PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 142


__ADS_3

Sayang.. Kenapa baju kakak warna pink begini?"


"Dinda pengen lihat kakak pakai baju pink. Biar kita samaan."


"Kakak tidak mau." tolak Toni.


Toni membuka lemari mencari kaos warna hitam. Sementara Dinda sudah menangis dalam diam nya. Ia tidak tahu mengapa penolakan Toni membuat hatinya sakit.


"Loh.. Kamu kenapa menangis sayang?" Toni mendekati Dinda.


"Kakak jahat.. Huwaaa.." Dinda menangis histeris. Ia tidak tahu bagaimana bisa hatinya sesakit ini saat Toni menolak untuk memakai pakaian yang ia pilih.


Toni mengerutkan kening. "Jahat apa sayang?"


"Ka-kak nggak mau pa-kai baju yang Dinda pilihkan." Dinda bicara sesegukan.


"Hanya itu? baiklah kakak pakai ya. Jangan menangis sayang." Toni pun terpaksa memakai kemeja pink itu.


Dinda terdiam setelah melihat Toni memakainya. Bahkan ia sudah tersenyum. "Antar Dinda ke Dinata's Market yuk kak."


"Mau ngapain?" tatapan Toni menyalang.


Bener kan.. kenapa tatapan nya menyebalkan sekali.


"Ya sudah kalau kakak gak mau antarkan. Dinda sama bang Zaki saja."


Toni diam saja. Jujur ia cemburu tapi kalau Dinda pergi bersama Zaki maka akan banyak yang mereka sembunyikan.


"Kakak ikut."


Mereka pun pergi ke supermarket Dinata's Group. Dinda tampak diam memandang supermarket milik orang dari masa lalunya.


"Kakak ikut ke dalam." ujar Toni.


Dinda menatap Toni tajam. "Mau ngapain?"


Toni diam saja. "Kenapa kamu jadi galak begini sayang?"


"Oh aku galak? gak suka gitu? ini lagi kenapa gak pakai parfum Dinda sih?" sungut Dinda.


"Punya kamu parfum wanita. Kakak tidak mau." tolak Toni.


"Yasudah jangan dekat Dinda. Nanti malam jangan tidur kamar." ucap Dinda seraya keluar dari mobil bahkan Dinda menutup pintu mobil cukup keras hingga membuat Toni dan Zaki terperanjat.


"Zaki, apa aku salah?" tanya Toni karena ia merasa tidak salah.


"Saya tidak tahu tuan." jawab Zaki juga merasa aneh dengan Dinda mengapa menjadi galak.


****


Di dalam Supermarket Dinata's Group.


"Selamat datang, selamat berbelanja." ucap kasir.

__ADS_1


Para pramuniaga yang melihat Dinda masuk langsung saling bersitatap kemudian mengangguk.


"Ada yang bisa kami bantu Nyonya?" tanya salah satu pramuniaga.


"Ah ya saya cari susu kedelai yang kemasan nya warna putih di stand mana ya?" tanya Dinda sopan.


"Sebelah sini nona."


Dinda pun mengambil satu lusin susu kedelai kesukaan nya. Tapi aneh nya setiap ia mengambil susu itu selalu di bantu pramuniaga disana padahal pembeli yang lain tidak.


"Saya bisa sendiri mbak."


"Kami di tugaskan tuan melayani anda dengan baik nona." jelas pramuniaga tersebut.


Dimas.


"Dimas tidak ada disini. Biarkan saja." ucap Dinda.


"Tolong kerjasama nya nona. Kami bisa di pecat bila tuan tahu kami tidak melayani anda dengan baik."


Dinda hanya mengangguk. Tapi ia merasa heran, mengapa melakukan ini? bukan nya Dimas sudah bertunangan? apa Dimas masih mencintai nya?


Dinda menggeleng menepis pirlkiran tak masuk akal itu.


Dimas adalah pengkhianat.


Dinda masuk mobil dengan wajah kesal nya.


Dimata Toni, akhir-akhir ini ia tidak melihat Dinda yang manja lagi dengan nya. Ia mulai curiga bila Dinda sudah ada yang lain.


Padahal susu itu banyak di jual di tempat lain. Bahkan jika memang Dinda ingin susu yang ada di supermarket seseorang itu tidak perlu membeli langsung.


Mungkin Dinda mulai bosan dengan ku.


Toni hanya diam saja saat Dinda masuk mobil. Bahkan ia tidak menanyakan apapun pada Dinda.


Cukup lama mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Kakak kenapa? Masih marah Dinda suruh pakai baju pink?" tanya Dinda karena ia tidak tahan saking mendiami.


Toni hanya menggeleng.


"Jangan di tekuk muka nya. Jelek, udah tua juga." goda Dinda.


Tapi perkataan Dinda di salah artikan Toni. "Ia kakak tahu kalau kakak jelek, sudah tua, dan mandul lagi."


Dinda menoleh. Ia tidak tahu mengapa tapi melihat wajah Toni membuat ia kesal sendiri. "Terserah kakak. Kakak itu sangat menyebalkan. Lebih baik jangan dekat-dekat deh."


"Ya sudah. Kakak tahu kamu mulai bosan dengan kakak kan?"


Dinda hanya diam. Ia tidak mau ribut karena akhir-akhir ini mood nya sedang tidak baik dan penyebab nya itu adalah Toni. Ia hanya melihat Toni saja rasanya ingin marah dan hmbau tubuh Toni yang biasa candu untuk nya mendadak mual bila berdekatan dengan Toni.


****

__ADS_1


Sudah satu bulan berlalu tapi Dinda belum juga berubah dan itu semakin membuat kesabaran Toni mulai menipis.


Kini mereka sudah pindah ke mansion pribadi Toni yang sengaja ia pilih. Dengan harapan mansion berlantai tiga itu akan di ramaikan oleh banyak nya anak mereka.


Sekarang saat bercinta, Dinda tidak ingin lama-lama di cium oleh nyam Di matanya seakan Dinda sekarang jijik dengan nya.


Tapi lebih di herankan adalah seperti saat ini. Tadi pagi Dinda mengomel untuk menyuruhnya cepat-cepat berangkat ke kantor.


Dan baru saja ia dua jam berada di kantor, Dinda sudah menelepon penuh rengekan ingin bertemu.


Rengekan Dinda yang sangat ia rindukan.


"Kakak.. Dinda rindu.." rengek Dinda di seberang telepon.


"Kita baru bertemu dua jam lalu Dinda."


"Oh jadi Dinda gak boleh rindu sama kakak?"


Toni menelan saliva nya sadar akan salah dengan ucapan nya


"Tidak sayang.. Jadi kamu mau gimana?"


"Dinda ke kantor ya?"


"Sendiri atau sama El? Zaki kan hari ini ke Surabaya Din."


"Sendiri kak, El di jemput Mama tadi."


"Ya sudah, nanti supir kantor jemput mansion."


Setelah panggilan telepon terputus ia tersenyum. Dinda merengek begitu saja sudah membuat ia bahagia.


*****


Satu jam berlalu Dinda sudah berada di perusahaan Toni. Perusahaan yang jauh lebih besar dan tinggi karena ini adalah kantor pusat nya.


Dinda berjalan santai melewati meja resepsionis. Tentu saja ia di hadang karena baru pertama kali mengunjungi kantor Toni. Dan tidak ada yang tahu jika Dinda adalah istri dari Toni Sanjaya. Karena mereka tidak melakukan resepsi pernikahan.


"Saya ingin bertemu dengan Kak Toni."


Kedua resepsionis itu menatap Dinda dari atas hingga bawah. Tampilan Dinda memakai dress bunga-bunga lengan panjang dan sebatas betis sangat cocok untuk tubuh ramping nya.


"Dengan siapa?"


"Dinda. Boleh masukkan?" Dinda mulai tidak suka dengan nada suara yang tidak akrab itu.


Seakan di abaikan Dinda menjadi kesal. Ia merogoh ponsel nya dan menghubungi suaminya.


"Kakak.. Dinda udah sampek."


"Masuk saja. Kakak baru selesai rapat."


"Dinda gak boleh masuk."

__ADS_1


"*Tunggu sebentar."


🌸*


__ADS_2