
Sebuah rumah sakit swasta kota Medan tampak seorang wanita hamil sedang di kawal dua pria cukup tampan berdiri di belakang tempat ia duduki. Sudah hampir dua jam ia menunggu giliran namun belum juga namanya disebutkan.
Dengan waktu sudah cukup lama Dinda menunggu membuat ia gelisah sedari tadi mengubah-ubah arah duduknya. Berdiri sebentar dan duduk kembali. Gerutuan,cibiran,dan Omelan sudah ia ucapkan.
"Nona Dinda Lestari." ucap salah satu suster memanggil namanya.
"Akhirnya.."
Dinda berjalan diikuti kedua pria di belakang nya masuk keruang Dokter Kandungan.Dokter Lita.Ia duduk di depan meja praktek Dr.Lita.
"Dr.Lita kemana ya dok?" tanya Dinda saat menyadari bukan dokter yang sering memeriksa kandungannya.
"Dr.Lita ada jadwal operasi Nona."
Dinda berjalan menuju brankar untuk memulai USG. Dinda dan kedua pria itu tampak antusias menatap layar monitor.
"Waahh hidung nya sangat mancung, dia sangat sehat, jari tangan dan kaki lengkap, lihatlah.. ia sangat aktif sekali." Dokter itu tampak tersenyum menjelaskan keadaan bayi dalam kandungan Dinda.
"Apakah nona ingin mengetahui jenis kelamin nya?" tawar dokter tersebut.
"Apa sudah kelihatan dok?"
"Sudah Nona."
"Baiklah, apa jenis kelamin nya dok?"
"Mari kita lihat...eemm sepertinya anak pertama anda laki-laki, Lihat ini non." Ucap dokter itu mengarahkan cursor ke gambar tubuh mungil di balik perut nya kian membuncit menuju yang menggambarkan bentuk milik laki-laki.
"Waahh.. benar laki-laki dok." Dinda tersenyum bahagia sembari mengelus perut buncitnya.
Dokter membersihkan perut Dinda dan kembali duduk diikuti Dinda lantas duduk di depan meja sang dokter.
"Jaga kesehatan anda nona, hindari stres, tetap hati-hati melakukan sesuatu ya nona.."
"Baiklah dok."
"Dan untuk...-" Dokter berhenti bicara menatap kedua pria sedari tadi diam mendengarkan sang dokter berbicara.
Dinda mengerti maksud dari tatapan sang dokter mengarah kedua pria dibelakangnya lantas berbicara asal terhadap dokter.
"Anggap saja keduanya suami saya dok."
Dokter terperanjat mendengar perkataan pasien di depannya.Sang dokter berdehem menetralkan dirinya.
"Baiklah Tuan, tolong di jaga istrinya jangan sampai makan sembarangan, jangan buat kelelahan,dan jangan buat stres istri anda Tuan."
"Baik dok."Jawab Toni dan Aril bersamaan.
Dinda mendengar itu sontak tertawa.
"haha...Lihatlah Dok, kedua suami saya sangat kompak bukan?"
"Dan tolong sampaikan ke suami ketiga saya untuk tidak menyembunyikan segala hal."
Lagi dan lagi sang dokter terperanjat mendengar bahwa suami pasien nya lebih dari satu. Cantik sih..pantas ada tiga.
"Baiklah.. saya permisi dok, terima kasih." Dinda tersenyum menjabat tangan sang dokter.
Mereka bertiga sudah berada di dalam mobil dengan Toni menyetir, Aril duduk sebelah Toni, dan Dinda duduk di kursi penumpang saat ini.
Hening..Mobil masih terparkir karena sang majikan belum mengatakan arah tujuan.
__ADS_1
"Mau jelaskan disini atau di tempat lain?"ketus Dinda membuat kedua pria tersebut menelan saliva dengan kasar.
Hening kembali...
"Antar ke restoran Jepang aja di mall. aku lapar." perintah Dinda.
"Ba-baik."
Beberapa saat kemudian..
Saat Dinda berjalan menuju mall ia juga melihat Arga akan masuk mall bersama seorang wanita.
Ck..katanya sibuk kerja, ternyata sibuk bersama wanita.
Dinda berjalan cepat untuk menyapa sang suami dan dua pengawal itu belum menyadari apa yang hendak dilakukan istri majikan serta wanita dicintai nya itu.
"Bang Arga..." Sapa Dinda saat sudah berada di belakang sepasang kekasih itu.
Deg
Dinda...gumam Arga.
Mam*us... gumam Toni dan Aril.
Arga tidak menoleh tetapi Mira lah yang menoleh kearah sumber suara memanggil nama sang kekasih.Sesaat Mira melihat Dinda, Dilihat tampilan Dinda dari atas hingga bawah kemudian ia fokus pada perut buncit Dinda. Dinda hanya tersenyum menatap Mira sedang memperhatikan penampilan nya itu.
"Honey.. Siapa wanita ini?"selidik Mira.
Arga terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan sang kekasih.
"Aku Dinda mbak.. Mbak pacar bang Arga ya?" Dinda masih tersenyum kearah Mira.
"Jangan kaku mbak, Dinda ini adik angkat bang Arga doang kok. iya kan bang?" Dinda beralih menatap Arga dengan tatapan tajam.
Arga yang ditatap seperti itu membuat ia kelagapan. "I-iya." jawab Arga gugup.
"Mbak sudah lama pacaran dengan bang Arga? Dinda gak pernah lihat abang bersama mbak."
"Ah ya.. kami sudah pacaran 3 tahun dan berhubungan jarak jauh selama setahun ini. Kemarin mbak baru balik."
cukup lama.. jadi kenapa bang Arga nikahi aku? apa alasan nya?
"Oohh.. Mbak dan Abang ke mall mau ngapain?"
"Mbak mau belanja, tapi mau makan siang dulu."
Kesempatan.
"Sama dong, kalau gitu, barengan ya mbak?"
"Tentu. Boleh kan honey?"
"Ya." Jawab Arga gugup.
Dinda berjalan diantara Arga dan Mira, ia sengaja melakukan itu untuk melihat reaksi suaminya.
Toni dan Aril berjalan di belakang mereka.
"Gimana ini Ton?"
"Ck.. mana gue tahu, Dinda marah gak ya?"
__ADS_1
"Justru kelakuan aneh Dinda begini adalah bentuk kemarahan Dinda Ton."
"Waktu gue nikahan aja dia datang bawa kado isinya buat istri gue histeris."
"Emang itu kado isinya apaan?"
"Bukan ada isinya, tapi Dinda gak pulang."
"Jadi apa yang buat Isti lo histeris?"
"Dia masuk ke kamar gue saat malam pertama dan cium gue di depan istri gue."
"Ck..biar apa coba?"
"Biar istri gue cemburu, setelah itu Dinda pergi."
"Dan setelah ini kita berdua bakal dihukum Ril."
"Yaa.. Habislah kita."
Saat berada di restoran, Kelima orang itu duduk dalam satu ruangan yang sudah di booking Arga. Hening tidak ada yang memulai berbicara setelah selesai makan.Hanya Mira sedari tadi bermanja-manja pada Arga.
Dinda berada tepat di depan Arga hanya senyum menyeringai.
"Mbak sangat cantik dan sexy, pantas saja Bang Arga setia menunggu mbak." Ucap Dinda memecah keheningan.
"Ya.. mbak sangat merawat tubuh mbak, Arga sangat memuja tubuh sexy mbak."
Mira sangat sexy bedah jauh denganku, lalu apa alasan bang Arga menikahi ku? sedangkan ia berbuat baik baru satu bulan ini. ada apa sebenarnya ? kenapa aku menjadi gelisah seperti ini? aku harus berbuat baik dengan mereka ini agar aku tahu alasan bang Arga menikahi ku.
"Mbak sepertinya asik bila kita berteman, boleh Dinda berteman dengan mbak?"
"Tentu." jawab Mira.
"Tidak." jawab ketiga pria bersama mereka.
"Lihat lah mbak.. betapa kejam nya suami ku mengirim dua makhluk menyebalkan ini dan di tambah bang Arga juga sangat menyebalkan." Dinda berakting sedih.
"Kenapa begitu Din?" tanya Mira keheranan.
"Mbak tahu? aku tidak memiliki teman. Aku hanya memiliki sahabat dan sahabatku sudah pindah ke Jakarta, sekarang aku tidak memiliki teman satu pun akibat mereka berdua, salah satunya ini si wajah datar menyeramkan ini." Dinda melihat kearah Toni duduk disisi kanan Dinda.
"Ini lagi.." Dinda melihat kearah Aril duduk disisi kiri Dinda.
"Dia sangat menyebalkan, Bang Arga juga menyebalkan."
"Menyebalkan gimana Din?" tanya Mira antusias seperti sangat penasaran dengan cerita Dinda.
"Aril selalu saja berada diantara Dinda dan Toni saat memeriksa kandungan Dinda."
"Loh.. emang kenapa Din?" Bukan Mira yang bertanya melainkan Aril.
"Kau ini, apa tak kau lihat pandangan pasien, suster, serta dokter disana he.. mereka menatap aneh kearah ku seakan aku punya dua suami." cerocos Dinda menggunakan logat orang Medan.
Toni mendengar cara bicara Dinda mengulum senyum. Mira sendiri sudah tertawa terbahak-bahak mendengar cerocos Dinda.Aril juga sudah memasang wajah masam. Arga? ia merasa bersalah pada Dinda.
🌸
🌸
Kasih semangat author dengan like,komen,dan vote ya teman.. terimakasih 🙏🙏
__ADS_1