
Usia kehamilan Dinda sudah menginjak 8 bulan.Itu artinya sebulan lagi ia akan bertemu dengan anak pertamanya.
Tadi,setelah memeriksa kandungan Dinda,Toni pamit menghadiri rapat untuk acara ulang tahun salah satu Hotel yang sudah berdiri empat tahun di kota Medan itu.
Sebenarnya Dinda belum siap di publikasikan sebagai istri seorang Tuan Muda Kedua keluarga Sanjaya.Tapi sang suami memaksa akhirnya ia pun menuruti nya.
Kini Dinda duduk di taman Marelan sendiri termenung, sampai sekarang ia masih bingung dengan perasaan di hati.
Mengapa ia belum bisa seutuhnya memberi cinta pada orang tulus mencintai tanpa memandang masalalu sangat kelam.
Mengapa hati ini masih saja terbagi menjadi dua?
Walau dengan dia jauh disana tidak pernah saling memberi kabar,namun isi dari sosial media keduanya menyiratkan perasaan cinta.
Itulah mengapa Dinda masih memikirkan dia.Dimas.
Kini ia hanya sendiri,tanpa suami biasa berada di dekat nya.
Dinda melihat sekeliling,taman ini tidak pernah sepi,penjual makanan sudah tersusun rapi di pinggir jalan taman itu.
Dinda duduk di depan air pancur taman.Dinda merasa kehilangan Sari,sahabat tempat mengaduh senang dan sedih Dinda,Jika salah satu sedang sedih maka datang ke taman Marelan ini adalah solusi.
Dan lihat sekarang,ia tidak bisa dekat dengan seseorang untuk di jadikan sahabat.Rasanya ingin sekali menemui nya dan menangis dalam pelukan sahabat nya.
CENGENG.
Benar,
Di balik sifat ceria,periang,ramah dan lemah lembut terdapat sifat cengeng dan manja.
Dinda benar-benar bingung,apa yang membuat para laki-laki itu jatuh cinta pada dirinya.
Ada apa pada tubuh ini?
*Aku,Dinda Larasati
Usia ku masih sangat muda tapi aku sudah merasakan dunia gelap, pergaulan bebas,berselingkuh karena kurang nafkah batin.Dan sekarang hati ku selingkuh dari suami baru ku.
Sungguh bejat bukan?
Sungguh murahan bukan?
Siapa lah aku bisa membuat orang-orang itu jatuh hati?
Bolehkah aku pergi jauh dari mereka? Tapi kemana?Suami baru ku benar-benar punya cara agar aku terus bergantung padanya.
Aku di larang keras bekerja.
Bahkan bila aku menuruti,kuliah ku putus.Tapi aku berhasil membujuk agar aku tetap kuliah.
Takdir,adakah sisa sedikit saja kisah bahagiaku?
Dinda,
Penunggu waktu bahagia*.
****
"Nih."Seseorang menyerahkan sapu tangan dan sekantung plastik di depan Dinda yang sedang menangis.
__ADS_1
Dinda merasa ada seseorang di depan nya lantas mendongak.
Dinda terperanjat hingga ia berdiri kemudian menerima pemberian asisten sang suami dan segera menghapus air mata menggunakan sapu tangan itu.
"Asisten Rian.."Ucap Dinda dengan suara serak.
"Duduk lah Din."Titah Rian.
Dinda menuruti,ia heran mengapa cara bicara asisten pribadi sang suami tidak seperti berbicara pada sang majikan.
Dinda mengerutkan dahi."Maaf asisten Rian, apa kita pernah bertemu sebelum nya selain di acara pernikahan bang Arga?" Dinda benar-benar penasaran karena merasa pernah bertemu dengan asisten sang suami.
"Bukalah isi kantung plastik itu Din,semoga kamu mengingat nya."
Dinda membuka kantung plastik.Wajah Dinda berbinar melihat isi dari kantong plastik.
Dinda menoleh ke arah asisten suami nya lagi. "Untukku?"
Rian pun mengangguk."Aku tahu kamu menyukai itu kan?"
"Ya sangat suka,sudah lama sekali aku tidak meminum ini." Dinda berbicara sambil membuka bungkus es krim.
Rian tersenyum,setidaknya ia bisa melihat Dinda kecil tersenyum.
"Din.."
"Ya.."Dinda menjawab tanpa menoleh karena masih asyik dengan eskrim nya.
"Kamu tidak ingat siapa aku?"
Dinda pun mendongak lagi karena Rian masih berdiri di depan nya.
"Kita seperti pernah bertemu bukan?" Dinda tidak menjawab melainkan balik tanya.
"Ya kita pernah bertemu sebelum kamu mengenal mantan suami mu ataupun Tuan Toni."
"Benarkah?"
"Mungkin karena banyaknya masalahku jadi tidak mengingat mu asisten Rian."
"Jangan bersedih,kita bertemu 4 tahun yang lalu di minimarket."
"Minimarket?"Dinda benar-benar lupa.
Rian mengangguk."Masih ingat saat sudah giliran kamu membayar di meja kasir tapi uang kamu hilang?"
Dinda diam sejenak menerawang memori lama 4 tahun lalu.
Mata Dinda terbelalak saat mengingat sesuatu.
"Coba kamu duduk."
Rian duduk berjarak jauh dengan Dinda,karena ia gugup bila berhadapan dengan Dinda.Tadi entah mengapa ia ingin sekali membeli jajanan kesukaan Dinda.Saat ia melewati taman Marelan,ia melihat Dinda sedang menangis.
Dan ia pun bertekad menghibur Dinda dengan jajanan kesukaan Dinda.Eskrim dan Susu kedelai walau ia harus menghadapi degub jantung yang sangat cepat.
Dinda berdiri di depan Rian mengamati apa yang ada di ingatan nya.
Benar orang ini sama dengan yang ada di ingatan nya.Hanya saja orang di depan lebih tampak dewasa dan ada bulu-bulu tipis di rahang nya.
__ADS_1
Dinda menatap mata Rian yang juga sedang menatap Dinda.
Deg..deg..deg..
Mata itu masih sama indahnya dengan 4 tahun lalu,namun sekarang mata itu menyiratkan kesedihan disana.Ingin sekali ku dekap dirimu Dinda kecilku. gumam Rian
"Abang minimarket?"tanya Dinda.
Rian mengangguk tersenyum karena sudah di ingat oleh Dinda.
Dinda maju beberapa langkah ingin memeluk Rian,karena jujur saja dahulu sebelum ia terjun ke pergaulan bebas,Dinda juga sering menunggu Rian di depan minimarket tempat mereka pertama bertemu tapi Rian tidak pernah muncul.
Rian berdiri dan Dinda memeluk Rian.Degub jantung Rian benar-benar tidak bisa terkontrol lagi.Rian tidak membalas pelukan Dinda karena ia tahu, bodyguard Dinda ada dimana-mana.
"Tolong lepas Din.." Sebenarnya ia sangat bahagia di peluk oleh Dinda kecil tapi ia tidak ingin mengambil resiko.
"Ah iya maaf, akhir nya bang Dinda menemukan Abang." Dinda tersenyum bahagia.
"Memang kamu mencari ku?"
Dinda mengangguk."Dinda sering tunggu abang di depan minimarket."
Rian terperanjat,ia tentu tahu Dinda sering di depan minimarket setelah keluar dari dalam minimarket.Tapi ia tidak menyangka jika saat itu Dinda sedang menunggu nya.
Andai..pasti kamu sudah bersamaku saat ini.
"Maaf,aku sudah kembali ke Jakarta saat itu." Sungguh Rian menyesali kebo dohannya.
"Baiklah,ayo kita makan siang."Ajak Dinda karena ia pernah janji akan membayar hutang pada Rian.
"Jangan Din,kamu pulang lah."
"Dinda kan sudah janji jika bertemu akan mentraktir abang.."
Rian menggeleng."Jangan,sekarang kamu menikah dengan orang berkuasa dan itu adalah Bos ku sendiri.Tanpa kamu sadari,banyak mata yang akan melaporkan segala kegiatan mu."
"Hah..?" Dinda menganga karena terkejut.
Rian terkekeh melihat wajah Dinda sedang terkejut.
"Benar Din, mungkin tak akan lama lagi suami mu datang meminta penjelasan mengapa kita bisa duduk bersama sampai kamu memelukku tadi."
Dinda menelan saliva dengan kasar,bila benar apa yang di katakan asisten sang suami maka ia harus menyiapkan alasan yang masuk akal jangan sampai membahayakan karir asisten suami nya ini.Karena ia lah yang salah sudah memeluknya.
"Din,jangan khawatir."Rian merasa bersalah pada Dinda.
"Tak apa bang"
"Jangan panggil aku Abang minimarket lagi Din.."
"Kenapa?"
"Suami mu cemburuan,bisa bahaya."
Dinda dan Rian pun tertawa membenarkan apa yang di katakan Rian.
Dinda mengangguk.
🌸
__ADS_1
🌸