PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 74 Penjara dari Mama dan Ibu mertua


__ADS_3

Sinar Matahari telah terbit di pelupuk Timur. Sinar menghangatkan semesta.Menyalurkan anti violet bagi penikmat.


Seorang pasien menggeliat saat sinar Matahari menembus di balik horden ruangan serba putih.Pasien itu adalah Dinda.Ia mengerjapkan mata menormalkan penglihatan.


Dinda tersenyum manakala melihat sang suami tidur di samping nya.Ia melihat wajah rupawan sang suami,wajah teduh,wajah tegas,mata tajam selalu membuat ia nyali menciut saat ingin membantah,hidung mancung,rahang tegas dengan di tumbuhi bulu-bulu jambang sering membuat ia merasa geli dan yaa..Mesum.


"Sudah puas memandang wajah suamimu ini?"


Dinda tersipu malu ketahuan telah memandang sang suami dengan tatapan memuja.Ia beruntung di cinta seorang Bule.Bukankah itu suatu kebanggaan bukan?


"Kenapa kakak tidur disini?Pasti tubuh kakak pegal-pegal."


"Kakak tidak bisa tidur kalau tidak memeluk mu sayang."rayuan gombal sang suami.


Dinda berdecak sebal.Tapi dalam hatinya ia merasa senang apa yang di katakan sang suami.


Toni mendengar sang istri berdecak terkekeh pelan dan mendaratkan kecupan di bibirnya.


Cup


Sontak Dinda menutup mulut menggunakan kedua tangan.


"Dinda belum gosok gigi iihh..."Rengek Dinda.


"Tidak apa,kakak tetap cinta."Toni akui apa yang sebenarnya tapi wajah nya berubah sendu.


"Kakak kenapa?"Tanya Dinda saat menyadari raut wajah sang suami berubah.


"Kamu lahiran lebih cepat,itu artinya kamu lebih cepat bertemu dengan Dimas,kakak takut kamu memilih bersama dia."


Dinda gemas dengan pengakuan sang suami lantas menimpuk bahu sang suami yang tidak berasa apa-apa pada suaminya.


"Kan sudah pernah Dinda katakan,apapun yang terjadi Dinda tetap memilih kakak,Dinda tidak mau pernikahan Dinda gagal lagi."


"Jadi karena tidak mau gagal lagi?bukan karena cinta sama kakak?"Toni membalikkan keadaan agar cinta nya juga di jelaskan.


Dinda memijat pangkal hidung.


Sebenarnya kita sama-sama terbelenggu oleh masa lalu kak,jadi kita masih sama-sama bimbang,tapi kita tetap mengakui sudah ada cinta di antara kita.


Kini Dinda dan Toni sudah duduk di atas brankar dengan bersandar di brankar yang sudah di atur agar bisa dalam posisi duduk.


Netra keduanya saling mengunci.Mata saling memandang itu memancarkan cahaya cinta.


Tidak ada yang tahu siapa memulai.Kedua bibir sepasang insan telah bersatu,tanpa sadar berada dimana dan sedang bersama siapa.


Dinda dan Toni saling merasakan cinta yang mengalir melalui ci uman sedang menerpa.Bukan ciu man menuntut sesuatu yang harus tertuntaskan dengan berakhir nikmat.Bukan.


Ini adalah ciu man ungkapan cinta.Biarlah saat ini sepasang insan mengungkapkan cinta dengan cara merek.


*Setialah hati,

__ADS_1


Jangan lagi menyakiti,


Bagaimanapun cintamu pada sang kekasih,


Tapi tetap cintamu harus mati.


Suami,ijinkan aku hari ini membohong lagi,


Biarkan aku hari ini mengungkapkan cinta dan rindu.


Cinta untukmu,


Rindu untuknya.


Hanya hari ini,ijinkan aku mengingat nya lagi,


setelah hari ini ku pastikan hanya kau sang pemilik.


Untukmu jauh disana, terima kasih.


Cintamu sama tulusnya dengan dia.Suamiku.


Padamu,Dimas Dinata.


Yang ku rindukan*.


Kening keduanya bertautan setelah bibir bertemu terbungkam satu sama lain.


Cup


"I love you. let's forget the past that always makes our hearts hurt. I just want to live with you and our children.(aku mencintaimu. mari kita lupakan masa lalu yang selalu membuat hati kita sakit.


Aku hanya ingin hidup bersama mu dan anak-anak kita.)"Ucap Toni menatap mata sang istri dengan tatapan teduh.


Sungguh tatapan sang suami sering sekali membuat hatinya menghangat.Wajah teduh yang ia tujukan hanya pada dirinya itu membuat ia sangat dihargai.


Dengan cepat Dinda mengangguk."Tapi ada syaratnya."


Toni melongo,ia heran dengan sang istri,masih saja mengajukan syarat demi menerima cinta nya.


"Kakak jauh dari Dinda ya,pusaka kakak sudah bangun sedari tadi."Dinda mengeluarkan suara manja bermaksud menggoda sang suami.


Sontak Toni tercekat,ia memang sangat sulit mengendalikan diri jika Dinda sudah bersuara manja.


hahaha


Terdengar suara tawa di dalam ruangan.Bukan suara Dinda dan Toni.Ada orang lain di dalam ruangan dan tidak di sadari sepasang suami-istri sedari tadi bermesraan di atas brankar.


"Jeng,sepertinya kita tidak lama lagi nambah cucu."Ucap Mama Rahma.


"Bisa jadi jeng.Lihatlah anak Jeng Rahma,baru di rayu dengan suara manja anak saya sudah On."

__ADS_1


Dan kedua perempuan paruh baya itu tertawa senang menyaksikan sang anak bermesraan.


Dinda sudah berada di balik dada bidang Toni.Ia sangat malu tidak menyadari dan terpikir ada siapa di ruangan saat sedang bermesraan.


Dinda memukul dada sang suami."Malu kak.."


Toni membelai rambut coklat sang istri."Jangan malu,tidak apa-apa,Ibu juga pernah muda,Kalau Mama pasti iri pada kita."Toni sengaja berbicara sedikit keras agar sang Mama mendengar.


Mama Rahma langsung mendengus mendengar sindiran dari anak bungsu.


"Anak kurang ajar." Sebenarnya ia tidak marah pada sang anak,ia begitu bahagia melihat anak bungsunya menemukan cinta nya.


"Apa kamu tidak ingin turun Toni?Segera


bersihkan tubuh istrimu sebelum sarapan."Titah sang Ibu mertua mutlak.


Toni segera turun mengambil air seember kecil dan handuk kecil untuk membasuh tubuh Dinda.Di tarik tirai penyekat brankar Dinda.


Toni mulai membasuh wajah Dinda.Toni meletakkan handuk kecil ke dalam ember kecil tadi.Ia menggulung rambut Dinda asal hingga terlihat leher jenjang yang putih mulus.


Toni menatap lapar leher Dinda,bolak balik ia menelan saliva.


Kemudian membuka baju seragam pasien Rumah Sakit.Hingga tampak gunung kembar favorit Toni.


Sebenarnya Dinda mengetahui arah tatapan sang suami,tapi ia juga harus bisa menahan,tidak mungkin melakukan di rumah sakit kan?


"Mata jangan mesum gitu dong kak.."Rengek Dinda.


Toni berdehem menormalkan kembali.Menormalkan degub jantung saat berhadapan sang istri,dan sudah 8 hari ia tidak melihat mainan favorit di tubuh Dinda.


Lagi dan lagi Toni menelan saliva mendapati pemandangan indah di depan mata.Ia berusaha mengendalikan diri.Ia memulai membasuh tubuh Dinda,dari leher,pundak,lengan,ketiak.


"Geli kak.."


"Di tahan Din.."


Kini giliran tempat favorit Toni.Tempat permainan yang tak ingin ia akhiri.


"Sangat indah sayang,tambah besar."Puji Toni menatap takjub pemandangan kesukaannya itu.


Dinda segera menutupi gunung kembar Dinda. "Awas ya kalau macem-macem kakak."Ancam Dinda.Jika dibiarkan maka ia pun tidak menolak.Tapi mengingat keadaan ia belum pulih maka ia harus menghindar.


****


"Kenapa anak saya sangat mesum?"Ucap Mama Rahma lirih saat mendengar percakapan anak dan menantu di balik tirai menyekat brankar.


"Saya jadi takut membayangkan anak saya saat melakukan 'itu' pada anak Jeng Rahma."


"Saya punya rencana,kita harus melakukan sesuatu."


🌸

__ADS_1


🌸


__ADS_2