
Matahari telah menyapa penuh kehangatan pagi itu.
Tampak sepasang suami istri masih tertidur dengan nyaman di balik selimut tebal disana.
Dinda membuka mata nya perlahan.. Si renggang kan nya otot-otot lengan nya itu. Ia berbalik, dilihat wajah teduh suami nya.
Terimakasih telah menerima ku, terimakasih sudah menjadi suami bertanggungjawab. Gumam Indah dalam hati sambil mengelus pipi suami nya itu.
Merasa tidur nya terusik, Arga terbangun .Di pandang wajah cantik istri nya itu.
"Ada apa Din?"
"Tidak bang." Dinda tersenyum
"Apa masih mual?" tanya Arga
Dinda menggeleng. "Aku hari ini ada jadwal kuliah bang, aku masuk ya?"
"Apa kalian akan baik-baik aja?" tanya Arga sambil mengelus perut rata Dinda.
Yaa Dinda sudah masuk kuliah dua Minggu yang lalu, dan Arga juga sudah tahu kehamilan Dinda berumur dua bulan dan sebenarnya berumur tiga bulan.
Arga dan Dinda juga sudah pindah kerumah Arga yang sudah di beli nya sehari setelah Dinda mengantar Dimas ke Bandara waktu itu.
"Kami baik bang, Abang istirahat saja. Aku berangkat bersama Toni."
Dinda cukup mengerti pekerjaan suami nya itu berbeda dengan orang lain. Bila orang lain bekerja dari pagi hingga sore, maka suami nya bekerja dari sore hingga tengah malam.
"Baiklah, hati-hati . Jaga dia untukku, jangan terlalu capek ya." nasihat Arga membelai rambut milik Dinda .
"Bang, sebelum nya juga aku sudah kecapekan atas perbuatan mu." jawab Dinda pura-pura kesal atas pergumulan nya dini hari tadi.
Arga terkekeh.. ia merasa bersalah karena sudah kasar atas permainan panas mereka.
"Maaf."
Dinda tersenyum "Tak apa bang, aku mau mandi sekarang ya.."
Dinda turun dari tempat tidur menuju toilet .
Setelah selesai bersiap ia keluar dari kamar dan menuju lantai dasar.
Toni sejak tadi sedang duduk pun langsung berdiri sedikit membungkuk kan tubuh nya memberi hormat kepada Nyonya nya itu.
"Ck...pagi-pagi sudah membuat mood ku buruk aja sih."Dinda berdecak kesal dengan perlakuan pengawal nya yang sudah ia anggap kakak itu.
Toni hanya tersenyum menanggapi perkataan tersebut.
"Kak, aku lapar." Tidak tahu kenapa ia ingin sekali Aril memasak untuk nya pagi ini, tapi tidak mungkin ia mengatakan sejujurnya kepada sang pengawal.
"Di meja makan sudah tersaji sarapan mu Dinda ... makan lah." jawab Toni.
Dinda menggigit bibir bawahnya karena ragu untuk mengatakan sebenarnya.
Diambil nya ponsel di saku celana. Ia mengetik sesuatu disana. Dan akhirnya tersenyum setelah ada jawaban dari seberang sana.
"Kak.. ayo kita ke taman kota."
"Bukankah kamu ada kuliah pagi?"
"Kuliah ku jam 10 kak.."
"Ini baru jam 8, kamu menipu ku lagi Din.."
"Aku butuh kamu untuk menjadi teman ku kak.. apa kamu lupa sahabat ku sudah pergi ke Jakarta sekarang? dan teman ku hanya kamu kak.."
Benar, Sari sudah pindah ke Jakarta setelah perceraian itu terjadi.
Mereka bercerai disebabkan suami nya melakukan tindakan KDRT padahal Sari dalam keadaan hamil.
Disinilah Dinda .. Duduk di atas rumput taman kota, Toni masih setia duduk di samping nya.
Dinda menangis..
Menangis bukan karena putus cinta ..
Bukan karena ditinggalkan cinta ..
__ADS_1
Bukan karena cinta yang tidak terbalas..
Namun..
Dinda menangisi takdir nya..
Ia selalu pasrah dengan arus takdir membawanya..
Ia merenungi masa lalu nya sebelum masa kegelapan itu menghampiri .
Ia begitu bahagia, ia begitu ceria,
Dirinya yang dahulu begitu priang, jujur, dan manja..
Tapi lihat lah dirinya yang sekarang..
Hidup nya penuh kebohongan..
Ia berbohong tentang perasaan nya..
Ia harus berbohong agar terlihat mandiri...
Ia harus berbohong untuk tetap mengatakan semua nya baik-baik saja..
Bolehkah ia menyesali perbuatannya sekarang?
apakah bisa waktu ia putar mundur agar kembali ke masa itu?
ia ingin melupakan, namun siapa yang bisa melupakan kejadian penuh kegelapan seperti itu?
Siapa yang akan ia salahkan?
Takdir kah?
Masalalu nya kah?
Tidak.. yang harus di salahkan adalah dirinya..
Karena saat itu ia juga terbuai akan mulut manis masa lalu nya.
Lantas? haruskah ia marah dengan masalalu nya telah pergi meninggalkan nya?
Tidak.. ia tak akan bahagia setelah mengetahui alasan mengapa masalalu nya pergi meninggalkan seorang diri.
Ia tak pantas bahagia bersama masalalu nya jika ada hati yang tersakiti.
Ia bukanlah wanita seperti itu..
Ia rela berkorban untuk kebahagiaan orang lain.
Ia lebih mementingkan kebahagiaan oral lain terlebih dahulu.
Siapa yang ingin hamil dalam keadaan seperti ini?
Siapa yang ingin terjebak dalam hubungan seperti ini?
Menikah dengan orang yang tidak bersalah dalam masalah ini?
Kenapa orang itu yang harus bertanggungjawab atas apa yang tidak ia perbuat?
Haruskah ia mencintai nya?
Tetapi kenapa hati ini sulit menerimanya?
Harus berapa lama lagi ia membutuhkan waktu untuk menerima keadaan? menerima takdir?
Dinda tetap terdiam tetapi air mata nya tak ingin berhenti.
Ia tak berbicara sepatah kata pun terhadap Toni. Ia hanya ingin di temani sebelum ia harus kuliah.
Lima belas menit kemudian
Aril datang membawa dua paperbag pesanan calon ibu dari anaknya itu.
Dinda melihat kedatangan mantan kekasih nya itu langsung menghapus air mata nya.
Dinda tersenyum saat Aril berada di hadapan nya.
__ADS_1
"Sesuai permintaan ku kan Ril?"
"Iya, makan lah.. kenapa kamu menangis Din?" Aril sakit melihat wajah sembab Dinda.
Toni yang melihat Aril menyodorkan paper bag menjadi bingung.
"Kenapa harus Aril yang membelikan makanan untuk mu Din ?"
"Ini tidak beli kak, aku meminta Aril memasak nya."
"Ck.. rindu sang mantan." Sindir Tino .
"Tidak kak.. aku memang ingin memakan nasi goreng buatan Aril.. hanya itu." Dinda menjelaskan yang sebenarnya.
"Baiklah, aku pulang Din, masih mengantuk karena tadi malam lembur dengan suami mu."
"ya, terimakasih Ril.."
Dinda memakan nasi goreng buatan Aril dengan lahap.
tidak mual.. berarti anak gue pengen dekat sama bapak nya. Gawat kalau beneran bayi ini ingin terus menginginkan semata dengan ayahnya....
Setelah selesai sarapan dari sang mantan kekasih, ia mengajak Toni menuju kampus nya.
Toni dengan setia mengikuti kemana pun Dinda berjalan. Ia harus memastikan istri dari tuan nya itu selamat.
****
Hari berganti hari..
Minggu berganti Minggu..
Tak terasa kehamilan Dinda sudah masuk trimester kedua, tepat nya empat bulan.
Sore ini jadwal pemeriksaan kandungan Dinda..
Dan Arga sudah berjanji ikut mengantar Dinda ke dokter kandungan.
Dinda sudah rapi, ia memakai gaun berbahan rajut berwarna krim lengan panjang dan bagian bawah hanya sebatas lutut. Sangat cantik.
Sudah satu jam Dinda menunggu kedatangan suami nya itu tetapi tak kunjung tiba. Akhir nya ia menelpon suaminya.
📱Dinda
*Abang kemana saja sih? Dinda sudah nunggu.
📲Arga
*Maafkan Abang sayang.. Abang ada urusan mendadak, ada masalah di restoran. Kamu pergi dengan Aril saja ya.."
Deg
Ini tidak bisa dibiarkan,Gumam Dinda.
📱Dinda
*Toni juga ikut ya..
📲 Arga
*Tak masalah, sudah dulu ya.. bye sayang Abang.
📱Dinda
*Bye bang.
Dinda memutuskan sambungan telepon.
Bagaimana bisa aku pergi dengan nya?
Bagaimana anak ini nanti ingin memeluk nya lagi? itu memalukan .
Yaa.. Dinda sering sekali merasakan ingin berada di pelukan mantan kekasih nya itu. Dinda tidak tahu itu karena masih ada perasaan dihatinya ataukah murni keinginan si bayi yang ada di kandungan nya tersebut.
🌸
🌸
__ADS_1
TBC