
Dinda menyapu seluruh penjuru ruangan mencari sahabat nya.Sari. Dinda tersenyum saat menemukan Sari. Ia pun berjalan santai dengan baby El yang sedang menikmati ASI dari botol susu nya.
Dinda menepuk pundak sahabatnya.
"Sari."
Sari membalik badan dan terkejut.
"Dindaaaa..."
Sontak suara Sari yang melengking membahana membuat semua orang melihat asal suara tersebut. Seketika Dinda dan Sari menjadi pusat perhatian di Ballroom.
Dinda dan Sari menyadari dah itu menjadi kikuk.
"Hai semua.." Sapa Dinda tersenyum canggung.
Untuk yang seangkatan dan adik kelas Dinda kelas XI mengenali Dinda membalas sapaan Dinda. Sedangkan untuk kelas X yang tidak mengenal Dinda menatap heran.
Dinda sadar akan hal itu pun memperkenalkan diri. "Hai.. Gue Dinda alumni SMA NUSA INDAH juga. Gue dari kelas XII IPS 4 kelas paling ujung." Dinda menyengir kuda.
"Dan ini anak Gue namanya Eldio Gerhard Sanjaya. Panggil aja El ya." Lanjutnya lagi.
"Ah iya kak.. Salam kenal." Ucap salah satu panitia dari kelas X.
Sari sedari tadi memperhatikan penampilan Dinda tidak seperti biasa jika keluar rumah menjadi bertanya.
"Kau belum mandi ya Din?" Tanya Sari.
"Enak aja. Ya udah lah." Elak Dinda.
"Gak percaya aku nya. Penampilan mu beda."
Dinda berdecak sebal.
"Ini karena ulah lakik ku. Ngajak jalan tanpa bilang-bilang." Dinda memanyunkan bibir.
"Lakik mu ikut? mana?" Bisik Sari.
"Di bawah ada urusan katanya."
Yuni mendekati Dinda dan Sari. Ia memilih duduk di sebelah Dinda agar bisa bermain dengan baby El.
"Lo kok bisa ada disini Din?" Tanya Yuni yang juga kepo.
"Oh itu.. gue ikut suami kesini tadi." Jawab Dinda sejenak nya saja.
"Suami lo mana? kenalin dong.. semua teman kita penasaran loh.."
Dinda hanya tersenyum. Bukan tidak ingin memperkenalkan Toni sebagai suaminya. Tapi karena Toni bukanlah orang sembarangan menjadikan ia takut di nilai buruk lagi.
Jika di turuti dengan gaya hidup Toni saat di Jakarta. Maka saat ini ia tidak akan duduk di lantai seperti ini. Dan ia tidak akan bebas pergi bersama Zaki. Kenapa begitu? Karena Toni akan menyediakan pengawal yang selalu berada di belakang Dinda. Selalu menyediakan apa yang di butuhkan Dinda. Bagai bak seorang ratu. Walau kenyataan ia adalah ratu nya Toni Sanjaya.
Namun Dinda menolak. Cukup kegilaan suaminya saja jangan di tambah hal lain pikir Dinda.
"Ntar malem suami gue juga hadir di acara." Jawab Dinda lagi.
__ADS_1
"Segitu nya suami lo Din? takut lo di gaet teman sekolah?"
Dinda tertawa renyah. Tentu itu juga pasti kebenarannya dan juga malam nanti Toni di undang ke acara Reuni akbar.
*****
Rian sedang duduk di balkon menyesap rokok. Ia bukan perokok aktif. Jika pikiran sedang kalut maka ia akan merokok daripada harus beralih ke minuman alkohol. Ia juga bukan tidak mengkonsumsi alkohol, Namun ia tidak ingin kecanduan minuman haram itu yang bisa berakibat fatal nantinya.
Lagi dan lagi.. Ia mengingat cinta nya. Tapi keadaan tidak mungkin bisa membuat ia maju untuk mendapatkan Dinda. Tidak akan mungkin.
*Aku hanya bisa menjaga mu Din.. Meski tidak akan pernah memiliki mu. Maafkan hati ku yang salah. Kenapa bodoh nya aku yang tidak berani mendekati mu dari dulu.
Kini aku hanya bisa melindungi mu. Melihat mu dari jauh. Seharusnya aku tidak hadir di acara 7 bulanan mu hingga kau mengenali ku. Seharusnya kau tidak perlu mengenali hingga aku bisa melupakan perasaan ini. Maaf. Tapi aku berjanji tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti mu. Toni sekalipun*.
*****
"Rendiii..." Pekik Sari saat melihat seorang pemuda memasuki Ballroom.
"Lihat Din.. Pacar impian mu tambah keren aja." Bisik Sari pada Dinda.
"Aahhh... Boleh lupa sama suami sebentar gak sih?" Ungkap Dinda melihat Rendi penuh kekaguman.
"Mamp*us Din.. Rendi jalan kesini."
Seketika tubuh Dinda terpaku. Berada di dekat ketua OSIS? bahkan saat sekolah ketua OSIS itu tidak pernah menyambangi kelas Dinda.
"Cubit aku Sar."
Dengan senang hati Sari melaksanakan permintaan Dinda.
Rendi mendekati Dinda dan Sari yang masih duduk di lantai.
"Hai anak kecil.." Sapa Rendi pada baby El yang mencoba meraih apa pun yang ada di dekat nya.
Dinda mengerjapkan mata sadar ketika Rendi menyapa baby El.
"Hallo Om Rendi." Balas Dinda menirukan suara anak kecil.
"Lo panitia disini Din?" Tanya Rendi.
"Eh.. Lo tahu nama gue?" Bukan menjawab tapi balik tanya.
Rendi berdecak mendengar pertanyaan aneh Dinda. Bagaimana bisa dia tidak tahu sedangkan dia adalah ketua OSIS nya.
"Ya tahu lah. Kalian berdua sering duduk pojokan kantin."
Seketika Dinda dan Sari cengengesan. Ketiganya kembali diam. Dinda sibuk dengan baby El, Sari dengan ponselnya, Rendi hanya diam saja.
"Udah berapa bulan anak lo?" Tanya Rendi memecah keheningan.
"4 bulan." Jawab Dinda sekenak saja.
"Woy.. Foto yuk." Ajak Sari langsung mengatur kamera.
Mereka berfoto riya dengan posisi Dinda di tengah memangku El, Sari di sebelah kiri Dinda dan Rendi di sebelah kanan Dinda.
__ADS_1
Sari mengirim foto tersebut ke nomor WhatsApp Dinda juga Rendi.
Rendi membuka pesan WhatsApp tersebut.
"Keren." Gumam Rendi.
"Bagi nomor WhatsApp lo dong Din." pinta Rendi.
Dinda menyadari jika ponsel nya berada di kantong celana Toni. Tadi saat di mobil Dinda menitipkan pada Toni dan sekarang ia baru mengingat nya.
"Maaf Ren, hape gue ke bawak lakik gue." Sesal Dinda.
Bukan masalah ia tidak jadi memberi nomor WhatsApp nya tapi masalah foto tadi.
"Sar. kau ngirim ke hape ku juga foto tadi?"
Sari mengangguk. "Sorry. ku pikir hape sama mu."
"Hajab lah aku.. Pasti gak lama lagi bakalan kesini."
****
"Pembangunan Hotel di Helvetia masih 98% Tuan. Sejauh ini tidak ada masalah fatal. Hanya bulan kemarin material yang anda inginkan datang sedikit terlambat." Ucap seseorang penanggung jawab pembangunan Hotel baru milik Toni.
Toni mengangguk tanda mengerti. "Baiklah. Saya harap pembangunan Hotel ini selesai tidak terlalu lama. Karena Hotel ini akan saya hadiahkan untuk istri saya di acara ulang tahun nya bulan depan."
"Baik Tuan."
"Masalah pembayaran-.
Ting..
Satu pesan masuk di ponsel Dinda berada di kantong celana Toni.
"Sebentar ya." Toni merogoh kantong mengambil ponsel Dinda.
Ia membuka pesan masuk di WhatsApp ternyata dari sahabat Dinda.Sari. Toni terbelalak saat melihat isi pesan Sari mengirim 4 foto menampilkan Dinda berada di tengah di apit Sari dan seorang pria.
"Masih muda dan cukup tampan.Apa-apaan ini. Kenapa tersenyum begitu manis berada di dekat pria lain.Ini tidak bisa di biarkan.Dinda.. kamu memang harus di kawal." Toni bicara sendiri saat melihat foto-foto Dinda.
Tangan Toni mengepal dan ia beranjak menuju Ballroom menyusul istrinya yang sudah tersenyum pada pria lain.
"Kita akhiri pertemuan ini. Pembayaran pembangunan akan di lunasi. Anda bisa hubungi sekretaris atau asisten Jo.Permisi."
Sepanjang perjalanan Toni hanya menggerutu. Ia tidak menghiraukan para pegawai hotel yang membungkuk hormat padanya.
"Awas saja kamu istri kecilku.. Setelah acara ini akan ku kurung di dalam kamar seharian."
Toni memasuki Ballroom dengan gaya cool tanpa melirik kemanapun selain satu titip fokus di depan matanya.Istrinya.
Ia melihat Dinda sedang asyik bercengkrama, tertawa, menanggapi candaan dari Rendi dan Sari. Dinda belum menyadari ia sudah dekat dengannya.
"Sayang...
🌸
__ADS_1
🌸