PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 133


__ADS_3

"Hei.. Apa yang kau lakukan pada istriku Dinda?" teriak Zaki pada Dinda sedang sibuk.


Dinda menoleh ke sumber suara yang berteriak itu. Ia menatap tajam pada Zaki karena sudah dibuat terkejut.


"Kau diamlah. Jangan berisik. Temani saja anak-anak." seru Dinda kembali sibuk dengan aktivitas nya.


"Kau menyuruh ku Din?"


Dinda berdecak sebal menghentikan aktivitas nya. "Tolong bang. Dinda minta tolong jagakan anak-anak kami sebentar. Kami sedang sibuk. Iya kan Mbak?"


Maya mengangguk menurut saja. Hingga sekarang ia masih ada rasa segan pada Dinda yang notabene adalah istri majikannya.


"Hahh.. Baiklah. Cepatlah kita sudah terlambat."


"Iya.. Ini hampir selesai."


Saat ini Dinda sedang sibuk menghias wajah Maya dengan makeup mahal nya. Selama ini Maya selalu menolak untuk berdandan. Tetapi kali ini Dinda memaksa karena mereka akan pergi ke acara pesta.


Ya. Pesta pernikahan Tara dan Hartini. Ada rasa lega saat mendengar Tara menikah. Itu berarti satu orang yang menaruh hati padanya berkurang satu.


Semoga bahagia kak Tara.


Hanya satu orang lagi sampai saat ini masih mencintainya.Rian. Dan ia benar-benar berharap Rian akan menemukan cinta sejatinya.


Bagaimana dengan Dimas? Tentu dia merasa sedikit kecewa. Kebohongan Dimas masih merekat di hatinya. Bukan sedih tapi dia merasa bo doh pada dirinya sendiri.


Begitu mudahnya dia katanya "Aku akan menerimamu walau aku belum mencintaimu. Pasti aku dengan mudah jatuh cinta padamu."


Sangat bo doh bukan?


Jika di ingat kembali, dari semua pria yang pernah di hidupnya hanya Toni yang selalu ada, selalu setia, selalu mencintai nya.


Maafin Dinda.. Setelah ini Dinda tidak akan lagi kabur. Saat kita bertemu nanti, Dinda akan menerima konsekuensinya kak. Dinda akan terima jika kakak meninggalkan Dinda.


Mereka sudah berada di salah satu hotel Jakarta. Tapi bukan di hotel milik keluarga Sanjaya. Dinda sengaja agar Toni tidak menemukan mereka lebih dulu.


"Sudah selesai mbak.. Lihat mbak cantik sekali.." puji Dinda.


Maya melihat wajahnya sendiri di depan cermin. Ada senyum di bibirnya.


"Kau sangat pandai menghias wajah mbak Din."


"Sudah ayo kita berangkat. Kita benar-benar terlambat mbak.."


****


"Aku malas datang ke acara. Kau saja Rian." ucap Toni pada Rian sengaja datang untuk menjemput nya.


"qKau mau Mama Rahma lebih marah lagi padamu?"

__ADS_1


Toni menggeleng. "Aku bersiap dulu. Kau pergi lah."


Selama Toni bersiap-siap dengan malas, hatinya kembali nyeri mengingat Dinda dan baby El tidak ada di samping nya.


"Kakak rindu."


Toni tersadar. Ada kesalahan di pernikahan nya. Perayaan pernikahan ia dan Dinda. Selama ini ia tidak pernah perduli tentang perayaan.


Apa kamu ingin kita rayakan juga sayang? pulang lah. Ini sudah sangat lama.


Dua puluh menit kemudian Toni sudah berada di Ballroom hotel tanpa semangat. Harus berpura-pura baik-baik saja di depan kolega-kolega perusahaan.


Sangat malas !


Ia tidak berani mendekati pelaminan dimana ada mama Rahma, Tara, dan istrinya. Terlalu malas untuk mendengar ocehan sang Mama bertanya kemana menantu manja nan cantik itu.


"Hai Ton." sapa seorang wanita berpakaian seksi kekurangan bahan.


Bagaimana tidak dikatakan kekurangan bahan? gaun yang ketat sangat kontras dengan lekuk tubuhnya. Dengan lengan panjang sebelah kanan dan lengan kiri hingga pundak terekspos sempurna.


Toni tersenyum di paksakan. "Hello Merr."


Lama mereka berbincang. Toni sadar jika Merry sedang curi-curi kesempatan untuk mendekatinya. Dan yang membuat ia risih adalah posisi Merry terlalu dekat pada Toni.


*****


Hanya Maya yang kurang nyaman karena ini bukanlah lingkungan hidupnya.


"Tenang aja mbak. Selalu berada di dekat ku kalau gak nyaman ya." ucap Dinda menenangkan Maya seraya menggandeng baby El yang sudah lancar berjalan.


Cara bicara Baby El juga sudah mulai bisa di mengerti walau belum semuanya. Ia bisa menyebutkan Mommy dan Daddy. Ayah dan Bunda untuk panggilan Zaki dan Maya.


Saat akan memasuki pintu Ballroom seseorang memanggil nama Dinda.


"Dindaa.."


Mereka menoleh ke sumber suara.


"Loh Pak bos disini juga?" tanya Dinda pada orang yang di panggilnya pak bos adalah Andi pemilik kafe tempat Dinda bekerja.


"Iya Din, sepupu ku menikah dengan pemilik hotel ini. Kamu ngapain disini?"


"Aku.. Aku di undang nyanyi" kata Dinda berbohong. Ia berpikir masa harus ngaku istri adik pengantin pria? padahal setahun ini Dinda tidak pernah terlihat dengan lawan jenis.


"Oh.. Bagus dong.. Mau jalan bareng?"


Dinda mengangguk.


"Din. Tolong jagain Zima ya.. Mbak kebelet." mohon Maya sembari memberikan Zima di tangan Dinda.

__ADS_1


"Iya. Jangan lama-lama. Dinda tunggu di dalam ya bang mbak.."


Kini Dinda berjalan beriringan dengan Andi. Dinda berada di sisi kiri Andi dengan menggendong baby Zima dan baby El berada di gendongan Andi.


Jika dilihat mereka seperti sepasang suami istri serasi. Banyak mata menatap mereka namun mereka tidak ambil pusing.


Sebenarnya sedari masuk mata Dinda sudah celingukanencari keberadaan suaminya. Entah mengapa jantung nya berdetak lebih cepat dan tangan kaki nya berasa sangat dingin saking gugupnya.


Di tengah perjalanan menuju pelaminan mereka di kejutkan oleh suara baby El.


"Daddy.."


"Daddy......" teriak baby El lagi meminta di turunkan.


Baby El berjalan khas balita seusia 1,8 tahun menghampiri Toni.


Dinda terpaku saat baby El memanggil Daddy. Itu artinya baby El melihat Toni. Selama Dinda berpisah, bukan berarti Dinda membiarkan baby El tidak kenal siapa Daddy nya.


Dinda sering memperlihatkan foto Toni dan memberi tahu jika yang di foto itu adalah Daddy.


"Jika suatu saat El melihat Daddy panggil saja dengan suara yang kuat ya El? bila perlu El lari peluk ayah." titah Dinda dan di anggukkan oleh baby El.


*****


Toni yang masih berbicara pada Merry pun seketika jantung nya berdetak lebih kencang saat ada anak kecil tampan memeluk kaki kanan nya.


Di lihat mata anak itu persis mata orang yang di rindukan nya.


"Nama kamu siapa?" tanya Toni setelah berjongkok mensejajarkan tinggi pada anak keci itu.


"E Dad." jawab baby El celat.


"E? nama kamu E?"


Baby El menggeleng karena Toni salah menyebut namanya.


"E Dad E."


Toni merasa gemas pada anak kecil itu. Ia benar-benar tidak tahu jika anak kecil itu ada baby El.


"El..."


🌸


*Hai semua..


Semoga kita dalam lindungan Allah setiap langkah kita.


Cuma mau kasih tahu.. Dinda dan Toni sebentar lagi tamat. Jadi mohon dukungan di novel aku yang satu lagi ya*...

__ADS_1


__ADS_2