PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
episode 19


__ADS_3

Sudah tiga hari Dinda dirawat oleh suaminya.Arga.


Sudah tiga hari pula ia tidak bertemu dengan pengawal nya.


Dinda sangat khawatir dengan keadaan pengawal nya.


Ingin sekali ia bertemu dengan pengawalnya.


Apa ini di namakan rindu?


Apa perasaan nya sudah mulai mencintai?


Apa hatinya sudah mulai terisi nama pria itu?


Ataukah hanya merasa sepi karena sudah terbiasa akan hadirnya?


Jikapun hanya merasa sepi, bukankah itu akan membuat hati pria itu senang? ia berhasil menghadirkan rindu?


Tidakkah menyadari bahwa rasa sepi itu menimbulkan rasa rindu?


Tak sabar menunggu pria itu datang pagi ini dengan perhatian nya lagi, kepedulian nya lagi, ke lemah lembutan nya lagi.


Dan... ah!!! apakah boleh merindukan belaian memabukkan nya itu lagi?


Selesai sarapan Dinda mengikuti Suaminya kedepan rumah untuk mengantar keberangkatan suaminya bekerja.


Aril dan Toni sudah berada di depan rumah majikan nya.


Arga mengecup kening Dinda dan mengelus perut Dinda yang sudah terlihat membuncit.


Dinda hanya diam dan senyum terpaksa diperlakukan manis seperti itu.


Toni dan Aril melihat adegan manis itu segera memalingkan wajah ke sembarang arah.


Mereka tak rela wanita yang di cinta nya itu di sentuh orang lain.


"Hati-hati bang."


"Kamu juga hati-hati, jangan kelelahan lagi ya.."


"Iyaa.."


Arga menuju mobil nya. kedua bawahan nya menunduk hormat. Dan Aril segera membuka pintu mobil kemudian melaju ke jalan raya.


Toni memperhatikan Dinda yang sedang melihat mobil suaminya melaju.


Ck..!! Toni berdecak kagum melihat tampilan Dinda sangat cantik di mata nya.


Saat ini Dinda hanya memakai gaun berbahan rajut panjang dibawah lutut dan berlengan panjang berwarna merah maroon.


Walau perut sudah terlihat membuncit tetap tampak cantik.


Dinda mendekat kearah Toni.


Deg-deg..


Jantung Toni selalu saja berdetak lebih cepat bila saat bersama Dinda.


Padahal ia berniat mulai hari ini akan melupakan perasaan nya pada wanita di depan nya ini.

__ADS_1


"Kak.." Panggil Dinda tersenyum dengan tatapan rindu.


Melihat senyuman itu ia kembali mengalihkan pandangan ke arah lain. Ia takut ragu akan keputusan nya. ia takut goyah akan keputusan nya.


Toni menundukkan tanda hormat. Ia akan bersikap seformal mungkin pada Dinda.


"Pagi Non." sapa Toni dengan wajah datar seperti saat hari pertama mereka bertemu.


Dinda menyadari perubahan Toni hanya diam saja. Ia mengikuti perlakuan Toni terhadapnya.


Toni juga membukakan Pintu mobil di belakang kemudi.


Biasanya ia duduk disamping kemudi Toni.


Di dalam mobil keduanya diam merenungi pemikiran mereka masing-masing.


Sesak didalam dada keduanya dengan kelakuan masing-masing.


Tak ingin seperti ini, namun harus seperti ini.


Pandangan Dinda terarah keluar jendela. Ia tidak menangis, namun dada nya sangat sesak diperlakukan seperti ini oleh pria yang sedang mengemudi di depan nya.


Aku mengira ia merindukan aku seperti aku merindukannya.


ternyata benar, perasaan untukku hanya sesaat dan pelampiasan hasrat saja.


Syukurlah, seenggaknya perasaan ku belum jauh untuknya.


Toni melihat Dinda menatap keluar jendela melalui kaca spion dalam mobil.


Maafkan aku Din, kita seharusnya seperti ini. maafkan aku telah memaksakan kehendak ku.


sekarang aku membebaskanmu.


Dinda sudah turun dari mobil, sebelum melangkah ia berbicara membuat hati Toni kalut dan sedih mendengar kalimat formal yang tak pernah diucapkan oleh Dinda.


"Kamu pulanglah. Mulai sekarang kamu hanya mengantar dan menjemput ku saja tidak perlu harus mengikuti ku." Dinda menggigit bibir bawahnya, entah mengapa hatinya ikut sakit mengucapkan kalimat itu.


"Saya hanya menjalankan perintah nona."jawab Toni tegas tetapi di hatinya seperti ditusuk-tusuk pisau menyayatkan hati.


"Turuti saja atau tidak usah mengantar dan menjemput ku." Dinda melangkah masuk ke gedung kampus dengan mata berkaca-kaca.


Baiklah jika seperti ini yang kamu inginkan kak, aku juga akan menjauhi mu.


Dinda masuk ke kelas tanpa bicara. ia tak pernah sesedih ini.


Apakah pria itu juga merasakan hal yang sama?


jawaban nya adalah YA.


Cemburu dan kesalahpahaman akhirnya membuat keduanya berjauhan.


Toni tak beranjak dari mobilnya.


Ia hanya duduk di belakang kemudi menunggu wanita nya.


"Aarrgghh... kenapa sakit sekali seperti ini." Toni memukul stir mobil sebagai pelampiasan amarah dalam dirinya.


Apakah aku bisa seperti ini? kenapa kamu tak mencoba untuk berbicara padaku Din?

__ADS_1


Belum satu hari kita seperti ini. bisakah selamanya menjauh dari mu? aku takkan mungkin sanggup.


Sudah waktunya Dinda pulang kuliah, ia berjalan menuju gerbang kampus.


Dari jarak cukup jauh, ia sudah melihat pria berpakaian serba hitam itu sedang bersandar pada mobil menatap ponsel ditangannya.


Hingga Dinda berada di depan nya ia belum menyadari kehadiran Dinda.


Dinda tidak langsung menegur, Di pandang wajah pria di depan nya.


Sangat jelas terlihat ada kesedihan disana. Toni terkejut saat Dinda menutup pintu mobil dengan keras.


Mereka kembali saling mendiamkan.


Hanya suara deru mobil yang terdengar.


Memang harus seperti ini kan? bolehkah menyesal menyia-nyiakan perasaan mu selama ini? kenapa kisah cinta ku tak pernah indah? bolehkah aku menyesal sekarang? menyesal terhadap kebodohan ku terbuai cinta yang salah dahulu pada masalalu ku?


Ku mohon jangan menangis sekarang, tetaplah kuat, jangan cengeng lagi oke.. kamu akan menjadi seorang ibu, pasti kamu bisa melewati semua ini. jalani semua nya. tetaplah tersenyum cantik...


"Antar saya pulang. Saya akan menunggu suami saya dirumah."


"Baik Non."


Keduanya kembali merasa sesak di dada. Seperti inikah cinta tak dapat menyatu?


Bahkan ini lebih sakit saat di tinggal menikah oleh mantan kekasih nya.


Saat mobil yang ditumpangi nya itu sudah di depan pintu utama, Dinda langsung keluar tanpa menunggu pintu di buka oleh pengawal nya. Toni keluar mobil dan mengikuti Dinda masuk kedalam rumah.


Sebelum para pelayan menyapa, Dinda sudah mengatakan sesuatu.


"Siapkan makan siang, aku lapar."Titah Dinda sangat ketus.


Para pelayan saling menatap, mereka heran karena baru kali pertama istri tuan nya berbicara dengan ketus seperti itu.


Biasa istri tuan nya itu selalu ramah dan sering berkata 'Tolong' jika meminta atau memerintah kepada mereka.


Dinda duduk di kursi meja makan.


Makanan sudah tersaji di atas meja. Sebenarnya ia tak berselera, namun mengingat ada bayi di rahim nya ia harus memaksakan untuk memakan nya.


Toni masih setia berdiri di belakang Dinda, ia tidak lagi menawarkan duduk pada pengawal nya itu.


Pelayan yang melihat itu pun menjadi terheran. Biasa istri majikan nya itu pasti memaksa pengawalnya menemani makan.


"Non Dinda kenapa ya Pak Liyan?" tanya salah satu pelayan wanita bernama Tutik itu.


"Saya tidak tahu Tut."


"Apakah mereka berdua sedang bertengkar?" tanya Tutik lagi.


"Suusstt sudah Tut, itu bukan urusan kita."


"Ya anda benar Pak Liyan."


🌸


🌸

__ADS_1


🌸


TBC


__ADS_2