PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 119


__ADS_3

Pagi hari seperti biasa. Rutinitas ibu muda biasanya selalu sibuk hari ini berbeda. Ia lebih santai karena suaminya bekerja dari rumah.


Toni menghampiri Dinda yang sedang sibuk di dapur seorang diri. Toni tersenyum melihat Dinda sudah mulai melanjutkan belajar masaknya.


"Sayang.." Panggil Toni mendekati Dinda.


Dinda masih terdiam karena bermonolog pada hatinya. Panggilan sayang itu sangat ku rindukan kak.. tiga Minggu sangat menyiksaku ku.


"Sayang.. kenapa melamun hm?" Toni memeluk Dinda dari belakang dengan meletakkan dagu di pundak Dinda.


"Nggak kenapa. Jangan begini.. Dinda sedang memasak." Dinda mencoba melepas pelukan Toni.


"Biarkan seperti ini Din. Kakak sangat merindukan mu."


Dinda diam. Tidak di pungkiri jika ia juga merindukan Toni. "Maaf." kata Dinda.


"Jangan minta maaf. Kakak yang salah. Maaf sayang. Maafkan kakak. Jangan acuh kan kakak sayang. Kakak bisa mati jika kamu terus begini. Tolong kembali lah seperti dulu. Lebih baik kamu pukul kakak, tampar kakak, gigit kakak atau apapun asal jangan acuhkan kakak. Kakak tidak sanggup Din." Toni menyembunyikan wajah di leher Dinda.


Dinda tertegun mendengar ucapan Toni. Dan ia merasakan lehernya basah. Bukan karena kecupan atau jila tan tapi air mata. Dan Dinda juga merasakan punggung Toni menempel di tubuhnya bergetar.


Kak Toni menangis?


Segera Dinda mematikan kompor berbalik badan menjadi berhadapan dengan Toni. Benar. Toni menangis. Menangis karena ku acuhkan? apa aku keterlaluan?


Keduanya bersitatap tanpa mengeluarkan suara. Kini Dinda pun ikut menangis. Bohong jika ia tidak bersedih melihat orang di cinta menangis karena ulahnya.


Dinda menghapus air mata Toni dengan ibu jari. Ia sama sekali tidak menyangka jika Toni akan menangis karena sikap acuhnya.


"Jangan menangis." kata Dinda sembari ia menghapus air matanya.


"Maaf Din." ucap Toni masih menangis. Katakanlah Toni cengeng. Tapi itu yang terjadi. Tiga Minggu adalah waktu sangat lama untuk Toni di acuhkan oleh Dinda. Keduanya tidak pernah selama ini saling acuh jika sedang ada masalah.


Dinda menggeleng. "Kakak gak salah. Dinda yang salah karena Dinda lah yang salah. Dinda gak bisa terima keadaan kakak. Maaf."


"Tidak Din. Kakak yang salah. Kakak tidak pernah kembali di kehidupan bebas kakak. Tidak pernah. Mengertilah." Toni berbicara dengan penuh permohonan.


"Iya Dinda tahu kak. Dinda hanya minta kakak selesaikan hubungan kakak dengan dosen Dinda itu. Hanya itu dan ingat ini sudah tiga Minggu. Itu berarti waktu kakak seminggu lagi."


Teringat dengan waktu terus berjalan dengan cepat Toni merengkuh tubuh Dinda sangat erat. "Selesai ataupun tidak tetap kamu satu-satunya wanita di hati kakak sayang. Tolong jangan katakan itu. Tolong jangan tinggalkan kakak." Toni kembali menangis.

__ADS_1


Begitu pula dengan Dinda. Ia sudah kembali terisak dalam dekapan Toni. Dapur menjadi saksi tangisan sepasang suami istri itu. Dan waktu seakan mendukung nya. Bi Jubaidah bel kembali dari pasar. Baby El sedang bersama suster Maya di rumah belakang.


Dinda mengangguk. "Dinda maafin. Dinda gak akan acuh lagi ke kakak. Jangan menangis sayang.."


Dinda berjinjit untuk mengecup kedua mata Toni. "Jangan menangis lagi."


Toni mengangguk lemah."Jangan tinggalkan kakak sayang."


Dinda tidak menjawab, ia hanya tersenyum sembari mengelus rahang suaminya yang sudah di tumbuhi bulu-bulu lebat. Sadar akan penampilan Toni yang selama ini tidak ia perhatian semakin membuat ia tidak tega jika harus pergi dari Toni.


"Kakak mau sarapan?"


"Sarapan roti saja Din. Oiya 5 hari lagi kamu ulang tahun kan.. Kamu ikut kakak ke Helvetia ya.."


Bahkan aku lupa ulang tahun ku sendiri. Kalau 5 hari lagi ulang tahun ku itu berarti 7 hari lagi ulang tahun kak Toni.


"Ngapain ke Helvetia kak?"


"Hadiah untuk mu ada disana sayang.." ucap Toni sembari melahap rotinya.


*****


"Zaki.." panggilnya.


Zaki berhenti saat namanya di panggil oleh suara yang ia kenal.


"Ada apa?" tanya Zaki datar.


"Kau benar akan pindah?"


"Ya."


"Jadi dengan ku gimana?"


Zaki menghela nafas. "Kan sudah ku bilang kita sebaiknya putus. Pekerjaan ku bukan hanya sekedar supir tapi melindungi Dinda juga."


"Segitunya sampai mengorbankan cinta mu?"


Zaki mengangguk. "Dinda tidak ubah nya sama dengan ku Sel. Di Medan ini dia sendiri sama sepertiku."

__ADS_1


"Tapi dia ada suaminya Zaki.. Kenapa kamu terlihat seperti mencintai nya."


"Nggak. Dinda hanya ku anggap adik dan aku sayang padanya. Kau tidak perlu tahu dan ikut campur atas hidup Dinda. Dan kita gak mungkin bersama karena kau orang berada sedangkan aku anak yatim piatu seorang supir beruntung di pekerjakan oleh Dinda." Zaki berlalu begitu saja masuk dalam mobil. Ya mobil milik Dinda.


Ia sudah bertekad untuk terus melindungi Dinda. Hanya Dinda orang terdekatnya selama ini. Hanya Dinda yang memperlakukannya selayaknya manusia. Menganggap ada. Bukan hal mudah hidup sebatang kara di ibukota Sumatera Utara ini. Jadi ia sudah bertekad untuk terus berada di sisi Dinda. Bukan karena cinta melainkan rasa sayang terhadap adik dari seorang kakak.


Kini ia juga sudah selesai mengurus surat pindahan. Tidak tahu harus pindah kemana tapi yang pasti harus satu Universitas dengan Dinda.


Zaki juga kini sudah mendesain sebuah game. Ia berharap game hasil karya nya ini di kenal orang dan menjadikan ladang pencarian uang untuknya.


****


"Sayang.. Kamu sudah ingin tidur?" tanya Toni mencium tengkuk leher Dinda.


"Belum Dinda masih melihat dokumen desain game bang Zaki."


Toni bangkit duduk berhadapan dengan Dinda sedang melihat dokumen milik Zaki.


"Coba kakak lihat." Toni mengamati desain game Zaki.


"Di dalam game itu nantinya akan dibuat seperti dunia nyata. bisa berbicara pada setiap akun. Dan juga bisa berbicara secara pribadi. Di game ini juga untuk mencapai misi harus berpasangan." kata Dinda menjelaskan.


"Tapi jangan hanya itu saja di kembangkan. background juga harus di buat semenarik mungkin." Usul Toni.


Dinda mengangguk setuju. "Kakak benar. Dan kami memilih background bernuansa romantis. Karena game ini bergenre romantis. Kakak lihat ini." Dinda menunjuk selembar gambar Danau.


"Danau?" Tanya Toni.


"Ya Danau ini terletak di tengah hutan yang penuh dengan monster. Di danau ini para pemain bisa beristirahat, berbincang, atau pacaran lewat online. Bagus kan Danau yang Dinda gambar?"


Toni mengacak rambut Dinda. "Bagus. Kembangkan bakat mu sayang."


Dinda meletakkan dokumen itu lantas merebahkan diri menarik selimut hingga ke dada. "Selamat malam kak."


Toni menarik Dinda dalam pelukan nya. Di kecup pucuk kepala Dinda.


*Aku harap semua akan baik-baik saja kak.. Semoga. ucap Dinda dalam hati yang berada di dada Toni.


🌸*

__ADS_1


__ADS_2