
"Sayang.." Seru Toni melihat Dinda berpelukan dengan Sari.
Dinda dan Sari melepas pelukan dan menghapus air mata masing-masing. Toni ikut menghapus air mata Dinda menggunakan ibu jari.
"Jangan pelukan terus dengan Sari yang.." Larang Toni.
Dinda mengerutkan dahi heran dengan larangan Toni. Tapi tunggu, Toni tidak akan cemburu kan?
Dinda memicingkan mata menatap Toni curiga. "Emang nya kenapa kalau Dinda pelukan terus dengan Sari?"
"Kakak cemburu." Tutur Toni.
Dinda mendengarnya memutar bola jengah. Toni sudah kembali menjadi Bule Gila saat ini.
Semoga aku gak ikut gila.
Sari mendengar itu menganga lebar. Awalnya ia tidak percaya apa yang sering di ceritakan Dinda padanya. Tapi kini ia percaya setelah mendengar dan melihat nya langsung.
"Jangan gila deh. Dimana Asisten Rian?" Dinda tetap menjaga hubungan abang adik itu di belakang Toni. Ia hanya ingin menjaga hati Toni agar tidak pernah berpikir jika hubungan ia dan Rian murni Abang dan adik bukan seperti dahulu ia dan Toni.
"Oh Rian pamit ke hotel lebih dahulu. Kenapa kalian bisa datang bersamaan?"
Seketika tubuh Dinda menjadi kaku dan lidah pun keluh untuk menjawab.
"Jumpa gak sengaja di parkiran." Bukan Dinda yang menjawab melainkan Sari karena mengerti Dinda tidak punya alasan saat ini.
"Salon yuk Din." Ajak Sari.
Dinda mengangguk seraya beranjak pergi dari restoran tempat makan siang mereka tadi.
"Sayang.. Jangan cantik-cantik datang ke acara reuni besok." Titah Toni.
"Iya-iya kak." Dinda menatap Sari tersenyum penuh arti begitu juga dengan Sari. Ada rencana yang telah disusun untuk tampilan keduanya.
Tiba di salon Beauty's Dinda dan Sari sedang melihat buku katalog warna rambut yang akan mereka pilih untuk acara reuni akbar besok.
Pilihan Dinda jatuh pada warna Coca cola dan Sari tetap warna hitam.
"Ubah rambut ke warna asli mu beb."
"Ogah. aku lebih suka warna coklat mendominasi rambut ku."
Dinda menoleh ke arah samping dimana Toni sedang serius pada ponsel nya.
"Serius amat sama Hape." Sindir Dinda pada Toni.
Sontak membuat Toni mengalihkan pandangan ke arah Dinda dan tersenyum.
Ia mengacak rambut Dinda yang tergerai indah.
"Lagi periksa dokumen yang di kirim Asisten Jo lewat email sayang.."
"Ya udah tapi jangan di acak juga rambut Dinda kak.." Dinda memanyunkan bibirnya.
"Maaf ya sayang." Toni merapikan rambut Dinda kemudian memberi kecupan di pucuk kepala Dinda.
Cup
"Kak.." Pekik Dinda.
"Jangan marah Din.. Kakak sudah rindu. Sakit menahan 1 minggu." Keluh Toni pada Dinda.
"Jangan mesum.. Besok setelah acara reuni oke.. Dinda kasih kejutan oke.." Dinda mengerling sebelah mata ke arah Toni.
Toni tersenyum. Ia benar-benar rindu Dinda. Ia sangat membutuhkan vitamin istri nya tapi apa daya tidak bisa. Selain datang bulan memang Minggu ini penuh kejutan untuk hubungan mereka.
Dinda dan Sari sibuk berbincang melepas rindu menunggu giliran mereka. Sedangkan Toni sibuk dengan ponsel dan satu tangan kirinya menggenggam erat tangan Dinda.
__ADS_1
"Anakmu gimana kabarnya beb?" Tanya Dinda.
"Sehat, sangat sehat beb."
"Kabar Mama dan Papa gimana? apa masih ngelarang kau dekat sama cowok?"
Sari menghela nafas panjang. "Begitulah.."
"Sabar beb.. Mereka hanya takut hal itu terjadi lagi." Ucap Dinda menenangkan.
Sari hanya mengangguk. Sejurus kemudian ia kembali heboh saat mengingat sesuatu.
"Beb..Rendi hadir loh.."
Dinda seketika ikut heboh dan refleks melepas genggaman tangan sehingga membuat Toni melihat kehebohan istrinya.
"Seriusan beb? aahh... cogan impian ku.." Ucap Dinda berbinar tanpa menghiraukan orang yang duduk di sebelahnya sedang memperhatikan.
Dinda tepuk tangan kemudian memeluk Sari mengungkapkan kegembiraan karena ia sempat mengagumi Rendi sang ketua OSIS.
"Duet ya nanti malam sama doi." Bisik Sari.
Dinda hanya mengangguk dan senyuman terus mengembang.
Ehem..
Dinda dan Sari tersadar. Lebih tepatnya Dinda yang sadar.
"Mamp*us beb.. Lupa ada lakik."
Dinda menoleh kearah Toni dengan cengiran kuda menampakkan gigi rata nya.
"Eh sayang.."
"Siapa Rendi sampai melepaskan genggaman tangan kakak?"
"Jujur atau acara kakak batalkan." Ancam Toni.
"Eehh Jangan." Teriak Dinda dan Sari bersamaan.
Masak iya harus bilang jujur? hajab lah aku..
"Jelasin beb."Ujar Sari.
Dinda menghela nafas panjang. Masih mengumpulkan keberanian karena Toni sudah menatap dengan mata elang nya.
"Rendi itu ketua OSIS di sekolah Dinda kak.. Banyak yang naksir sama dia termasuk Dinda dulu.." Jawab Dinda jujur.
"Kalau dulu kenapa sekarang masih senang begitu?" Toni mengintrogasi Dinda seperti maling yang tertangkap basah.
Dinda menelan saliva. Bukan ia sayang atau suka. Ia hanya mengagumi. Hal mudah untuk mengakui pikir Dinda. Namun ia takut Toni salah paham, cemburu, dan berakhir marah atau merajuk.
"Ya karena dari mata penglihatan wanita seumuran Dinda itu.. Dia tampan dan penuh pesona." Jawab Dinda jujur.
"Mbak Dinda dan Mbak Sari.." Panggil karyawan salon.
Selamet..Selamet..
"Kakak tunggu sini ya.. Nanti ada Zaki temani kakak." Ucap Dinda seraya mendaratkan kecupan di pipi kanan dan kiri.
Tentu Toni tidak puas akan hal itu langsung menarik tengkuk leher Dinda dengan cepat menyambar bibir Dinda. Hanya sebentar. Hanya sesaat saja luma tan itu ia berikan.
"Dasar Bule Gila mesum."Umpat Dinda namun ia tersenyum pada Toni.
*****
*Rian : Dinda menangis lagi Li. Aku gak sanggup melihat itu.
__ADS_1
Ali : Sabar. Kau harus mengawasi Merry mulai sekarang. Kau tahu dia nekad kan?
Rian : Iya. Tempat acara Reuni besok juga sudah di jaga ketat anak buah kita.
Ali : Bagus. Dan semoga ketemu jodoh disana.
Rian : Ck.. Malas.
Ali : Sahabat Dinda cantik juga tu.
Rian : Nggak ah.. Aku gak terlalu suka yang bar bar. Sedikit aja bar-bar*.
Ali : Terserah kau saja. Susah kalau sudah jatuh cinta.
Rian : Kau akan merasakan nya suatu saat nanti.
Ali : Sudah lah. Kau tahu.. ada kejadian heboh disini.
Rian : Kejadian apa? Kau seperti biang gosip.
Ali : Ck.. Tuan Tara tidur sapa OB. Malah masih perawan lagi.
Rian : Kok bisa? Jangan bilang OB itu jual diri.
Ali : Bukan. Cerita nya panjang . Intinya aku gak dapat cewek yang mirip Dinda . OB itu salah masuk kamar dan pengaruh obat perangsang. Terjadilah en*a-en*a sob.
Rian : Kalian gila. Sudah lah. Aku tutup.
****
Berlin, Jerman.
Dimas menatap dinding kamar yang di penuhi foto wanita pemilik hati dan cinta nya. Ia sendiri memikirkan bagaimana bisa ia sebegitu dalam mencintai Dinda.Istri orang pula.
Tapi.. Bukankah cinta tidak butuh alasan. Cinta tak butuh status seseorang? Apa ini juga di namakan cinta itu buta? Atau perasaan ini hanya obsesi?
Jika memang ini obsesi.. Hal apa yang membuat ia jatuh begitu dalam pada rasa cinta ini? Jika di pikirkan saat kali pertama ia berinteraksi pada Dinda saat di lapangan volley. Tidak ada kesan menarik disana. Hanya dalam satu hari itu mereka dua kali tabrakan.
Sebelum hari itu juga hanya sering melayani Dinda di meja kasir saat Dinda membeli susu dan es krim kesukaan nya. Bahkan Dinda tidak pernah melirik nya.
Dinda cewek populer di sekolah? tentu bukan. Dinda termasuk cewek pinter? Masak iya? kelas Dinda saja kelas IPS 4. Kelas paling terakhir di sekolah nya. Astaga.. Pasti Dinda sering remedial saat ulangan dan ujian.
Dimas terkekeh sendiri di kamar. Memikirkan Dinda adalah hiburan untuk nya. Dan tentu membuat ia cukup bahagia dalam keadaan begini.
"Kamu baik-baik disana ya Din.. Maafkan aku telah ingkar janji. Tapi ku pastikan cinta ku hanya untukmu."
*Bila memang saat ini kita tak bersama..
Jangan pernah sesali kisah lama..
Mungkin saat ini takdir meminta kita untuk berkelana.. Ntah kemana..
Sampai pada akhirnya kita akan bersama selamanya..
Rindu..
Tenanglah..
Teruslah penuhi ruang hati ku..
Sampai nanti kami bertemu..
Maka akan ku kobar kan dirimu padanya.
🌸
TBC*
__ADS_1