PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 93 Masa depan dan masa lalu


__ADS_3

Hari itu telah tiba.Hari yang penuh ketegangan bagi tiga hati yang terikat.Ada rasa rindu di hati namun waktu tidak berpihak untuk saling merindu.


Kini Dinda dan Toni berada di private room restoran terkenal di kota Medan menunggu kedatangan Dimas masalalu Dinda.


"Sayang,kita pulang aja yuk.Dimas lama."Ajak Dinda dengan keadaan gelisah.Sebenarnya ia belum siap untuk bertemu Dimas.Ia takut hatinya bimbang kembali.


"Kita harus bertemu Dimas sayang..Kamu harus selesaikan masalah kamu."


"Kakak yakin?"


Toni mengangguk seraya membelai rambut Dinda kemudian mengecupnya.


"Kakak harap kamu benar-benar memilih kakak."


Dinda mendongak menatap intens manik coklat milik Toni. "Apapun yang terjadi nanti hasilnya tetap sama,kamu yang ku pilih."


Cup


Dinda mengecup bibir Toni dengan lu matan lembut tanpa di balas Toni.


Dinda mengerucutkan bibir saat melepas pangutan yang tidak terbalas itu.


"Nyebelin."


Toni terkekeh sedetik kemudian ia langsung menyambar bibir Dinda.


"Sudah kan?Mau lagi?"Goda Toni saat pangutan terlepas.


Dinda memukul dada Toni dengan wajah merona merah bak tomat.


"Jangan menggodaku."


"Tidak,kita bisa lakukan lebih sambil menunggu Dimas."Ucap Toni enteng.


"Jangan gila kak.."Protes Dinda.


"Atau kita bisa pesan private room lain untuk kita melakukan itu."


"Ada aja kamu."


"Kita belum pernah mencoba,Ide bagus kan kalau kita lakukan di restoran."


"Kak,kenapa mesum sih?"


Toni menatap Dinda lekat dengan tatapan menuntut."Sayang.."


"Ya."Jawab Dinda singkat.


"I want you." Bisik Toni di telinga Dinda hingga hembusan nafas Toni dapat dirasa Dinda.


Dinda memberi akses penuh untuk Toni.Ia tidak menolak.Selain ia merasa nikmat dan itu juga kewajiban istri kan?


"Sebentar sayang."Dinda mengambil ponsel di tas selempang dan menghubungi seseorang.


Dinda:Bang,gue butuh bantuan lo.


Dinda berbicara dengan menahan de sahan ulah Toni yang tetap beraktivitas menikmati permainan.


Zaki:Bantuan apa Bu Bos?

__ADS_1


"Tunggu sebentar kak,kita harus di jaga."Dinda menegur Toni yang sudah berhasil membuat hasrat nya tak tertahankan.Ia bicara dengan suara sensual nya.


Zaki mendengar suara Dinda hanya menggeleng.Ia tidak habis pikir mendapat majikan mesum.


*Dinda:Lo jaga pintu ruangan kami.


Zaki:Gila aja lo ***-*** gue tungguin.


Dinda:Ini perintah*.


Dinda memutuskan sambungan telepon karena ia sudah tidak tahan mengeluarkan suara sensualnya tapi tetap ia harus bisa menahan karena ini bukan tempat yang kedap suara.


Suara decitan meja dan suara tertahan menjadi saksi pergulatan di dalam private room tersebut.


Di luar ruangan Zaki menunggu di depan pintu private room dimana sepasang di dalamnya sedang memadu kasih.


"Benar-benar majikan gila..Mesum nggak tahu tempat.Anjim banget dah..Gue jadi hor ny." Zaki menutup telinga dengan kedua tangan.Keringat dingin terus mengalir ulah Dinda dan Toni.


"Andai gue berani tiduri salah satu pacar gue.Aarrgghh harus main solo lagi gue."Gerutu Zaki lagi.


Satu jam kemudian Toni keluar dari private room dengan senyum mengembang.Toni melihat Zaki sedang merenung di depan pintu.


"Eheemm.."Toni berdehem menyadarkan Zaki.


Zaki terperanjat."Sudah selesai Tuan?"


Toni mengangguk kemudian keluar menuju toilet restoran.


Zaki geleng-geleng melihat Toni. "Bisa ya hemat suara begitu?"


"Bisalah."Jawab Dinda tiba-tiba muncul di depan pintu.


"Awas aja lo bayangin gue lagi bugil."Ancam Dinda.


"Ogah,gue punya pacar gak kalah cantik dari Lo."Ucap Zaki bangga.


"Masak?Udah ah,gue mau ke kamar mandi,tolong katakan pada pelayan restoran untuk rapikan ruangan ya kak."Dinda nyengir kuda seraya meninggalkan Zaki masih setia berdiri di depan pintu.


Zaki yang di perintahkan pun hanya bisa mendengus."Lo yang enak gue yang hor ny."


Lima menit setelah ruangan rapi Toni menghampiri Zaki."Pesanlah sesuatu,kamu tidak perlu berdiri menunggu kami lagi."


"Baik Tuan."Zaki membungkuk hormat dan berlalu dari hadapan Toni.Ia memang sudah lapar sedari tadi.


Toni duduk dengan memegang iPad mengerjakan pekerjaan sembari menunggu Dinda dan orang dari masalalu Dinda.


Terdengar handle pintu bergerak Toni melihat ke arah pintu.Tampak dua pemuda dengan tubuh atletis sesuai usianya.


Toni menatap salah satu pemuda itu pias.Ia menyadari jika ia tidak lagi muda tentu saja Dinda akan tergoda dengan pemuda itu pikirnya.


Setelah beberapa menit tatapan mereka bertemu,Toni memutuskan tatapan itu kembali fokus pada iPad nya.


"Maaf kami terlambat."Ucap Dimas.


Toni mengangguk."Duduklah,Sebentar lagi Dinda datang."Ucap Toni tanpa mengalihkan pandangan ke iPad nya.


Dimas dan Rio duduk berhadapan dengan Toni. Dimas dan Rio merasakan suhu di private room berubah menjadi dingin mencekam.Rio sampai bergidik ngerih.


"Dinda kemana?Kenapa hanya anda?"Tanya Dimas karena ia ingin segera bertemu pemilik hatinya.

__ADS_1


"Toilet."Toni sudah sangat cemburu,ingin sekali ia menghajar Dimas karena berani menanyakan Dinda.


Di luar ruangan Dinda sedang panik mencari ponsel di dalam tasnya."Kemana ya tadi setelah telepon Zaki? Apa di dalam ya?"


Dengan cepat Dinda masuk ke ruangan tanpa melihat siapa yang ada di dalam ruangan.


"Kak lihat ponsel Dinda nggak?"Dinda bertanya sambil merogoh tas selempang nya.


Semua menatap Dinda yang terlihat panik.


Dimas menatapnya penuh cinta,ia bangkit mendekati Dinda yang masih berdiri di depan pintu.


"Din.."Panggil Dimas dengan lembut sembari mendekap dengan erat.


Dinda mengenali suara yang memanggilnya berhenti beraktivitas.Ia memejamkan mata merasakan dekapan yang dahulu pernah ia rindukan.


*Debaran jantung ini tidak lagi sama seperti dulu.Aku sangat yakin hatiku milik kak Toni sekarang.Dinda


Debaran jantung ini masih sama saat dahulu pertama aku mengenal dan mencintaimu.Maafkan aku telah berkhianat.Dimas*


"Eheemm.."


Terdengar deheman keras terdengar menyadarkan Dinda dan Dimas.Terlebih Dinda karena ia tahu siapa pemilik suara itu.


Dinda melepas pelukan Dimas dan tersenyum dipaksakan."Hai Dim."


Dimas tersenyum dan merangkul Dinda menuntunnya untuk duduk di sebelah Toni.


"Kita duduk ya."


Toni benar-benar sudah tidak bisa menahan emosi nya,tapi ia tidak mungkin keluar ruangan.Ia tidak mau Dimas melakukan lebih dari pelukan.


Dinda menoleh kearah Toni yang sudah tampak menahan amarah.Ia pun meraih tangan Toni di atas pa ha itu.


Tapi dengan cepat Toni menepis tangan Dinda.


"Gimana kabar kamu Din?"Tanya Dimas.


"Ba-baik Dim."Dinda menjadi kikuk berbicara dengan Dimas.


"Apakah jagoan ku sehat?"


Mamp*s..Kenapa Dimas harus panggil El dengan sebutan itu sih?Daddy nya ada disini loh..


"Jagoan?"Tanya Toni dengan nada tidak suka.


"Ya,anak Dinda..Jagoan ku."


Tolong diamlah Dimas...


"Nama nya El Dim..Panggil saja El."Ucap Dinda.


Dimas manggut-manggut.


"Apa kamu sudah makan siang?"


🌸


TBC

__ADS_1


__ADS_2