
"Sayang.. Bagaimana bisnis kafe mu dengan Zaki?" tanya Toni saat baru selesai melakukan rutinitas malam yang panas.
Saat ini Dinda merebahkan tubuhnya dalam pelukan Toni dengan berbantal dada bidang dimana tempat favorit nya saat menenangkan hati.
"Lancar kak.. rame juga." jawab Dinda.
"Seharusnya kamu ambil jurusan bisnis bukan komputer Din."
"Iya. Tapi Dinda ambil jurusan komputer waktu itu karena nilai peluang lowongan kerja lebih besar di jurusan komputer." bela Dinda.
"Kakak bisa membiayai hidupmu Din." ucap Toni lagi.
"Iya tapi kan waktu awal sisa kuliah kita belum menikah kak.."
"Sayang.." panggil Toni.
"Hemm.." Dinda hanya berdehem karena sudah mengantuk.
Toni asih terdiam. Ia mengeratkan pelukannya sembari mengecup pucuk kepala Dinda lama.
"Bagaimana jika suatu saat kakak pergi meninggalkan mu selamanya?"
Mata Dinda seketika terbuka lebar saat mendengar pertanyaan aneh Toni.
"Jangan katakan itu kak.. Bagaimana bisa Dinda bisa hidup bila kakak pergi dari Dinda?"
"Jangan buat Dinda takut." sambung Dinda lagi sembari memeluk Toni dengan erat.
Toni membelai rambut coklat Dinda dan tersenyum.
"Kamu ingin tahu apa yang selama ini kakak pinta pada Tuhan?"
Dinda mendongak menatap Toni. "Apa kak?"
"Kakak ingin hidup dan mati bersama mu. Kakak ingin saat kakak meninggalkan dunia, kamu juga pergi meninggalkan dunia bersama kakak."
"Tapi kalau takdir berkata lain, bila kakak lebih dulu berpulang.. Kakak harap kamu mau menikah dengan orang yang kakak pilih." sambung Toni.
Dinda menatap Toni serius. Sebenarnya ada rasa takut bila membicarakan tentang kematian.
"Jadi bagaimana bila Dinda yang lebih dulu berpulang?" tanya Dinda.
"Kakak tidak akan menikah lagi, kakak akan menjaga cinta kita sampai maut menjemput kakak. Merawat El hingga menjadi laki-laki sukses. Dia akan menjadi pengganti kakak di perusahaan."
Dinda tersenyum."Sudah jangan ngomong aneh-aneh. Besok hari bahagia Dinda kak.. Besok Dinda wisuda.. Ayo kita tidur."
Toni tidak menjawab, ia membiarkan Dinda tertidur dalam dekapan nya. Betapa ia mencintai wanita muda di dalam pelukan nya.
__ADS_1
Sayang.. Apa kakak mandul? kenapa sampai sekarang kamu belum hamil juga? tidak mungkin kamu yang bermasalah karena kamu sudah ada El. Maafkan kakak sayang..
Ya hingga setahun setelah mereka berpisah, Dinda belum juga hamil. Mereka memang belum ada konsultasi pada dokter, karena Dinda juga masih sibuk pada kuliah nya.
Dan dia disana.. Masih mencintai mu Din.. Kakak takut dia datang. Tapi bukankah kakak yang salah? kakak lah penghalang cinta kalian. Maafkan aku. Cinta membuatku egois.
"Tidurlah dengan nyenyak sayang.. Maafkan kakak yang terlalu mencintaimu."
****
"Bang Rian.. Ini sudah setahun." ucap Cantika lirih.
"Terus?" tanya Rian singkat.
"Apa abang tidak ingin memperjelas status ku?"
"Apa kurang jelas?"
"Tentu. Jika abang nggak bisa lupakan mbak Dinda, silahkan jangan gantung perasaan ku. Aku akan pergi dari hidup abang dan tidak akan menghubungi mu lagi. Sakit bang di gantung."
Rian tidak menjawab. Sebenarnya ia tidak cukup pengalaman tentang mengenal cinta. Baru Dinda lah yang mencuri perhatian nya sedari dulu.
Tapi setelah mengenal Cantika, ia merasa sudah terbiasa dengan nya selama setahun ini. Tapi mengapa harus adik Dinda?
"Kapan kau wisuda?" tanya Rian.
"Bang. Beri aku kejelasan. 6 bulan lalu kau bilang tunggulah sebentar lagi. Tapi lihatlah.. Kau belum memberiku kejelasan."
Rian masih terdiam. Ia bingung dengan perasaannya. Sadar akan mulai terbiasa dengan kehadiran Cantika tapi pikirannya seakan mengatakan ia tidak boleh berkhianat dengan cinta pertama nya.
"Tunggulah sebentar lagi." jawab Rian.
Cantika semakin tersulut emosi. "Bang. Aku juga punya hati. Bagaimana bisa abang gantung aku begini? Begitu besarkah cinta abang untuk mbak Dinda? apa perlakuan ku tidak ada apa-apanya dengan perlakuan mbak Dinda?"
"Kau tidak akan pernah mengerti."
"Aku mengerti bang. 1 bulan lagi ku harap kau udah menemukan jawaban mu. Mau di bawa kemana hubungan kita." Cantika berlaku dari hadapan Rian.
Setelah kepergian Cantika, Rian mengacak rambut nya. Ia benar-benar bingung akan perasaan nya. Ingin sekali menceritakan semuanya pada Dinda, tapi Dinda masih di Surabaya.
****
"Kamu sangat cantik sayang." puji Toni sembari memberi kecupan mesra di tengkuk leher Dinda.
Pagi ini keluarga kecil itu sudah siap untuk pergi ke acara wisuda Dinda. Kafe Dinda juga sekarang sudah ada beberapa cabang. Dan ia mempertanggungjawabkan kafe nya pada Zaki.
"Terimakasih suamiku. Kakak juga sangat tampan." balas Dinda.
__ADS_1
"Maafkan kakak Din." wajah Toni berubah sendu.
"Maaf untuk apa kak?" kini Dinda sudah berbalik berhadapan dengan Toni.
"Kakak tidak bisa memberi mu anak."
"Jangan seperti itu, ada anak ataupun nggak, kita udah punya El bukan?"
Wajah Toni masih saja senduh dan itu membuat Dinda juga merasakan sedih itu.
"Mungkin ini karma untuk kakak yang dulu sering bermain wanita."
"Ssuutt.. Jangan katakan itu lagi. Besok setelah kita pindah ke Jakarta, kita konsultasi sama dokter obgyn ya.." Dinda mencoba menenangkan Toni.
Toni mengangguk. Ia menarik Dinda dalam dekapan nya. Sungguh hanya istrinya yang membuat hidupnya tenang. Begitu banyak rintangan yang mereka lewati untuk saling mencintai.
Setelah menyatakan cinta ternyata beku juga selesai cobaan untuk mereka. Dan kini cobaan itu dari dirinya. Ia benar-benar takut jika dirinya bukanlah pria sempurna.
"Jangan pikirkan apapun kak. Apapun yang terjadi, Dinda tetap akan bersama kakak selamanya. Tolong jangan sedih hanya karena hal itu."
Toni hanya mengangguk dan mengeratkan pelukan. Mencari ketenangan disana. Dan ia bersyukur Dinda tidak pernah mengumbar jika dirinya lah yang bermasalah jika ada yang bertanya kapan nambah momongan? Mau tahu jawaban Dinda?
"Dinda pakai KB yang tiga tahun, El kan belum ada 3 tahun jadi ya belum mau nambah."
Betapa beruntungnya ia memiliki Dinda. Istri kecilnya. Sekarang ia dapat melihat perubahan Dinda menjadi lebih baik. Semakin dewasa. Bahkan sering ia menyadari bahwa ialah yang berubah menjadi kekanak-kanakan, dan ia lah yang lebih manja.
Lalu Dinda bagaimana? ia tetap sama. Tetap manja dan sangat tidak ada kemampuan nya untuk bersih-bersih rumah dan memasak juga masih itu-itu saja.
Baby El adalah anak yang super aktif dan banyak mau tahu. Hampir semua yang ia lihat pasti akan dipertanyakan olehnya.
Maka dari itu Toni dan Dinda lebih hati-hati bila bermesraan di luar kamar. Bisa gawat.
"Daddy apain mommy? kenapa tadi mommy teriak begitu?" tanya bocah umur 2.9 tahun itu.
Pada saat itu Toni dan Dinda baru selesai olahraga panas sebelum makan malam. Saat berada di meja makan sudah di suguhkan pertanyaan dari putra mereka.
Keduanya pun menelan saliva dengan kasar. "Mommy tadi di urut kaki nya. Kaki mama sakit." jawab Dinda berbohong.
"Jadi sekarang sakitnya pindah ke leher ya mom?"
"Enggak.".
"Tapi kenapa leher mommy merah-merah kayak darah."
"What?"
🌸
__ADS_1