi malang sekali nasib mu Din.. andai kamu tahu alasan aku dipekerjakan untuk menjaga mu.. pasti kamu pergi dari kehidupan tuan Arga. Dan pada saat itu tiba, aku akan menggantikan posisi tuan Arga. bahagialah bersama ku mulai sekarang. Gumam Toni seraya memeluk erat tubuh Dinda.


Karena merasa sesak, Dinda menggeliat. Perlahan ia membuka mata dan mendongak melihat wajah pengawal sedang tersenyum kearah nya.


"Pagi..." sapa Dinda.


"Ini masih malam Dinda.. sudah pukul delapan malam."


"Pukul delapan malam? Ayo antar Dinda pulang kak." Dinda spontan terduduk tanpa sadar selimut tidak lagi menutupi tubuh polos nya.


"Dinda.. jangan menggodaku." Hasrat sedari tadi di tahan nya semakin meningkat kala melihat tubuh polos bagian atas Dinda.


Dinda tersadar, ia berbaring kembali menutupi tubuh polosnya dengan selimut kembali.


Toni mengubah posisi tidur miring menghadap kiri kearah Dinda.


"Kak, kita salah.. Dinda benar-benar wanita murahan sekarang." Dinda menatap Toni dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu tidak salah, Cinta membuat kakak tidak bisa menahan diri, maafkan kakak."


"Apakah kamu membenci kakak setelah ini?"


Dinda sudah mulai terisak hanya menggelengkan kepala.


"Kakak mohon, carilah kakak jika kamu membutuhkan kakak."


"Dinda mau pulang kak, Dinda takut Arga akan curiga."


"Iya kita pulang ya.."


"Tapi Dinda lelah, badan Dinda seperti di pukuli satu kampung, ini salah kakak." ucap Dinda dengan wajah masam dengan mengerucutkan bibir ranum nya.


Toni tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Dinda. Ia pun menyadari bahwa pergumulan dengan Dinda tadi begitu lama, ia juga tidak mengerti mengapa bisa sebuas itu pada istri Tuan nya itu.


Toni turun dari tempat tidur, dengan santai ia berjalan dengan tubuh polos nya mengambil ****** ***** dan boxer di lantai.


Setelah nya, ia mengambil pakaian Dinda berserakan di lantai.


kenapa aku bisa sebuas ini? memang benar, istri orang lebih menggoda.


Dinda yang terbaring hanya melihat Toni dengan wajah datar namun hati dan pikiran melayang, bercabang memikirkan nasib dirinya.


Aku harus bagaimana, aku tahu ini salah, tapi setelah merasakan kenikmatan yang diberikan orang ini sangat memuaskan, apakah dia benar mencintai ku? apakah seperti ini rasanya bila diperlakukan di atas ranjang dengan orang yang mencintai kita? aku harus bagaimana? Andai kamu datang sebelum aku mengenal Aril dan Arga kak..


Toni meletakkan pakaian Dinda di tepi tempat tidur. Ia mendekati Dinda, ia berjongkok menyeimbangkan wajah nya dengan wajah Dinda.


Cup


Di kecup nya kening nya, Diangkat tubuh kecil menuju toilet .


Dinda diam hanya menatap wajah tampan pengawal itu.


🌸


🌸


🌸

__ADS_1


TBC


__ADS_2