
Hari ini adalah hari keempat Dinda dan Toni saling menjauhi.
Bersikap seformal mungkin walau hati keduanya sangat sakit.
Tak ada saling melempar senyuman.
Tak ada lagi canda tawa menghiasi hari mereka.
Sikap Arga menjadi lebih baik pada Dinda,
ia lebih banyak meluangkan waktu untuk Dinda.
Setelah kejadian Dinda sakit beberapa hari lalu membuat Arga semakin bertambah perhatian,
Arga juga sering menghubungi Dinda bila berada di kantor.
Namun apa yang dirasakan istrinya?
ia hanya meladeni tanpa merasakan perasaan istimewa untuk suaminya.
ia juga tak mengerti bagaimana bisa hati ini tak bisa menjadi milik suami nya.
Selama tiga hari yang lalu, Dinda meminta Arga mengantarkan dirinya ke kampus guna menghindari Pengawal yang sudah mencuri hatinya itu.
Namun pagi ini ia harus kembali di antar oleh pengamal berwajah datar itu.
Hari ini jadwal kuliah pukul delapan, sekarang sudah pukul tujuh.
Dinda sudah berada di dalam mobil dengan diam tak bersuara.
Sesampainya di kampus ia tetap tak bersuara. Dinda memasuki kelas dan belajar dengan hikmat.
Beberapa jam kemudian..
Melihat mobil jemputan sudah terparkir disana, ia segera bersembunyi di kerumunan mahasiswa-mahasiswi lain agar tidak terlihat oleh pengawal tersebut.
Dinda sudah tidak tahan lagi mendiami dan didiamkan seperti ini terus-menerus.
Ia berniat hari ini ke apartemen pengawal itu dengan sedikit menghukumnya.
Ia sangat kesal karena tak kunjung berbaikan. Keduanya sama-sama egois untuk berbicara terlebih dahulu.
Akhirnya ia sendiri mengalah akan berbicara terlebih dahulu.
Saat berjalan sedikit jauh dari Kampus, ia memesan taxi online menuju apartemen Toni. Ia tekan password apartemen Toni karena ia sudah mengetahui saat mereka berhubungan baik sebelum ini.
Ia masuk ke kamar pria itu dan langsung merebahkan tubuhnya..
Ia elus-elus perut sedikit buncit itu.
Maafkan mommy nak bila saat kamu lahir, kamu tak bisa bersama papa kandungmu. maafkan mama tak bisa menerima Daddy mu. Semurahan itukah mommy nak? mommy tidak menyesali kehadiran mu, sungguh!!! Namun bila mommy diberi kesempatan untuk kembali ke masa dimana kamu belum hadir di perut mommy, Mommy lebih memilih kamu jangan dulu hadir sebelum mama menemukan cinta sejati mommy. Maafkan mommy nak!!! Sungguh mommy menyesal kehadiran mu saat keadaan dan perasaan mommy tak dapat dimengerti. Dinda menangis dikamar milik pria yang sudah terpatri di hati itu.
Ponsel Dinda terus berdering. Dinda sengaja tidak mengangkat panggilan pemilik apartemen yang sedang ia datangi ini.
kring...kriinngg..
Karena merasa terganggu lantas segera Dinda menekan tombol hijau di ponselnya.
📱Pengawal datar💙
*Anda dimana Non?
Ck..Dinda berdecak kesal.
Bisa-bisa nya pria ini masih berbicara begitu padaku.
Dinda menghapus air mata di pipi mulus nya.
📲Dinda💖
*Saya sudah pulang.
📱Pengawal datar💙
*Saya sudah berada dirumah Tuan, anda tidak ada Non.
Gawat!!!
📲Dinda💖
*Saya sedang di kamar, saya sedang istirahat.
📱Pengawal datar💙
*Jangan berbohong Dinda..
Dinda tersenyum saat mendengar Toni sudah menyebut nama tanpa embel-embel panggilan majikan lagi.
📲Dinda💖
*Aku beneran ada di kamar kak, aku lagi istirahat disini. Kamar seseorang.
Toni mendengar penuturan itu menjadi heran dan mulai cemburu kembali.
__ADS_1
📱 Pengawal datar💙
*Jangan membuat ku khawatir dan cemburu kembali Dinda.
Toni menaikkan satu oktaf nada berbicara terhadap Dinda
📲Dinda💖
*Pulanglah kak, aku baik-baik saja disini.
Dinda sudah tahu sekarang bahwa pria yang sudah mengusik pikiran belakangan ini sedang cemburu.
📱Pengawal datar💙
**Bagaimana bisa aku pulang jika belum melihat mu pulang.
📲*Dinda💙
*Pulanglah, ini perintah.
Dinda semakin gemas saat tanpa sadar Toni kekhawatiran nya.
Toni sangat gusar dengan ulah Dinda namun ia juga melaksanakan perintahnya.
Ia menyadari pertahanan ia bangun beberapa hari ini runtuh.
Ia begitu sangat mengkhawatirkan keadaan nya.
Sungguh!!! Wanita itu sudah memporak porandakan hidupnya.
Setelah beberapa saat ia sudah di depan pintu apartemen tempat tinggal selama bekerja dengan Tuan Arga.
Di tekan password dan dibuka pintu masuk apartemen itu.
Toni mengernyitkan dahi, ia heran kenapa ada flatshoes di apartemen nya, barang Dinda hanya baju di lemari miliknya.
Ia menuju dapur mengambil gelas dan menuangkan air dingin lalu meminum hingga tandas.
Ponsel nya berdering, dilihat istri majikan nya melakukan panggilan video.
Ditekan tombol hijau hingga keduanya saling bertatapan.
Cukup lama keduanya saling menatap tanpa membuka suara.
Dinda tersenyum saat mengetahui pengawalnya sudah berada di apartemen. Posisi Dinda sedang tiduran di atas ranjang Toni sehingga Toni tidak dapat mengenali ruangan dimana Dinda berada.
"Apakah kamu sudah berada di apartemen mu?"
"Sudah."
"Tidak." jawab Toni singkat memalingkan wajah tak menatap ke ponselnya lagi.
Dinda cemberut sebal karena Toni tak kunjung mengakui nya.
"Benar tak rindu?"
"Iya."
"Ya sudah." Dinda memutus panggilan video sepihak.
Dinda merapikan rambut yang berantakan, ia mengambil tas selempang dan ponselnya keluar kamar.
Dinda melewati dapur dimana Toni berada.
Toni terkejut mendapati Dinda di apartemen nya.
Dinda berjalan tanpa melihat dirinya.
"Tunggu." cegah Toni.
Dinda berhenti tanpa membalikkan tubuhnya.
"Apa?." jawab Dinda ketus.
"Kenapa kamu berada disini?"
"Ya aku salah alamat. Aku kira dengan kedatangan ku, akan diterima disini. Ternyata aku salah dan sekarang aku akan pulang."
Dinda melanjutkan jalan menuju pintu apartemen.
Dengan cepat Toni mencekal tangan Dinda dan menarik masuk ke pelukan tubuh Toni.
Toni memeluk dengan erat. Dinda membalas pelukan Toni.
"Jangan seperti ini lagi kak.." Dinda menangis dalam pelukan Toni.
"Tidak akan." Sembari mengecup pucuk kepala Dinda.
"Kakak jahat gak Rindu Dinda." Dinda memukul dada bidang Toni.
"Kamu pasti tahu pasti kalau aku sedang berbohong mengatakan itu."
Dinda mendongakkan kepala, di tatap intens wajah pria sedang memeluk nya itu.
__ADS_1
"Janji jangan seperti itu lagi."
"iya.. tapi aku cemburu melihat dia begitu mesra dengan mu."
"Aku tau." Dinda tersenyum dan membuat Toni menatap sebal pada wanita di depan ini.
Dinda melihat wajah masam pengawal sang pencuri hati itu menjadi gemas.
Dinda berjinjit kemudian mengecup singkat bibir tebal pengawal itu.
Cup
"Jangan ngambek ah, tambah seram tau gak itu wajah."
Toni terpaku mendapat kecupan mendadak dari Dinda.
Ia begitu senang mendapat kecupan Dinda karena Dinda tidak pernah mendahului mengecup ataupun mencium dirinya.
Kedua tanya Toni memegang pinggang Dinda Ditatap mata indah nya.
"Sayang.."
"Hem.."
"Lagi.." rengek Toni dengan nada manja bak anak kecil meminta sesuatu ke ibunya.
"Lagi apa?" Ucap Dinda bingung karena ia tak mengerti dari ucapan Toni.
"Kamu ini menyebalkan sekali."sambung Toni lagi.
"Menyebalkan gimana sih kak?"Dinda semakin bingung dibuat ulah pria sedang memeluk dirinya.
"Aku menginginkan mu Din. Tapi aku ingin seperti kamu dengan suamimu waktu itu."
Cup
Dikecup kembali Bibir tebal pria itu.
Dengan cepat Toni menarik tengkuk leher Dinda.
Dinda pasrah ketika tangan Toni sudah berkeliaran di tubuh bagian atas yang sudah terbuka itu.
Sesaat mereka tak lagi menghiraukan akan apa yang terjadi bila hubungan terlarang mereka di ketahui.
Lenguhan terdengar saat Toni menelusuri tempat-tempat favorit nya.
Toni turun ke perut Dinda, dikecupnya perut buncit Dinda.
"Panggil papa ya.."
Dinda menatap Toni dengan mata sayu penuh gairah.
"Kenapa begitu?"
"Ya.. aku ingin juga menjadi seorang ayah.Andai kamu istriku"
Dinda hanya tersenyum.
Beralih posisi menjadi Dinda di atas memimpin permainan.
Dinda memasukkan junior ke goa kehangatan miliknya.
Dinda dan Toni memejamkan mata sesaat sebelum ia memulai permainan.
Nikmat.
Satu kata menggambarkan segala aktivitas mereka saat ini.
Dan hal itu terjadi kembali dan terus berlanjut.
Selang satu jam Dinda masih memimpin namun belum ada tanda-tanda Toni mengakhiri permainan nya.
Dinda membelai wajah Toni dengan lembut agar, mereka saling pandang.
Toni mengerti arti tatapan Dinda dan ia beralih memimpin permainan dengan penuh gairah.
Empat jam berlalu..
Toni masih setia di atas tubuh Dinda membuatnya sangat kelelahan.
"Kak.. masih belum?"
"Sebentar sayang.. aahh.." Erangan panjang Toni menandakan sudah mencapai pelepasan.
Diambrukkan tubuh nya di samping Dinda.
"aku sangat lelah kak." Dengan nafas terngah-engah.
"Itu hukuman untukmu sayang." Toni mendekap tubuh Dinda dan memejamkan mata.
🌸
🌸
__ADS_1
TBC