
Sekali lagi outhor ingetin ya.. Jangan lupa like,komen,dan vote biar outor lebih semangat ngehalu nya.. Terimakasih..
Arga masih terdiam menatap istrinya,ada rasa ingin memeluk dengan erat.Ia sangat rindu tidak bertemu dengan istrinya selama seminggu tanpa kabar.Terlebih anak dalam kandungan istrinya.
"Bang kok ngelamun?gak mau ngasih ni?"Tanya Dinda membuyarkan lamunan Arga.
"Ah ya..Apa uang *cash* yang kemarin habis Din?" tanyanya cukup heran karena tidak sedikit uang cash yang di minta Dinda.
Dinda pun tersenyum sama hal nya yang dipikirkan suaminya ini.Padahal uang nya hanya berkurang untuk membayar ongkos *travel* saat berangkat saja.Selebihnya pengeluaran nya di tanggung kekasihnya.Dimas.
*Ah..aku jadi rindu Dimas.Apakah Dimas sudah berangkat saat ini*?
"Belum bang,minta satu juta bang,bahkan uang yang abang kasih gak ada apa-apanya dari apa yang abang kasih ke calon tunangan abang." Sindir Dinda dengan menekan *calon tunangan* pada suaminya itu.
Arga yang disindir begitu pun semakin merasa bersalah.Ingin sekali ia memeluk istri kecil yang sudah berhasil membuat ia jatuh cinta dan berpaling dari Mira kekasihnya.
"Maaf."Gumam Arga lirih hampir tak bersuara namun masih terdengar oleh telinga Dinda.
Arga mengeluarkan dompet dan mengambil sepuluh lembar ratusan ribu disodorkan pada Dinda.
"Cukup Din?"Tanya Arga dengan nada sangat lembut berwajah sendu.
Dinda merasa iba,ia juga merasa bersalah pada suaminya ini.Tapi lagi lagi ia tak membenarkan keputusan Arga.Walau ia juga memiliki kekasih tapi ia bahkan menyuruh kekasih nya pergi jauh dan rela di landa rindu karena terpisah jarak.
Dinda menatap wajah suaminya,ia tersenyum tulus saat pandangan mereka bertemu.
"Kita bicara saat selesai acara abang ya..Dinda hanya ingin sendiri dulu."
"Iya,abang akan jelaskan semua nya.Pulang lah saat hati mu sudah tenang sayang." Ucap Arga sembari membelai pipi Dinda dengan ibu jari.
Dinda pun beranjak pergi di ikuti Zaki di belakang nya.
"Woy Cebun.."Panggil Zaki dengan tengil.
"Apa sih.."Jawab Dinda langsung emosi nya masih ada untuk cowok menyebalkan di belakangnya.
"Enak banget ya jadi lo.."
"Kadang yang terlihat tak seindah kenyataan."Jawab Dinda ketus.Menurutnya benar yang di katakan nya.
"Maksud gue,enak lo gak perlu kerja cuma menengadah tangan Uda dapat sejuta.Lah gue harus nyupir kesana kemari.Beruntung gue hari ini di bayar lakik lo 2 kali lipat makanya siang begini Uda dapat sejuta."
"Iya tapi lo enak hidup lo tentram bang,Lah beda jauh sama gue.Enak dapat duit tapi susah dapat ketentraman." Nah kan..jadi curhat dan mereka bicara pun tak senyolot tadi.
"Siapa bilang,Lo belum kenal gue."
"Lo juga belum kenal gue kali."
__ADS_1
Zaki pun berdecak kesal.Ia menyadari satu hal, ia tak bisa akur dengan Dinda.
Keduanya sudah berada di mobil.Dan tumben keduanya saling diam tidak ada adu mulut lagi.
Zaki menjalankan mobil nya keluar dari pekarangan rumah Dinda eh salah rumah suami Dinda.Ia melaju pelan karena bingung tujuan Dinda kemana.
"Kita mau kemana?"Tanya Zaki fokus ke jalanan.
"Jam berapa sekarang?"Bukan menjawab malah balik bertanya.
Zaki pun melihat jam tangan yang melingkar di tangan nya.
"Jam 3."Jawab Zaki tanpa menoleh ke arah Dinda.
"Antar ke bioskop deh." Ia ingin nonton komedi agar tak menangis kala sendiri.
"Lo sendiri kesana?"
"Enggak."Jawab Dinda singkat.
"Lo janjian sama seseorang?"Jawab Zaki kepo.
"Enggak."
"Jadi sama siapa lo kesana?Nanti kalau ada apa-apa sama lo gimana?" Kali ini Zaki benar-benar khawatir karena Dinda sedang hamil sendiri ke tempat ramai.
"Ogah gue nonton bareng cewek bunting, Di kira gue lagi yang hamili lo." Sebenarnya ia mau saja menemani Dinda karena ia tahu Dinda sedang ingin mengalihkan kesedihan.Karena ia tadi melihat Dinda menangis.Tapi gengsi juga harus langsung mengiyakan permintaan Dinda.
"Yauda deh anter ke *Suzuya* ya.."Akhirnya Dinda mengalah karena ia juga tak ingin memaksa karena mereka juga baru kenal hari ini.
"Oke.Lo gak bareng kakak lo itu?"
*Ah ya..kak Toni,enggak ah nanti aja abis dari belanja*.
"Enggak,dia sibuk hari ini." dusta Dinda karena ia juga tidak tahu kabar sang pengawal dan ia masih enggan bertemu karena merasa tidak enak hati tidak dapat membalas cinta nya.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di parkiran *Suzuya*. Dinda keluar di ikuti Zaki.Dinda menghentikan langkah dan menoleh ke belakang.
"Kenapa ngikuti?"Tanya Dinda.
"Gue ikut lo,gue juga pengen keliling."
Akhirnya mereka jalan beriringan walau tanpa ada yang berbicara.Karena keduanya berpikir bila saling berbicara akhirnya saling menyolot dan membuat emosi tinggi.
Dinda memilih ke toko khusus bayi.Ia memasuki toko tersebut.Tadinya Zaki ragu masuk, secara ini pengalaman pertama masuk ke toko bayi.
"Din."
__ADS_1
"Hem."Dinda berdehem tanpa menoleh ke arah Zaki di samping nya.Ia terlalu asik memilih pakaian bayi laki-laki.
"Lo gak capek dari tadi jalan mulu?"
"Uda ilang capek nya bang lihat pakaian ini lucu-lucu tau', lihat deh." Dinda merentangkan pakaian bayi laki-laki ke udara mengarahkan ke Zaki dengan senyuman indah menghiasi wajah lelah Dinda.
"Iya cantik."Bukan pakaian yang ia lihat melainkan wajah Dinda.
Dinda bingung jawaban Zaki karena ia memperlihatkan pakaian anak laki-laki bukan anak perempuan kenapa di bilang cantik.Dinda pun melihat wajah Zaki yang sedang melihatnya juga.
Dinda mengetahui sebenarnya siapa yang di maksud cantik oleh Dinda langsung meraupkan wajah Zaki dengan tangan nya.
"Iya gue cantik,tapi inget gue bini orang bang."
Zaki pun tersadar."Idih amit-amit, percaya diri sekali anda." Ha kan..mulai menyebalkan bukan?
"Udah deh, males debat gue."Ucap Dinda dengan malas.
Di tengah-tengah perdebatan mereka menjadi pusat tontonan para pekerja di toko tersebut.
Salah satu pekerja menghampiri mereka.
"Selamat sore Bapak-Ibu..ada yang bisa saya bantu?"Tanya penjaga toko tersebut dengan ramah.
Dinda dan Zaki menoleh ke sumber suara yang menyapa mereka.
"Saya cari sepatu bayi laki-laki mbak."Jawab Dinda dengan ramah juga.
"Mari ikut saya Pak Bu.."
Dinda dan Zaki mengikuti sang penjaga toko ke sisi lain di toko tersebut. Dinda melihat sepatu bayi laki-laki berderet di pajangan berbinar.Sejenak ia melupakan kerumitan rumah tangga nya.Ia ingin bersenang-senang saat ini.
"Bang,lucu kan?"Tanya Dinda pada Zaki seolah Zaki lah suami nya.Dinda pun merasa cocok berteman dengan Zaki walau mereka sering beradu mulut.
Zaki hanya mengangguk.
"Bang bagusan model ini atau ini?"
"Terserah."Zaki mulai jengah berulang kali Dinda bertanya hal yang sama.
"Issh kok gitu sih bang?"
"Gila aja lo tanya sama gue,kayak gue bapak anak Lo aja.Buat aja kagak malah ikut milih untuk anak Lo." Zaki mulai bosan berapa di toko ini terus karena sudah pukul 7 malam itu berarti sudah 4 jam mereka berada di toko ini dan Dinda tidak juga kelihatan akan menyudahi belanja nya.
Dinda pun...
🌸
🌸
__ADS_1
***TBC***