
"Sekali lagi jika datang ke kantor langsung ke ruangan kakak saja."Titah Toni sambil menyantap makan siang yang di bawa Dinda.
Dinda hanya mengangguk sembari melihat Toni sedang makan.
Bolehkah aku bahagia sekarang? Tapi mengapa hati ini masih saja terbagi?
"Kakak juga nggak boleh mesum gitu dong di depan orang lain."Keluh Dinda dengan wajah cemberut.
Toni terkekeh mendengar keluhan Dinda.Ia pun sering berpikir mengapa ia bisa semesum sekarang bila dengan Dinda.Ditambah tubuh Dinda bertambah sek si di matanya.Payu dara dan bokong bertambah besar,montok,dan kenyal di mata nya.
FLASHBACK ON
Toni menoleh ke arah kanan saat mendengar seseorang berdehem saat ia berjalan.
Dinda segera melambaikan tangan ketika Toni menoleh.
"Maaf Tuan,saya kurir pengantar makanan yang sudah menunggu lebih tiga puluh menit lalu."
"Kurir?"Tanya Toni melotot.
"Iya kurir Tuan."Dinda tersenyum penuh arti.
"Iya kan mbak saya kurir kan?"Tanya Dinda pada pihak resepsionis.
Kedua resepsionis mengangguk dan gemetar saat melihat mata tajam Toni melihat kearah mereka dan bergantian melihat kearah Dinda.
Dinda yang di beri tatapan tajam menjadi ciut untuk berpura-pura menjadi kurir makanan.
"Jangan beri Dinda tatapan seperti itu."Dinda mendekati dan memeluk Toni.
Sontak pegawai yang melihat Dinda berani memeluk Toni terbelalak.Karena yang mereka tahu Toni tidak tersentuh dan Toni adalah calon suami sekretaris Toni.Rini juga melihatnya merasa cemburu hingga mengepalkan tangan.
"Kenapa mengaku menjadi kurir makanan?"Tanya Toni dengan wajah datar.
"Jangan gitu dong wajah nya kalau ngomong sama Dinda."Dinda melepas pelukan kemudian meraup wajah Toni.
Toni tidak marah,ia tersenyum hangat dan di balas senyuman juga oleh Dinda.
"Begini kak,Dinda udah ngaku kok tadi istri dari pemilik kantor kakak ini."
"Terus kenapa ngaku jadi kurir makanan sayang?"Tanya Toni merapikan anak rambut Dinda
Lagi-lagi para pegawai tercengang mendengar Toni berbicara lembut pada seseorang.
"Lebih pantas jadi kurir makanan kali bukan jadi istri kamu,toh sudah menjadi calon suami seseorang di kantor mu ini."Sarkas Dinda dengan wajah cemberut melirik kearah Rina yang berdiri di belakang Toni dengan wajah merah.
"Calon suami seseorang di kantorku? berarti pegawai ku sendiri?"Tanya Toni memastikan.
Dinda mengangguk masih dengan wajah cemberut.
Toni melihat wajah cemberut Dinda tidak menyia-nyiakan kesempatan.
Cup
Satu kecupan mendarat di bibir Dinda.Semua pegawai melihat itu terperanjat dengan mulut menganga termasuk Rina.Mereka tidak menyangka Tuan Toni yang terkenal dingin,datar,tidak banyak bicara bisa memperlakukan seseorang dengan lembut dan nekat seperti apa yang dilihat.
Mata Dinda mengerjap berkali-kali dengan wajah linglung akibat perlakuan Toni tiba-tiba.
Toni merangkul pinggang Dinda dan merapatkan ke tubuhnya.
"Dengar semua,ingat baik-baik wajah istri saya. Dia adalah istri dan ibu dari anak saya.Perlakukan istri saya sebagaimana kalian memperlakukan saya.Dan ingat,istri saya hanya satu dan tidak ada calon istri lagi di hidup saya."
__ADS_1
Skak mat.Rina terpaku saat mendengar pengakuan Toni.
Dinda menatap Toni dengan senyuman hangat. "Terimakasih kak."
Toni mengangguk."Ayo keruangan kakak."
"Rina,tolong bawa bekal yang di bawa istri saya."Titah Toni dengan wajah berubah datar.
"No kakak..Biar Dinda yang bawa,Dinda kurir nya disini."
Toni merasa gemas dengan Dinda lantas meraih tengkuk leher Dinda dan membungkam mulut Dinda yang banyak bicara sedari tadi.Ia melu mat bibir Dinda dengan lembut.
Dinda memukul dada Toni merasa malu apa yang dilakukan oleh Toni.Terdengar di telinganya bisikan-bisikan dari para pegawai ada yang memuji dan ada yang menghina Dinda.
"Dasar suami mesum."Kata Dinda saat bungkaman dari bibir Toni terlepas.
"Hahaha..You are so seductive.(Kau begitu menggoda.)" Toni merangkul pinggang Dinda berjalan ke arah lift dengan satu tangan membawa bekal makanan Dinda.
Dinda hanya melotot dan memukul lengan Toni seraya berjalan beriringan.
FLASHBACK OFF
Dinda membereskan wadah makanannya.Toni sedang sibuk dengan laptop dan berkas-berkas di mejanya.
"Dinda pulang ya kak.."Pamit Dinda.
Toni menoleh kearah Dinda dengan wajah masam."Tetaplah disini temani kakak bekerja."
"Haruskah?"
Toni mengangguk kemudian beranjak menghampiri Dinda sedang duduk di sofa.
"I Miss You."Kalimat pernyataan rindu penuh arti.
"Baiklah,tadi kesini naik apa?"Tanya Toni.
"Naik gojek lah,pengen nya naik angkot tadi."Jawab Dinda santai sambil merogoh kantong jas suami mencari sesuatu.
"Cari apa?"Tanya Toni datar.
Dinda menyadari kelancangan nya lantas mengangkat tangan ke udara.
"Maaf kelepasan kak,maaf."
"Tidak masalah,emang cari apa?"
"Cari ponsel kakak,Dinda mulai bosen."
"Di meja kakak, sepuluh menit lagi kakak ada rapat,kamu tunggu disini tidak masalah kan?"
Dinda mengangguk sebagai jawaban."Dinda akan tetap disini sayang."
Hati Toni berbunga tatkala mendengar Dinda memanggil sayang padanya.Karena Dinda sangat jarang memanggil ia sayang selain saat olah raga di atas tempat tidur.
"Baiklah,kakak pergi dulu."Toni mengecup kening Dinda dan berlalu pergi ke ruang meeting.
Dinda mulai menelisik isi ruangan kerja suaminya.Toni.Cukup luas dengan rak buku dan dokumen-dokumen di belakang meja kerja Toni.Terdapat rak penghargaan-penghargaan juga disana.
Dinda tersenyum saat melihat sesuatu di rak itu.Ada fotonya disana.Dinda mengingat foto itu di ambil saat Dinda dan Toni berkunjung pertama kali ke diskotik Arga.Mantan suaminya.
"Ah ternyata kau sudah lama mengagumi ku ya?Bagaimana bisa aku mendua kan mu jika kau sebegitu cinta padaku."Dinda berbicara sendiri sembari melihat isi ruangan suaminya.
__ADS_1
"Aku lapar,dimana kantin kantor ya?Ah mana bisa makan di kantin,aku lupa bawak uang.Apa minta kak Toni aja ya?"
Setelah menimbang pikiran antara iya dan tidak.Akhirnya Dinda memilih iya untuk meminta uang pada Toni.
Disinilah Dinda sedang berdiri di depan pintu ruang meeting Toni.Ia ragu bahkan takut untuk sekedar mengetuk pintu.
Di tengah kegusaran,keluar seseorang membuat Dinda terkejut.
"Maafkan saya Nyonya."Ucap pria usia matang itu.
Dinda mengusap dada."Nggak apa Pak.Nama Bapak siapa?"
"Saya Rudi Nyonya."
"Pak Rudi,tolong panggilkan suami saya dong."Pinta Dinda penuh permohonan.
Pak Rudi mengintip dari sela pintu yang terbuka sedikit.Ia tampak bergidik.
"Maaf Nyonya saya tidak berani."Ucap Pak Rudi.
"Loh kenapa Pak?Rapat belum di mulaikan?" Tanya Dinda karena ia belum mendengar suara dari dalam ruang rapat tersebut.Bahkan hening tanpa suara.
"Tuan sedang marah Nyonya."
Dinda tidak menjawab,ia mengintip ke dalam bertepatan mata Toni menatap ke arahnya.
Karena hanya mata saja yang tampak membuat Toni tidak menyadari siapa di balik pintu itu.Ia pun berjalan ke arah pintu.
"Gawat Pak.Serem."Dinda bersembunyi di balik tubuh Pak Rudi.
Ceklek..
Pintu ruang meeting terbuka.Seketika suhu ruangan terasa panas saat di balik pintu itu menampakkan seseorang.
"Kenapa masih disini Pak Rudi?Kenapa membuat keributan disini?"Tanya seseorang itu dengan dingin berwajah datar tanpa ekspresi.
Tadi di dalam ruang meeting,suasana di sana sedang bersitegang.Toni sangat emosi saat laporan dari salah satu kepala divisi bermasalah.
Toni memerintahkan Pak Rudi untuk memanggil pegawai yang bertanggung jawab atas kelalaian membuat laporan.Tapi sekian lama Toni menunggu Pak Rudi tidak kunjung tiba dan Toni mendengar keributan di depan pintu ruang meeting karena pintu tidak tertutup rapat.Itu semakin membuat ia emosi.
Pak Rudi yang di tatap tajam Tuan nya itu menelan saliva kasar.
"Anu Tuan itu."
"Jelaskan."
Dinda merasa bersalah pada Pak Rudi akhirnya bersuara. "Sayang.." panggil Dinda berdiri menundukkan kepala.
Toni terkejut mendengar suara Dinda yang ia yakini berada di balik tubuh pegawai nya itu.Ia pun mengibaskan tangan pertanda Pak Rudi menyingkir di hadapan nya.
Toni tersenyum melihat Dinda sedang ketakutan.Terkadang ia berpikir,apa seseram itu saat ia sedang marah?
Pak Rudi senang melihat perubahan raut wajah Toni.Ia merasa berhutang budi pada istri Tuan nya itu.
"Kemari lah.."
🌸
Weekend jadi lama lulus review nya..
__ADS_1
Foto Dinda yang ada di kantor Toni