
"Sayang bangun, sudah jam setengah tujuh. Kita sudah di tunggu sarapan bersama di restoran." Kini Toni sudah rapi dengan kemeja navy dan celana panjangnya sedang duduk di tepi ranjang sebelah Dinda yang sedang tidur.
Dinda menggeliat dan tangannya terulur memeluk Toni. Dengan mata terpejam ia berbicara. "Kak.. Kita baru selesai satu jam lalu. Dinda capek." Rengek Dinda.
"Selesai sarapan kita tidur lagi dengan El juga. Tidak enak dengan Bapak dan Ibu sayang."
"Kisseo (Cium)" kata Dinda.
Toni menunduk kemudian mengecup kening kemudian menci um bibir Dinda membuat istrinya terbelalak.
"Kak.. Dinda belum sikat gigi ih.."
Toni terkekeh. "Baru satu jam sayang. Bahkan air liur kakak juga disana."
"Kakak mesum. Dinda mau mandi."
"Air sudah kakak siapkan."
Dinda meringis saat melangkah ke arah kamar mandi. Ia baru menyadari jika tadi malam ia di gempur selama tujuh jam setengah dengan jedah yang cukup setiap selesai pelepasan. Membuat tubuhnya remuk, pinggang sakit dan pegal, dan perih di bawah sana.
Tapi Dinda tersenyum mengingat bagaimana Toni begitu menggila merindukan dirinya. Benar yang di katakan mama mertua nya jika pria itu tidak akan lama marah saat wanitanya menurut saja dan mengimbangi permainan di atas ranjang.
Dinda bercermin memantulkan tubuh polos nya. Ia menggeleng saat melihat kissmark di tubuhnya. Merah bahkan ada yang sudah membiru dan mendekati warna hitam.
"Ya ampun.. Di bokong juga ada."
Setengah jam Dinda berada di kamar mandi. Ia berendam air hangat untuk mengembalikan stamina nya walau masih saja lelah dan kurang tidur.
"Kak.. Sini kissmark di leher kakak Dinda samarkan pakai foundation." ucap Dinda mendekati Toni.
"Jangan sayang. Biarkan saja. Sudah ayo." Toni menarik tangan Dinda saat di lihatnya Dinda sudah selesai berdandan.
"Malu kak." Rengek Dinda tapi tetap berjalan.
"Ini kebanggaan sayang. Sudah diam saja ya."
Toni dan Dinda masuk ke dalam lift menuju lantai dasar dimana keluarganya sudah menunggu.
__ADS_1
Saat sudah berada di lantai dasar mereka tetap berjalan beriringan dengan tangan saling menggenggam.
Dilihatnya keluarga nya semua sudah berada di restoran. Hanya menunggu kedatangan keduanya. Keluarganya duduk terbagi menjadi tiga bagian.
Bapak dan Ibu Dinda satu meja dengan mama Rahma dan juga Edo. Rian, Ali, dan Cantika satu meja. Sedangkan Tara, Hartini, Zaki, Maya, dan dua kursi kosong yang diyakini Dinda untuknya dan juga Toni. Jangan lupakan Baby El dan baby Zima berada di pangkuan Ibu Ayu dan Mama Rahma.
"Seperti kalian saja yang pengantin baru." Sarah Tara saat Toni dan Dinda baru saja duduk.
"Memang pengantin baru." celetuk Toni.
Semuanya kemudian makan dalam diam. Dinda dan Toni makan sembari melemparkan senyuman terkadang Dinda mengerling sebelah mata untuk menggoda Toni.
"Dinda. Tolong ajarkan pada istriku bagaimana cara memuaskan suami di ranjang. Aku juga mau di kasih tanda kissmark seperti Toni." kata Tara saat mengetahui ada dua tanda kissmark di leher Toni.
Dinda mendengar itu langsung tersedak karena ia hampir menelan makanan nya.
"Uhuuk. uhukk..uhukk.."
Bahkan Dinda sampai memukul dada nya. Ia terkejut bagaimana bisa Tara berbicara seperti itu. Padahal ia cukup senang saat mendapat kabar Tara menikah itu artinya ia belum sepenuhnya menerima istrinya.
Toni menyodorkan segelas air dan membantu Dinda meminumnya. Ia juga sama terkejutnya. Dan ia takut apa yang dipikirkan nya adalah hal benar.
"Tidak bisa. Tidak ada yang boleh menirukan Dinda." sargah Toni.
Tara berdecak kesal. "Kau pelit sekali. Lebih baik menirukan dari pada ku rebut Dinda dari mu."
Mendadak suasana di meja makan menjadi tegang mencekam. Dinda yakin pasti Toni baru saja tahu jika Tara mengagumi dirinya. Dinda menatap Hartini yang menunduk. Ia merasa istri Tara tertekan sekarang.
"Baiklah.. Demi kebaikan bersama.. Dinda akan mengajari mbak Hartini bermake-up dan cara bagaimana mengambil hati suami aja ya.. Kalau urusan ranjang itu Dinda juga di ajarin, masih belajar juga." terang Dinda.
Toni menatap istrinya. "Siapa yang ajarin kamu?"
Dinda membisikkan "Mama Rahma dan Ibu."
Dinda dan Toni tersenyum setelah Dinda memberi tahu siapa yang menjadi guru Dinda.
"Kalian bertiga memang wanita mesum." ledek Toni.
__ADS_1
Dinda menatap kedua wanita di depan nya. "Mbak Hartini dan mbak Maya nanti kita atur waktu untuk nongkrong bareng ya.."
"Jangan ajarkan istri abang aneh-aneh Din." Zaki memperingati Dinda. Ia tidak marah tapi ia memang lebih suka Maya yang malu-malu. Tapi ketika Maya di ajarkan menjadi wanita sedikit agresif saat akan bercin ta bukan membuat ia On melainkan merasa lucu melihat Maya seperti itu.
Dinda tergelak saat Zaki memperingati nya dan ia pun teringat akan hal yang dipikirkan Zaki. "Iya khusus mbak Maya gak akan lagi begitu bang. Iya kan mbak Maya ku yang pemalu?"
Maya pun hanya senyum malu-malu. Ia tidak pernah merasa cemburu dengan Dinda karena suaminya benar-benar menganggap Dinda hanya adik bukan seperti Rian yang memang sudah cinta pada Dinda.
Zaki dan Dinda masih sama sering berdebat, bertengkar hal-hal kecil karena keduanya sangat banyak memiliki perbedaan. Sehingga Maya seperti seorang Ibu yang harus melerai anak-anak nya yang tengah gaduh.
Pernah di waktu pagi Zaki dan dinda lupa memberi tahu Maya jika hari itu ada kuliah pagi dan mereka terlambat bangun karena malam mereka asyik bergadang bermain game.
"Ini salah mu bang. Aku terlambat bangun. Cepat keluar woy.." Teriak Dinda menggedor pintu kamar mandi. Karena dirumah kontrakan mereka hanya ada satu kamar mandi.
Zaki keluar dengan lilitan handuk di pinggang membuat Dinda harus membuang muka dan terdiam.
"Ha.. Diam kan kau tengok aku gini. Begitu aja terus. Aku mau gosok gigi dulu." ucap Zaki membiarkan pintu kamar mandi terbuka.
"Zaki gilaaa..." teriak Dinda sembari meninggal kan kamar mandi.
Maya terkejut mendengar teriakkan Dinda. "Kenapa lagi kamu dengan abang mu Din?"
Dinda memanyunkan bibir dan siap mengaduh pada istri abang playboy nya. "Abang mbak.. Dia udah buat aku terlambat bangun, terlambat mandi, dan mbak tahu.. Dia pamer tubuh nya pada ku tadi. Gak malu." sungut Dinda mendramatis.
Maya hanya menggeleng dan berjalan kearah kamar mandi. Ia pun masuk kemudian menarik telinga suaminya.
"Udah jadi suami mas. Jangan begitu sama adik kamu." Maya masih menarik telinga Zaki.
"Aduh istriku.. Aku gak ada begitu pada Dinda. Pasti mengaduh lagi ini." gerutu Zaki sembari mengelus telinga nya setelah terlepas dari tarikan Maya.
"Woy Din.. Sini kau. Kita udah terlambat jangan cari masalah."
"Cepat mandi mas." tegas Maya.
Seketika nyali Zaki menciut melihat tatapan istrinya seperti tatapan macan sedang lapar.
"Iya-iya."
__ADS_1
🌸
TBC