
"Ali.. Bagaimana kabar Dinda? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Tara menatap layar benda pipih di tangan nya. Saat ini ia sedang stalkig akun media sosial milik Dinda. Dia berasa menjadi muda kembali karena Dinda. Istri adiknya sendiri.
"Sepertinya akan tidak baik Tuan." Jawab Asisten Ali.
Tara mengerutkan dahi bingung akan jawaban dari Ali.
"Apa maksud mu Ali.Bicaralah dengan jelas."
"Merry kembali dan mengusik hubungan Tuan Toni dan Nyonya Dinda. Sepertinya Tuan Toni menerima kehadiran Merry." Terang Asisten Ali.
Tara mengepalkan tangan dengan rahang mengeras. "Andai Toni bukan adik ku. Sudah ku rebut Dinda darinya."
Asisten Ali hanya diam mendengar dan siap menjadi santapan amarah Tara.
Hah..Apalagi tingkah nya ini jika sedang emosi.
"Sekarang kau pergilah ke club' carik wanita sama persis dengan Dinda. Bukan hanya fisik. Semua harus mirip seperti Dinda." Titah Tara yang tidak masuk di akal.
Ali terperanjat mendengar perintah Tara. Bagaimana bisa menemukan yang sama persis. Bahkan kembar siam sekalipun tidak akan sama bukan?
"Maaf Tuan. Orang seperti Nyonya Dinda tidak ada di club' Tuan." Hanya itu yang ada di otak Ali sekarang.
Tara melotot ke arah Ali. Bisa-bisanya Ali berani berkata seperti itu yang bisa di artikan Ali menolak perintah nya.
"Cari dimana pun. Ingin sekali aku memiliki Dinda. Jika saja Toni gila itu bukan adikku sudah ku culik Dinda." Tara sangat marah pada Toni yang menjadi plin-plan saat mantan kekasih nya datang kembali.
"Dasar Bule Gila.." Umpat Tara menendang meja di depan nya.
Padahal dia juga bule gila. Bagaimana bisa menginginkan Dinda? Dan dimana aku harus mendapatkan Dinda palsu?
"Dimana Rian?"
Aku harus jawab apa? masak iya ku bilang Rian mendatangi Dinda?
Ali diam saja tidak bisa menemukan alasan yang logis untuk Tara. Ia bingung harus apa sekarang.
"Dimana Rian Ali?" Jawab Tara menaikkan satu oktaf suaranya.
"Rian berada di Medan karena Dinda menangis saat mengaduh pada Rian atas perlakuan Tuan Toni Tuan." Pada dasarnya Ali tidak bisa berbohong pada Tara akhirnya ia berkata jujur.
Tara menatap Ali seakan menginginkan informasi lebih akurat apa yang dikatakan Ali.
Ali mengerti tatapan itu hanya bisa menelan saliva. Apa ia harus menceritakan semuanya?
"Rian dan Dinda sudah saling kenal sejak Dinda masih SMA kelas X Tuan. Itu saja yang saya tahu dan Dinda menganggap Rian sebagai abang jadi Rian berangkat subuh menuju Medan."
__ADS_1
"Ah sudahlah.. pukul 2 siang harus sudah ada yang saya pinta. Saya tunggu di apartemen." Tara melihat jam tangan nya sudah menunjukkan pukul 11 siang kemudian ia beranjak pulang menuju apartemen pribadinya.
"Waktu mu hanya 3 jam Ali."
Ali menganga mendengar waktu nya sisa sangat singkat. Ali terus mengumpat, memaki dalam hati pada Tuan nya. Ia mengakui lebih repot menghadapi Tara di banding Toni. Karena Toni lebih mandiri walau sama dengan Tara sama-sama dingin.
Ali segera memerintahkan anak buah nya untuk mencari wanita yang mirip dengan Dinda. Tentu ia mengirimkan foto Dinda ke semua anak buah nya.
Ali memijat pangkal hidung nya. Berpikir keras permintaan wanita untuk menemani tidur plus-plus Tara. Ia juga sering bersenang-senang dengan wanita. Tapi ia mencari yang bersih dari penyakit dan seksi pastinya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang tapi Ali belum juga datang mempersembahkan jamuan untuk Tara.
Tara merasa kesal lantas masuk kamar mandi untuk membersihkan diri berendam di bathtub menyegarkan tubuh dan menenangkan pikiran yang di penuhi oleh Dinda Lestari. Istri adiknya sendiri.
30 menit kemudian Tara selesai mandi dengan handuk terlilit di pinggang menampilkan perut sixpack, dada bidang dan otot yang selalu ia sembunyikan di balik kemeja panjang dan jas.
Tara terjingkat saat mendapati seorang gadis sedang kesusahan membuka jaket sejurus kemudian Ia semakin terkejut ketika melihat seragam yang di kenakan gadis itu adalah seragam OB di perusahaan nya.
"Hei.. Siapa kau?" Bentak Tara.
"Tolong.. Panas.. Panas.. Sshh." Ucap Gadis itu menatap Tara dengan mata sayu sembari membuka kancing seragamnya.
Oh shiit... Gadis ini dalam pengaruh obat.
Tara melihat name tag di seragam gadis itu bertuliskan Hartini. "Nama yang sangat kampungan. Hartini."
"Kau yang merayuku gadis kampung.. Maka jangan menyesal setelah ini."
Tara menyeringai dan terjadilah siang yang sangat panas untuk Tara dan gadis bernama Hartini. Ah bukan gadis lagi tapi wanita.
****
Perusahaan Sanjaya Group kota Medan
Pintu lift terbuka ketiganya keluar tanpa memperhatikan sekitar. Saat mendekati ruangan Toni mereka berhenti saat seorang wanita bergelayut manja di gandengan seseorang memanggil Dinda.
"Dinda.."
Dinda,Sari,dan Rian bersamaan melihat ke sumber suara. Dinda menatap mata Toni penuh kecewa. Ia bergeming tanpa mengeluarkan suara.
Rian dan Sari geram dengan pemandangan di depan mata mereka. Ingin rasanya Sari mengeluarkan sifat bar-bar pada wanita di depan nya ini.
Ehem...
Sari berdehem memecahkan keheningan. "Beb.. Ini mantan pacar suami mu yang katanya cinta pertama nya?" Sari menoleh ke arah Dinda yang diam saja menatap Toni.
__ADS_1
Dinda mengangguk dua kali. "Kau benar."
Sari pura-pura terkejut menutup mulut nya. Pandai sekali Sari dan Dinda jika untuk berakting.
"Astagaaa... Ternyata Tante mantan pacar suami sahabat saya? Udah tua ternyata." Sari tersenyum miring. Sari tidak salah bukan jika memanggil Merry tante? karena Merry sudah berumur 30 tahun sedangkan Sari dan Dinda menuju 20 tahun.
Dinda dan Rian hanya bisa mengulum senyum mendengar ocehan Sari. Apalagi Dinda yang sudah sangat mengenal Sari dari orok.
Merry yang di katain Tante tidak terima ingin menampar Sari namun dengan sigap Sari menangkap tangan Merry bahkan melintir ke belakang tubuh Merry.
"Awhh.. Ton tolong." Rengek Merry pada Toni.
Sontak Toni ingin menolong Merry yang meringis. Namun Dinda menatap tajam Toni. "Tolong lah mantan pacar mu itu jika ingin melihat aku dan El pergi dari rumah." Seru Dinda dengan lantang.
Toni berhenti seketika dan segera memberi jarak antara ia dan Merry.
"Lepaskan tangan Bu Merry beb. Dia dosen ku di kampus." Titah Dinda.
Sari melepaskan tangan Merry yang ia yakini pasti meninggalkan sakit disana.
"Ah Dosen ya? Kok pengen jadi pelakor sih? Kalau mau jadi pelakor cari yang saingan nya lebih jelek atau seimbang dong." Ejek Sari pada Merry.
"Cih... Anak kemarin sore ngajarin saya?" Merry tersenyum miring merendahkan.
Dinda sedari tadi menahan geram akhirnya tidak bisa menahan lagi. Ia marah dan kecewa pada Toni dan Merry.
"Hanya wanita terhormat yang tidak dengan murah nya mendatangi seorang pria beristri. Anda seorang dosen seharusnya menampilkan karakter baik untuk di contoh mahasiswa-mahasiswi anda.
Apa anda tidak takut jika saya melaporkan ke pihak rektor UMA jika dosen menjadi pelakor mahasiswi nya?
Dimana hati dan pikiran anda jika suatu saat hal ini juga terjadi pada anak perempuan anda? Jika memang itu terjadi pada anak perempuan anda maka akulah orang pertama yang bersyukur, akulah orang pertama bertepuk tangan bahagia atas derita anak mu."
"Dan untuk mu suami ku.. Selemah itukah cinta mu untuk ku dan El? Sekuat itukah cinta mu pada cinta pertama mu? Maafkan Dinda nggak sekuat itu kak.. Dinda takut. Dinda belum siap untuk menghadapi dunia mu. Boleh kah Dinda berkata jujur? Dinda lebih memilih kakak menjadi pengawal Dinda dari pada menjadi suami Dinda."
Deg
Jantung Toni seakan tertusuk sembilu pedang tajam meremukkan segumpal daging di dada nya. Ia tidak menyangka Dinda merasakan sesakit itu.
Sama hal yang di rasakan Sari dan Rian mendengar kejujuran Dinda. Seolah ikut merasakan apa yang di rasakan Dinda.
Sontak Toni,Sari,dan Rian menyebut nama Dinda bersamaan.
"Din."
🌸
__ADS_1
🌸
TBC