PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 53 7 bulanan


__ADS_3

Sudah seminggu Dinda menjadi Nyonya Muda keluarga Sanjaya.Namun sampai saat ini Toni belum membuka identitas pada sang istri dan sang istri pun tidak pernah bertanya.Hanya sering bertanya kenapa Toni tidak mencari pekerjaan lagi setelah mengundurkan diri pada mantan suami sang istri.


Toni dan Dinda juga sudah tinggal di rumah Toni.Rumah tidak terlalu besar.Berlantai dua.Cukup nyaman untuk keduanya karena Toni akan membawa Dinda ke Jakarta.


"Vitamin sudah di bawa sayang?"Teriak Toni pada Dinda sedang berada di kamar mandi berada di dekat dapur.


Dinda keluar kamar mandi dengan cemberut.


"Kakak menyebalkan."


"Menyebalkan bagaimana sayang?"Tanya Toni dengan wajah polos.


"Dasar Om Bule gila.."Bukan menjelaskan melainkan mengumpat dan memukul lengan Toni.


Toni tidak marah,ia sangat senang jika istrinya sedang marah dengannya akan menyebutkan ejekan untuknya.


"Hei..kakak salah apa hem?"Toni memegang kedua pundak Dinda.


"Kakak tahu enggak?"Dinda akan menjelaskan namun sudah di potong dengan Toni.


"Enggak sayang."Potong Toni.


"Iihh kakak sangat menyebalkan.Dinda tadi itu lagi pup..Dinda lagi di pucuk-pucuk nya kakak malah panggil Dinda.Gak keluar kan,udah capek jongkok kak.."


Ya Dinda saat sudah memasuki 7 bulan Dinda lebih nyaman menggunakan kloset jongkok dari pada kloset duduk.


"Maaf sayang..Jadi kita berangkat sekarang atau gimana?"


"Berangkat saja kak.."


Toni dan Dinda menaiki taxi menuju Bandara Udara Internasional Kualanamu.


Saat berada di dalam pesawat,Dinda tampak antusias walau ia tahu setelah nya ia akan kelelahan.Tujuan mereka ke Kalimantan Timur,Kota Balikpapan dimana Orang tua Dinda tinggal sekarang ini.


Keduanya datang untuk melaksanakan acara adat Jawa 7 bulanan Dinda.Tentu Toni sangat antusias walau anak dalam kandungan Dinda bukan anak biologis nya tapi ia sangat menyayangi anak itu.


Kelak ia juga akan memiliki anak biologis dari Dinda."Sayang.. bagaimana nanti acara kita?"


"Nanti kita di mandikan banyak orang kak." Jawab Dinda meringis sambil mengelus perut karena sang baby bergerak kuat.


"Kenapa sayang?"Tanya Toni khawatir karena melihat raut wajah Dinda berubah tidak seceria tadi.


"Si boy tendang nya kekerasan kak.."


Lantas Toni mengelus dan membungkuk mengecup perut Dinda."Jangan nakal boy.. Kasihan mommy."


Dinda tersenyum dan mengelus kepala sang suami.Ia merasa beruntung di cintai Toni walau terpaut jarak umur yang jauh tapi ia tidak malu mengakui jika Toni adalah laki-laki yang pantas di cintai.


Namun hingga sekarang ia masih belum mengerti perasaannya bagaimana.Jika dikatakan ia sudah mencintai sang suami mengapa masih memikirkan laki-laki lain? Dimas.Nama itu masih sering terlintas di hati dan pikiran Dinda.

__ADS_1


"Ceritakan pada kakak apa saja yang kita lakukan saat acara nanti sayang."


"Dengarkan Dinda,di adat Jawa 7 bulanan atau bisa di bilang Mitoni atau Tingkeban.Nah tujuan acara Tingkeban ini kita maknai sebagai permintaan keselamatan dan pertolongan pada Tuhan Maha Esa." Dinda menjeda melihat sang suami manggut-manggut.


"Lanjut gak kak?"


"Lanjut sayang."


"Acara Tingkeban di mulai dengan prosesi siraman yang di lakukan oleh 7 kerabat terdekat dengan tujuan meminta keselamatan si jabang bayi.Nah ini yang paling seru kak.." Dinda tampak ceria kembali saat mengatakan itu dan senyum-senyum sendiri memikirkan khayalan nya.


"Seru gimana Din?" Dia yang tak mengerti adat-istiadat di Indonesia hanya bisa mendengarkan istrinya.


"Air yang kita gunakan untuk mandi nanti itu di ambil dari tujuh sumber.Nah kita nanti itu keliling meminta air dari 7 sumur." Dinda tersenyum menatap suaminya dengan misterius.


"Kamu kenapa melihat kakak aneh begitu?" Toni curiga dari tatapan sang istri.


"Dinda ngerasa lucu kalau penduduk disana mendengar kakak bicara bahasa Indonesia masih belum fasih begini." Dinda tergelak memikirkan apa yang akan terjadi nanti saat sang suami berbicara pada orang lain.


Karena ia tahu jika suami nya ini sangat sedikit berbicara pada orang yang belum di kenal nya dan suaminya tidak suka berbicara hanya sekedar basa-basi.Hanya pada Dinda lah sang suami banyak bicara.


"Kakak akan berbicara menggunakan bahasa Inggris saja."Jawab Toni enteng sambil mengangkat bahu tanda acuh.


"Dasar Bule gila.."Cicit Dinda.


"Makanya ajari kakak dong biar fasih.."


"Hanya di Apartemen jika ada pekerjaan kantor, touring sendirian,mengenal kota Medan.Menghapal jalan kota Medan.Cek Hotel sesekali serba sendirian.Dan beberapa bulan terakhir kemana-mana sama kamu"Jelas Toni dengan kegiatan selama tinggal di Medan.


"Karena kakak selalu sendiri jadi saat bekerja dengan bang Arga kakak ada teman begitu?"


Toni mengangguk cepat.


"Coba saja kakak sebelum kerja dengan bang Toni mau berteman dengan wanita lain pasti kakak cepat move on.Mungkin kakak sekarang sudah memiliki anak lebih dari satu." Dinda mengutarakan pendapat dari penuturan Toni bukan bermaksud menyinggung perasaan sang suami.


Toni mendengar itu lantas menoleh ke arah Dinda."Kakak tahu Dinda belum bisa membalas cinta kakak,tapi jangan pernah meminta kakak untuk meninggalkan kamu Din,tidak ada yang akan menggantikan kamu di hati kakak sebagai Nyonya Toni Sanjaya."Suasana berubah menjadi serius.


"Eh..bukan begitu kak..Dinda gak bermaksud begitu.Dinda tidak akan tinggalin kakak,Dinda sudah menerima cinta kakak tapi hanya butuh waktu untuk membalas cinta kakak,maaf"Dinda merasa bersalah.


Toni merasa bahagia mendengar pengakuan Dinda,itu berarti Dinda berniat untuk mencintai nya juga.


"Walau Dimas datang menjemput mu Din?" Hanya satu orang ini yang Toni takutkan.Dia bisa membuat Dinda goyah.


Dinda mendongak menatap Toni lebih dari 10 detik kemudian menganggu lemah.


Hal itu membuat Toni tersenyum bahagia.Sungguh memiliki Dinda membuat ia kembali bahagia.Bahkan sangat bahagia melebihi saat ia masih berhubungan dengan almarhum tunangan nya.


"Kamu serius Din?"


Dinda mengangguk kembali."Iya kak..Dinda gak mau gagal berumah tangga lagi,Dinda akan menjadi seorang ibu,Dinda harus berubah menjadi istri dan ibu yang baik,Dinda gak mau anak Dinda meniru kelakuan Dinda."

__ADS_1


Toni memeluk Dinda,ia sungguh bahagia saat iniemohon tidak akan ada lagi tangis sedih untuk Dinda.


"Terimakasih sayang,Tapi setelah lahiran ketemu Dimas nya sama kakak ya..Kakak masih ingat loh kalau Dinda dan Dimas membuat janji akan bertemu setelah lahiran."


"Iya kakak sayang.."


Toni tersenyum dan melepaskan pelukan.


"Bule.."Panggil Dinda.


Toni menoleh kembali kearah sang istri tanpa bertanya.


"Kisseo (Cium).."Rengek Dinda manja mengetuk-ngetuk pipi dengan jari telunjuk.Dinda berbicara menggunakan bahasa Korea.


Toni tentu bisa berbahasa Korea karena ia seorang pebisnis tentu harus bisa berbicara dengan bahasa berbagai negara.


"Jigeum? (Sekarang?)"


Dinda mengangguk.


Tentu Toni dengan senang hati mencium Dinda.Bahkan lebih juga Toni siap.Tapi apa daya..Dinda belum selesai masa Iddah.


Cup


1 kecupan di pipi kanan.


Cup


1kecupan di pipi kiri.


Cup


1 kecupan di kening Dinda.


Cup


Toni melu mat bibir Dinda sebentar.


Dinda tersenyum.Ia tidak menolak.Tak di pungkiri jika ia juga menginginkan lebih namun ia harus bisa menahan.Ia sama tersiksanya dengan Toni.


Toni memegang tengkuk Dinda.Ia mencium leher Dinda.


"Cepatlah keluar boy..Papa sudah rindu mommy."Sungguh ia sangat tersiksa.


"Sabar ya.."


🌸


🌸

__ADS_1


__ADS_2