PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 111


__ADS_3

Pagi yang cerah menyambut alam penuh kehangatan. Hari libur adalah hari yang sangat di nanti bagi para pekerja dan para pelajar.


Tapi tidak dengan Dinda. Hari ini adalah hari yang ia tunggu. Ia akan bertemu teman sekolah nya lagi. Walau ia tidak begitu akrab namun ini adalah hal yang ia rindukan. Masa sekolah.


Setelah sarapan Dinda duduk di teras depan dengan memangku baby El. Sekarang bayi itu sudah berumur empat bulan.


Baby El sudah mulai berceloteh dan tertawa. Ia juga sudah bisa telungkup dan berbalik menjadi terlentang.


Dinda selalu mengajak baby El bicara lemah lembut karena yang ia tahu anak seusia baby El mulai bisa menangkap dan membentuk kata-kata dari bahasa yang sering ia dengar. Ia ingin kelak baby El menjadi sosok pria lemah lembut.


Dinda juga menyediakan kursi goyang khusus untuk bayi (bouncer) agar mainan yang tergantung di atasnya dapat menjadi alat untuk mengembangkan koordinasi tangan dan matanya.


"Daddy Bule.." Panggil Dinda menirukan suara anak kecil sambil menggerakkan tangan baby El sebagai intrupsi agar Toni mendekat.


Toni berjalan mendekati Dinda dan baby El. Ia berlutut mensejajarkan dirinya pada baby El.


"Ada apa anak Daddy.." Toni mencium pipi tembem baby El berulang kali membuat baby El tertawa. Mungkin merasakan geli akibat bulu-bulu halus yang tumbuh di rahang Toni.


Dinda ikut tertawa saat baby El tertawa. Sangat menggemaskan.


"El.. Malam nanti mommy akan lupain kita. Mommy ada acara sendiri." Keluh Toni pada bayi yang belum mengerti hal seperti itu sama sekali.


Dinda melotot pada Toni. Ia tidak menyangka Toni seperti anak kecil mengaduh pada ibunya.


Lantas membuat Dinda mencubit lengan Toni yang tidak terasa sama sekali bagi Toni.


"Kak..Bisa nya mengaduh begitu. Padahal kakak akan datang juga ke acara Dinda. Tapi makasih loh.." Dinda tersenyum seraya mengelus pipi Toni dengan ibu jari.


"Terimakasih untuk apa?" Toni menatap Dinda lekat.


"Terimakasih udah sediain tempat tanpa harus membayar." Dinda membalas tatapan Toni.


"Apapun untuk mu sayang. Maafkan kesalahan kakak semalam. Kakak khilaf.. Kamu dan El adalah hidup kakak. Maaf." Sesal Toni sembari menyandarkan kepala di paha Toni hingga baby El dapat menarik rambut Toni.


"Udah lupakan ya suami ku.. Anggap aja yang kemarin itu ujian cinta kita. Dinda juga minta maaf masih banyak ke kurangan menjadi istri dan ibu untuk kalian."


"No baby.. Jangan pernah katakan itu. Kamu sempurna untuk kakak. Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu? Kamu sangat pandai melayani kakak. Sebelum kita olahraga panas, kamu sering pijat kakak,mengurus El bila malam. Siapkan seragam kakak, mandikan El. Itu adalah kesempurnaan di hidup kakak."


Dinda mengecup kening Toni cukup lama menyalurkan rasa cinta untuk suaminya.


"Terimakasih." Ucap Dinda.


Toni mengangguk kemudian menggendong baby El. "Ayo anak Daddy.. Kita jalan-jalan pagi."


"Jalan kemana kak?"


"Keliling saja sayang.. Ayo ikut juga." Ajak Toni.


"Bisa tunggu Dinda ganti baju nggak?"


"Tidak bisa sayang.. Sudah begitu saja tetap cantik kok." Puji Toni.


Dinda menghentak kaki nya. Bagaimana dikatakan cantik? Saat ini Dinda memakai kaus putih kebesaran dan hanya celana pendek sepaha saja. Sangat menurunkan kepercayaan diri pikir Dinda.


Sedangkan Toni mengenakan pakaian rumahan. Tetap menampilkan kegagahan nya di usia matang.


*****


"Sempurna." Ucap Sari saat selesai mempersiapkan acara Reuni malam nanti.


Ia di tunjuk sebagai panitia dari kelas XII IPS 4. Tiap kelas di pilih 2 orang untuk di jadikan panitia.


"Beneran kita gak bayar uang sewa gedung? Tanya salah satu teman sekelas Dinda dan Sari yang bernama Yuni.

__ADS_1


Sari mengangguk. "Bener lah. Bahkan kita gak perlu capek-capek dekor ini ruangan yang gede nya gak ketulungan."


"Tapi lo gak curiga apa? Hubungan nya pemilik hotel dengan sekolah kita apa coba?" Yuni mulai kepo.


Sari memutar bola mata jengah.


"Memang sama sekolah kita gak ada hubungan tapi salah satu temen sekelas kita itu binik pemilik hotel ini." Terang Sari.


Yuni terbelalak. "Serius lo? Emang ada yang mau sama cewek-cewek di kelas kita?"


Sari menoyor kepala Yuni seakan menghina. Padahal apa yang di katakan Yuni adalah kebenaran. Kelas terakhir. Kelas paling dan terpaling segala keburukan murid di Nusa Indah.


"Ya adalah.. Nanti malam lo tahu sendiri siapa orang nya." Sari tidak ingin memberi tahu siapa yang di maksud olehnya.


****


"Kak.. Ini kan jalan ke hotel." Ucap Dinda saat memperhatikan jalan sambil memangku baby El yang tertidur pulas.


"Ya." Jawab Toni singkat.


Dinda menjadi gusar. Bagaimana jika di lihat teman-teman nya? ia masih belum ingin di kenal sebagai istri pemilik Sanjaya Hotel.


"Tenanglah.. Kakak ada kerjaan sebentar. Kamu bisa ke kamar atau ke ballroom tempat acara malam nanti bergabung dengan teman-teman kamu." Toni mengerti jika Dinda belum siap sekarang. Tapi tidak untuk malam nanti.


Dinda hanya mengangguk. Ia teringat seseorang yang jauh disana. Kemudian ia melihat ke arah luar jendela.


Apakah kamu sudah melupakan aku Dim?


Apakah kamu sudah memiliki cinta yang baru?


Maaf aku tidak bisa bersama mu.


Kamu orang baik. Ku harap kamu bahagia.


Toni melihat Dinda sedang melamun lantas menggenggam tangan Dinda. Menautkan jari-jemari nya pada jari Dinda.


Dinda menggeleng. Ia tidak ingin ada perdebatan lagi hanya karena Dimas.


"Gak apa-apa kak.. Kakak lama nanti bertemu rekan bisnis kakak?"


"Kakak belum tahu. Kakak usahakan cepat ya.."


Dinda hanya mengangguk dan tersenyum saat punggung tangan nya di kecup berulang kali.


"Nanti saat di Ballroom usahakan El jangan sembarangan di gendong orang ya.. Pastikan ia berada di tempat yang steril dan ada hand sanitizer di tas perlengkapan El, gunakan itu untuk mereka yang ingin menyentuh El."


Perhatian Toni tentu membuat ia bahagia. Bagaimana tidak? Bukan hanya dirinya saja yang di perhatikan melainkan anaknya juga.


"Iya sayang."


Mobil Dinda dan Toni telah sampai di pelataran Hotel. Toni turun lebih dulu kemudian memutari mobil membuka pintu untuk Dinda.


"Sini biar El kakak yang gendong sayang." Ucap Toni seraya menjulurkan tangan pada Dinda.


Dinda menggeleng. " Biar Dinda aja kak.." jawab Dinda menerima uluran tangan Toni.


Dinda dan Toni berjalan beriringan. Baby El sudah bangun beberapa menit sebelum sampai di hotel.


"Ya sudah kakak antar ke ballroom."


Dinda mengangguk. Keduanya berjalan beriringan dengan tangan saling menggenggam dan El berada di gendongan depan (Soft Structure Carrier) Dinda.


Banyak pasang mata menatap kearah ketiganya dengan perasaan kepo. Begitu juga dengan pegawai Hotel. Para pegawai sudah mendengar jika pemilik Hotel sudah menikah dan sudah memiliki seorang anak namun belum ada yang tahu rupa dari istri pemilik Hotel.

__ADS_1


Terdengar bisik-bisik pegawai disana. Ada yang memuji dan ada yang menghina. Bukan kah itu hal wajar dalam pergosipan? Dinda hanya acuh untuk itu.


*Istri Tuan Toni cantik dan masih muda.


Tuan Toni suka daun muda gaes..


Paling cuma mau hartanya doang.


Secara mana ada yang mau sama yang jauh lebih tua kalau bukan karena harta*.


Toni menghentikan langkahnya otomatis Dinda juga ikut berhenti. Dan itu membuat Dinda mengerti jika Toni tersinggung atas ucapan pegawai nya sendiri.


"Biarkan saja mereka.." Ujar Dinda karena ia sudah cukup kebal atas hinaan orang atas masalalu nya.


"Tapi mereka menghina kamu sayang." Toni mulai tersulut emosi.


"Kak.. Sudah ayo antar kami saja." Dinda mencoba mengalihkan pikiran Toni.


Toni menatap lekat Dinda. Ia tidak menyangka Dinda bisa sesabar ini dalam menghadapi cemoohan orang padanya. Padahal, dia lah yang merebut Dinda. Bukan Dinda yang merayu nya.


Cup


Toni mengecup kening istrinya. Tentu itu membuat Dinda terpejam menikmati bibir dingin suaminya.


Saat sudah berada di depan Ballroom Dinda menghentikan langkah.


"Udah sampek sini aja. Kakak pergilah."


Toni mengerti jika Dinda masih belum ingin di ketahui jika Dinda adalah istri pemilik Hotel tempat acara reuni mereka.


Toni mengangguk. "Kakak jemput 1 jam lagi ya.."


"Iya..Jaga mata dan jaga hati ya suamiku.."


Cup


Dinda mengecup pipi kanan Toni.


"Ke kamar saja yuk sayang.." Ajak Toni sudah tidak sabar menunggu malam.


"Malam nanti ya..Udah sana deh.."


"Iya-iya kakak tunggu malam nanti. Kakak ke bawah ya."


Dinda tersenyum memandangi suami nya bergerak menjauh hingga tidak terlihat setelah memasuki lift.


Astaga.. Gimana penampilan ku sekarang? sumpah ini bukan Nyonya Toni Sanjaya.


Dinda memasuki Ballroom yang sudah di dekorasi dengan apik. Tampak panitia acara Reuni adalah teman-teman dan juga adik-adik kelas nya. Ada rasa takut jika Dimas termasuk panitia.


Dinda menyapu seluruh penjuru ruangan mencari sahabat nya.Sari. Dinda tersenyum saat menemukan Sari. Ia pun berjalan santai dengan baby El yang sedang menikmati ASI dari botol susu nya.


Dinda menepuk pundak sahabatnya.


"Sari."


Sari membalik badan dan terkejut.


"Dindaaaa..."



Penampilan Dinda saat pergi ke Hotel.

__ADS_1


🌸


🌸


__ADS_2