
Toni memasuki Ballroom dengan gaya cool tanpa melirik kemanapun selain satu titik fokus di depan matanya.Istrinya.
Ia melihat Dinda sedang asyik bercengkrama, ini tertawa, menanggapi candaan dari Rendi dan Sari. Dinda belum menyadari ia sudah dekat dengannya.
"Sayang..." Ucap Toni penuh menekan sembari menghampiri Dinda.
Dinda diam terpaku saat mendengar suara yang ia kenali. Ia terpejam sesaat untuk menormalkan degub jantung yang berirama.
Sari menatap Dinda dengan tatapan iba. Sedangkan Rendi menatap bingung.
Dinda tersenyum canggung melihat Toni semakin mendekatinya.
Mamp*us aku.. Kenapa menakutkan begitu sih suamiku? Butuh stok nyawa. Ibuuuu...
Toni ikut duduk bersama mereka. Ia berhadapan dengan Dinda. Ia terus menatap istrinya dengan lekat dengan tatapan tajamnya.
Ruangan tersebut seakan berubah menjadi ruangan persidangan.Penuh ketegangan.
Semua mata di ruangan itu menatap heran pada Dinda dan orang yang baru saja masuk dan duduk berhadapan dengan Dinda. Mereka yakini jika orang itu adalah suami Dinda. Suami Dinda seorang Bule.
Dinda merasa menjadi pusat perhatian segera berpindah duduk menjadi di samping Toni. Ia takut berbicara. Mau bagaimana ia membela, Toni tidak akan mendengar. Dan ia harus menerima hukuman. Ya hukuman yang ia inginkan juga.
Toni masih terdiam. Ia mengambil alih El ke pangkuan nya. Dan kembali menatap Dinda. Sebenarnya ia tidak tega. Tapi ia sangat suka melihat wajah Dinda yang takut-takut padanya. Sangat menggemaskan.
Toni tidak tahan untuk tidak menci um bibir Dinda. Ia pun segera menyambar bibir Dinda yang sudah menjadi candu untuknya. Cukup lama ia bermain di sana dan satu tangan memeluk baby El dan satu tangan berada di tengkuk leher Dinda. Ia tidak memikirkan ada banyak pasang mata berada di sekitar mereka.
Sari melongo melihat kemesuman Dinda dan Toni. Bahkan ia merasa malu sendiri. Dan juga ada rasa pengen. Ia juga sudah lama nganggur.
Rendi melihat adegan itu hanya bisa menelan saliva. Ia pemuda normal. Masih perjaka dan terbungkus rapih. Ia tidak menyangka seorang Dinda yang dulu bukan jadi pusat perhatian di sekolah sekarang menjadi pusat perhatian.
Dinda memukul dada Toni berharap cium segera terlepas. Selain pemasok udara mulai menipis ia juga ia sangat malu.
Toni menghapus air liur yang ada di bibir Dinda karena ulahnya. "Masih mau kakak hukum?"
Dinda menggeleng. Ia menunduk karena terlalu malu. "Malu kak.."Rengek Dinda.
Toni terkekeh mendengar rengekan Dinda.
"Maaf. Ayo kita makan siang di restoran bawah." Ajak Toni karena ini sudah waktu makan siang.
"No baby.. Dinda pengen makan bareng temen-temen disini boleh?" Mohon Dinda.
Toni tidak tega menolak permohonan Dinda hanya bisa mengiyakan saja.
"Apapun untuk mu sayang.. Dimana tas perlengkapan El? sepertinya tadi kakak ada simpan travel cot bed El sayang." Ucap Toni karena baby El sudah tertidur di pangkuannya.
__ADS_1
Dinda pun beranjak mencari travel cot bed untuk baby El. Ia sangat bahagia karena Toni begitu teliti jika menyangkut urusan baby El. Apalagi jika bepergian tanpa suster Maya seperti ini. Ahh jadi ingat suster Maya. Pasti lagi pacaran dengan Zaki.
Setelah mendapatkan apa yang di cari. Dinda segera mengatur travel cot bed tersebut dengan hati-hati agar berdiri tegak.
"Selesai kak.. Sini El nya."
"Kakak saja. Kamu siapkan makan siang kita saja."
Dinda mendekati Sari yang sudah lebih dulu pergi untuk mengambil jatah makan siang.
"Sar.Ada lebih kan jatah makan siang nya?"
"Adalah. Tapi beneran lakikmu makan nasi bungkus beginian?" Tanya Sari ragu melihat menu makan siang mereka untuk di makan Toni.
Dinda juga menjadi ragu setelah sari bertanya seperti itu. "Aku juga nggak tahu Sar. Kami belum pernah makan beginian kalau diluar. Kalau aku mah malah suka. Gak ada sendok ya Sar?"
"Mana ada bege.. Susah kan kalau punya lakik kaya tiba ketemu makanan yang biasa kita makan jadi bingung?" Sari tertawa ngeledek Dinda.
Dinda berdecak sebal seraya meninggalkan Sari dengan dua bungkus nasi Padang di tangan nya.
"Kakak gak apa duduk di lantai?" Tanya Dinda pada Toni yang sedang sibuk pada ponsel nya.
Toni tersenyum pada Dinda. Kenyataan nya ia tidak pernah mau duduk di lantai sebelum ada Dinda di hidupnya. Duduk di lantai akan menjatuhkan harga diri sebagai pengusaha sukses. Itu yang ada di pikiran nya.
"It's okey. Jangan pikirkan itu. Mana makan siang kita?"
Toni tersenyum lagi. Hidup dengan Dinda benar-benar merubah segala nya dari diri Toni. Ia tidak marah. Ia sangat suka. Dinda mengajarkan ia hidup sederhana. Hanya satu yang ia tidak suka dari Dinda. Istrinya itu terlalu hemat.
"Tidak masalah. Ini saja tapi kakak tidak pernah makan tanpa sendok Din."
"Dinda suapin ya.."
Toni mengangguk sambil melihat Dinda sedang membuka satu bungkus nasi Padang itu.
"Aaa sayang." Dinda menyodorkan sesuap nasi.
"Enak. Kapan-kapan ajak kakak ke restoran nasi Padang ya.." Toni bicara sembari melihat ponsel. Ia masih sibuk dengan pembangunan hotel di Helvetia.
"Dinda akan ajak kak Toni ke warung nasi Padang nya karena Dinda belum pernah ketemu restoran nasi Padang disini."
Aksi Dinda menyuapi Toni menjadi tontonan. Bahkan banyak yang mendekat.
"So sweet banget sih Din.." celetuk salah satu dari mereka yang mendekat.
"Iya Din. Beruntung banget lo dapet suami Bule." Sambung yang lain
__ADS_1
Dinda hanya tersenyum. Sekali lagi ia tekankan pada hatinya. Ia lah yang beruntung di miliki suaminya.
"Gue yang beruntung di miliki suami gue." Dinda berkata jujur.
Toni beralih menatap Dinda saat mendengar kejujuran istrinya. "Kakak yang beruntung di miliki kamu."
Toni mencondongkan wajah untuk memberikan kecupan. Sontak Dinda menutupi mulut agar bukan tempat itu sebagai pelabuhan bibir nya.
Cup
Satu kecupan mendarat di kening Dinda dengan meninggalkan minyak makanan dari bibir Toni.
"Berminyak kak." Protes Dinda sembari mengelap kening.
Toni hanya terkekeh tanpa merasa bersalah.
"Kalian so sweet banget sih.. Malam nanti ajak suami kamu ya Din." Celetuk Yuni Mrs.Kepo.
"Ya.. Saya memang akan datang malam nanti." Jawab Toni.
Dinda kembali menyuapi Toni dengan telaten dan tidak lupa ia juga ikut makan dengan tangannya yang sama digunakan untuk menyuapi Toni.
"Habis.. Horee.." Ucap Dinda girang setelah itu ia menghisap jari-jemari tangan kanan karena ada sisa makanan. Jangan katakan jorok Karena itu termasuk Sunnah Rasul.
Dinda meraih tangan kanan Dinda menghisap jemari Dinda.
Tunggu.. Kenapa hisapan nya kayak... Astaga..
"Dasar Bule Gila mesum." Protes Dinda menarik tangan nya.
Dinda berlari ke kamar mandi. Sedangkan Toni terkekeh. Ia senang berhasil menjahili istrinya.
****
"Oohh jadi malam nanti mereka ada acara di Hotel milik Toni.." Ucap Merry saat menerima pesan dari orang suruhan nya.
Merry menyeringai saat mendapat kan ide untuk menjebak Toni agar ia bisa memiliki Toni dan hartanya.
"Akan ku jadikan kamu milikku dan menyingkirkan Dinda."
🌸
*Maaf ya lama Up. Karena beberapa hari ini jaringan tsel di daerah emak ada gangguan.
Penasaran apa yang akan di lakukan Merry cinta pertama Toni?
__ADS_1
Ikuti terus ya.. Jangan lupa like, komen, dan tambahkan menjadi favorit ya.
Terimakasih*..