PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
episode 46


__ADS_3

"Din.."Panggil Nana teman sekelas Dinda.


"Ya Na."Jawab Dinda mendongak melihat Nana.


"Ada yang nyariin lo di depan tu."


"Siapa Na?"tanya Dinda penasaran.


"Itu kating famous kita..tampan tapi playboy.."


Dinda tahu sekarang siapa yang mencari nya.Zaki.Sopir travel menyebalkan,kating gila,semua hal jelek untuk nya.Ah memikirkan saja sudah membuat emosi.


Dinda mendengus."Bang Zaki?"


Nana mengangguk."Lo kok bisa kenal dia Din?"


"Gak sengaja kenal aja,gue cabut ya."Dinda tersenyum pada Nana.Seperti biasa,ia hanya berteman sekedarnya karena ia sangat susah untuk menjadi dekat walau ia tetap ramah dan ceria ke semua orang.


"Awas lo jadi target Kating playboy."Canda Nana di sertai gelak tawa.


"Amit-amit ogah gue,ganteng lagi lakik gue Na." Bangga Dinda entah membanggakan siapa saat ini.


"Iya deh,tuh lakik lo juga di nunggu di depan sama si Kating."


"Astaga..bakalan ada perang.Gue cabut ya." Dinda bergegas segera menghampiri dua laki-laki yang sudah menunggu.


Setelah di depan kelas,tampak dua laki-laki dengan mimik wajah berbeda.Satu dengan wajah memerah menahan amarah dan satu lagi wajah santai selengek and begitu.


"Kak.."Panggil Dinda pelan.


"Hai Cebun.."Sapa Zaki dengan tampang menyebalkan.


"Ayo kita cari Nila bakar kak.." Dinda mencoba ajak bicara Toni sedari tadi diam dengan wajah datar.


Toni hanya mengangguk.


"Ayo let's go."Ajak Zaki girang.


Setelah di parkiran mereka bertiga bingung.


"Mau satu mobil gak ini?"Tanya Zaki.


Dinda mengambil kunci mobil lalu menyerahkan pada Zaki.


"Abang yang nyetir."titah Dinda dengan nada ketus.


"Ogah..Gue bukan sopir."Jawab Zaki tak kalah ketus.


"Lo lupa kalau lo memang sopir?"Sindir Dinda dengan menyeringai menatap Zaki sinis.


"Ayelaahh..Sowet amat neng, semalam aja ingetin hati-hati di jalan, terimakasih ya..Suara aduhai..Sekarang aja balik ke mode macan."Gumam Zaki masih terdengar Dinda dan Toni.

__ADS_1


Toni mendengar itu semua menjadi emosi sungguh ia tak suka,ia cemburu sangat cemburu.Tapi lagi-lagi ia harus bisa mengontrol emosi dan cemburu karena ini resiko atas keputusannya bukan?


Toni menggenggam erat saat mereka berada di dalam mobil.Dinda menoleh menatap Toni sudah berwajah memerah.


"Kakak kenapa?"tanya Dinda polos.


Toni lantas menoleh ke arah Dinda dengan tatapan tajam. "Tak apa."Jawab nya singkat.


Zaki merasa hawa dingin di dalam mobil mengelus tengkuknya.Bukan dingin karena AC namun seperti ada sesuatu yang membuat mereka bertiga merasa canggung.


Dinda juga merasakan hal sama dengan Zaki.Ia tahu penyebab hal ini adalah laki-laki di sebelahnya.


"Din."Panggil Zaki sambil melirik Dinda dari kaca spion tengah mobil.


"Apa?"Jawab Dinda ketus.


"Kalau mau liburan lagi sama lakik lo hubungi gue ya..Biar gue dapet bonus lagi dari lakik gue."Pinta Zaki pada Dinda.


Dinda mendengar permintaan Zaki hanya bisa menelan saliva dengan kasar,Dinda menoleh ke kanan melihat Toni sudah menatap dengan tajam.


Dinda cengengesan sambil mengelus tengkuk leher nya. Sumpah merinding gue,ini sopir pun pakek nyeletuk begitu.


"Woy Din,lo denger kan?"


"Iya gue denger, sebenernya lakik gue ini yang duduk sebelah gue bang."Dinda menjelaskan dengan lembut tidak sesewot biasa jika bicara dengan Zaki.


Zaki mendengar itu terbelalak,ia merasa gak enak tapi bukan salah dia juga bertanya seperti itu bukan?


"Tapi kemaren bilang orang disana itu lakik lo Din,dan kalian mesra sekali."


Toni benar-benar tidak bisa lagi mengontrol emosi nya.Ia menggenggam erat tangan nya untuk melampiaskan amarah.


Dinda terdiam tak ingin menjawab dan memang tidak tahu harus menjawab apa karena yang di katakan Zaki adalah kebenaran.


Huwaaa gue pengen nangis.Iibbuuu..


"Uda deh jangan kepo lo bang." Hanya kalimat inilah penyelamat Dinda saat ini.


"Apa anda melihat istri saya bermesraan dengan laki-laki itu?"Tanya Toni datar menatap Zaki tajam melalui kaca spion tengah.


"I-iya."Jawab Zaki terbata-bata saat netra mereka bertemu dari kaca spion tengah.


"Apa saja yang di lakukan laki-laki itu?"


"Pe-peluk dan cium -"Belum selesai Zaki bicara Toni sudah mengangkat tangan menandakan sudah cukup jangan di teruskan.


Toni menatap Dinda tajam.Seperti hendak menerkam mangsa.Zaki melihat itupun bergidik ngerih.


Dinda lagi-lagi menelan saliva.Ia mengangkat dua jari hingga membentuk huruf V sambil cengengesan.


"Enggak lagi kak,ampun kak."Dinda menggeser duduk nya hingga di ujung.Toni juga menggeser mendekati Dinda.

__ADS_1


Dipikiran Toni bahwa Dinda sudah berciuman mesra hingga sampai melakukan hal lebih. Ia benar-benar cemburu oleh pemikiran nya sendiri.Padahal tidak ada ciuman bibir saat perpisahan itu.Hanya cium kening dan mengecup perut Dinda.


"Kak..Jangan begini."Ucap Dinda merasa tubuh dan tatapan Toni mengintimidasi Dinda.


"Kenapa?saat bersama dia kamu lebih nyaman begitu?Kamu lebih puas dengan nya begitu?"


"Kakak menuduh Dinda?"Tanya Dinda masih takut dengan tatapan tajam Toni.


Bukan menjawab namun Toni sudah membungkam bibir Dinda sedikit kasar membuat Dinda memberontak.


Dinda menutup rapat mulut nya tidak menerima tamu sedari tadi mengetuk pintu dengan lidah Toni.


Toni menyerah namun masih menatap Dinda dengan tajam.Ia masih cemburu pada Dinda.


"Apa kamu benar-benar sudah tidak puas dengan ku Din? katakan sejujurnya."


Eehh kok jadi gini sih? kalau di bandingkan dengan Aril dan bang Arga tentu lebih puas dengan mu kak..kalau sama Dimas gak tahu,kan belum pernah sampai lakukan itu. gumam Dinda tak berani bersuara.


Dinda menatap Toni sedang tertunduk,ada rasa tidak tega menghinggap di hati Dinda. Hingga saat ini ia masih bingung kenapa dengan mudahnya Toni jatuh cinta padanya.Bahkan jelas-jelas perasaan itu salah karena ia adalah istri Tuan nya.


Dinda membisikkan sesuatu hingga membuat Toni tersenyum simpul.Tampak wajah Toni memerah menahan malu.Dinda yang melihat perubahan wajah Toni benar-benar merasa gemas.Ia sangat suka melihat Toni malu-malu seperti ini.


"Kakak lebih memuaskan Dinda dari ketiga laki-laki itu.Jangan marah..Dinda masih bisa jaga diri.Tunggu sampai kita menikah ya.."Bisik Dinda mengakui dengan jujur.Dan tanpa Dinda sadari ia sudah menerima pinangan Toni pagi tadi.


"Wajah kakak kenapa merah begitu?"Goda Dinda sengaja agar Toni melupakan cemburu berlebih itu.


Toni membuang muka ke lain arah.


"gak kenapa Din."Jawab Toni menggigit bibir bawah agar tidak terlihat tersenyum.


"Itu kenapa senyum-senyum."Dinda semakin berani menggoda Toni.


"Jangan menggoda kakak Dinda."


Lantas Toni mengangkat tubuh Dinda ke pangkuan.Toni mengelus perut Dinda di cium sayang perut buncit Dinda.


Zaki merasa hawa panas di dalam mobil ulah sepasang manusia di kursi belakang.


Zaki berdehem agar sepasang manusia di belakang sadar akan ada dirinya di dalam mobil.


"Ehem."Deheman Zaki terdengar.


Toni menatap Zaki tajam dari kaca spion tengah menandakan Diam jangan Ganggu. Zaki pun menelan saliva takut dan mengangguk seakan mengerti arti tatapan Toni.


Dinda hanya bisa menggelengkan kepala melihat Toni.


"Kak,turunin Dinda.."Rengek Dinda.


"Sebentar.."


🌸

__ADS_1


🌸


TBC


__ADS_2