PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 146


__ADS_3

"Hoeekk.. Hoekk.."


Pagi-pagi buta Dinda sudah berada di dalam kamar mandi karena perut terasa di aduk-aduk padahal perut masih kosong karena belum terisi sesuap nasi.


"Sudah baikan?" tanya Toni memijat tengkurap leher Dinda dengan rasa khawatir mendera dirinya.


Dinda mencuci mulut dan wajah nya di kran wastafel. Ia memandangi wajah nya yang tampak pucat.


Toni menggendong Dinda dan meletakkan tubuh Dinda di atas tempat tidur. Ia. begitu khawatir dan merasa bersalah pada Dinda.


"Maafkan kakak.." ucap Toni yang masih duduk di tepi ranjang dengan Dinda yang terbaring disebelahnya.


"Kok minta maaf kak?" tanya Dinda heran dengan suara lemah.


"Maaf karena membuat mu hamil. Dulu saat hamil El kamu begitu sehat, dan sekarang saat hamil anak kita kamu lemah begini. Ini salah kakak."


"Hei.. Jangan katakan itu sayang.. Setiap kehamilan itu beda-beda. Ini bawaan adik bayi. Tidak perlu khawatir. Dinda baik-baik aja kak.." Dinda mencoba menenangkan suaminya.


Stres saat hamil dapat disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari perubahan hormon, proses kehamilan yang berat, atau tegang menjelang masa persalinan. Saat mengalami stres, ibu hamil akan sulit mengendalikan emosi.


Hal itu membuat Dinda khawatir. Tapi sebisa mungkin ia mencoba untuk tenang dan tidak stres. Ada Toni bersama nya.


"Kak.."


"Ya sayang.."


"Dinda ingin sesuatu.." Tiba-tiba Dinda menginginkan sesuatu tapi ia takut Toni tidak akan mengijinkan.


"Ingin apa Din? katakan saja pasti kakak akan usahakan." jawab Toni dengan lembut.


"Tapi kakak jangan marah ya.." Rengek Dinda.


Toni mengangguk dan tersenyum.


"Dinda pengen nasi goreng."


"Kakak masakin atau pesan? atau para pelayan yang masak?"


Dinda menggeleng karena bukan itu keinginan nya. Tapi sekali lagi, ia takut Toni tidak akan menuruti nya.


"Jadi mau nasi goreng yang gimana?"


"Dinda pengen nasi goreng masakan kak Tara." ucap Dinda takut-takut.


Ia sendiri tidak tahu mengapa seingin ini untuk makan nasi goreng buatan kakak ipar nya itu.


Tampak Toni berulang kali menarik nafas lalu ia hembuskan dengan kasar. Mungkin pria itu sedang menahan cemburu serta kesal bersamaan.


"Kenapa kak Tara Din? kan kakak Daddy nya." gerutu Toni.


Dinda tidak menjawab bahkan matanya sudah berkaca-kaca dan ia tidak bisa menyembunyikan kesedihan nya.


Toni yang melihat itu pun hanya bisa pasrah. "Baiklah.. Ayo kita segera bersiap. Kita akan kerumah mama."


"Beneran kak?" tanya Dinda dengan mata berbinar.


"Terpaksa. Demi anak kita."


"Yee.. Terimakasih sayang. Cup.cup.cup.. Mmuuaachh.."


Dinda memberikan banyak kecupan dan ciuman di wajah Toni. Semenjak Toni memakai parfum yang sama dengan Dinda, ia sangat senang Dinda kembali bermanja-manja dengan nya.


****

__ADS_1


"Ma.. Kak Tara dirumah?" tanya Toni saat berada di mansion mama Rahma.


Tara memang sengaja tinggal bersama mama Rahma karena ia tidak ingin selalu berinteraksi dengan Hartini.Istrinya.


Bahkan walau mereka tidur di kamar yang sama tapi Tara dan Hartini tidak tidur dalam satu ranjang melainkan ranjang single yang akan bersatu ketika pagi hari.


"Ada di ruang kerja. Dinda dimana Ton?"


"Dinda disini ma.. Mama apa kabar?" tanya Dinda yang baru masuk dapur dengan menggendong baby El.


"Sayang.. Kenapa gendong El? sini biar kakak saja." cegah Toni langsung mengambil baby El dalam gendongan Dinda.


"Yang lain pada kemana ma?" tanya Dinda sembari membantu mama Rahma menyusun sarapan.


"Abang mu sama istrinya sedang ke minimarket, kakak mu di ruang kerja dan istrinya tadi sama El kan?" terang mama Rahma.


Dinda lari begitu saja masuk kedalam kamar mandi karena perut nya kembali seperti di aduk-aduk.


"Hooekk.."


"Kamu kenapa Din?" tanya sang mama sembari memijat tengkuk leher Dinda.


"Dinda hamil ma.." ucap Dinda sembari mencuci mulut nya.


Mama Rahma terperanjat dan tanpa disengaja air mata itu sudah mengalir. Ini adalah tangis bahagia.


"Makasih sayang.. Makasih banyak.." ucap mama Rahma tulus.


Dinda tersenyum "Iya ma.."


"Kamu pengen makan apa biar mama siapin." ucap mama Rahma antusias.


"Nasi goreng buatan kak Tara." ucap Dinda lirih.


****


Toni duduk di sofa ruang kerja Tara dengan baby El duduk di sebelahnya.


"Kak."


"Hem."


Toni diam sejenak. Masih ada rasa tidak rela mengatakan hal ini.


"Dinda hamil."


Tara mendengar itu hanya bisa diam mengepalkan tangan. Rahang nya mengeras menatap Toni.


"Kalau Dinda hamil apa urusan nya dengan ku?" tanya Tara menahan emosi.


"Dinda pingin nasi goreng."


"Apa urusan nya dengan ku? kau mau pamer?"


"Dinda mau nasi goreng buatan mu kak."


Tara berdecak. "Ck.. Enak sekali menyuruh ku begitu. Kau kan suami nya."


Toni menghela nafas. Percuma bicara pada Tara yang juga menginginkan istrinya.


"Akan ku bayar dengan mobil keluaran terbaru." ucap Toni.


"Aku bisa membeli sendiri."

__ADS_1


"Ayolah kak.." rengek Toni menjatuhkan harga diri.


"Tidak."


****


Semua orang sudah berada di meja makan. Tara masih tidak memperdulikan keinginan Dinda. Ia mengambil makanan nya sendiri karena tidak ingin di layani istri tak diinginkan nya.


Dinda melihat Tara pun sudah tampak murung. "Kak Tara jahat." celetuk Dinda disaat semua orang sedang menikmati makanan nya.


Tara bergeming sedangkan Toni hanya menghela nafas. Ia sangat kenal kakak nya yang tidak bisa di bantah.


"Kakak.." rengek Dinda di seberang Tara.


"Tenanglah Dinda.. Biarkan aku makan lebih dulu." tegas Tara.


Semua mata menatap Tara tak percaya. Pertama kalinya Tara menuruti orang walau hatinya tidak ingin.


"Jangan bilang kau masih juga menginginkan Dinda kak." sargah Toni.


Tara hanya diam saja.


"Dinda istriku kak.. Ingat kau juga punya istri." kata Toni lagi.


"Aku memperistri dia juga karena yang ku ingat istri mu."


****


Dinda sangat antusias menonton Tara yang sedang memasak untuk nya. Tampak sangat lincah di matanya. Ia tidak memikirkan Toni sekarang. Ia hanya ingin fokus ke Tara.


"Jangan pedas ya kak.."


Tara menoleh tersenyum pada Dinda. Senyum yang tidak pernah di perlihatkan pada orang lain dan ini juga pertama kalinya Dinda melihat senyuman Tara.


Sangat tampan.


Dinda menggeleng atas pujian nya tadi. Ia mengingat Toni yang sedang mengawasi nya berdiri bersandar di dinding.


Beranjak dan melangkah menghampiri Toni.


Di berikan nya kecupan di pipi Toni.


"Maaf ya kak.."


Toni mengangguk. "Tidak apa sayang, ini demi anak kita. Apapun akan kakak usahakan mengabulkan nya."


Ia kalungkan tangan nya ke leher Toni. Berjinjit menggapai bibir Toni. Di lu mat nya sebentar lalu ia kembali duduk di meja makan.


"Kakak ke kamar ya lihat El dulu." ucap Toni.


Dinda mengangguk.


Ia beralih melihat Tra yang sedang menyiapkan nasi goreng nya.


Nasi goreng sudah terletak di depan nya. Ia mendongak menatap Tara untuk mengucapkan terimakasih.


Cup


"Bayaran untuk satu piring nasi goreng."


🌸


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2