
"Kak."Pekik Dinda saat merasakan ada yang mengeras di bawah pan tat nya saat ini.
Dinda menatap lekat Toni.Mata sayup di penuhi gairah itu juga menatap Dinda.
Dinda hanya bisa menggelengkan kepala tidak habis pikir kenapa bisa Toni bergairah di saat tidak tepat seperti ini.
"Kak turunkan Dinda.."Dinda mulai tidak nyaman saat senjata pusaka Toni benar-benar mengeras dan menonjol.
"Kakak gak tahan Din.."Suara berat itu membisikkan ke telinga Dinda hingga nafas memburu itu mampu menciptakan rasa geli di telinga Dinda.
"Bang Zaki,tolong antarkan kami ke penginapan dekat sini bisa?"Tanya Dinda.
"Gila lo pada.. siang-siang bolong uda mesum." Gerutu Zaki.
"Tolong ngerti dong.. Maaf ya bang,makan siang kita tunda gak papa kan?"sesal Dinda.
"iya gak papa,gue juga tahu gimana rasanya nahan begitu.Sakit nya sampek ubun-ubun."
"Iihh mesum."
Zaki memutar balik mobil menuju hotel terdekat untuk mengantarkan sepasang manusia sedang dilanda naf su surga dunia.
Beberapa saat kemudian mereka bertiga sampai di depan hotel.
"Terimakasih,kamu bisa bawa mobil saya ke kampus.Biar kami naik taxi nanti."
"Baiklah,selamat bersenang-senang."
Toni mengangguk.Kemudian menggenggam tangan Dinda.
"Kak,Dinda gak mau loh."Tolak Dinda.
"Iya hari ini kakak gak akan ngelakuin hal aneh kok."Tampak seringai misterius dari Toni.
"Ingat syarat dari Dinda loh kak.."Dinda memberi peringatan pada Toni.
"Iya sayang..hari ini kakak gak akan aneh-aneh." Perkataan Toni sangat ambigu saat ini.
Toni dan Dinda menuju kamar di lantai dua setelah check-in pada pihak resepsionis di lantai dasar.
Setelah sampai di dalam kamar,Toni kembali membungkam bibir Dinda dengan lembut,rasa yang pernah ada kembali lagi.
Maafkan aku Dim,maaf telah berkhianat.Maafkan aku suami ku..untuk kali ini aku mengimbangi kesalahan mu.Maaf.
Dinda mendongak memberi akses bebas agar Toni leluasa berkuasa di leher jenjang Dinda.
"Kak..jangan sampai ada tanda di leher Dinda." Ucap Dinda dengan suara tertahan agar tidak mengeluarkan *******.
__ADS_1
Toni mengerti jika Dinda juga sudah terpengaruh oleh hasrat gairah.
"Mau di lanjuti atau gimana sayang?"Toni tersenyum,ia juga tidak berniat melakukannya hari ini.
"Cukup kak,Dinda harus bicara dengan kakak."
"Sebentar,kakak ke kamar mandi."
Dinda mengangguk lantas ia duduk di tepi tempat tidur.
Bagaimana ini?Kenapa hatiku bimbang seperti ini?Kenapa hatiku?Benarkah aku mencintai Dimas?Tapi mengapa saat aku bersama dengan kak Toni tidak ada dalam pikiran ku Dimas terlintas?Sebenarnya siapa yang kamu cinta Dinda? mengapa kamu semurahan ini?
Tiga puluh menit kemudian tampak Toni keluar dari kamar mandi dengan wajah lebih fresh.
"Sayang.."Panggil Toni dengan senyuman.
Dinda tersenyum dipaksakan.
"Uda siap kan?Ayo kita cari gaun kak..Tema pesta bang Arga untuk perempuan kebaya.Dan Dinda belum memiliki kebaya.
"Sudah kakak siapkan semua di apartemen Din,jangan pikirkan itu.Tadi kamu bilang ingin bicara.Maka bicara lah sekarang."Toni duduk sebelah Dinda saat ini.
Mendadak Dinda menjadi gugup berdekatan dengan Toni. Aku kenapa sih sebenarnya.
"Kenapa diam Din?"Tanya Toni karena sudah cukup lama Dinda terdiam.
Tampak Toni menghempaskan nafas kasar.Ia sedikit frustasi dengan penolakan Dinda.
"Apa kamu merasa jika kamu tidak pantas dengan kakak?"
Dinda hanya mengangguk karena ia merasa tak pantas.
"Lalu siapa yang pantas dengan mu Din? Suami mu?"Toni mulai mengintimidasi Dinda dengan pertanyaan sulit untuk Dinda jawab.
"Tentu saja tidak,dari awal Dinda sudah membuka hati Dinda untuk bang Arga tapi nyatanya tetap sama ditambah sudah ada mbak Mira,tentu Dinda lebih memilih pergi.Kakak pasti tahu itu."
"Terus siapa?Siapa yang pantas untuk mu Dinda?Apakah itu Dimas?"Toni meninggikan suaranya tatkala mengingat laki-laki yang sudah berhasil mencuri hati Dinda.
Dinda terdiam,ia meresapi perasaan nya.Apakah benar Dimas yang pantas untuk dia? Bukan,bukan itu yang di pikirkan Dinda Namun,pantaskah Dinda untuk Dimas? Dimas adalah laki-laki tampan,Di umur masih muda sudah memiliki usaha sendiri,anak orang kaya,tinggal di luar negeri.Pasti yang menilai Dimas adalah sosok laki-laki WOW.
Sedangkan dirinya?Hamil di luar nikah,terlahir tidak sebanding dengan Dimas.
Kenapa hatiku ragu Dim?Aku tak tahu padamu namun sangat banyak hal-hal yang membuat aku tak pantas untukmu,kita tak sebanding.
Dinda menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Dinda yang tak pantas untuk Dimas kak.."Dinda menunduk sedih.
__ADS_1
"Dan Dinda juga tak pantas untuk kakak."Sambung Dinda lagi mendongak menatap Toni yang sedang menatapnya juga.
"Dengarkan kakak,jangan pernah katakan itu oke..Apa kamu lupa mama menerima mu?bahkan kita sudah mengatakan kita sudah menikah bagaimana bisa kamu tak pantas untuk kakak?"
"Iihh itu mah kakak yang ngaku-ngaku."Dinda berdecak kesal dengan Toni mengingat pagi tadi.
Toni terkekeh melihat wajah masam Dinda,entah mengapa dia suka melihat Dinda saat kesal,merengek,wajah cemberut saat ngambek,apalagi saat Dinda menampakkan gigi putih dan mata sipit itu ketika tersenyum.
"Kita akan menikah sebelum acara suami kamu Din."Ucap Toni dengan serius.
Dinda terperanjat dan melongo mendengar penuturan Toni saat ini.
Menikah?punya suami simpanan?Astaga..
"Ka-kakak serius?"Tanya Dinda tiba-tiba menjadi gagap karena terkejutnya.
"Ya,dan mereka juga sudah di apartemen."
"Kak..Bapak Dinda masih ada loh.."Ia tak habis pikir bagaimana ia menikah jika sang ayah tidak ada.
"Bapak tugas di Kalimantan kan Din? Tapi kakak sudah mendapat ijin untuk menikahi mu."
"Bagaimana bisa?" Lagi-lagi Dinda terkejut atas ulah Toni.
Orang tua Dinda sudah pindah ke Kalimantan karena Bapak Dinda di pindah tugaskan disana di akhir tugas bapak Dinda sebelum pensiun.Adik-adik Dinda tinggal di asrama jadi orang tua Dinda tidak perlu khawatir.
"Sebenarnya Bapak sudah tahu bagaimana rumah tangga kamu Din,jadi saat kamu liburan,kakak pergi ke Kalimantan menemui orang tua kamu.Disana lah kakak tahu kamu pergi kemana karena kakak rindu."Toni merayu di akhir kalimat nya.
blush..
Dinda malu karena di rayu Toni,rona merah tercetak jelas di wajah Dinda.
Sampai segitu nya kah kak Toni hanya rindu dengan ku sampai pergi menemui Bapak Ibu? Padahal aku sendiri belum pernah datangi Bapak Ibu di Kalimantan.Ahh aku harus kesana secepatnya.
"Hanya karena rindu kakak datang ke Kalimantan?"
"Awal nya seperti itu."
"Awalnya?Terus?"Dinda mulai kepo.
"Awalnya hanya ingin menemuimu,Tapi setelah Bapak bertanya siapa kakak, ya kakak jawab pengawal kamu.Dan Bapak mulai bertanya-tanya masalah keluarga kamu dan suami mu.Bukan bertanya tapi lebih tepat memperjelas apa yang bapak ketahui." Toni menjelaskan dengan lembut.
"Itu berarti...
🌸
🌸
__ADS_1
Selamat beraktifitas semua