
Kini Dinda sendiri berada di ruangan Toni. Ia mulai bosan karena Toni dan juga Rian sedang meeting di luar. Sebenarnya tadi Toni meminta Dinda untuk ikut, tapi Dinda menolak.
Ia berpikir akan berkeliling kantor suaminya itu. Tapi ia tidak ada mengenal orang disini. Tapi ia tetap memutuskan keluar ruangan.
Dinda tersenyum pada wanita yang sedang menatap nya di meja kerja nya. Ia tahu itu wanita yang masuk ke ruangan Toni tadi adalah sekretaris suaminya.
Ia tidak menghiraukan wajah masam sekretaris itu. Langkahnya terhenti saat ada yang memanggil namanya.
"Nyonya Dinda."
Ia pun menoleh ternyata Ali yang memanggilnya.
"Dinda aja bang."
Ali terkekeh. "Oke-oke. Mau kemana?"
"Dinda lapar bang. Tapi gak tahu mau makan dimana yang enak."
"Kebetulan. Ayo makan sama abang. Suami mu lagi sibuk kan?"
Dinda mengangguk.
Kemudian keduanya berjalan memasuki lift. Tapi Dinda memilih lift biasa yang di padati para karyawan.
"Kau kenapa Din?" tanya Ali yang memperhatikan Dinda mual dan menutup hidung nya.
"Mual bang. Kepala ku pusing mencium bau parfum."
"Ya ampun. Apa kita kembali saja ke ruangan suami mu? biar aku yang beli makanan nya." ujar Ali merasa khawatir.
Dinda menggeleng. "Kita makan di kantin kantor aja ya bang. Kayaknya Dinda gak sanggup keluar jauh-jauh."
"Oke. Kau sakit kenapa ke kantor Din?"
"Aku kangen kak Toni makanya ke sini."
Ali berdecak mendengar jawaban Dinda.
Dasar bucin.
Terdengar bisik-bisik para pegawai perusahan mengatakan jika Dinda adalah wanitanya Ali. Karena Ali di kantor terkenal playboy.
"Makanya jangan jadi playboy." gerutu Dinda mulai kesal.
"Belum ada yang pas Din. Nanti juga sembuh kalau ada yang pas." bela Ali.
****
Toni memasuki ruang kerjanya dengan senyum mengembang. Tetapi senyuman itu sirna saat orang yang di rindukan tidak ada. Ia pun keluar untuk menanyakan kepada sekretaris nya.
"Kamu melihat istri saya?"
"Tidak tuan." jawab Novi berbohong.
"Jangan bohong."
"Itu anu tuan, istri anda pergi bersama Ali."
Tanpa ucapan terimakasih Toni pergi begitu saja sembari menghubungi Dinda.
__ADS_1
"Sayang... Dinda di kantin sama bang Ali, maaf gak izin. Dinda udah kelaparan. Sini deh.."
Toni pun bergegas menuju kantin. Ia tidak peduli menjadi pusat perhatian karena ketampanan nya. Sepanjang menuju kantin ia hanya fokus pada Dindanya.
Para pegamai-pegawai cukup kagum karena wakil Presidir mereka mau kelayapan di kantin tidak seperti Tara.
Itu mustahil.
Toni mengedarkan pandangan mencari sosok istrinya yang ternyata tengah tertawa bersama Ali. Seketika daranya mendidih melihat istrinya tertawa karena pria lain.
"Sayang.." panggil Toni mendekati Dinda.
Dinda tersenyum melihat Toni. Kemudian beranjak diikuti Ali kemudian membungkuk hormag. "Kakak..."
Toni menangkup wajah Dinda kemudian ia daratkan kecupan di seluruh wajahnya terakhir bibir yang membuat ia candu ingin selalu ia cium.
Ia lu mat sedikit bibir itu kemudian ia peluk istrinya. "Kenapa keluar tidak pamit hm?"
"Dinda takut ganggu kakak dan kebetulan bang Ali juga mau makan yaudah bareng deh."
Kemudian ketiganya duduk kembali melanjutkan makan siang nya kecuali Toni. Ia hanya melihat Dinda makan.
"Aaa' kak.."
Toni menggeleng. "Kakak sudah makan tadi Din."
Tapi Dinda bergeming. Sendok nya tetap di depan mulut Toni. Dengan terpaksa ia pun membuka mulutnya.
****
Setelah makan siang di kantin, Dinda dan Toni kembali ke ruang kerja Toni begitu juga dengan Ali.
"Hem.." jawab Toni masih fokus pada berkas-berkas di mejanya.
"Kakak sibuk?" tanya Dinda.
"Lumayan.. Kenapa sayang?"
Dinda mendekati Toni membelai pundak Toni menjalarkan sensasi berbeda.
"Dinda tunggu dikamar ya.." bisik Dinda dengan suara manja nan menggoda nya.
Dinda pun melangkah menuju kamar sedangkan Toni masih menetralkan jantung nya karena tubuhnya meremang dengan sentuhan dan suara manjanya.
Toni tersenyum tatkala mendapati Dinda sudah rebahan dengan gaya erotis nya yang mengundang gairah nya.
Ia pun melonggarkan dasi dan membuka jas kesembarang arah. Tak lupa sepatu mengkilap nya sudah terlepas entah kemana.
"Sayang... Tapi kamu kan masih sakit."
Dinda cemberut. "Jadi kakak nolak Dinda lagi?"
"Bukan.."
Tanpa aba-aba Toni menyesap bibir Dinda dengan lembut. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini karena sudah seminggu Dinda tidak ingin di sentuh.
Tangan nya sudah mulai bergerilya di punggung Dinda. Menyusuri leher jenjang meninggalkan kissmark disana.
Tangan nya terulur membuka dress yang Dinda kenakan begitu juga Dinda sudah membuka kemeja Toni.
__ADS_1
Tak lupa pelindung payu dara Dinda juga sudah melayang entah kemana. Dipandang penuh damba lalu ia mainkan sesuka hatinya.
"Ini semakin besar Din.." puji Toni.
"A-pa kakak suka?" tanya Dinda dengan suara tertahan.
Toni hanya mengangguk karena mulutnya sudah penuh terisi salah satu payu dara Dinda.
Dinda tidak sabar akhirnya membantu membuka sabuk dan resleting celana Toni. Hingga tampak pusaka Toni yang masih terbungkus itu sudah tegak di dalam sana.
Toni pun membuka penutup pusaka nya dengan mulut masih di penuhi payu dara Dinda.
Dinda menggesek tangan nya di area pusaka Toni sehingga menciptakan sensasi nikmat tiada tara. Ia selalu di buat terlena oleh istrinya ini.
"Apa kamu merindukan kakak?" tanya Toni.
Dinda mengangguk. "Jangan pakai parfum yang itu Dinda gak suka. Padahal Dinda selalu rindu kakak." ucapnya yang masih memainkan pusaka Toni.
"Tapi kali ini tidak mual kan?"
"Enggak."
"Kita mulai sayang?" tanya Toni yang sudah tidak tahan lagi.
"Dengan senang hati."
Toni pun mulai mengarahkan pusaka nya ke inti Dinda. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Libur seminggu membuat ia sangat tersiksa di tambah emosi Dinda yang naik turun belakangan ini.
"Kamu masih tetap sama sayang.."
"Sama bagaimana?"
"Nikmat." ucap Toni singkat karena ia sudah membungkam mulut Dinda.
Tentu saja Dinda menerima. Ia juga merindukan Toni. Ia sendiri tidak mengerti kenapa emosinya tidak stabil dan ia merasa aneh dengan indera penciuman nya sangat sensitif sekali dan hal itu membuat perutnya tidak nyaman.
"Mau ganti gaya hm?" tanya Toni yang masih berada di atas Dinda.
Dinda menggeleng. "Dinda ingin begini saja. Kakak terlihat lebih tampan dari sini."
"Kamu menggoda ku sayang.."
Toni terus memompa dengan cepat karena ia hampir sampai pelepasan. Ia begitu menikmati wajah Dinda yang terlihat sexy saat dipenuhi hasrat gairah.
"Dinda mau keluar lagi kak.. Aakkhh..."
"Bersama sayang.. Aakkhh.."
Tubuh keduanya menegang bak tersengat listrik. Menumpahkan cairan masa depan dengan penuh harapan akan tumbuh di dalam rahim Dinda yang sangat di tunggu Toni sejak lama.
Toni ambruk di atas tubuh Dinda dengan nafas masih tersengal-sengal.
"Terimakasih sayang." ucap Toni sembari memberikan ciuman di bibir dan kening Dinda.
🌸
TBC..
Maaf lama up nya yaa..
__ADS_1