
"Din,Sely boleh ikut satu mobil kan?"Tanya Zaki saat sudah di parkiran.
"Terserah lo asal jangan buat mesum di mobil gue."Jawab Dinda dengan lesu.
Mobil Dinda melaju dengan kecepatan sedang.Zaki melihat Dinda dari spion tengah.
"Kenapa lesu begitu ibu bos?"
"Panggil Dinda aja bang,cukup di depan lakik Dinda lo panggil gue Nyonya ataupun ibu bos."
"Bang,suami Dinda kaya ya?"Tanya Sely yang sedang bergelayut mesra di lengan Zaki.
Dinda melihat Sely meringis.Ia menyadari beberapa hari ini menghindari Toni.
"Nggak kaya kok,tapi cukuplah untuk makan minum,bayar tagihan listrik,tagihan kartu kredit,dan cukup untuk bayar yang lain lab."Jawab Dinda.
"Iya makan minum 6 orang pekerja rumah,tagihan listrik dua rumah,kartu kredit lebih dari satu dan banyak lagi kan Din?"Seru Zaki.
"Berarti kaya dong,dari merk mobil saja kau sudah tampak kaya.Dapat orang mana kau Din?" tanya Sely.
"Jakarta Sel.Suamiku bule loh."Kekeh Dinda pamer sang suami.
"Oh ya?pasti ganteng."
"Beb.Apa kau lupa ada aku disini?"Zaki menahan kesal pada Sely karena cemburu.
Dinda hanya tertawa."Bang Zaki..Kami para wanita memang menyadari jika kami sudah milik pria.Tapi kalau ada pria tampan,kami tidak menolak untuk mengagumi"
"Benar kan Sel?"Dinda tersenyum penuh arti.
"Kau benar Din."
"Din,jangan ajari cewek gue aneh-aneh deh."
Mobil Dinda sudah sampai di parkiran Perusahaan Toni.
"Gue turun ya,Jangan lupa di isi bensin mobil bang.Jangan mesum di mobil gue."Dinda turun dari mobil.
Saat sampai di meja resepsionis Dinda menghampiri dan tersenyum.
"Mbak."Sapa Dinda.
"Nyonya."Tampak kikuk kedua resepsionis itu.
"Nama mbak-mbak ini siapa?"Tanya Dinda dengan ramah.
"Nama saya Ina dan rekan saya Berta."
"Jangan gugub itu mbak,santai aja sama aku nya."Dinda menyadari kegugupan resepsionis ini.
"Kami tidak enak dengan Tuan Toni."Balas Ina.
"Jika di depan suamiku aja bicara formal mbak.Oh iya,suami ku ada di kantor kan?"
"Ada.Baru balik Din."Jawab Berta.
"Lagi malas naik.Bisa kabari suami Dinda nggak kalau Dinda disini?"
"Nggak Din,semua tamu harus menghubungi Bu Rina.Tuan Toni hanya menerima telepon dari asisten dan sekretaris nya saja."
Dinda menghela nafas panjang.
"Ya udah Dinda naik ke atas aja.Makasih ya mbak.."
__ADS_1
****
"Dinda sangat ramah ya Na."Puji Berta.
"Iya,aku lebih suka Dinda dari pada Bu Rina yang sombong itu."
"Betul. Cantik juga Dinda."
"Betul.Tapi udah jangan banyak ngomong.Nanti ada yang dengar."
****
Dinda sudah berada di depan pintu Toni.Ia sudah bertekad untuk memberitahu kepulangan Dimas.Ia tidak ingin menyimpan sesuatu apapun dari Toni.
Bukankah ia sudah berjanji untuk bertahan pada Toni?Ini yang terbaik.Toni marah setelah nya itu urusan nanti.
Dinda menarik napas dan membuang nya.Ia ulang beberapa kali.
Ceklek...
"Sayang.."Panggil Dinda tanpa ketuk pintu dan melihat siapa di ruangan Toni.
Karena tidak ada sahutan dari si empu nama barulah mengedarkan pandangan.Seketika Dinda membeku.Ia sangat malu.
Toni menatap Dinda dengan menahan tawa.Ia masih saja tidak habis pikir pada Dinda yang masih ceroboh.
Toni berjalan ke arah pintu dimana Dinda masih berdiri disana.
"Malu?"Tanya Toni seraya menarik Dinda dalam pelukan.
Dinda mengangguk."Maaf Dinda ganggu ya?"Ucap Dinda masih berada di dada Toni.
Toni tersenyum melepaskan pelukan menatap Dinda yang juga sedang menatapnya.
Toni merangkul bahu Dinda mengantar Dinda duduk di kursi kebesarannya.Toni pun melanjutkan perbincangan pada orang-orang tersebut.
5 menit.
Dinda masih santai.
15 menit.
Mulai gusar.
30 menit.
Kepala Dinda sudah menunduk berpangku tangan yang di lipat diatas meja.
Akhirnya pekerjaan Toni selesai.Di ruangan hanya Toni dan Dinda.Toni merapikan rambut Dinda yang menutupi wajah.
"Maaf terlalu lama menunggu."Ucap Toni pada Dinda yang masih terpejam.
"Apa yang mengganggu pikiran mu?Jangan cuekin aku lagi,aku sakit merasakan nya."Toni membelai pipi Dinda.
Tanpa Toni sadari,sebenarnya Dinda sudah terbangun saat Toni merapikan rambut.Tapi ia urungkan saat Toni berbicara.
Maafkan aku..Bagaimana aku tega tidak memberi tahumu?. Dinda
Dinda mulai berakting seperti baru bangun tidur.Ia mengerjap mata berulang kali.
"Sudah selesai kak?"Tanya Dinda dengan suara serak khas bangun tidur.
"Maaf lama sayang.Kamu kenapa datang tanpa kasih kabar?"
__ADS_1
Dinda jadi teringat tujuan utama datang ke kantor Toni.Tiba-tiba Dinda menjadi gugup di depan Toni.Ia bangkit namun Toni mengangkat Dinda ke atas meja kerjanya.
Semua kegugupan Dinda terlihat jelas di mata Toni.Ia tidak akan memaksa Dinda untuk bercerita walau ia sendiri ingin mengetahui masalah apa yang mengusik Dinda hingga berimbas padanya.
"Kak.Turunin Dinda."Rengek Dinda.
"Tetap disana dan katakan apa yang ingin kamu katakan."Titah Toni kemudian ia menarik kursinya hingga duduk di depan Dinda yang duduk di meja.
"Tapi janji jangan marahin Dinda."
Toni mengerutkan dahi hingga alis tebal miliknya menyatu.
"Baiklah,akui kesalahan mu sekarang."Toni bersandar dan melipat kedua tangan di dada.
"Sebelum Dinda mengakui nya..Dinda ingin mengatakan kalau Dinda akan bersama kakak selamanya,Dinda akan terus bersama kakak."
"Really? You're not playing me? Don't make my heart fly above the clouds and then you crash to the bottom of the sea.(Benarkah?
Kamu tidak sedang mempermainkan aku?
Jangan buat hatiku terbang ke atas awan kemudian kau hempas hingga ke dasar laut.)"
"Yes. I have made up my mind. I choose you.
(Ya.Aku telah mengambil keputusan.
Aku memilih mu.)"
Rona bahagia sangat jelas terpancar di wajah Toni.Ia berdiri dan memeluk Dinda.Ia bahagia mendengar pengakuan Dinda.
"Terimakasih sayang."Kecupan di wajah Dinda ia berikan.
Dinda tersenyum mendapat perlakuan seperti itu dari Toni. "I am yours and you are mine. (aku milikmu dan kamu milikku.)"
Toni mengangguk.Ia tidak dapat berkata apa-apa untuk mengutarakan rasa bahagianya.
"Sayang.."Panggil Dinda.
Toni tersenyum.Akhirnya Dinda memanggil nya dengan sebutan sayang saat tidak dalam olahraga panas.
Keduanya saling menatap.
Dinda menghela nafas panjang.
"Dimas akan kembali."Ucap Dinda lirih menundukkan kepala.Ia tidak ingin melihat perubahan wajah Toni.
"Apa kamu akan meninggalkan ku Din?"Wajah Toni berubah datar.
Dinda mendengar pertanyaan dari Toni mendongak dan menggeleng dengan cepat.
"Nggak,Jika aku tinggalkan kamu dan memilihnya maka aku adalah orang terbo*doh di dunia.Bagaimana bisa aku meninggalkan orang yang mencintai ku,menerima keadaan ku,menerima anak dan keluarga ku?Aku nggak akan sia-sia kan cinta mu."Dinda tersenyum walau Toni masih menatapnya dengan wajah datar.
"*I love you."
"I love you too*."
Kedua bibir bertemu.Dinda dan Toni mengungkapkan perasaan cinta melalui cara ini.Tidak ada gerakan menuntut.Ini murni perasaan cinta.Hati yang sudah saling memiliki.
"Kakak harus ikut bertemu dengan nya.Kakak tidak ingin kamu di sentuh oleh nya."
"Terserah sayang aja."
🌸
__ADS_1
🌸