
Sepanjang perjalanan Dinda dan Dimas hanya diam.
Dimas tetap fokus menyetir walau sesekali melirik ke arah wanita yang di samping nya. Sedangkan Dinda memilih melihat ke arah luar jendela.
Empat puluh menit kemudian..
Mobil Dimas berhenti tepat di depan gerbang rumah Dinda.
Dinda melepaskan seatbelt nya.
"Terimakasih Dim". Dinda tersenyum keluar dari mobil Dimas.
Dinda memasuki pekarangan rumahnya. Ia merasa bersalah dengan Dimas. Namun ia yakin bahwa Dimas dengan mudah mendapatkan cinta baru. Yang pasti cinta Dimas akan terbalas kan . ahh! semoga kamu bahagia Dim. gumamnya dalam hati.
Aril yang melihat kepulangan Dinda langsung keluar dari mobil untuk mengajak nya bicara.
"Dinda..." panggil Aril sedikit berteriak.
Deg
Dinda menoleh kearah suara yang di kenalnya memanggil namanya.
"Aril." ucapnya lirih hampir tak mengeluarkan suara.
Dinda diam mematung memandang orang tersebut.
Aril menghampiri nya.
Mereka berdiri berhadapan . Aril langsung menarik tubuh Dinda kedalam pelukannya .
Aril memeluk nya kuat tetapi Dinda tak membalas pelukan nya. Dihirupnya bau tubuh dengan parfum kesukaan lelaki yang masih ada di hati nya ini.
harum! kenapa tubuh mu sangat menenangkan Ril? apakah karena anak kita ini? atau karena memang aku belum bisa melupakan perasaan ini? 3 tahun kita bersama Ril sampai ada anak ini di rahim ku. ungkap Dinda dalam hatinya. ia tak sanggup jika harus mengucapkan nya langsung.
"Aku sangat merindukanmu mu Din .. sangat."
Dinda tak sanggup lagi untuk menahan air matanya. "Jangan be..gini.. Ril Ku..mo..hon."
Mendengar suara Dinda yang terbata-bata ia pun langsung melepaskan pelukan nya.
"Hei.. kenapa menangis hemm?."
Dinda mengusap air mata nya. "Kenapa kamu disini?"
"Aku bekerja Din."
Dinda bingung dengan jawaban Aril seakan ambigu menurutnya.
Aril yang mengerti dengan raut wajah wanita di depan nya pun berkata lagi.
"Aku bekerja dengan suami mu Din , aku adalah asisten pribadi nya."
"Asisten pribadi? berarti kamu selalu ada di mana pun suami ku berada?"
"yup.. benar sekali . kamu pintar sekali Din, Tumben." Aril menekankan akhir kata yang di ucapkan nya.
"iihh nyebelin, dari dulu juga Uda pinter tahu." protes Dinda dengan wajah cemberut nya.
Aril terkekeh melihat tingkah wanita nya . ia bersyukur bila Dinda sudah mulai bisa mengomel lagi berarti hati nya sudah lebih baik dari sebelum nya.
"Din, tetaplah mengomel ya." pinta Aril untuknya.
"kok ngomel sih.." Wajah Dinda semakin masam mendengar permintaan sang mantan sekaligus bawahan suami nya itu.
"Yaa aku tahu kalau kamu sudah mulai mengomel berarti hati mu sudah mulai membaik. Jangan menyendiri lagi Din."
Aril membungkuk membisikkan sesuatu. "Kasihan anak kita bila kamu sedih terus, aku akan berpura-pura tak mengenali mu agar aku bisa menjaga mu Din, ku mohon jangan menolak demi anak kita." Kemudian Aril menyium pipi Dinda secepat kilat.
Cup
Dinda hanya terdiam. ia tak sanggup menjawab nya.
"Masuklah Din." Dinda mengangguk dan melanjutkan perjalanan nya ke arah pintu utama rumah milik orang tua nya itu.
Tanpa di sadari Dinda dan Aril, ada dua pasang mata yang menyaksikan adegan mereka tadi.
yaa dua pasang tersebut adalah Toni sang pengawal Dinda dan Ibu Dinda yang kebetulan keluar dari pintu samping mereka berdua menuju depan rumah nya untuk menyiram tanaman di taman bunga miliknya.
"Apalagi ini yang ku lihat? Tadi nyonya bersama lelaki lain , ini bersama Aril asisten tuan."
"Apa nyonya selingkuh ? sehingga tuan memberikan tugas untuk mengawasi nya juga? Astagaaa kalau benar bisa gawat ini." Toni bermonolog pada dirinya sendiri.
*****
Dinda masuk kerumah orang tua nya, ia langsung menuju kamarnya.
__ADS_1
Dibuka pintu kamar miliknya, ia mendapati suami nya yang sedang duduk di sofa kamar miliknya sedang memainkan ponselnya.
Dinda menghampiri suami nya dan duduk di sebelah suami nya.
"Abang Uda lama pulang ?"
"Ehm sudah."
"Abang mau mandi dulu? Biar Dinda siapin air hangat."
Dinda hendak berdiri namun dengan cepat tangan Dinda dicekal oleh Arga.
"Duduk !" ucapnya tegas.
Ketika Dinda duduk kembali, Arga langsung meraih tengkuk leher Dinda. ia langsung m****** bibir Dinda, ia langsung melucuti pakaian nya dan pakaian Dinda dengan kasar.
Bahkan kancing kemeja yang dipakai Dinda sudah terlepas berserak di lantai kamar milik nya.
Dinda hanya pasrah dan sesekali membalas dan mengimbangi permainan yang diberikan oleh suami nya itu. Arga.
Dan terjadilah hal yang semestinya terjadi.
2 jam kemudian
Pergumulan mereka pun selesai.. Entah karena apa pergumulan kali ini Dinda merasa puas walau sedikit kasar .
Dinda masih dengan tubuh polos nya berbaring di tempat tidur melihat suami nya bangkit .
"Abang kenapa?"
Arga duduk di tepi tempat tidur menatap istri nya secara intens.
"Kamu tadi dari mana?"
"Dari rumah sari bang." Jawab Dinda gugup.
"Dengan siapa kesana?"
"Awalnya dengan ojek online ke minimarket, setelah itu bersama adik kelas ku bang."
"Adik kelas? tapi Toni melaporkan dengan karyawan minimarket?"
"Ah iya, maksudnya gini.. adik kelas ku itu kerja paruh waktu di minimarket itu bang. Toni siapa bang?"
"Orang suruhan ku yang ku tugaskan untuk menjaga mu."
"gak juga."
"Oh iya, Toni bilang apa saja bang?" tanya Dinda untuk memastikan apa saja yang di laporkan nya. ia takut saat bersama Dimas tadi juga dilaporkan nya.
"Tidak ada Din, hanya mengatakan dari minimarket kamu langsung kerumah sahabat mu itu saja."
"Ya memang seperti itu bang. Apakah boleh Dinda katakan kalau Abang sedang cemburu kepada Dinda?."
"Enggak, biasa saja., mulai besok Toni akan selalu ada dimana pun kamu berada. Dengar?"
"Oke baiklah, tapi bolehkah Dinda bertemu dengan Toni sekarang?"
"Tentu, bersihkan dirimu dahulu lalu kita kebawah menemui pengawal mu dan asisten pribadi ku."
Dinda bangkit menuju toilet untuk membersihkan tubuh nya dari sisa pergulatan panas mereka .
Dua puluh lima menit kemudian
Dinda memakai setelan kemeja lengan panjang berwarna putih dengan celana pendek berwarna hitam.
Ia menuruni tangga dengan mengembangkan senyuman manis nya.
Tiga pasang mata lelaki memandangi nya takjub .
Daebak.. istri bos memang cantik, pantas saja banyak tergila-gila dengan bos. Seperti nya aku harus banyak berbohong dari bos untuk menyembunyikan lelaki yang mengejarnya. Gumam Toni melihat istri bos nya.
Andai kamu yang menjadi istri ku Din, betapa bahagia nya kita ditambah anak yang di kandungan mu sebagai pelengkap hidup kita. Gumam Aril sang mantan.
Kamu memang cantik istriku. puji Arga namun hanya dalam hatinya.
Saat Dinda sampai berada di depan suami nya, Arga hanya tersenyum . ia tak mengungkapkan apa yang di lihat nya di depan nya.
"Hai, maaf lama bang."
"Ya tak apa. Ini kenalkan Aril asisten pribadi aku, dan ini Toni pengawal kamu Din."
"Dinda." mengulurkan tangan nya kearah Toni memberikan senyuman indah nya.
"Toni Nyonya." menerima jabatan tangan Dinda.
__ADS_1
"Oh Big No.. jangan panggil aku dengan Nyonya. Panggil Dinda saja ya."
"Maaf nyonya.. saya tidak berani."
"Terima saja Dinda..." Ucap Arga yang memang ia tak suka orang yang banyak protes.
Dinda menghembuskan nafas panjang.
"Hehh.. baiklah."
"Dinda " mengalihkan arah sebelah kanan Toni tanpa mengulurkan tangannya.
"Aril Nyonya."
Adinda melotot seakan memberikan kode bahwa ia tak suka dipanggil dengan sebutan nyonya.
Namun Aril Cuek dan tersenyum kearah Dinda semakin membuatnya kesal.
"Abang.. makan malam di luar yuk."
"Kenapa harus makan di luar Din?"
"Pacaran bang.. yaelah.. "
"Abang sudah tua Dinda, bukan lagi waktu nya untuk pacaran."
"Haruskah debat hanya untuk makan malam diluar bang? kalau memang tidak mau biar aku sama Toni aja."
"Maaf malam ini aku tidak bisa, karena memang ada pekerjaan untuk pembukaan usaha ku bulan depan, dan yaa.. hampir lupa, dua hari lagi kita pindah kerumah ku ya Din." Tolak Arga halus agar istrinya mengerti keadaan nya saat ini.
"Ya sudah lah, Ayo Toni.." Dinda berjalan keluar rumah meninggalkan kedua lelaki itu.
Diluar rumah..
Toni membukakan pintu mobil tuan nya untuk nyonya nya.
Dinda masuk ke kursi penumpang .
"Kita mau kemana Nyonya?" tanya Toni namun tak ada jawaban dari nyonya nya.
Dilihat nya dari kaca spion kemudi, wajah nyonya nya tampak cemberut.
"Nyonya.." panggilnya lagi.
Dinda tak tahan dengan panggilan itu pun langsung menarik rambut pengawal nya itu.
"aauhh awhh sakit Nya.."
"Coba ulangi panggil aku dengan sebutan itu maka rambut mu ini akan ku tarik sampai rontok. Mau?" Ancam Dinda kepada pengawal nya.
"Iya maaf, lepaskan dahulu dong.. sakit ini". keluh Toni
"Oke, Panggil aku Dinda saja ya.. DINDA inget ya D-I-N-D-A."
Dinda tersenyum membuat jantung Toni berdetak keras dua kali lipat.
Deg
Senyuman nya sangat menawan, kenapa aku ini?. gumam Toni dalam hatinya.
"ya baiklah, sekarang kita ke restoran terdekat saja. pesan kan ruang privat ya.."
"baiklah."
Dua puluh menit kemudian
Toni memarkirkan mobil nya di depan restoran yang di minta Nyonya nya tersebut.
Toni keluar dari mobil berlari mengitari mobil nya menuju pintu penumpang dan membuka nya.
Dinda keluar dan berjalan menuju pintu masuk restoran tersebut diikuti dengan Toni di belakang nya.
"Astagaaa Toni.. bisakah kamu berjalan di samping ku? Kamu seperti anak ayam yang mengikuti induknya" ucap Dinda yang kesal dengan kelakuan pengawal nya itu.
"Tidak Nyonya."
"Oh My God. Kita memang harus bicara di dalam."
"Baiklah Nyonya"
Mereka berdua pun Masuk ke dalam ruang privat di restoran tersebut.
Selamat membaca
mohon dukungan like dan komen ya🙏🙏
__ADS_1
terima kasih..