PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 121


__ADS_3

Ia mendapat ide jahil bin mesum untuk membuat istrinya kesal.


Toni : Di kantor saja sayang.. Kakak merindukan mu.


Mine❤️ : Jangan gila kak.. mesum siang bolong. Malu sama umur.


Toni berdecak sebal saat di singgung tentang umur oleh Dinda. Selalu saja dia kalah jika Dinda sudah menyebut soal umur.


Semua kelakuan Toni di ruang meeting di saksikan oleh mereka. Dan sekarang tiba-tiba Toni berdecak dengan wajah sebal seketika membuat mereka takut kembali.


Mine❤️ calling...


Dengan wajah kesal Toni mendial tombol hijau pada ponselnya itu.


"Hem.."


Mine❤️: Jangan marah. Kakak tetap tampan walau umur udah banyak.


"Kakak masih 30 tahun kalau kamu lupa." kata Toni masih tidak terima di katakan tua secara tidak langsung oleh Dinda.


Para pendengar di ruang meeting sontak mengulum bibir menahan tawa atas apa yang di katakan Toni.


Toni baru menyadari jika dirinya menjadi bahan tertawaan di ruang meeting. Ia pun menatap satu persatu dengan tatapan tajam.


Mine❤️: 31 beberapa hari lagi kak kalau kakak lupa. Tapi Dinda sayang dan cinta.


Senyuman Toni mengembang mendengar pengakuan cinta dari Dinda. Hatinya menghangat mendengar suara Dinda.


"I love you too. love you so much."


Mine❤️: Dinda tahu itu. Udah ya.. Dinda baru sampai lobby. Dinda tutup ya.


Toni memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celana. Kemudian menghela nafas setelah menatap satu persatu orang-orang yang ada di ruang meeting.


"Kenapa kalian masih disini? Ingin menguping pembicaraan saya dengan istri saya?" tanya Toni mengintimidasi semuanya.


Asisten Jo dengan yang lain nya gelagapan atas pertanyaan Toni.


"Maaf Tuan. Anda belum menyelesaikan meeting nya." ucap Asisten Jo dengan sopan.


"Kau kan bisa menyelesaikan nya." suara Toni naik satu oktaf.


"Tapi tuan, kami tidak ingin mengganggu waktu tuan sedang telponan dengan Nyonya."

__ADS_1


"Kau kan bisa merintahkan mereka keluar dari sini. Kenapa kau menjadi bo doh Jo?" Emosi Toni kembali menghampiri. Ia marah karena malu perbincangan dengan Dinda membahas soal umur yang sudah banyak.


****


Di lobby perusahaan milik keluarga Sanjaya itu Dinda berjalan tersenyum ramah dan menenteng paper bag berisikan makan siang untuknya dan juga Toni.


"Siang mbak Ina dan mbak Berta." Sapa Dinda ramah.


"Eh siang Nyonya."


Dinda menghentikan langkah. "Kok Nyonya lagi sih.." protes Dinda.


"Ada tuan di kantor Din." Ina merasa tidak enak.


"Tapi kan bos kalian sedang meeting mbak.. gak bakal kedengaran juga."


"Iya tapi tuan Toni marah-marah dari pagi Din. Ada masalah di hotel. Kenak kasus hotel kita." terang Berta.


Dinda terperanjat mendengar keterangan dari Berta. Masalah? Kasus?


"Maksud mbak gimana? aku gak ngerti."


Kemudian Ina dan Berta menceritakan kasus yang menimpa hotel milik Toni. Ada rasa iba untuk Toni. Ia berpikir bagaimana bisa Toni tadi berbicara seakan tidak ada masalah?


"Tapi belum sampai ke media kan mbak?" tanya Dinda karena takut nama baik keluarga suaminya menjadi buruk di mata masyarakat.


"Aahh sepertinya Dinda harus jadi pawang lagi di ruang meeting ini mbak." canda Dinda. Sontak ketiganya tertawa.


Saat Dinda berjalan menuju ruang meeting setelah dari ruang kerja Toni untuk meletakkan paper bag yang ia bawa, Dinda melihat seorang OB berdiri tepat di depan pintu ruang meeting dengan gelas-gelas kopi berbaris di atas nampan yang dibawanya. Ia melihat jika seorang OB itu ragu untuk mengetuk pintu.


"Mas. Kenapa belum ketuk pintu juga?"


"Anu mbak.. Saya tidak berani. Big bos marah-marah." kata OB tersebut karena mendengar suara Toni berteriak-teriak di dalam ruangan. Hal itu terdengar karena pintu ruang meeting tidak tertutup rapat.


"Jangan formal begitu bicaranya. Sini biar aku aja yang antar kopinya ya. Mas nya boleh pergi." Dinda tersenyum ramah sembari mengambil alih nampan tersebut.


"Tapi mbak bisa terkena masalah." OB tersebut merasa tidak enak hati.


"Gak akan.. udah mas nya lanjut kerja yang lain ya.."


"Baiklah. Terimakasih mbak." OB itu berlalu dari hadapan Dinda.


Dinda geleng-geleng kepala saat masih bisaendengar suara teriakan Toni yang sedang emosi itu. Ia pun mengetuk pintu.

__ADS_1


"Masuk." ketus Toni dari dalam ruangan.


Dinda meraih handle pintu membukanya hati-hati karena ia membawa nampan.


Toni terkejut dengan kedatangan Dinda membawa nampan. Tunggu!! Nampan?


"Siapa yang berani menjadikan istriku seperti seorang office girl di Kantor ku?" Bentak Toni. Bahkan bentakan Toni kali ini lebih mengerikan dari saat ia marah karena kasus dan persoalan mereka yang mendengar saat teleponan dengan Dinda.


Sontak semuanya termasuk Dinda terjingkat mendengar bentakan Toni. Beruntung Dinda memegang kuat nampan itu.


Mereka yang sudah mengetahui jika istri tuan nya berada di dalam ruangan itu berdiri membungkuk hormat pada Dinda.


Dinda meletakkan nampan di atas meja dan membagikan satu persatu segelas kopi. Gelas terakhir ia berikan kepada suaminya sedang menatap dengan tatapan tajam bak elang.


Selalu saja nyali Dinda ciut saat di tatap seperti itu pada Toni. Namun ia mencoba memberanikan diri lagi.


"Di minum kopi nya kak.." kata Dinda menyodorkan segelas kopi pada Toni.


"Kamu sangat menyebalkan sayang. Kamu adalah Ratu ku. Bukan hanya di rumah tapi kantor, di hotel, atau tempat usaha ku yang lain." jelas Toni menyiratkan ketidak setujuan nya.


"Iya Dinda tahu. Tapi menjadi ratu dengan segelas kopi tidak ada hubungan nya. Udah ya.. Sekarang silahkan minum semua." Dinda mempersilahkan semuanya untuk menikmati segelas kopinya.


Saat gelas hampir sampai ke bibir, Bule gila berulah kembali.


"Stop. Tidak ada yang boleh meminum kopi itu."


Dinda melotot mendengar larangan Toni. "Apa sih kak?" ia mulai sebal dengan suaminya itu.


"Tidak ada yang boleh meminum kopi dari tangan mu selain kakak Din.." rengek Toni bak seorang anak kecil yang meminta uang pada ibunya


Sontak membuat makhluk yang berada di ruangan itu menghela nafas panjang. Tidak habis pikir dengan sifat cemburu dan posesif Toni.


"Minumlah.. biar Bos kalian Dinda jinakkan lebih dulu." titah Dinda pada semua orang di ruangan itu.


Dinda menatap Toni dengan tatapan penuh cinta.


"Jangan menatap ku seperti itu." kata Toni tiba-tiba merasa gugup. Sangat jarang Dinda menatapnya penuh cinta seperti itu karena biasanya dialah yang melakukan hal itu.


"Aku mencintaimu kak.. Nggak penting harus berapa gelas Dinda sediakan untuk orang lain. Yang pasti Dinda sangat mencintai kakak. Biarkan mereka minum kopi itu. Yang penting hati Dinda untuk kakak."


Toni memeluk tubuh Dinda yang mampu membuat hatinya tenang. "I Love you.".


"I love you too.".

__ADS_1


🌸


TBC


__ADS_2