
Tepat pukul 12 siang Toni kembali ke Kantor. Ada perasaan gelisah menyelimuti hatinya karena sedari tadi ponsel Dinda tidak dapat di hubungi. Setelah menelepon rumah, Bibi Jubaidah mengatakan jika Dinda pergi membawa baby El.
Tumben pergi tidak kasih kabar.
Ia pun makan siang sendiri di ruangan setelah tadi pesan makanan lewat aplikasi online. Makan dengan perasaan gelisah membuat ia menjadi tidak berselera.
"Kamu kemana sayang? Kenapa tidak ada kabar hingga sekarang?"
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore waktu setempat. Toni segera melesatkan diri pulang ke rumah karena hatinya benar-benar merasa gelisah seperti ada yang tidak beres.
"Bi.. Dimana istri dan anak saya?" tanya Toni setelah sampai di rumah.
Bibi Jubaidah yang sedang memasak terkejut kedatangan tuan rumah serta bingung harus menjawab pertanyaan dari tuan nya.
"Sa.. Saya tidak tahu tuan." jawabnya gugup.
Toni melangkah menuju kamar mereka. Pertama yang ia lakukan adalah mengecek lemari baby El.
Terkejut. Itulah yang ia rasakan. Semua pakaian dan perlengkapan baby El kosong. Kemudian ia membuka lemari pakaian Dinda. Hanya beberapa helai pakaian yang dibawa Dinda.
Entah mengapa ia berpikir harus membuka laci tempat khusus perhiasan Dinda.
Kosong. Apa maksudnya ini Dinda?
Zaki. Ya dia pasti tahu dimana Dinda.
Pikiran Toni sudah melanglang buana kemana-mana. Ia takut Dinda pergi meninggalkannya. Segera ia merogoh saku mengambil ponsel untuk menghubungi Zaki.
Tapi bukankah semua nya sudah membaik pagi tadi sebelum ia berangkat ke kantor?
"Damn it! Kenapa nomornya tidak dapat di hubungi?"
Toni kembali ke lantai dasar menuju dapur.
"Bi.. Dimana Zaki?"
"Eh itu anu Tuan. Zaki dan Maya izin bulan madu karena tadi pagi mereka sudah menikah."
"Bibi tidak sedang berbohong kan?" tanya Toni karena ia melihat gelagat bibi Jubaidah gugup saat menjawabnya.
"Tidak tuan." elaknya.
Toni melangkah keluar rumah bertujuan untuk mencari Dinda dan baby El. Ia berharap bisa menemukan mereka. Mendatangi apartemen lamanya adalah tujuan utama saat ini.
Perasaan takut di tinggalkan menghantui nya. Tapi alasan apa yang membuat Dinda pergi darinya? Apa ada sesuatu terjadi? Ia berharap Dinda hanya pergi keluar saja.
__ADS_1
Sesampainya di apartemen Toni dengan cepat membuka pintu. Setelah terbuka ia melangkah mencari istrinya di semua ruangan. Dan hasilnya nihil. Bahkan ia menyadari tidak ada jejak sedikit pun dari istrinya.
Di ambil ponsel miliknya dan menghubungi seseorang.
"Cari dimana pun jejak istriku hari ini. Cepat!" bentak Toni.
Toni mengacak rambutnya frustasi. Ia tidak mengerti situasi ini. Semua sudah baik-baik saja. Ada apa sebenarnya?
*****
"Ulah apalagi yang di lakukan Nyonya kecilku ini sampai begitu tuan Toni? Astaga.. Telingaku sakit sekali." gerutu Asisten Jo.
Asisten Jo pun sibuk meretas CCTV di sekitar rumah tuan nya. Dan mengikuti kemana mobil yang di tumpangi Dinda pergi.
"Ke kantor?"
"Nyonya berbicara dengan Rina? Ada apa ya? Dan kotak itu apa ya?"
Asisten Jo menghela nafas dengan kasar. Ia bingung dengan hubungan tuan dan Nyonya nya sekarang. Terus mengikuti kemana mobil yang membawa Dinda.
"Ke Bandara?"
Asisten Jo pun meretas kembali data penumpang bernama Dinda Larasati. Ia tercengang saat mengetahui kemana tujuan Dinda.
"Ke Jerman? jauh juga perginya."
"Maaf Tuan. Nyonya pukul 9 pagi ke Bandara menuju Jerman."
Asisten Jo yang tidak tahu ada apa di Jerman hanya pasrah mendapat perintah dari Toni.
"Apa hubungan nya dengan anak dari pemilik perusahaan Dinata's Group? Ah sudah lah.."
****
Toni mengerang meluapkan emosi setelah mendengar kemana istrinya pergi.
"Jerman? Kamu kabur bersama cinta mu sayang? Pergi tanpa memikirkan perasaanku? Jadi selama ini kamu masih berhubungan dengan dia? Kenapa tidak pamit jika ingin bersama cinta mu? Apa kamu tidak berpikir bagaimana aku tanpa mu?"
Toni berjalan gontai menuju dapur. Satu tujuan nya saat ini untuk menghilangkan kekacauan di otaknya. Minuman beralkohol adalah tujuan nya.
Gelas pertama telah tandas. Bayangan Dinda tersenyum bahagia bersama Dimas menghantui pikiran nya hingga menambah emosinya saat ini. Gelas berikut nya terus ia teguk.
"Aku mencintaimu Dinda.. Kenapa kamu tega?"
Toni mulai meracau, kesadaran nya hampir sirna saat ini. Inilah yang ia inginkan. Menenangkan pikiran nya.
__ADS_1
"Bahkan aku rela menjadi simpanan mu, mengurus mu saat hamil. El adalah anakku juga. Kenapa kamu bawa pergi? Aku mencintaimu tapi bolehkah aku membenci mu?"
"Atau akan ku bunuh pemuda itu agar kamu kembali padaku?"
****
Surabaya.
Kota inilah menjadi tujuan Dinda,Zaki,Maya, dan baby El. Tempat tinggal sudah di sediakan oleh Sari. Bukan rumah mewah yang biasa Dinda tempati. Rumah sederhana yang di sewa mereka.
Rumah sederhana yang memiliki 3 kamar, Ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan 2 kamar mandi berada di dapur. Di rumah tersebut selain disediakan penerangan juga terdapat tv,sofa,lemari es,dan peralatan dapur.
Dinda dan Zaki juga sudah mendaftar pemindahan ke salah satu Universitas di Surabaya tanpa takut Toni akan mencari.
Inilah rencana Zaki meretas nama tujuan mereka ke Jerman. Agar Toni fokus mencari ke Jerman tanpa memikirkan bahwa mereka hanya menetap di Indonesia.
"Kau nggak apa-apa tinggal di rumah sederhana begini Din?" tanya Zaki karena sedari tadi ia memperhatikan Dinda murung.
Dinda menggeleng. "Nggak apa-apa bang. Sebelum menikah juga udah terbiasa tinggal di rumah begini sama Bapak dan Ibu."
Zaki manggut-manggut. " Ya udah istirahat lah. Biar El abang yang jaga."
Dinda mengangguk kemudian melangkah ke kamar depan.
"Kau juga istirahat dek. Ingat nanti malam pertama kita." kata Zaki tersenyum penuh arti.
Maya tersenyum malu-malu. "Malu mas."
Zaki mengecup dahi Maya. "Terimakasih udah terima mas. Kau istirahat lah. Sebelum istirahat tolong sediakan susu El ya.."
"Sebentar biar aku panasin dulu mas."
Pukul 9 malam waktu setempat Dinda baru terbangun karena perut terasa lapar.
"Pantas lapar udah malam. Loh El disini juga. El kalau tidur sangat menggemaskan. Kenapa sekarang kamu lebih mirip Daddy mu? Mommy jadi rindu Daddy El."
Dinda beranjak menuju dapur. Tapi setelah melewati kamar sebelah ia menghentikan langkahnya.
"Astaga.. Mereka berisik sekali. Ck.. Aku lupa kalau ini malam pertama mereka. Apa gak bisa di pelanin itu suara ero tis nya? Ya ampun... Kalau masalah yang ini memang butuh ruangan yang kedap suara. Telinga ku panas. Lebih baik aku makan diluar jika begini."
Dinda menuju kamar mandi membersihkan diri. Setelah bersiap untuk mencari tempat makan yang terdekat karena belum tahu daerah kota Surabaya ini.
"Apa mereka gak memikirkan aku? Mungkin begini yang di rasakan bang Zaki kalau lihat aku dan kak Toni bermesraan. Kak.. Dinda rindu.. Apa kakak juga? atau kakak sekarang lagi bersama Bu Merry?"
🌸
__ADS_1
TBC