
Di rumah mewah berlantai dua tepatnya di ruang makan tampak seorang wanita memandangi makanan di meja dan sesekali melirik ke arah ruang tamu berharap seseorang datang.
Sudah pukul 9 malam Dinda masih menunggu Toni untuk makan malam bersama seperti biasa.Namun, orang yang di tunggu tidak kunjung tiba. Ia berkali-kali menghela nafas berharap apa yang di pikirkan tidak benar.
"Nyonya.. Sebaiknya nyonya makan lebih dulu. Sepertinya Tuan lembur malam ini." Usul bi Jubaidah.
"Tapi Dinda ingin makan malam bersama kak Toni Bi.." Ucap Dinda lirih.
"Pasti Tuan sudah makan malam di kantor Nyonya. Sebaiknya nyonya makan lebih dulu agar ASI untuk den El tidak terganggu."
Dinda hanya diam.Ia terus berharap Toni segera pulang karena ia juga sudah sangat lapar.
15 menit kemudian Toni baru tiba di rumah. Ia melihat Dinda sedang memandang makanan di atas meja. Ia berpikir pasti Dinda sedang menunggu nya. Sejurus kemudian ada rasa bersalah karena makan di luar bersama seseorang.
"Maaf kakak terlambat pulang." Ucap Toni menghampiri Dinda.
Dinda tersenyum dan mengangguk. "Nggak apa-apa kak. Kakak udah makan?"
"Maaf. Kakak sudah makan bersama teman tadi." Sesal Toni benar-benar merasa bersalah. Tapi ia juga menikmati makan malamnya bersama cinta pertamanya tadi.
Seketika raut wajah Dinda berubah sendu. Ada rasa kecewa di hatinya.
"Apa bersama dengan Buk Merry?" Sebenarnya ia tidak ingin menanyakan ini. Dengan pasti ia akan merasakan sakit di hatinya.
"Iya.Dia hanya teman." Jawab Toni gugup.
Dinda mencoba tersenyum. "Ya udah. Dinda pikir kakak belum makan. Biar Dinda panggil bi Jubaidah dulu untuk menyimpan makanan ini." Dinda beranjak pergi dengan hati kecewa.
Dinda kembali ke ruang makan di ikuti bi Jubaidah. "Bi. Tolong simpan makanan nya ya.. Kak Toni udah makan bi."
Bi Jubaidah merasa iba pada Dinda. Ia menjadi khawatir pada Dinda karena belum makan malam. "Baik Nyonya."
Bi Jubaidah segera menyimpan makanan sesuai di perintahkan Dinda.
"Kamu sudah makan malam?" Tanya Toni melihat Dinda yang murung.
"Udah."Jawab Dinda singkat seraya melangkah kan kaki ke kamar baby El.
****
Beberapa jam lalu setelah Merry meninggalkan Toni di kafe. Ia melamun seorang diri. Cinta pertamanya telah kembali. Ada rasa bahagia di hatinya. Orang yang selama ini ia tunggu hingga terpaksa bertunangan dengan almarhum tunangan nya.Siska.
FLASHBACK ON
"Kenapa harus putus?" Tanya Toni pada Merry.
"Karena kamu terlalu dekat dengan Mariska." Jawab Merry.
"Dia teman ku. Dan kami tidak memiliki hubungan apapun. Tolong jangan tinggalkan aku. Aku sayang kamu."
"Tidak. Kita harus putus." Merry meninggalkan Toni yang diam terpaku.
Semenjak itulah Toni semakin menggila dengan dunia bebas nya. Hingga 2 tahun kemudian Toni bertunangan dengan Mariska karena paksaan dari Mama Rahma dan Bunda Mariska yang sudah berteman lama.
__ADS_1
Tapi hubungan itu tidak merubah Toni pada dunia bebasnya. Ia melakukan itu semata agar bisa melupakan Merry.
FLASHBACK OFF
Toni merenungi apa yang baru terjadi. Ia meyakini hati nya telah goyah. Masih ada nama Merry di hatinya walau Dinda lebih banyak menguasai.
Hingga saat ia pulang dari kantor, Merry sudah menunggunya di Lobby.
"Hai." Sapa Merry saat melihat Toni.
Toni hanya tersenyum tanpa membalas sapaan dari Merry. Ia harus menjaga sikap saat berada di kantor nya sendiri.
"Temani aku yuk Ton, sekalian makan malam. Aku juga belum hafal daerah kota Medan."
"Ya sudah."
Ke duanya melangkah ke parkiran dengan Merry menggandeng tangan Toni dengan manja. Pembicaraan Toni dan Merry tak luput dari pandangan dua resepsionis di kantor milik Toni.
"Kasihan Dinda ya Na." Ucap Berta memandangi mobil Toni melesat keluar perusahaan.
Ina mengangguk. "Sepertinya orang ini dekat dengan Tuan Toni."
"Bener yang kamu bilang."
*****
Dinda : Bang.. Dinda takut.
Rian : Jangan takut. Besok Abang sampai disana ya. Abang akan kasih tahu semuanya. Jangan menangis lagi.
Rian : Jangan begitu, ingat El sayang. Tenang lah jangan menangis lagi. Peluk jauh dari Abang.
Dinda : Mana ada begitu.
Rian : Ada. Sudah jangan menangis. Sekarang tidur ya.
Dinda : Besok Dinda tunggu di taman ya bang. Dinda mau tidur dulu.
Rian : Iya.
"Bagaimana bisa Toni melakukan itu pada Dinda? Apa dia bo*doh di tinggal hanya alasan gak masuk akal itu dan sekarang ingin mengganggu kebahagiaan Dinda?"
"Aku bersumpah akan merebut Dinda jika kau berani menyakiti Dinda Ton. Aku tidak akan memikirkan dari mana aku berasal dan siapa yang menolong ku."
Rian sangat marah setelah Dinda siang tadi menghubunginya bertanya siapa Merry di kehidupan Toni. Ada rasa khawatir menghinggapi hatinya memikirkan Dinda.
****
Setelah menutup telepon Dinda keluar dari kamar baby El menuju kamar utama. Ia membuka pintu tampak Toni sedang berbicara di telepon dengan laptop di pangkuan nya.
Dinda masih berdiri memperhatikan Toni yang bercengkrama di ponselnya. Tampak sangat akrab dan ia meyakini jika yang berbicara dengan Toni adalah Merry.Dosen nya.
Dinda menghela nafas mencoba mengabaikan perasaan nya. Ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Dinda mencoba menormalkan hatinya. Ia ingin membuang pikiran negatif pada dirinya. Ia terus meyakini jika Merry adalah masalalu Toni.
Dinda langsung merebahkan tubuhnya di sisi sebelah Toni yang masih sibuk dengan laptop di pangkuan nya.
"Udah malam kak, istirahat lah." Ucap Dinda memecah keheningan antara keduanya.
"Sebentar lagi. Maaf tidak jadi menemani mu ke dokter tadi siang. Ada urusan mendadak."
"Dinda gak jadi ke dokter kok." Jawab Dinda jujur karena ia memang tidak jadi ke dokter.
"Kenapa begitu?"
"Karena Dinda sudah tahu jawaban nya sebelum bertanya ke dokter."
Toni mengerutkan kening bingung dengan perkataan Dinda.
"Maksud kamu apa Din?"
"Nggak. Udah ya Dinda mau tidur."
Ia sudah menemukan jawaban nya. Ia tidak ingin terluka kembali. Baru bertemu saja sudah banyak berubah. Tidak ada ucapan selamat malam dan kecupan.
Dinda tersenyum miring.
*Miris.
Hati.. Bahagialah di atas karma yang sedang menemani mu.
Benar!!! TIDAK ADA KEBAHAGIAAN YANG HAKIKI JIKA DI AWALI DENGAN SEBUAH KESALAHAN.
Waktu terus berjalan, namun hati selalu menetap di awal perjalanan. Ia masih belum terima keadaan ini.
Ia masih berharap jika seandainya...
Seandainya.. dan seandainya...
Seandainya ia tidak terlena akan janji manis laki-laki yang sudah merenggut segalanya.
Seandainya ia tidak menerima lamaran mantan suaminya..
Seandainya ia tidak terjerumus dengan cinta terlarang nya...
Seandainya ia menerima orang yang jauh disana..
Seandainya ia tidak menikah dengan cinta terlarang nya..
Seandainya ia tidak jatuh cinta pada cinta terlarang nya yang kini menjadi suami.
Semua tidak akan seperti ini.
Hati.. Kuatlah !!!
🌸
__ADS_1
🌸
TabC*